KEMERDEKAAN YANG TERTUNDA!
Sally berlari menuju kelasnya. Mukanya dipenuhi dengan senyum. Nggak jelas bener mana mata, mana hidung, semua dipenuhi bibir yang merekah. Full smile. Sampe di kelasnya ia langsung di sisi Yaya. Lalu ngluarin tempat pensil dan penggaris dan dipukul-pukulkan ke meja. Kebayang nggak tempat pensil dari senk dan penggaris logam beradu dengan meja? Ribut banget bukan? So, anak-anak yang lagi ribut nyalin PR Fisika langsung pada protes.
"Woi, brisik!" seru Uli.
"Biarin!"jawab Sally sambil terus membuat keributan.
"Kesambet kali tuh anak!" gumam Joko.
"Biarin!" sahut Sally lagi.
"Sal, kalo mo latihan marching, besok sore! Jangan pagi-pagi gini! Lagian Lo udah lama banget nggak masuk marching," Yaya ikutan protes.
"Merdeka, Ya, Gue sebentar lagi merdeka!" bisik Sally.
"Emang Sejarah Lo berapa sih. Orang kata merdeka sejak 17 Agustus 1945. Udah lebih setengah abad lalu."
"Pokoknya Gue merdeka!"
"Lo kenapa sih?"
"Gue lihat seseorang di ruang guru. Lo tahu nggak siapa?"
"Tahu, akh. Paling Pak Sur, Bu Lusi, atau siapa kek. Namanya juga ruang guru," Yaya nggak antusias main tebak-tebakan.
"Bu Tari!" bisik Sally.
"Bu Tari?" seru Yaya.
Beberapa anak ke arah keduanya.
"Bu Tari sudah masuk ya?" tanya Uli.
"Nguping! Udah, Lo buat PR sana!" seru Sally.
"Tapi bener Bu Tari udah masuk?" desak Joko.
"Yeee, mau tahu aja. Udah sana pada bikin PR. Tadi kan Lo semua yang ngelarang Gue ribut."
"Bah, belagu pula kau ini!" desah Uli.
Yaya menatap Sally. "Perutnya udah kempis ya?"
"Namanya juga nglairin. Udah pasti sekarang kempis lagi."
"Terus, apa hubungannya dengan merdeka Lo tadi?" Yaya kembali membuka majalahnya seolah nggak gape ngaruh dengan Sally.
"Akh, Lo, think!" seru Sally sambil enak aja nutup majalah Yaya.
"Bener, Gue nggak tahu."
"Dilihat donk kronologisnya."
"Bentar, kronologis apaan sih?"
"Kapan Bu Tari cuti?"
"Tahu," sahut Yaya cuek.
"Akh, Lo. Oke, Bu Tari ngajar apa?"
"Bahasa Indonesia."
"Setelah cuti, siapa yang pegang Bahasa Indonesia?"
"Pak Agus."
"Sekarang, Bu Tari udah kelar cuti melahirkannya. Berarti…"
"Berarti Bu Tari akan mengajar lagi."
"Terus…." Sally terus memancing Yaya.
"Terus, Pak Agus…."
"Nah, tahu’kan? Setelah Bu Tari masuk lagi, Pak Agus kan mau nggak mau bakalan keluar. Itu berarti Gue bakalan nggak tekanan batin lagi. Itu berarti gue merdeka!"
"Oh."
"Kok, oh, yang heboh donk! Gue aja udah semangat kayak gini kok Lo cuma oh."
"Merdeka!" seru Yaya sambil mengepalkan tangannya dan diangkat tinggi-tinggi.
Kembali semua anak menoleh ke arah mereka berdua.
"Waduh! Celaka, Yan! Kita kudu bikin ruwatan buat kelas kita. Bayangkan, udah dua anak kesambet. Tanggal 17 Agustus juga belum, udah pada teriak-teriak ‘merdeka’. Kalau tidak segera diruwat, bisa-bisa satu kelas kesambet semua," seru Joko pada Ryan yang barusan datang.
"Sambet, sambet. Orang juga baru datang udah dilaporin perkara sambet. Sembelit kali?" jawab Ryan.
*
"Selamat pagi, Bu Tari!" sapa Tari ketika berpapasan dengan Bu Tari di depan ruang kepala sekolah.
"Selamat pagi , Sally. Ibu dengar Sally jadi ketua OSIS ya? Selamat ya!" Bu Tari menjabat tangan Sally dan mencium keningnya. "Tetap rajin belajar ya."
"Terima kasih, Bu. Ibu sendiri bagaimana? Sehat? Eh, si kecil tuh cewek apa cowok?"
"Saya sehat. Dan Si kecil cowok. Tadinya kalau cewek mau Ibu kasih nama Sally biar pinter seperti kamu."
Sally tersipu.
"Kapan-kapan saya boleh ke rumah ya, Bu. Mau lihat Si Kecil."
"Boleh. Tapi siap-siap kapas ya!"
"Buat apa, Bu?"
"Anak ibu kalau menangis suaranya keras sekali. Bising."
Sally dan Bu Tari tertawa.
"Bu Tari kapan mengajar lagi?"
"Cuti ibu habis dua hari lagi."
"Asyik!" seru Sally.
"Mau menghadap Pak Bas? Duh, yang ketua OSIS, urusannya dengan kepala sekolah terus. Sana masuk, nanti keburu Pak Bas pergi. Di dalam juga ada Pak Wandi. Penting ya, Sal, sampai harus ketemu kepala sekolah dan pembina OSIS?"
"Saya juga nggak tahu, Bu. Kali aja saya membuat kesalahan jadi dipanggil kedua petinggi kita. Mau digantung kali." Asal aja tuh anak.
Sally segera masuk. Pak Wandi sudah duduk di situ. Mereka tampak serius sekali.
"Bagaimana, Sally, pembayaran sewa panggung sudah beres?" tanya Pak Bas.
"Sudah selesai semua, Pak Bas. Kemarin pertanggung jawabannya sudah kami serahkan ke Pak Wandi."
"Ya, saya sudah membacanya. Oke, Pak Wandi, silakan!"
"Pak Bas saja."
Waduh, cilaka! Kenapa ini? Kenapa dua petinggi ini jadi serius banget. Mana pake acara saling lempar lagi. Pasti gaswat banget. Pasti, ya, pasti ada yang salah. Kayaknya semua sudah diselesaikan. Bahkan laporan juga sudah dibikin. Apalagi ya? Seharusnya nggak cuman dia donk yang dipanggil tapi juga semua pengurus harian. Tapi nggak juga ya. Dia kan Ketua Umum. Jadi emang sudah pas kalau dimintai pertanggungjawaban. Mampus, deh.
"Begini. Pak Tamsis akan memasuki masa purna tugas. Sebenarnya yayasan memutuskan akan memperpanjang masa bakti, paling tidak sampai tahun ajaran berakhir. Tetapi rupanya beliau keberatan karena akan segera berangkat ke Timor-Timur. Umat sudah lama menunggu. Pak Tamsis akan memimpin sekolah Katholik di sana. Ya, kalau sudah demikian mau apalagi. Jadi kami mau minta tolong Sally agar berkoordinir dengan teman-teman. Sekolah dan yayasan mau mengadakan acara pelepasan. Dananya ada, kamu tidak perlu khawatir, tidak akan diambil dari kas OSIS. Nanti pada protes lagi. "
"Baik, Pak, nanti saya minta bantuan teman-teman."
Waduh, kirain big problem. Tahu gini kan ia nggak perlu pake deg-degan segala. Tapi…hei, tunggu dulu. Pak Tamsis kan guru bahasa Indonesia kelas 3. Ia juga belum pernah diajar Pak Tamsis. Tapi Sonny, kakaknya, bilang ngajarnya enak juga. Hei, lalu yang ngegantiin Pak Tamsis siapa?
"Sudah, Sally, nanti waktu istirahatmu habis."
"Terima kasih, Pak Bas. Tapi, Pak, yang menggantikan Pak Tamsis siapa?"
"Oh, soal itu ya. Jadi kemarin dalam rapat guru kita putuskan Bu Tari menggantikan posisi Pak Tamsis. Lalu Pak Agus tetap di kelas 2. Dan Bu Latumeten untuk kelas 1."
"Oh, my God!"desis Sally. "Kemerdekaan gue tertunda!"
*
"Udah deh, Sal, taken easy aja. Toh, Pak Agus juga nggak demonstratif banget kayak dulu. Kayaknya dia udah mo sadar diri. Udah nggak seperti awal-awal dulu. Udah nahuin kali."
"Iya, sih. Cuman….."
"Kenapa?"
"Gue takut….gue takut gue yang bakalan demonstratif," jawab Sally dengan serius.
"Hah? Jadi? Lo?"
"Nah, kena Lo! Gue kibulin!"
"Nggak percaya! Nggak percaya! Lo pasti udah mulai jatuh cinta ama Pak Agus."
"Nggak!"
"Bohong!"
"Nggak!"
"Bohong!"
"Nggak!"
Lalu Yaya ngegelitikin Sally. Dan keduanya bergulingan di tempat tidur Sally sambil teriak dan tertawa.
"Ya ampun, Non, kirain ada apa!" seru pembokat Sally yang udah berdiri di ambang pintu. Di tangannya masih terdapat serok penggoreng. "Dari dapur dengar orang teriak-teriak, saya kira kalo ada yang diperkosa!"
"Akh, Bibik, perkosa apaan!?" seru Yaya sambil bergidik.
"Iya, Non Yaya. Kemaren di sinetron ada yang diperkosa. Teriak-teriak. Tapi nggak ada yang nolongin. Kasihan lho, Non."
"Bibik nonton sinetron melulu sih!" sungut Yaya.
"Tapi Non Sally bilang bahwa dalam kenyataan itu juga ada. Bahkan medio Mei 1998…"
"Bibik ngomong medio segala. Tahu nggak itu apa artinya?"
"Itu kata Non Sally, kok. Ya, Non Sally, medio ya."
"Iya, iya, tapi kalo Bibik nggak segera balik ke dapur dan masakannya gosong, mami marah lho!" kata Sally.
"Iya, iya, Bibik ke dapur. Tapi jangan teriak-teriak lagi. Saya kaget."
Sepeninggal Bibik, Sally dan Yaya ngrapiin tempat tidur Sally yang acak-acakan.
"Sal, bed cover Lo udah buluk, nih. Udah kotor. Lo cuci deh."
"Mana? Nggak kotor kok. Warnanya emang gitu!"
"Nggaklah. Coba lihat ini, yang bagian dalem warnanya putih. Sadang yang luar udah nggak bisa dibilang putih lagi. Lihat!"
"Iya, lebih putih."
"Tuh, kan?"
"Kalo gitu, kita balik yok bed covernya!" jawab Sally ogah-ogahan. Dasar malas.
***