KAMBING CUP (2)
"Sal, kan Lo kebagian bawa ember!"seru Ryan ketika dilihatnya Sally nggak bawa ember.
"Taken easy, Man, tuh di pojok!" sahut Sally. Dagunya menunjuk ke arah pojok ruang kelas.
"Itu kan ember sekolah."
"Ember sekolah kan berarti ember kita juga. Kita kan bayar SPP. Jadi berhak ngegunain juga. Lagian juga Lo kemaren nggak bilang kalo gue disuruh bawa ember dari rumah. Yang penting kan ember. Lagian lagi, gue nggak nyuri ember sekolah. Cuman pinjam. Toh, ntar juga dikembaliin."
"Ntar kelas laen marah."
"Lho, mereka juga berhak pake. Toh kita sama-sama bayar SPP. Cuman, siapa yang duluan ambil, dia yang berhak pake."
"Ya udah deh, nggak apa," Ryan nyerah daripada harus adu mulut dengan Sally. "Aduh, sapunya kok cuman satu, kemocengnya malah ada lima."
"Sorry, aku keliru bawa!" sahut Uli.
"Iya, Yan, gue idem dengan Uli," sambar Baskoro cepat-cepat.
"Tapi apa iya kita mau nyapu pake kemoceng?" lemes deh Ryan.
"Iya, ntar gue usaha," sahut Guntoro.
"Ryan, Ryan," Yaya berlari mendekat,"Gimana nih, Yan, bendera yang gue cuci kemaren ternyata luntur. Sekarang nggak gue bawa. Tapi gue bawa yang baru. Nggak usah diganti deh. Ini tanggung jawab gue!" kata Yaya.
"Yan, aduh, gue keliru bawa sprei!" seru Joko panik begitu menyadari salah ambil dari taplak ke sprei.
"Ryan, sorry baskom yang gue bawa ternyata bocor, lihat nih!" kata Dwi sambil membawa baskom bocornya hingga air bececeran di mana-mana.
"Ryan, Ryan, sini deh. Romantis ya bunga yang dibawa Yani!" seru Sari. Yani emang bawa vas bunga yang langsing jenjang dengan satu tangkai mawar merah.
"Aduh, Ya, gue ngaku salah. Tapi jangan marahin gue ya. Gue udah bilang supaya nyokap masak pake bahan kelapa. Terus nyokap masak gulai ayam. Enak banget. Apalagi pas dimakannya hangat. Uh, enak bener. Cuma, ternyata nyokap gue pake santan instan. Jadi nggak ada ampasnya. Sorry ya, Yan, jangan marahin gue donk!" seru Sally.
Idih, Ryan benar-benar jadi orang top. Banyak dicari. Tapi ternyata Ryan nggak menikmati kengetopannya.
Lalu dengan peralatan seadanya semua mulai kerja. Nggak selalu serius. Banyak becandanya juga. Cekakak-cekikik, cekakak itu ha-ha-ha kalo cekikik itu hi-hi-hi.
*
Setelah kelas dinyatakan bersih dan rapi, Ryan berseru,"Friends, thanks atas kerja sama ini. But ketimbang kita kudu ngebersihin lagi besok, mending abis ini kita keluar semua dan kelas dinyatakan tertutup. Toh, seharian ini Pak Bas emang ngebolehin kita bebas pelajaran. Jadi…"
"Setujuuuuu!" sahut yang laen sebelum Ryan kelar dengan kalimatnya.
"Oke, Sari, sebagai koordinator tumpeng, bagaimana, siap untuk besok?" tanya Ryan.
"Siap, Bos. Semua barang dan bahan sudah ada. Beberapa malah udah dicicil diolah dan masuk pendingin. Tinggal butuh bantuan Yani, Riri, Sally, Yaya. Yang laen jangan deh, masakan kalo banyak tangan nggak enak."
"Sally ikut? Sal, Lo diganti aja. Kan besok pagi Lo maju final cerdas cermat."
"Jangan donk, orang gue udah siap-siap untuk nyicip-nyicip."
"Lo diganti Nanung. Ya, Nung?"
"Gue nggak bisa masak!" protes Nanung.
"Pokoknya Lo dateng aja," ujar Yaya,"yang ngracik bumbunya, yang masak semuanya kan pembokatnya Sari yang jumlahnya tiga orang itu. Kita tinggal ngasih instruksi aja."
"Oh, begitu."
"Lo bawa seragam sekalian. Nginep di tempat Sari. Besok langsung berangkat dari sana sambil membawa tumpeng dan perlengkapannya. Gue, Yaya, Riri pake Civic merah bawa tumpeng yang mo dinilai. Lo ntar dianter driver Sari pake Civic putih bawa makanan yang buat sak kelas," Yani menambahkan.
Sari bangga banget pembokatnya yang jumlahnya tiga dan dua civicnya disebut-sebut. Hi, hi, hi, dia nggak sadar kali kalo kedua anak itu sengaja ngege-erin dia biar kesediaannya menjadi donatur nggak mati tengah jalan.
"Iya, Nung, Sari juga udah nyediain laserdisc buat ntar malem," Riri nambahain lagi.
Sari makin kembang kempis, berbunga-bunga, sampai bisa dipetik.
*
"Udah, Yan, makan dulu. Ntar sakit!" bujuk Joko yang udah bosen lihat Ryan mondar-mandir. Padahal sak kelas lagi lesehan di depan kelas makan tumpeng mereka. Meski kelas udah dinilai, tapi mereka masih segen masuk kelas. Sayang kalo kotor lagi.
"Iya, Yan, ayamnya enak lho!" seru Guntoro.
"Lagian, tunggu aja bocoran dari Sally. Hi, hi, hi, kebayang nggak sementara kita maem dengan nyaman kayak gini, Sally pasti bekah-bekuh kikuk ngedampingi Pak Bas. Lihat nggak tadi, mukanya jutek bener. Yakin deh saat ini di hall para guru plus pengurus harian OSIS itu belom mulai maem," Yaya mencoba ngalihin perhatian Ryan.
Tapi Ryan emang resah. Gimana nggak resah, poin yang dikumpulkan kelasnya sama persis dengan poin 3 IPA 1 dan 2 A. Harapan tinggal pada Kebersihan Kelas dan Tumpeng. Tinggal dua mata lomba itu yang belum ketahuan hasilnya. Tadi di Cerdas-Cermat Pengetahuan Umum 2 C hanya menempati ranking 2. Sementara di Mengarang bisa pegang juara 1. Di Supporter Simpatic emang udah ketahuan dari awal bakal dapet dan ternyata bener. Ya tinggal dua mata lomba itu yang belum. Makanya, ia deg-degan banget. Aduh, Sally, kok Lo nggak segera keluar sih. Udah mules bener tuh perut Ryan.
"Aduh, sorry, sorry banget, Yan," ujar Sally tergopoh-gopoh. "Gue udah ngedeketin Bu Lusi. Udah gue tempel terus. Kayak ketek kalo lagi keringetan. Lengket."
"Ih, jibang!" protes para cewek.
"Bener, gue tempel terus. Tapi gagal. Tapi denger-denger dari Pak Bas mungkin bakal ada juara kembar. Cuman, Pak Bas nggak bilang kelas mana aja itu."
Ryan memejamkan mata. Mulutnya komat-kamit.
"Yan, are you all right?" tanya Sally.
"Aku sedang berdoa. Mudah-mudahan kita termasuk yang kembar itu," sahut Ryan. "Friends, target kita emang kambing. Maka mari kita berdoa mudah-mudahan kita menjadi salah satu yang kembar itu. Atas nama kehormatan kelas. Tapi jika nanti Tuhan menentukan laen ya kita kudu nerima dengan ketabahan."
"Amin," sahut yang laen kompak.
"Woi! Woi! Masih ada sisa nasi nggak? Gue laper berat. Di hall belum mulae maem tuh. Masih ada acara parade pidato!" seru Sally tiba-tiba.
Uli mengulurkan sepiring nasi yang memang disediakan untuk Sally. Dan Sally makan dengan lahap.
*
Nggak sampe satu jam, Pak Sur atas peritah Pak Bas, maju ke atas panggung yang dibuat untuk persiapan Panggung Hiburan besok malam untuk mengumumkan hasil dua mata lomba terakhir.
"Assalamu’alaikum, salam sejahtera. Anak-anakku," Pak Sur kayaknya sengaja mbikin empot-empotan anak-anak yang udah manteng telinga dan ngliatin Pak Sur. "Insyaallah besok pagi adalah hari jadi SMU tercinta kita ini. Seperti biasanya, besok kita akan mengadakan upacara bendera sekaligus menyerahkan Kambing Cup kepada kelas yang berhak. Ada dua mata lomba yang belum diumumkan hasilnya, yaitu Kebersihan Kelas dan Tumpeng. Dewan juri lomba Kebersihan Kelas yang terdiri atas lima orang guru memutuskan juara III dengan poin 875 diraih kelas…" Pak Sur sengaja mendramatisir perasaan murid-muridnya,"kelas 2 C." Dan bla…bla…bla…yang pasti Ryan dan pasukannya udah lemessssss sementara terdengar sorak-sorai kelas laen.
"….kemudian untuk Tumpeng, Dewan Juri yang berjumlah lima orang guru memutuskan juara III dengan poin 617 adalah kelas…." Lagi-lagi Pak Sur mendramatisir! " kelas 2 C." Dan kali ini Ryan malah udah hampir roboh kalo nggak digandeng si Jon.
Aduh, sedih deh lihat wajah jutek anak-anak 2 C. Mereka akhirnya masuk ke kelas yang tadi sempet dikeramatkan. Masing-masing duduk dengan perasaan galau. Terdengar suasana penuh ephoria dari kelas laen yang menjadi juara kembar.
Tapi sebenarnya ada yang lebih jutek, yaitu wajah Pak Bas, karena sekolah harus keluar cost ektra untuk membeli satu kambing lagi!
Sally masuk ke kelas. "Selamat siang!"sapanya sopan. Ia emang lagi nggak selera buat ngusilin kelasnya. Lalu ia duduk di sisi Yaya seperti biasa.
"Woi, Pasar Burung!" teriak Ryan. Tiba-tiba lagi. "Ayo, wake up! Mana suasana Pasar Burungnya? Ini sih kuburan, Ayo, semangat!" Ryan terus saja berteriak dan jejingkrakan!
"Ya Tuhan, kenapa Kau hukum ketua kelas kami dengan menjadikannya sebagai orang yang syarap…" gumam Joko.
"Sialan! Lo kira gue gokil?" Ryan maju ke depan. "Friends, gue nggak gila. Gue sadar sesadar-sadarnya. Okelah kita kecewa. Iya. Wajar. Manusiawi. Tapi jangan terlalu lama. Kita udah maksimal. Dan inilah hasil maksimal kita. Kita kudu fair. Kudu bersyukur. Bahwasanya kita masih termasuk yang terbaik ketiga. Gue juga mo ngucapin makasih atas kekompakan kita selama ini. Hallo, hallo, kok masih bengong?"
Sally berdiri,"Hidup 2 C!"
Dan ephoria pun tampak jelas di kelas 2 C!
*
Upacara benar-benar khidmat. Tapi kambing yang diparkir di belakang terus aja mengembik. Suaranya kadang-kadang masuk ke pengeras suara. Rumpi bener ya. Belom lagi suara segerombolan ayam yang terus aja petak-petok.
Pada akhir upacara Pak Bas udah siap menyerahkan kambing. Sally sebagai Ketua Umum OSIS dan Didik sebagai Ketua Panitia HUT berdiri di belakangnya. Bukan untuk nampang, tapi ternyata disuruh megangin tali kambing!
"Udah, deh, langsung dibawa Pak Bas aja," seru Sally nolak-nolak tugasnya.
"Jangan! Aturannya emang kita yang bawa ke Pak Bas, baru Pak Bas nyerahin ke juara," sahut Didik.
"Akh, protokoler banget."
"Kan biar kephoto."
"Dasar muke haus photo!"
"Sekali-sekali…"
"Stt!" Pak Sur ngingetin dari belakang.
Sally makin urung-uringan ketika Didik memintanya bawa ayam.
"Ih, Didik, Lo kebangeten banget sih. Bawa tali kambing masih bisa gue tolerir. Tapi gendong ayam? Oh, no way!"
"Lho, ini terus gimana?"
"Panitia kan banyak. Nggak cuman kita."
*
Mungkin target kambing nggak kecape. Tak apalah. Toh, mereka juga telah mendapatkan tujuh ekor ayam sebagai juara II. Lumayanlah. Maka Minggu sore itu 35 anak 2 C plus Pak Sur, sang wali kelas, asyik menikmati opor ayam, ayam bakar, dan ayam tepung di rumah Sari. Meraka memangh telah sepakat akan pesta ayam. Hanya lima ekor yang mereka potong. Dua ekor lainnya dibeli babe Si Jon. Uangnya buat beli bumbu dan keperluan laen.
Di samping hamparan makanan disediakan kantong plastik buat yang mo bawa ke rumah.
Anak-anak makan dengan lahap. Mungkin karena makan bareng jadi terasa lebih nikmat. Hingga akhir acara, kantong plastik itu tetap nganggur karena kini tak tersisa sedikit pun. Semua licin tandas. Dasar lapar!
***