KAMBING CUP (1)

 

 

Kambing Cup adalah event tahunan SMU Kusuma Bangsa yang dinanti abis semua kelas. Gimana nggak dinanti jika ini bakal jadi ajang unjuk gengsi kelas masing-masing. Kelas yang bisa ngerebut Kambing Cup bakalan jadi kelas yang disegani dan bakalan jadi sorotan minimalnya dalam satu tahun tersebut.

Disebut Kambing Cup karena emang yang diperebutkan adalah seekor kambing. Kalau yang diperebutkan itu kucing, tentu nakal dinamain Kucing Cup. Tapi ngapain juga ngrebutin kucing, ya. Iseng bener, sih!

Event Kambing Cup ini sebenarnya telah berumur belasan tahun dengan mengambil momentum tanggal kelahiran SMU ini. Menurut info yang didapatkan Sally dari amanat Pak Bas, Kambing Cup dicetuskan oleh Pak Wiryosumanto, pendiri sekaligus kepala sekolah yang pertama. Sempet Sally mikir kenapa bukan dinamakan Wiryosumanto Cup seperti Thomas Cup atau Davis Cup misalnya. Tapi Pak Bas buru-buru ngejelasin,"Kamu ini ngawur. Thomas Cup kan bentuknya piala. Lha ini kan kambing." Bas Bas serius sekali waktu bilang itu. Tapi Sally udah kebelet mau nyemburin tawanya kalo nggak diinjek Didik yang berdiri di sampingnya. Abis, lucu juga ya kalo kambing itu lalu disebut Wiryosumanto. Hi, hi, hi, maaf lho Pak Wir, Sally emang suka asal.

Untuk mendapatkan reward ini, masing-masing kelas harus ngumpulin poin sebanyak-banyaknya melalui Aneka Lomba hingga jadi juara umum. Selama ini sih lombanya sangat klasik. Kebersihan kelas. Tuh, kuno banget ya. Dari dulu selalu aja ada gelar kebersihan kelas. Lalu basket putra-putri, volley putra-putri, sepak bola tapi yang ini cuma buat yang putra doang, terus bulu tangkis putra-putri, lalu tenis meja putra-putri juga, terus tenis lapangan - inipun putra-putri juga, lalu tarik tambang. Pokoknya atlet banget. Yang juga klasik tapi rada nyenengin adalah lomba tumpeng. Karena sehabis dinilai bakal diserbu sak kelas dan dimakan rame-rame. Makan berebut gitu asyik lho. Yang rada-rada bau asah otak juga ada, macam mengarang dan cerdas cermat pengetahuan umum jadi kelas 1 bisa diadu dengan kelas 2 dan kelas 3 juga. Kemudian yang rada ngeselin adalah idenya si Sally: lomba peserta tertib upacara. Gara-gara itu kan anak-anak jadi nggak bebas lagi buat ngrumpi pas upacara saban Senin. Tapi Pak Bas langsung setuju. Soale sejak dulu ia emang bete banget, udah nyiapin pidato untuk amanat upacara, tahu-tahu yang berdiri di barisan paling belakang maen timpuk-timpukan batu, ngerumpiin boysband yang bakalan datang, preview film. Makanya udah sebulan ini pidato Pak Bas jadi tambah panjang karena merasa didengerin peserta upacara. Yang sengsara petugas UKS. Soale, seabis upacara selalu saja ada yang ngeluh pusing, mual, atau dehidrasi. Bahkan pingsan. Petugasnya sampe bilang, "Pingsannya gantian, donk! Tempat tidurnya nggak muat!"

Ide Didik waktu rapat panitia dulu boleh juga lho. Ketua panitia HUT ini bilang,"Bosen donk dengan lomba dan pertandingan klasik macam gitu. Improve donk!"

"Lo punya usul nggak?" tanya Sally.

"Gini, masing-masing kelas kan pasti nyuporterin kelasnya."

"Iya lagi. Kalo nyuporterin kelas laen namanya selingkuh!"

"Iya, makanya. Masing-masing pada jejeritan. Ya kan? Nah, daripada teriak-teriak, kadang malah jadi tawuran, mending dilombakan sekalian. Jadi lomba Supporter Simpatic. Gimana? Yakin deh bakal ada cheer amatiran dan yel-yel yang menarik."

Asyik ya idenya. Makanya disetujui secara bulat.

*

Kelas 2 C pun sangat sibuk nyiapin diri. Target uatama adalah kambing. Target kedua adalah kambing. Target ketiga adalah kambing. Jadi intinya, harus ngotot dapat kambing!

"Bayangin, kambing guling di puncak!" teriak Ryan, si ketua kelas. Lalu sak kelas pun melamun bersama, serasa kambing guling di puncak bener-bener kejadian. Hmmmm….

Cuman, Ryan jadi mikir, kecape nggak ya target itu. Abis, 2 C kan terkenal sebagai kelas yang males olah raga. Mereka cuma gape maen basket doang. Itupun kadang curang-curangan. Kayak Yaya kan suka asal, kalo udah dapet bola mesti dieremin. Nggak mau dioper atau didrebbel. Atau Dwi yang kalo dapat bola dibawa lari jauh tanpa drebbel sama sekali. Makanya, Ryan minta tiap pulang sekolah, daripada pulang terus dateng lagi buat ekstrakurikuler, mending dipake buat latihan. Of cource semua pada ngomel.

"Oke, yang mau ngomel boleh. Nggak dilarang. Tapi inget, kambing guling di puncak!" teriek Ryan. Dan lagi-lagi sak kelas berkhayal bersama tentang kambing guling di puncak. Hmmmmm….

So, sudah dua minggu ini mereka bener-bener latihan. Tiap kali semangat mulai mengendor (duileh, emang kolor!), Ryan langsung ngluarin kata-kata saktinya. Tapi jujur aja, meski udah latihan, tetep aja nggak ada kemajuan apa-apa. Malah, tiap mulai pelajaran rasanya jadi capek berat.

"Gunakan plan B aja, Yan!" seru Sally.

"Plan B apaan, orang plan A aja kagak punya!" gerutu Ryan.

"Makanya kita susun."

"Lo punya usul?" tanya Ryan.

"Nggak," sahut Sally tanpa ekspresi. Kecapekan banget tampaknya.

"Begini saja. Aku lihat kita tak ada itu harapan di pertandingan kelompok. Sepak bola, okelah itu pintar-pintar kau yang cowok itu nendang-nendang bola. Tapi basket dan volley terutama yang cewek aku lihat kita payah. Di perorangan macam bulu tangkis, tenis meja, tenis lapangan, aku lihat masihlah ada sedikit-sedikit itu harapan. Ini yang menunjukkan kita memang tak kompak sebagai tim. Kecuali tim tarik tambang. Aku lihat kans kita masih agak mendingan. Jadi kalau di plan A kita maju di semua bidang, di plan B kita realistis dengan penekanan pada nomor perorangan dan tarik tambang!" Uli menjelaskan dengan logat bataknya yang kental.

Anak-anak suit-suit,"Hidup Uli!"

"Jangan kau puji dulu aku ini. Aku belum selesai. Nantilah kalau aku sudah selesai boleh kau puji aku!" Uli tersapu eh tersipu. "Kita juga punya kesempatan baek di supporter. Aku pikir dengan plan B bukan berarti kita nyerah kalah WO. Semua pertandingan tetap kita ikuti guna kasih lihat ke juri-juri iru bahwa supporter kita oke punya. Bagaimana?"

"Hidup Uli!" teriak sak kelas bareng.

"Akh, nantilah memujinya. Aku belum selesai ini. Nah, aku usul untuk koordinator supporter kita serahkan ke Sari. Aku pikir, sorry Sari, kau agak genit. Coba kau latih kawan-kawan kau ini untuk jadi cheer dengan gerakan dan yel-yel yang menarik."

 

"Sialan! Gue dibilang genit!" Sari manyun.

"Emang iya’kan?" sergah Dwi.

"Gimana, Sari? We need you!" seru Ryan.

"Sebenarnya….gimana ya…"

"Hei, Sari, bilang saja ya. Tak perlu itu pake sebenarnya gimana ya," desak Uli.

"Yach, karena kelas yang menghendaki, okelah. Tapi gue minta yang cowok juga mau latihan. Jadi kalau yang cowok sedang bertanding, yang cewek jadi cheer. Begitu pula sebaliknya."

"Bagus itu!" seru Uli,"Nah, Sari sudah setuju. Berarti sudah selesai aku ini. Mana pujian kau tadi. Aku pingin dengar. Bah, malah diam semua!"

Benar juga ulasan Uli. Kelas 2 C emang payah total untuk olah raga tim. Gimana nggak payah kalo mereka lebih sering teriak karena takut bola. Bayangkan, maen volley tapi begitu bola datang mereka malah teriak sambil lari menghindar.

"Au! Kok gue terus yang kena?!" seru Yaya. Kepalanya udah 2 kali kena bola. Makanya waktu time out ia lari ke motor Sonny dan ngambil helm.

Uli yang jadi kapten udah dari tadi bawaannya marah melulu. "Hei, kau pindah ke sana!" teriaknya pada Dwi yang tetep diem di tempatnya.

"Nggak deh. Gue nggak bisa serv."

"Bah, kau ini, ini aturan! Sekarang giliran kau!"

Akhirnya Dwi nurut. Tapi servnya patah di jalan. Sally yang belum turun ketawa melulu lihat ulah teman-temannya. Tapi begitu dia diminta masuk oleh Uli, lebih parah dari Yaya, ia mengenakan helm dan pelindung siku dan lutut yang biasa untuk in line skate.

"Hei, kau ini, lepas atribut kau itu!" teriak Uli.

"Akh, Uli, gitu deh. Ntar kalo gue jatuh, nyokap gue bisa marah. Nyokap gue galak. Lo mau berhadapan dengan nyokap gue? Kalo gue sih sorry-sorry aja. Abis, kalo udah marah, nyokap gue sering ngajak perang mulut. Padahal gue nggak bisa kalo disuruh perang mulut. Mendingan juga perang diskon. He, he, he, emangnya department store waktu lebaran. Gue kan…."

"Hei, maennya kapan kalo Lo ngomong terus!"

Sementara itu Sari siap dengan pasukannya. Dia mau keluar ongkos juga lho. Buktinya tape lengkap dengan speaker gede 2 buah diangkut pake Civicnya. Lalu digeber buat ngiringin Sari and her gank jejingkrakan. Bola masuk apa nggak pokoknya selalu teriak "D..u...a...Ce...2 C!" sebanyak 3 kali. Sambil membentuk formasi. Tiap kali formasinya beda-beda gaya. Lumayan juga usaha Sari ngelatih temen-temennya. Mereka juga selalu tampil dengan kaos kelas yang warnanya putih itu. Hari berikutnya tampil dengan kaos apapun asalkan warna dasarnya pink. Berikutnya kaos kelas lagi. Terus gitu. Abis kalo pake kaos kelas terus, bau donk. Mereka juga pake rumbai-rumbai yang dibuat secara darurat dari rafia. Dibanding kelas laen, kelas 2 C dalam hal ini emang paling siap. Nggak mewah banget. Nggak norak amat. Pokoknya asyik. Yang lebih asyik, cowoknya pun mau diajak jadi cheer.

Tapi Sari pernah bingung banget sore itu ketika regu putri dan putra maju bareng untuk tarik tambang. Bayangin jika mereka mau dengan pasukan masing-masing 10 orang, berarti dalam waktu bersamaan 20 orang bertanding. Sedang kelas mereka hanya 35 orang. Tinggal 15 orang. Itupun mereka masih ngos-ngosan karena baru saja nyuporterin Uli yang maen bulu tangkis.

Uli bisa dikatakan atlet borongan. Dia terjun di semua pertandingan. Gila. Makanya Yani rela mijitin dia. Soalnya terlihat Uli sengsaraaaa banget. Ryan malah udah nawarin diri buat nyuci kaos Uli. Tapi Uli nggak mau aji mumpung. "Yang basah kena keringet nggak cuman kaos aku, Yan, tapi juga dalemanku. Mau kau cuci pula, hah?"

*

Sampai dengan putaran terakhir, basket dan volley putra-putri kandas, yang putri malah kandas sejak awal. Sepak bola cuman sampe babak semi final. Lumayanlah, nambah poin. Apalagi nanti kalo bisa juara III. Bulutangkis putra-putri mau hingga babak final. Lumayan, poin juga. Tenis lapangan putra-putri juga kandas sejak awal, tapi tenis meja sempat sampai semifinal. Tarik tambang putri mentok sampai juara III. Tarik tambang putra berpeluang lebih baik karena sampai final. Peserta tertib upacara bahkan tidak dapat nomor sama sekali. Abis, 2 C bener-bener pasar burung sih.

Asli, capek bener. Tapi kambing guling di puncak masih di pelupuk mata karena kelas laen pun tampaknya belum ada yang mendominasi pengumpulan poin.

*

Hari berlalu. Ryan menghitung poin.

"Belum aman," keluhnya.

"Tempuh plan C!" seru Sally.

"Alah, Lo pasti belom punya plan C."

"Punya. Kita siap-siap di perlombaan. Kan kemaren pertandingan, sekarang perlombaan. Ayo, Uli, think! Think!"

"Udah capek aku ini," keluh Uli yang baru saja menambah poin dengan juara I bulutangkis.

"Oke, kebersihan kelas kita mau gimana?"

"Butuh apa aja sih?" tanya Yaya males. Ia masih sering pusing karena kepalanya kena bola volley.

"Jangan mewah-mewah dah. Yang penting bersih dan rapi," kata Yani.

"Butuh tinner buat ngebersihan meja, Yan. Ini nih anak-anak suka bikin contekan pake rapido dan boxy. Belom lagi tipp-ex yang bececeran," Guntoro menjelasnkan.

"Terus, butuh lilin buat ngelicinin lantai," kata Dwi.

"Jangan akh!"

"Ntar jurinya kepleset lagi."

"Pake karbol aja."

"Baunya kurang seger."

"Iya, kayak bau WC."

"Kenapa nggak pake ampas kelapa?" seru Si Jon lantang.

Semua menoleh ke arahnya.

"Woi, kelapa mahal. Emak gue bisa nyap-nyap!" teriak Joko.

"Ya diakalin, donk. Tiap anak minta ke ibunya untuk sehari aja masak yang pake santan. Lalu ampasnya dibawa. Lumayan kan?" Si Jon menjelaskan.

"Oke, bagus, bagus. Setuju ya?" Ryan setengah memaksa.

"Terus, Yan, buat kaca, kita bisa gunakan koran. Koran dicelup ke air lalu digosokkan. Nah, itu bisa menjernihkan kaca. Bening." Lagi-lagi Si Jon menjelaskan.

"Oke, good! Sekarang tinggal kita bagi siapa yang bawa ember, sapu, kemoceng, taplak meja, vas bunga, baskom, handuk kecil, nyuci bendera…"

Belum lagi Ryan selesai, anak-anak udah pada jejeritan saling menolak.

***

Bersambung

Hosted by www.Geocities.ws

1