PAK GURU ITU …..
Pak Bas masuk ke kelas 2 C untuk mengisi jam yang ditinggalkan Bu Tari. Tadi sebenarnya Ryan, Sang Ketua Kelas, udah didaulat temen-temennya buat majuin jam pelajaran. Mereka udah tahu kalo siang itu Bu Tari nggak bakalan dateng karena cuti melahirkannya udah dimulai. Jadi mereka bisa maju. Jadi juga, pulangnya lebih awal. Apalagi ini Sabtu. So, persiapan buat Malem Minggu bisa lebih panjang. Tapi tiba-tiba Ryan datang malah bawa Pak Bas. Kontan sak kelas wajahnya jadi jute semua.
"Belagu amat sih Lo, Yan!"
"Mo cari muka ke Pak Bas ya?!"
"Asli, bukan maksud Gue kayak gitu. Pak Bas aja yang tiba-tiba masuk. Kalian sih ribut banget kayak pasar burung. Jadi mancing perhatian. Kalo misalnya tadi guru piket nggak ngasih maju, paling tidak kan kita bisa tetep kosong!" desis Ryan.
"Anak-anak, mulai sekarang kita ada kebidakan baru bahwa jam pelajaran harus berlaku efektif. Artinya tidak boleh ada jam kososng. Jadi, kalau ada guru yang berhalangan hadir, guru piket akan menggantikan. Khusus untuk pelajaran Bu Tari, kali ini saya yang mengambil alih. Tetapi mulai Senin besok, sudah ada guru pengganti. Sementara beliau masih menjadi guru pengganti. Tetapi baik kepada guru pengganti ataupun guru tetap, kita tetap harus menjunjung tinggi penghormatan kepada para pendidik kita….." Dan bla…bla…bla…Pak Bas terus bicara.
*
Sally masih tergelak-gelak dengan joke dari Anton. Ia belum menghentikan tawanya sementara anak-anak lain mulai duduk rapi di bangkunya masing-masing. Tinggal Sally yang masih duduk dengan kursi menghadap ke belakang, ke meja Anton. Anak-anak cowok juga udah mulai tenang.
Yaya menyodok tubuh Sally.
"Aduh, Ya, kebangetan, Lo! Sakit!" seru Sally.
"Guru baru udah masuk dari tadi!" gumam Yaya.
Sally pun segera membalik kursinya. "Salah sendiri, masuk nggak pake permisi!" gumamnya asal.
Guru baru itupun mulai berbicara. Mula-mula perkenalan. Lalu memanggil nama-nama siswa,"Presensi sekaligus supaya kita bisa lebih mengenal dengan akrab," katanya kalem. Lama juga waktu yang digunakannya. Apalagi ia juga tanya alamatnya di mana, anak keberapa, de el el.
"Monoton!" gumam Sally. Mungkin gumamannya terlalu keras hingga guru baru itu mendongakkan kepala. Sally cuek aja.
"Tinggal lima nama lagi,’ ujarnya. Masih kalem.
Tapi Sally udah bete betul. Apalagi ia lihat teman-temannya, terutama yang cewek, begitu kalem pula. Kesannya emang dibuat-buat. Dimanis-manisin. Mungkin karena guru baru itu lumayan cakep. Produk masa kinilah. Buktinya rambutnya disisir rapi, meski nggak dibuat klimis ala rambut Pak Bas, Pak Sur, Pak Cip. Lumayan juga lihat rambut sehat gitu. Dan masih utuh. Abis, selama ini Pak Guru-Pak Guru banyak yang udah …ehem…maaf ya, botak. Tapi bukankah, eyang Sally bilang kalo botak itu tandanya pinter, profesor gitu. Hi, hi, hi, eyang emang ada-ada aja. Kembali ke guru baru itu, hmm, bajunya juga kemeja biasa. Kesannya ia emang pantes jadi karyawan perusahaan swasta. Abis, selama ini Sally sering lihat gurunya bersafari. Tubuhnya juga wangi, tetapi kesan machonya kelihatan banget. Sally bisa menebak, ini pasti emang parfum cowok, bukan parfum cewek yang dipaksain dipake cowok.
"Sal, tuh Lo dipanggil!" kembali Yaya menyodok tubuh Sally.
"Aduh, Ya! Awas!" Sally mengangkat tangannya. "Saya, Pak."
"Panggilannya?"
"Sally," tangannya masih di atas.
"Oh. Oke, perkenalan kita sudah selesai…"
"Sialan, Gue cuma ditanya nama panggilan doang. Yang lain pake ditanya macem-macem. Eh, Pak, udah nih?" tanya Sally sambil menurunkan tangannya.
Guru itu tersenyum. "Sudah selesai, Sally, terima kasih."
Sari yang duduk di belakang Sally menyodok punggung Sally. "Belagu, Lo, em pe bener!"
"Yee, emang Gue pantes diperhatiin!" sahut Sally asal. Ia masih agak kesal sudah tiga kali mendapat sodokan.
"Terus terang," guru baru itu bicara lagi," saya belum menyiapkan bahan…"
"Aduh, kenapa juga nekat kalo belum siap!" geram Sally.
Sekali lagi guru baru itu tersenyum ke arah Sally. Dan kembali Sari menyodok punggung Sally.
"Kata Bu Tari…."
"Aduh, kata Bu Tari lagi, cari referensi sendiri donk!" geram Sally lagi.
Sekali lagi guru baru itu tersenyum ke arah Sally. Dan kembali untuk yang kesekian kalinya Sari menyodok punggung Sally.
"Siapa sih yang belagu sebenernya? Lo atau Gue!?" semprot Sally keras ke arah Sari.
"Udah, akh!" Yaya menengahi.
Sally emang nggak sedang belagu. Ia emang lagi bete banget sama guru baru itu. Cakep sih cakep. Tapi kalo nggak bisa ngajar, buat apa. Sally emang bete banget ditinggal cuti Bu Tari. Maklum, Sally kan kesayangan Bu Tari. Ia jago bahasa Indonesia sih. Apalagi kalo udah urusan sastra. Sally juga kan yang kemaren mewakili SMUnya di Lomba Penulisan Artikel Remaja se Jabotabek. Bu Tari sendiri yang nganterin Sally waktu presentasi.
*
"Sally!" Seseorang memanggil Sally. Sally menoleh. Tampak guru baru itu berjalan ke arahnya. "Sally. Benar’kan?"
Sally mengangguk.
"Sendirian?"
"Nggak," sahut Sally. "Tuh, yang lain banyak!" dengan dagunya ia menunjuk ke arah orang-orang yang ada di sekitar halte bus itu. "Senyum lagi, senyum lagi!" gerutu Sally dalam hati waktu guru baru itu tersenyum ke arahnya.
"Ikut ekstra apa?"
"Nggak ada ekstra hari ini. Barusan rapat buat HUT SMU kita. Perlu informasi hasil rapat?" tanya Sally asal. Dan ia sudah menduga kalo si guru baru itu bakal senyum lagi. Nah, bener ‘kan.
"Rapat juga, Pak?" tanya Sally. Basa-basi, daripada ia terus yang ditanya,
"Tidak."
"Kok nggak pulang dari tadi? Pak Bas aja udah pulang jam tiga tadi."
"Saya belajar. Saya lihat buku-buku Bu Tari. Beliau juga sudah mengijinkan. Saya juga ke perpustakaan. Saya ingin besok pagi masuk kelas kamu sudah siap dengan bahan yang harus kita diskusikan. Saya ingin membuat sambungannya menjadi mulus."
Kali ini Sally jadi diem. Nggak asal nyela lagi. Ia nggak nyangka celetukannya tadi bener-bener diambil hati sama itu guru baru.
"Itu bus saja, Sally. Kamu naik apa?" tanya guru itu.
"S…ss…sama.." jawab Sally. Terbata apa gagap nih?
*
"Gue mesti minta maaf? Ih, sorry! No way!" seru Sally ketika ia curhat ke Yaya soal yang dialaminnya kemaren.
"Lho, apa salahnya, Non!"
"Gue kan cuma nyela. Soal itu diambil hati ama guru baru itu…"
"Pak Agus."
"Iya, Pak Agus. Pokoknya soal itu diambil hati sama Pak Agus, ya itu urusan dia. Masa kebebasan berbicara udah dilarang di negeri ini."
"Ya, udah. Lo kan tadi minta saran. Ya Gue saranin kayak gitu. Soal Lo terima atau nggak, itu hak Lo. Up to Youlah."
Tapi bener, sejak sore itu, apalagi sejak denger saran Yaya, Sally jadi kepikiran terus. Ia emang bingung kudu gimana. Tapi tadi Pak Agus emang langsung bagus masuknya. Nggak ngloncat, Bisa langsung nyambung dengan topik Bu Tari dulu. Nah, kalo udah gitu, apa ia salah. So, kenapa mesti minta maaf?
*
"Rapat lagi?’ tanya Pak Agus.
"Nggak, Pak. Abis marching!" sahut Sally sambil menggamit lengan Yaya. Tadi waktu ia lihat Pak Agus jalan ke halte ia rada keder juga. Nggak enak. Untung di sampingnya ada Yaya. Untuk banyak anak marching di sekitarnya. Jadi Pak Agus nggak mungkin jalan lebih deket ke arahnya, Apalagi tadi Sari udah bermanis-manis muka menyapa Pak Agus. Tapi dasar Sanib, eh maaf Sanib kan nama driver Yaya. Dasar nasib, Pak Agus ngedeketin Sally!
"Ada rapat, Pak?" tanya Yaya
"Sudah lima kali setiap kali saya pulang menjelang senja selalu mendapat pertanyaan yang sama dengan pertanyaan kamu. Jadi, apa itu berarti setiap kali guru pulang sore berarti ia baru saja mengikuti sebuah rapat?" tanya Pak Agus.
Asli, Yaya nggak tertarik menjawab pertanyaan itu.
"Tapi memang benar sore ini saya baru saja rapat dengan bapak dan ibu guru lainnya. Mempersiapkan ujian catur wulan. Sally, itu bus kita!" lanjut Pak Agus.
"Saya mau ke rumah Yaya, kok, Pak. Iya kan, Ya?"
Yaya mengangguk aja. Padahal seharian juga ia nggak ngebikin rencana ada acara mampir-mampir segala. Yaya tahu, Sally cuma mau menghindari berlama-lama dengan Pak Agus.
"Sal, kayaknya perhatian Pak Agus ke Lo udah beda dengan perhatian Pak Agus ke Gue, ke Sari, ke Uli, atau yang laennya," bisik Yaya setelah Pak Agus berlalu.
"Akh, Lo, kumat sok tahunya."
"Bener. Lo mo bukti? Oke, first, sorot matanya beda. Berbinar-binar. Terus, kalo pas ngajar, ia suka melihat ke arah Lo. Sering juga berdiri di dekat Lo. Lalu, kalo ia nggak ngajar, ia sering banget lewat-lewat di jendela kita. Pak Agus juga sering minta kamu maju ke depan. Nunjuk kamu baca tiga paragraf, padahal yang lain cuma satu paragraf. Terus…"
Sally emang nggak mungkiri kenyataan yang digeber Yaya. Cuma ia nggak mau kegeeran. Gimana-gimana ia takut pengalamannya dengan Kresno bakalan terjadi lagi. Udah jatuh cinta abis, tahu-tahu nggak bakalan jadian. Suer, Sally belum bisa 100 % nganggep Kresno sahabatnya. Yah, 50 % lebih dikitlah. Maka, ia seneng banget waktu terima surat Kresno. Kresno emang udah satu bulan ini pindah ke Semarang. Selain untuk nemenin ortunya yang katanya udah mulai tua, di Semarang juga ia ngerasa kesempatannya untuk ngewujudin cita-cita luhurnya bisa cepet kesampean. Wuh, Sally makin bangga dengan Kresno.
"Woi! Ngelamun lagi! Tuh, bus Lo udah dateng! Duluan deh sana! Gue bareng Uli!" disorongnya tubuh Sally. Setelah itu Yaya berjalan ke arah Uli.
*
"Assalamu’alaikum!" seru Sonny sambil melongokkan kepala ke kamar adiknya.
"Masuk, Son! Walaikum salam. Lo, tertib banget ngucap salam, Son. Gue salut. Eh, Son, discman Gue rusak nih. Nggak tahu kenapa. Betulin ya! Gue tersiksa kalo discman ini rusak. Please!"
"Emang Gue montir!" mulut Sonny manyun. "Sal, Gue mo ngomong sama Lo."
"Soal Yaya?"
"Soal Lo."
"Apaan sih?" Sally ngeri juga. Nggak biasanya Sonny yang hobby ngupil itu serius banget kayak gini.
"Sal, ada isu Lo jadian sama guru," bisik Sonny. Ia hati-hati banget. Abis, Sisil hobby nguping sih.
"Aduh, Son, emang Gue seleb, udah digosipin kayak gitu," protes Sally. Padahal, asli, ia kaget juga akhirnya gosip itu nyampe ke Sonny. Waduh, bisa-bisa nyampe juga ke mami-papi. Waduh, gaswat, nih. Ini nih nggak enaknya satu sekolah ama sodara.
"Tapi Sal, kalo Lo emang jadian dengan Pak Agus, manusiawi kok."
"Dari siapa Lo denger?’
"Jadi bener ya?"
"Son, asli, Gue nggak pacaran. Kemaren dulu Gue emang punya trouble dengan Pak Agus. Gue nyela. Kebiasaan dari lahir kali. Abis, itu Gue janji nggak bakalan nyela lagi. Abis, kayaknya Pak Agus tersinggung. Terus, Yaya kasih saran, Gue kudu minta maaf. Ya udah akhirnya Gue minta maan. Tapi Pak Agus bilang dia justru terima kasih karena dengan celetukan Gue tadi ia justru punya semangat baru buat semakin meningkatkan kemampuan ngajar dia. Udah itu aja. Asli, nggak pake pacar-pacaran segala. Nggak tahu kok akhirnya gosipnya jadi Gue jadian sama Pak Agus."
"Iya, iya. Gue cuman pingin tahu aja. Soalnya kabarnya banter, Sal. Apalagi waktu Pak Agus tadi lewat depen kelas Gue, Rony yang naksir Lo itu udah nyindir-nyindir. Gue sih udah panas. Tapi Gue lihat Pak Agusnya tenang banget."
"Terus?’ desak Sally.
"Ya, udah, nggak pake terusan."
"Kasihan Pak Agus…" gumam Sally.
"Tapi, Sal, Pak Agus lumayan juga ya," goda Sonny.
Dan reflek Sally ngangguk. Kepalang basah, ia nggak mau meralatnya.
Sonny senyum. Diusapnya rambut adiknya. Tumben Sally nggak marah. "Tadi Gue juga sempet ngomong-ngomong soal Lo dengan Yaya. Tapi dia nggak mau njelasin. Katanya Lo yang lebih berhak. Eh, Sal, kebayang nggak kalo Lo betul jadian. Kalo udah dewasa, lalu Lo kawin dengan dengan dia, hi, hi, hi, berarti dia adik ipar Gue donk. Berarti Gue bisa manfaatin dia supaya ngrayu ke Bu Lusi, biar matematik gue nggak jeblog. Eh, kan kalo Lo kawin dengan dia berarti kita udah lulus ya. Yach, nggak jadi praktek nepotisme nih…"
Dan Sonny masih berceloteh. Tapi Sally cuma diem. Ia inget tadi waktu ia pulang satu bus dengan Pak Agus, Pak Agus sempat nanya, "Kapan Kamu lulus, Sal?"
"Kalo sekarang kelas 2 udah mo jalan satu cawu berarti tinggal 1 tahun 8 bulan, Pak."
"Berarti saya harus menunggu selama itu…..eh, di sini ‘kan biasanya kamu turun?"
Pak Agus emang nggak sempet nyelesein kalimatnya. Atau ia sengaja. Tapi asli, Sally bisa menangkap artinya. Makanya, begitu nyampe rumah, ia telpon Yaya. Yaya bilang,"Emang, Sal, entah Lo naksir dia apa nggak, tapi Gue yakin Pak Agus punya perasaan lain ke Lo. Dan itu berarti ia emang kudu nunggu Lo lulus. Gimana-gimana Lo kan murid dia. Kayaknya belum lazimlah ada guru sama murid beraffair."
Yaya bangkit hendak telpon Yaya. Ia mo protes kenapa Yaya ngomong ke Sonny. Tapi ia nggak jadi protes ketika Sonny nyelesein celoteh panjangnya,"….percaya deh, Sal, Gue lebih percaya Lo daripada ke Titin sama Sari. Dua cewek itu kan mulutnya ember."
Sally lega, Yaya emang sohib yang bisa dipercaya. Akh, Titin dan Sari emang ember. Sally tahu, Titin masih sakit hati karena Kresno menolaknya. Sally juga tahu kali Sari naksir berat ke Pak Agus. Jadi, wajarlah kalo mereka bete ke Sally.
***