cerpen
MEMAKI TANDA MENGASIHI
"Mau ngapain?!!" tanya Irine. Suaranya ketus, mukanya jutek, seperti biasanya setiap kali Alvin datang. Biasanya pula setiap kali ditanya begitu, Alvin cuma nyengir sambil membenamkan topi kucelnya dalam-dalam. Tetapi kali ini pertanyaan Irine nggak dijawabnya dengan cengiran.
Alvin cuma diam termangu. Ya, mau ngapain dia? "Mau ngapain, sih?" desak Irine. Dan seperti biasa, setelah itu ia akan masuk ke ruang tamu. Biasanya pula Alvin tertawa kecil sambil mengikuti langkah Irine. Dan, masih biasanya, setelah Irine duduk, Alvin juga duduk sambil membuka topi dan merapikan rambutnya dengan tangan. Tetapi kali ini Alvin tetap diam di tempatnya. Berdiri. Termangu.
"Sialan!" umpat Alvin dalam hati. Bukan untuk Irine, tapi untuk dirinya. Baru kini ia sadar, terlalu sering ia mendengar kata "Mau ngapain" dari Irine dengan nada ketus. Sesering ia datang ke rumah Irine. Hitung aja, jika ia akrab dengan Irine sejak tiga tahun lalu, setahun pertama, ia cuma datang sekali sebulan. Berarti udah ada 12 kali tanya "Mau ngapain" ia terima. Tahun kedua, sebulan dua kali. Berarti 12 tambah 24, jadi 36 kali. Dan enam bulan kemudian, seminggu sekali. Berarti 36 tambah 24 ada 60. Enam bulan berikutnya, ia datang seminggu tiga kali, seperti kunjungan dokter pribadi. Total ada 132 kali Irine selalu ngucapin tanya yang sama. "Mau ngapain?". Bukan main! Ini tadi malah udah tambah dua kali dalam waktu kurang dari tiga menit! Dan sebanyak itu pula Alvin cuma bisa nyengir. Benar-benar nyengir! Tentu saja nyengir itu yang selalu keluar, karena ia benar-benar nggak tahu mau ngapain ia datang ke rumah Irine. Sementara, suer, Alvin juga nggak tahu kenapa selalu kata tanya itu yang keluar dari bibir Irine. Nadanya selalu sama, meninggi dan ketus. Kalau misalnya ditulis, nggak cuma satu tanda seru yang dipakai, tapi dua atau tiga. Saking ketusnya! Namun, lagi-lagi biasanya, biasanya walau ketus pada awalnya, tetapi begitu mereka ngobrol, Irine jadi berubah total. Sesuai dengan materi obrolannya. Kadang berapi-api, kadang melembut, kadang bibirnya bersungut, kadang, duh, mesra banget. Harus diakui, selama tiga tahun pula Alvin selalu sibuk membuat catatan-catatan kecil di kepalanya yang akan digunakan sebagai materi obrolan, mulai dari kejadian di sekolah, politik, sosial, ekonomi, semua dah. Sebab, jika nggak disiapkan sejak awal, bisa-bisa Irine jadi nggak berselera. Akhirnya mereka bukannya ngobrol ke sana ke mari, tetapi cuma diam sambil nonton televisi atau baca majalah. Satu-dua jam cuma gitu-gitu aja.
"Mau ngapain, sih, Vin?!"
"Nah, tiga kali!" pekik Alvin dalam hati. "Aduh, Rin, apa nggak ada kata lain yang Lu apalin selain mau ngapain itu? Bilang Hi, Guy!, kek. Bilang Masuk, Vin!, kek. Bilang Tumben, Lu, cool banget!, kek. Bilang Keren, bo!, kek. Atau apa, kek, asal bukan mau ngapain. Gue kan bingung ngejawabnya!" rutuk Alvin. Dalam hati tentu.
Ya, tentu saja Alvin bingung mau ngapain, orang dia datang juga nggak dengan misi khusus yang penting-penting amat. Eh, tapi penting juga kok. Persoalan kangen dan rindu kan nggak bisa dipandang remeh. Kalau udah menyesak, "Nggak kuaaaaat!!" begitu Alvin sering teriak.
"Lu mau berdiri aja di situ?" tanya Irine sambil berjalan kembali ke arah Alvin. "Kalau begitu, udah ya!" katanya sambil menutup pintu.
Alvin kaget. Benar-benar kaget. Dahsyat betul cewek ini. Sebenarnya sih ini bukan kali pertama Irine berbuat begitu. Kadang jika Alvin datang dengan maksud yang jelas seperti ngembaliin buku atau majalah, Irine menerima barangnya lalu bilang "Ya!" danutup pintu. Kalau udah begitu, Alvin akan mengetuk pintu lagi dan merajuk,"Irine gitu, deh. Bukain donk. Masak cuma segitu nyambut tamunya!" Biasanya juga Irine akan membuka pintu lagi. Lalu senyum. Wuh, kalau udah senyum, Alvin bisa pusing. Eh, jangan-jangan senyum Irine itu virus yang bisa bikin pusing. Tapi rasanya Alvin bersedia diserang virus itu terus menerus, kok. Makanya, Alvin nggak keberatan harus selalu merajuk.
Yang lebih seru, bahkan, bukan cuman sampai segitu tingkah Irine. Setiap kali Alvin pamit, serta merta Irine berdiri, lalu bilang,"Ya, ya, cepetan, donk!" dan begitu Alvin keluar, pintu udah ditutup lagi. Irine sama sekali nggak pernah nglepas kepergiannya. Boro-boro kiss bye. Dadah aja, nggak.
Bayangin, begitu terus hampir tiga tahun. Dan herannya, Alvin nggak jera-jera juga. Terus saja ia datang. Terus saja kirim salam. Terus saja ngerajuk. Dan yang pasti, terus saja nyengir.
"Irine, Irine, coba Gue nggak sayang ama Lu, udah dari dulu-dulu Gue tinggalin Lu. Masih banyak cewek yang lebih imut-imut, manis, cool, dan nggak galak kayak Lu!" bisik Alvin dalam hati.
Pintu terbuka lagi. Irine dengan muka super jutek, sambil melipat tangan di dada berkata,"Norak amat, sih!"
Nah, ini lagi! Norak, kampungan, kolokan, nggak dewasa, sok arif, adalah kata-kata yang sering dimakikan Irine pada Alvin. Dan Alvin bisanya cuma....ya....betul, nyengir. Mending kalau nyengirnya oke. Tapi emang bener, Irine selalu siap menjadi komentator Alvin di depan teman-temannya di sekolah. Mulai dari sepatu, kaos, topi, rambut, gaya bicara, semua tentang Alvin dikomentarin. Rasanya komentator bola aja nggak bakalan bisa ngalahin Irine. Komentar Irine selalu mengundang tawa teman-temannya. Kalau udah begitu, lagi-lagi Alvin mengeluarkan jurus nyengirnya.
Tapi kalau dirasa-rasain komentar Irine ada benarnya juga. Alvin memang terkesan semau gue. Ia nggak merhatiin sepatunya yang belepotan lumpur, nggak merhatiin seragamnya yang udah uzur, nggak merhatiin topinya yang udah pudar warnanya. Kesannya Alvin memang jadi norak dan kampungan.
"Vin, Lu, mau ngapain, sih?" sergah Irine yang mulai nggak sabar dengan kelakuan Alvin.
"Cukup! Cukup!" seru Alvin mulai panas. "Apa kosa kata Lu cuma itu, Rin? Udah 132 kali Lu ngucapin hal yang sama tiap kali Gue kemari! Dari tiga tahun lalu, bulan Desember, tanggal 3, selalu kata itu! Hari ini malah 4 kali dalam 5 menit! Apa mesti Gue jelasin kalau Gue kemari karna Gue kangen ama Lu! Apa Lu siap kalau tiba-tiba Gue bilang Gue naksir sama Lu, serius, nggak main-main! Apa Lu nggak kaget kalau tiba-tiba Gue terus terang tentang perasaan Gue! Lu siap, nggak?" cerocos Alvin. Plong! Tapi kaget juga kok ia berani bicara begitu.
Alvin boleh kaget, tapi Irine lebih kaget. Kaget sekali ia mendengar Alvin bicara. Bukan karena suara Alvin yang biasanya lembut jadi terdengar keras dan kasar, tapi isi dari pembicaraannya. "Nggak tahu malu, bilang cinta teriak-teriak! Marah-marah! Kampungan! Norak! Nggak dewasa!" cerocos Irine.
"Biarin nggak dewasa! Biarin kampungan! Biarin norak! Yang penting Gue udah bilang kalau Gue naksir sama Lu! Dasar ketus! Jahat! Kaku!"
Lalu.....pet! Keduanya diam. Alvin diam. Irine juga diam. Kayak listrik lagi padam.
Akhirnya Alvin gusar sekali dengan kenekatannya. Ia juga nyesel kenapa harus bilang ketus, jahat, dan kaku pada Irine. Irine pasti tersinggung. Sakit hati. Irine pasti benci sama dia. Mungkin nggak sekedar kata "Mau ngapain" yang bakalan nggak ia dengar lagi. Tapi juga makin nggak dewasa, norak, kampungan, kolokan, dan lain-lain. Padahal makian dari Irine itu yang selalu dirindukannya.
Dulu, sebulan nggak dimaki, ia kuat. Lalu seminggu nggak dimaki, ia masih kuat juga. Kini, sehari saja nggak dengar makian Irine, nggak kuaaaaat! Tapi yach, apa mau dikata, nasi udah menjadi kerak. Mungkin habis ini Irine nggak bakalan mau berteman lagi dengan dia. Apa mau dikata. Akh, coba nggak ada perasaan cinta di hatinya. Mungkin hubungannya dengan Irine menjadi lebih manis dan nggak terancam bubar seperti ini. Buruk sekali kan pisahnya?
Alvin menggeleng-gelengkan kepala. Gusar sekali dia. Nggak lama kemudian ia bicara. Parau. "Sorry, Rin, kalau Lu tersinggung ama ucapan Gue tadi! Gue nyesel, kenapa kudu begini endingnya. Harusnya bisa lebih happy. Gue nggak apa-apa kalau abis ini Lu benci ama Gue. Ikhlas. Mungkin Lu emang bukan buat Gue....Sorry, ya, selama ini Gue udah bikin Lu kesel, bosen, dan entah apalagi." Alvin membalikkan badan. Ia berjalan pelan menuju ke motornya. Motor yang biasanya meraung kencang kini cuma digas pelan.
"He, Muka Beton!"seru Irine.
Alvin terkejut. Muka beton!? Waah, makian baru. Tapi, apa benar makian itu buat dia? Ragu-ragu Alvin menoleh. Lalu menengok kiri-kanan. Nggak ada orang. Berarti makian itu benar buat dia, donk. Nggak jera juga cewek itu dengan makian-makiannya. Ia menghentikan gas motornya. Menunggu cewek yang amat dikasihinya itu berjalan ke arahnya.
"He, Muka Beton! Emangnya Lu kira Gue nggak ngerasa kalo Lu naksir Gue? Emangnya Gue nggak bisa ngerti kalau Lu datang-datang kemari karna naksir Gue! Emangnya perasaan Gue mati! Gue tahu! Dasar! Eh, denger! Lu itu udah bukan Muka Tembok lagi, tapi Muka Beton! Udah tahu Gue coba jaga jarak, masih aja ngrangsek! Sekarang, kalau Gue udah naksir begini, siapa yang bertanggung jawab, ha? Enak aja, mau pegi! Salah siapa kalo akhirnya Gue juga sayang sama Lu? Gue juga naksir Lu, tahu nggak? Gue juga sering kangen sama cengiranmu yang nggak manis itu! Karna Lu muka beton itu Gue jadi naksir ama Lu!"
Ganti Alvin yang diam. Bukan cuma termangu. Tapi terperangah. Ia udah biasa dengar Irine dan ceplas-ceplosnya. Ia udah biasa dengan Irine dan makian-makiannya. Udah biasa. Sangat biasa. Tapi yang ini luar biasa! Irine naksir Alvin juga! Alvin turun dari motornya. Ia menatap Irine lekat-lekat. Cewek lain mungkin udah menunduk, tersipu, bersemu merah. Tapi yang ini memang cewek luar biasa. Ia balas memandang Alvin. Dengan mesra malah. Alvin jadi kikuk banget. Jroji, Man. Justru ia yang kemudian menunduk. Mukanya memerah panas.
"Norak! Kayak film India aja, pake nunduk-nunduk tersipu!" gerutu Irine. Ia berjalan meninggalkan Alvin.
Alvin gelagapan. "Lho, Rin, tunggu!" Alvin mengejar langkah Irine. "Terus bagaimana?"
"Apanya?"
"Ya, kita, lagi. Lha, emangnya kalau bukan kita lantas siapa?"
"Ya, udah."
"Ya udah gimana?" tanya Alvin nggak mengerti.
"Lha, Lu maunya gimana?" Irine balik bertanya.
"Ya, jalan. Maksud Gue, pacaran, dating, apa, kek!"
"Ya, udah, oke! Kita jalan, pacaran, dating, apapun istilah Lu, boleh. Tapi, kalau ke sini seminggu sekali aja, ya. Malem Minggu aja. Kalau keseringan ntar Gue cepet bosan. Cepet bubar!" Irine menutup pintu.
"Ini serius, 'kan?" desak Alvin.
"Emangnya Gue maen-maen? Awas, ya, kalo Gue udah serius tapi Lu nggak setia!"
Alvin ternganga. Ini cewek benar-benar beda. Nggak mesti sepuluh tahun sekali diproduksi. Makanya Alvin naksir berat. Dan, yang lebih penting, kini Alvin tahu ia nggak bertepuk sebelah tangan. Oh, thanks, God!
Alvin berjalan menuju motornya sambil mengangguk-angguk. Hmmm. Kini, Alvin mendapat satu kesimpulan, memaki nggak selalu berarti benci. Bisa jadi, memaki tanda mengasihi!