SEPENINGGAL BAPAK

Genap tujuh tahun sudah bapak pergi meninggalkan kami. Aku tak tahu cukup lamakah tujuh tahun bagi sebuah usia kematian? Entahlah. Yang jelas, hari ini aku tengah menatap lukisan bergambar bapak. Lukisan itu aku pesan pada pelukis jalanan di Malioboro ketika aku tugas di Jogja dulu. Aku hanya menyerahkan potret bapak, dan pelukis muda itu melukis serupa benar. Dari jauh bahkan terlihat bagai sebuah potret hitam putih. Ketika mendekat barulah bisa dilihat tekstur pensil yang jelas amat membedakannya dengan potret.

Hari ini aku kembali menatap lukisan itu, seperti juga yang kulakukan pada slametan meninggalnya bapak tahun-tahun yang lalu. Setiap tanggal meninggalnya bapak, aku selalu menyempatkan diri membuat semacam acara tahlilan kecil-kecilan. Walau mungkin pada adat Jawa hanya dikenal slametan untuk 7 hari, 40 hari, 100 hari, dan 1000 hari, tetapi aku tetap melanjutkannya hingga saat ini, tahun ketujuh.

Kupandangi lukisan bergambar bapak lekat-lekat. Bapak memang gagah. Apalagi dengan seragamnya. Bapak makin terlihat gagah. Kumisnya teratur rapi sebagaimana alis tebalnya. Senyumnya mengembang lebar menunjukkan betapa bersahabatnya bapak. Walau dari garis-garis mukanya terlihat bahwa bapak sangat keras dan tegas.

Aku ingat betul, setiap petang kujelang kepulangan bapak dengan hati berbunga. Yang ada di benakku saat itu hanya satu, bahwa aku harus segera melepaskan sepatu dan kaos kakinya untuk kemudian mendapat upah sebuah permen Kojak. Bentuknya bulat dan di bawahnya disangga sebuah tangkai putih tempat tangan memegang. Bentuknya yang bulat mengingatkan aku pada kepala botak Telly Savalas yang sangat terkenal dengan film seri Kojak. Karena itu aku menyebutnya permen Kojak. Meski hanya sebuah permen tetapi aku girang betul.

Setiap memberikan permen, bapak selalu berbisik,"Hati-hati!". Ya, aku harus hati-hati dan sembunyi-sembunyi dari ibu. Ibu memang tidak menyukai bila aku mengulum permen yang akan membuat gigi menjadi gigis. Setelah itu kami selalu mengangkat jari telunjuk dan mendekatkan di bibir yang mengatup. Sejurus kemudian kami akan membuat gerakan mengunci di depan bibir. "Rahasia!" ucap kami bersama. Lalu aku akan berjalan berjingkat menuju kamar untuk menyimpannya.

Jika kebetulan bapak tugas sampai malam, tentu aku tak bisa "menjual jasa" membuka sepatu dan kaos kaki karena aku pasti telah terlelap. Tetapi aku tak perlu khawatir, permen Kojak tetap kudapat karena bapak selalu menyelipkan di saku baju seragamku yang telah disiapkan ibu. Dan esoknya aku bisa kembali mengulum permen Kojak di sekolah.

Rahasia bapak dan aku akhirnya terbongkar ketika bapak salah menyelipkan permen. Pagi itu aku menggunakan seragam batik tetapi bapak menyelipkan permen di saku seragam putih. Di sekolah ketika tak kutemukan permen di saku baju, aku sempat jengkel pada bapak yang telah melalaikan permenku. Ketika aku pulang sambil bersungut-sungut, aku tak sadar ibu tengah kebingungan memperhatikan semut yang berbaris panjang di tembok. Ibu mengikuti barisan semut hingga berujung di baju seragamku. Tak lama kemudian ibu keluar dengan seragam yang penuh dengan semut.

Ibu marah? Tentu. "Aku sudah curiga ketika gigimu tampak gigis!" seru ibu sambil menjewer telingaku.

Sejak itu bapak tak lagi memberiku permen Kojak. Namun aku tetap melepas sepatu dan kaos kakinya. Kali ini bukan demi permen Kojak tapi demi tangan Bapak yang nguwel-uwel rambutku.

Jika membuka album foto lama, tampak dua gigi depanku gigis, walau tak terlalu parah. Tetapi aku bangga karena di balik gigis itu ada cerita betapa sayangnya bapak padaku.

Mungkin benar aku anak manja, terutama pada bapak. Mungkin karena aku anak ragil. Keempat kakakku gemar sekali mengolok-olok dengan memanggilku "Si Manja". Lucunya, merekapun ternyata sering menggunakan aku sebagai tameng jika melakukan kesalahan. Aku ingat betul ketika kaca jendela pecah terkena tendangan bola Mas Iwan dan Mas Iyan. Kedua kakakku begitu ketakutan. Tetapi begitu aku melintas, mereka memanggilku dan memohon-mohon agar aku bersedia berbicara dengan bapak jika bapak pulang nanti. Aku pikir ini kesempatan membuat mereka "berhutang budi" padaku dan tak lagi menganggu. Dan aku pikir bapak tidak mungkin akan memarahi aku.

Ternyata dugaan kami salah besar. Bapak tetap marah. Bukan soal kaca yang pecah tapi karena pelanggaran jam tidur siang. Dan karena aku terlanjur mengakui itu sebagai perbuatanku, akhirnya kutanggung kepedihan di pantatku. Mas Iwan dan Mas Iyan tertunduk dalam tak berani bergeming dari sudut ruangan. Bahkan mereka tak lantas menunjukkan itu tanggung jawabnya. Mungkin mereka takut pada kemarahan bapak.

Satu yang bisa kusimpulkan dari peristiwa itu, bapak memang sayang padaku. Tapi itu bukan berarti aku bebas semauku. Tetap ada batas yang tak boleh aku langgar

"Bagaimana, Nur?" tanya Mas Iwan, menyadarkanku dari lamunan tentang masa kecilku.

Kuhela nafas sejenak sembari melepas pandangan yang sejak tadi melekat pada lukisan bergambar Bapak. Kini tujuh tahun sudah bapak tiada. Dan kami berlima tengah duduk di ruang tengah. Hanya ada kami berlima. Ibu sedang jalan-jalan bersama istri Mas Iwan dan Mas Iyan serta cucu-cucunya. Sementara suami Mbak Is dan Mbak Ning memilih duduk bermain catur di teras. Ini memang pembicaraan keluarga. Inti pembicaraan adalah tentang ibu. Oleh karena itu, ibu sengaja "disingkirkan" dengan acara jalan-jalan tersebut.

"Tinggal kamu yang belum memberikan pendapat," lanjut Mas Iwan.

"Apa salahnya jika ibu menikah lagi, Mas?" ujarku kemudian menjawab dengan pertanyaan.

Mas Iwan, Mas Iyan, Mbak Is, dan Mbak Ning saling menatap.

"Kamu sadar dengan ucapanmu, Nur?"

"Apa pantas ibu menikah lagi di usia senja?"

"Anak-anak ibu sudah besar. Bahkan sudah bercucu. Apa pantas wanita seusia itu menikah lagi? Lalu apa yang coba dicari?"

Mereka seolah saling berebut untuk berbicara.

Sebulan lalu, ketika Lebaran Haji datang, ibu memang sempat mengutarakan niatnya untuk menerima lamaran seseorang. Waktu itu kami sempat menganggapnya sebagai gurauan. Tetapi ketika keesokan harinya Pakde Dar, teman almarhum bapak, datang berkunjung dan membicarakan hal yang sama, barulah kami sadar bahwa ibu serius. Ributlah kami berdiskusi. Dan puncaknya adalah hari ini.

"Ibu tidak memaksakan diri. Bagaimanapun kalian telah dewasa, segala keputusan ibu kini adalah keputusan yang harus atas persetujuan kalian. Jadi jika memang kalian tidak menyetujui, ibupun tak akan melakukannya," lirih kata ibu waktu itu.

"Nur, " sekali lagi Mas Iwan mengagetkanku. "Kukira selama ini kamu yang paling dekat dengan almarhum bapak."

"Ya, Mas, Mbak, posisi bapak memang tak akan tergantikan oleh siapapun. Bahkan Pakde Dar. Betapapun Pakde Dar teman dekat bapak. Aku percaya ibupun berpikir sama dengan kita." Aku menyusun nafas sebentar. "Kita sudah dewasa. Sudah tua. Sudah punya anak. Jika ada yang menjadi bapak tiri kita, itu bukan untuk menjadi figur bapak seperti ketika dulu bapak masih sugeng. Kita butuh seorang bapak sebagai orang yang kita hormati, yang bisa menjadi teman di hari tua ibu. Aku yakin, ibupun butuh figur suami bukan sebagaimana figur bapak dulu bagi ibu. Tetapi lebih sebagai teman di hari tua ibu."

Mas Iyan hendak bicara, tetapi Mas Iwan memberi isyarat untuk diam.

"Ibu butuh teman. Itu yang harus kita pikirkan," ujarku melanjutkan, "Jangan berbicara tentang pantas dan tidak pantas. Yang kita hadapi sekarang adalah ibu, sebagai manusia, yang butuh teman. Dan kebetulan pada diri Pakde Dar ibu menemukan. Kita juga sudah tahu Pakde Dar bagaimana. Kita juga kenal dekat dengan anak-anak Pakde Dar. Rasanya kita tidak punya alasan untuk melarang ibu dan Pakde Dar."

Hening. Kami tak lagi berbicara. Langit di luar mulai memancarkan sinar lembayung. Indah sekali. Sebentar lagi malam akan turun.

"Itu pendapatku, jika itu yang Mbak dan Mas tanyakan. Tapi ini pembicaraan bersama. Keputusan tetap ada di tangan forum ini," kataku akhirnya.

Kembali kami diam. Mbok Ipah masuk dan menggangguk hormat. Di tangannya tampak sepiring pisang goreng dan beberapa gelas teh hangat. Aku ingat Bapak sangat menyukai pisang goreng dan teh hangat seperti ini.

*

Hari ini aku kembali menatap lukisan bergambar bapak. Tepat delapan tahun bapak tiada. Bapak tampak gagah. Apalagi dengan seragamnya. Bapak makin terlihat gagah. Kumisnya teratur rapi sebagaimana rapi alis tebalnya. Senyumnya mengembang lebar menunjukkan betapa bersahabatnya bapak. Semua masih tampak sama seperti setahun yang lalu. Kecuali satu, kini lukisan bapak tak lagi seorang diri. Di sampingnya tergantung lukisan bergambar ibu. Lukisan itupun aku pesan pada pelukis jalanan Malioboro. Ibu tampak ayu dengan kebayanya. Senyumnya mengembang begitu menyejukkan.

Sebenarnya, tak cuma di dinding ini bapak dan ibu bersatu. Karena kini, tepat di sewindu slametan meninggalnya bapak, akupun slametan untuk setahun meninggalnya ibu.

Ibu meninggal tepat satu bulan setelah pembicaraan kami memutuskan untuk menolak keinginan ibu. Aku tahu, ibu tidak kecewa. Keputusan itu mungkin sudah diduganya. Jika ibu meninggal tepat satu bulan setelah keputusan itu keluar, bukan karena ibu memendam kekecewaan yang teramat dalam, tetapi karena memang sudah waktunya. Ibu memang sudah cukup tua.

"Lho, kok kamu menangis, Nduk?" tanya Pakde Dar yang tiba-tiba telah berdiri di belakangku .

"Saya yatim piatu kini..."ucapku dengan suara tercekat.

"Lho, lho, lho, kamu kan masih punya aku, Nduk! Aku kan juga bapakmu! Ya, meski bapak wurung!" Pakde Dar terkekeh. "Tapi...yach, tapi siapa tahu akupun segera dipanggil Yang Kuasa. Sama seperti bapak dan ibumu suwargi. Aku tak tahu apakah kamu juga akan menangisi aku, he, he, he." Pakde Dar terkekeh lagi. Aku tersenyum. "Nah, kalau kamu tersenyum begitu kan manis! Wis, ayo sana basuh wajahmu dan bantu mbakyu-mbakyumu!"

Pakde Dar menuntunku ke ruang dalam. Tampak terhampar dus-dus berisi makanan yang akan kami hantarkan pada tetangga dan kerabat. Mbok Ipah dan Mbak Ning sibuk mengatur kertas bertuliskan slametan meninggalnya bapak dan ibu. Beberapa ibu-ibu tetangga kami pun tampak sibuk memasak dan mengatur makanan. Aku segera membasuh muka dan segera pula bergabung dalam kesibukan di ruang tengah.

Sejenak aku melontar pandangan ke luar. Tampak Pakde Dhar asyik bercengkerama dengan anak-anak kami. Kupandangi lekat-lekat sosok lelaki tua itu. Aku merasa melihat figur bapak ada di dalam diri Pakde Dar.....

akhir Desember 1997

Hosted by www.Geocities.ws

1