Cerpen
PEREMPUAN YANG TAK PERNAH BISA KUMENGERTI
Perempuan itu tak bergeming dari lelapnya, bahkan ketika
kubenahi selimutnya. Wajah yang begitu damai ditidurkan di dadaku. Nafasnya menghangati keseluruhanku. Sungguh,
aku tak sanggup membangunkannya walau begitu banyak yang ingin kutanyakan.
*
"Kamu tak sungguh-sungguh mencintaiku. Kamu hanya
kasihan padaku," ujar perempuan itu.
Aku tertegun. Sangat terkejut mendengar pernyataan
yang cenderung menuduh itu.
"Tidak lebih," sakali lagi ia menandaskan
sebelum sempat aku menjawabnya. "Kamu hanya kasihan padaku, tidak
lebih." Aku masih saja terkejut, meski ini pernyataannya yang ketiga. Aku
tetap diam. Tak hendak menjawab. Aku begitu bingung dengan pernyataannya. Namun
tiba-tiba aku berpikir benarkah demikian?
Ketika pertama kali berkenalan, aku hanya berpikir
bahwa dia cantik. Itu saja. Aku memang tak percaya cinta pada pandangan
pertama. Mungkin karena aku tak pernah mengalaminya. Pada perempuan ini pun
demikian. Ia cantik, itu benar. Tetapi hanya itu yang mampu menggetarkan
rasaku, bukan cintaku. Satu hal yang wajar karena aku laki-laki dewasa, normal,
yang sangat terbiasa bergetar hasrat bila melihat perempuan cantik. Kemudian
dalam berbagai kesempatan, tiba-tiba aku dihujani kiriman salam. Pikiranku yang
cenderung nakal membacanya sebagai isyarat menggoda. Aku terlalu terbiasa
membacanya.
Aku mulai ingin tahu lebih banyak tentangnya.
Informasi yang semula kuharapkan bisa menjadi bekal untuk menjajaki kemungkinan
mengajaknya bersenang-senang ternyata ambyar.
Aku bukan laki-laki yang baik jika ukuran baik itu
adalah tidak meniduri perempuan yang bukan istrinya. Teramat sering aku
berganti teman kencan. Apalagi aku lajang. Terus terang, kesenangan inilah yang
mendorongku untuk mempertahankan kelajanganku. Tetapi demi mendengar kisah
tentangnya, aku menjadi berpikir bahwa mungkin, bahkan pasti, perilakuku selama
ini telah menyakiti hati banyak perempuan. Seperti juga yang dialami perempuan
ini. Aku dengar perempuan ini terlalu sering menelan janji dari banyak lelaki yang
teramat gombal menjanjikan perkawinan. Dan aku harus mengakui ternyata masuk
kategori yang teramat gombal itu!
Aku lalu berpikir untuk segera mencari dermaga
terakhir. Usiaku ternyata semakin menapak. Dan rasanya tiba waktuku untuk
membina rumah tangga yang mudah-mudahan lebih kekal ketimbang
kesenangan-kesenanganku selama ini.
Aku lelaki gombal. Dan dia perempuan yang sering
digombali. Jika kemudian aku memilih dia sebagai teman membina keluarga,
mudah-mudahan dia bisa menerima aku apa adanya. Seperti aku akan menerimanya
apa adanya. Apalagi, konon katanya, ia pun tengah dalam pencarian yang sama
sebagai akhir dari kekecewaan-kekecewaannya. Maka kuberanikan diri untuk
menyatakan cinta. Aku tahu, kali ini pasti aku terlihat sangat norak karena
tiba-tiba saja untuk perama kalinya aku terbata dan nyaris gagap untuk sekedar
mengungkap kata cinta. Tetapi aku menjadi sangat tersanjung karena ternyata ia
tak menertawakanku. Ia mengecupku sebagai ungkapan penerimaannya. Bahkan ada
air mata!
Percaya atau tidak, sekian bulan berlalu tetapi tak
pernah sekalipun kusentuh dia. Entah dengan dirinya, tetapi yang pasti tiap
kali keinginan dewasaku menggolak, aku berhasil mencegahnya. Aku tak bisa
memperlakukannya seperti perempuan-perempuanku yang dulu. Tak bisa. Aku
menabukan itu. Aku takut perilakuku akan menyakitinya jika aku membiarkan
kegolakanku.
Maka, pernyataannya itu begitu tiba-tiba bagiku. Aku
merasa tak pernah mengecewakannya. Tapi tiba-tiba aku dituduh tak
sungguh-sungguh mencintainya dan sekedar kasihan padanya!
Kami melepaskan ikatan pada akhirnya ketika ia
bersikukuh dengan pernyataannya tanpa memberi penjelasan mengapa ia berpendapat
demikian. Aku pun tak menuntut karena aku takut tak bisa membela diri. Terus
terang akupun mulai ragu benarkah cintaku kubangun dari perasaan kasihan.
Sekian waktu berlalu. Dermagaku tak jua kutemukan. Mungkin
karena aku tak sungguh-sungguh mencarinya. Dan aku cenderung kembali pada
perilaku lama.
Sekarang justru aku yang bertanya, siapa yang
sesungguhnya harus dikasihani dan mengasihani. Aku yang tercabik oleh
penampikannya yang sama sekali tak kuduga dan tak bisa kuterima atau dia yang
entah mengapa berpikir demikian?
Aku hampir melupakannya hingga beberapa jam lalu
ketika tiba-tiba kami kembali bersua. Dan tiba-tiba pula kami tergolek bersama.
Yang dulu kutabukan pada perempuan ini, kini dapat dengan mudah kulakukan.
*
Ketika aku membuka mata, perempuan itu tengah duduk
sembari memandangiku. Ia tersenyum. Cantik sekali. Aku tak sempat terlalu lama
membalas tatapannya karena tiba-tiba ia mengecupku mesra. Dan pagi itu kembali
kami lakukan. Lepas. Tanpa beban.
"Aku mencintaimu," bisikku.
Jari telunjuknya ditempelkan di bibirku. Dan tak
kusiakan.
"Aku tahu kau tak sungguh-sungguh mencintaiku.
Kau hanya kasihan padaku."
"Lagi-lagi kalimat itu!" dengusku.
"Kau tak memahami dirimu. Tanyakan lagi ke
hatimu, pasti itu jawabannya!"
"Aku mencintamu!" seruku.
"Kau bahkan belum menanyakannya!"
Aku bangkit dengan kesal hati. Tapi tangan lembut
menggayut pundakku.
"Begitu kasihannya kau padaku sampai-sampai
kau tak akan sanggup melakukan kewajibanmu. Kau selalu takut akan menyakitiku.
Benar bukan? Aku pun tak mau ini terjadi padamu. Kamu terlalu agung bagiku. Aku
tak sanggup melihat kamu…"
"Aku sanggup. Bukankah semalaman, seharian,
kita…"
"Kita melakukan bukan atas nama cinta. Tapi
karena kamu butuh, aku butuh. Itu saja. Tidak lebih."
Aku memejamkan mata. "Ternyata bukan aku yang
membangun rasa kasihan. Tapi kamu. Kamu kasihan padaku yang dulu selalu tak
mampu meneruskan."
"Kamu tak mengerti bahwa yang terjadi padamu
pun terjadi padaku. Bahwa aku tak akan sanggup melakukan kewajibanku sebagai
istri karena aku selalu takut akan mengecewakanmu," desahnya.
Aku membuka mata kembali. "Bukankah semalaman,
seharian, kita…"
"Kita melakukan bukan atas nama cinta. Tapi
karena kamu butuh, aku butuh. Itu saja. Dan ternyata kita bisa lebih menikmati
ketimbang jika kita bertemu sebagai kamu dan aku yang hendak berlabuh
bersama."
Aku tak menjawab. Karena pemikirannya begitu rumit
untuk kumengerti.
***
Oktober 1998