Ketika Inah Pulang

 

Dimuat di Nova No. 504/X - 19 Oktober 1997

Mengeluh? Oh, tidak. Aku tidak ingin mengeluh. Tak pantas. Saru. Toh, pekerjaan rumah tangga adalah pekerjaan wajib bagi seorang ibu sepertiku. Dulu ketika aku baru saja memulai hidup baru bersama Mas Tok, semua juga aku lakukan sendiri. Tetapi sejak aku mulai bekerja, aku tidak lagi bisa terjun langsung. Maka kuambil pembantu. Namun tidak berarti aku lepas tangan begitu saja. Sebelum ke kantor, selalu kusempatkan untuk menulis menu hari ini. Juga kusempatkan memeriksa pakaian yang akan dikenakan Mas Tok. Kusempatkan pula untuk memassak di hari libur. Pada waktu pembantuku cuti keparan pun, kuambil kembali mandatku. Tetapi kalau seperti ini? Sudah hampir sebulan rumahku tanpa pembantu. Padahal kantorku tengah sibuk-sibuknya menyambut liburan Natal dan Tahun Baru. Biro perjalanan besar seperti tempatku bekerja akan panen besar pada saat seperti ini.

Mas Tok maunya cepat-cepat saja mencari pembantu baru. Tetapi mencari pembantu kan tidak semudah mengucap sim salabim. Aku harus mencari yang ebnar-benar jujur, sopan, rapi, teratur, dan sayang pada anak-anak. Pengalamanlah yang membuatku ekstra berhati-hati. Sepuluh kali rumah ini berganti pembantu, sepuluh kali pula kutemukan pribadi yang berbeda.

Bik Yah adalah pembantuku yang pertama. Orangnya sangat baik, penuh perhatian, sayang kepada Anto yang waktu itu masih bayi. Hanya saja, usianya yang sudah melebihi setengah abad itu membuatnya sedikit ceroboh. Satu tahun ikut denganku sudah lebih dua dosin piring pecah. Belum lagi gelas, vas, dan kaca bufet yang tersodok gagang pel. Sebenarnya aku cocok dengan pekerjaannya. Tentang barang yang pecah itu tak jadi masalah. Hanya saja aku terpaksa memulangkannya ketika ia tak sengaja menjatuhkan Anto dari gendongannya sampai dua kali. Kalau anakku terus berada di tangan wanita uzur yang selalu gemetaran tangannya, bisa tenangkah aku di kantor?

Dengan saat terpaksa aku mengambil pengganti. Tini namanya. Lincah dan sidikit kenes. Hanya tiga bulan ia ikut denganku. Terus terang aku tidak suka melihatnya bermanis-manis di depan suamiku. Cemburu? Jangan dianggap enggak pantas ya aku cemburu dengan pembantu. Pembantu kan manusia juga. Dan yang lebih membuatku berang adalah ketika ia dengan sangat berani memasukkan tukang bakso ke rumah. Waktu itu kami sedang ke Semarang. Kalau sekedar mengobrol ya silakan. Tetapi kalau sampai digerebek penduduk?

Setelah itu mertuaku mengirimkan Bik Roh. Ia pun hanya bisa bertahan tiga bulan. Masalahnya bolehlah dipandang sepele. Tetapi tidak bagiku. Aku memang tidak suka ada orang lain yang mengasari anakku. Mungkin Anto yang belum genap tiga tahun itu memang nakal, rewel. Tetapi jangan sekali-sekali mencubit atau bahkan memukulnya. Apalagi menggunakan gagang sapu! Masya Allah! Anto itu anakku. Aku yang mengandung. Aku yang bertaruh nyawa melahirkan. Jadi aku pula yang berhak memukulnya kalau ia memang pantas dihukum. Haa, barangkali over protection orang tua, ya? Tetapi aku memang ngeri, siapa tahu dari gagang sapu lalu berlanjut dengan….ih, ngeri aku.

Yang keempat adalah Tasini. Kali ini Bude Tutuk yang membawanya. Tasini sangat baik. Tidak hanya dalam pekerjaan, tetapi juga dalam sikap dan tutur kata. Ia juga tidak suka mengobrol di depan warung Pak Makmur. Ia lebih senang di rumah membaca majalah lama atau mengajari Anto menyanyi. Tiga tahun Tasini bersamaku. Ia juga tak mengeluh ketika aku menambahi tugasnya untuk menjaga Aan, anakku yang kedua. Tetapi dengan sangat berat hati aku terpaksa melepasnya ketika ia melangsungkan pernikahan dengan seorang guru di desanya. Pak Guru itu pernah datang ke sini. Orangnya memang baik, Beruntunglah Tasini mendapatkan dia. Kusempatkan untuk datang ke pernikahannya.

Pembantuku yang kelima adalah Maryati. Tetapi ia hanya bertahan satu minggu. Itu pun dia habiskan waktunya untuk menangis terus sepanjang hari. Ini memang pertama kalinya ia pergi jauh dari orang tuanya.

Pengganti Maryati lebih parah lagi. Sukartiyah namanya. Ia hanya tinggal tiga hari. Tetapi aku rugi besar. Hari pertama ia menunjukkan sikap yang betul-betul membuatku berdecak. Rumah jadi benar-benar rapi dan bersih. Bahkan gudang yang sumpek bukan main jadi teratur rapi. Hari kedua, giliran ia menggarap bagian luar rumah. Hari ketiga, ia tampak bermain dengan Anto dan Aan ketika aku dan Mas Tok berangkat kerja. Tetapi ketika aku pulang, pintu depan terbuka lebar. Aku masuk dan melihat kedua anakku tertidur pulas di sofa. Kupanggil Kartiyah yang ceroboh membiarkan pintu terbuka. Aku semakin cemas. Dan…betul juga. Teve, videom dan tape tak ada di tempatnya! Aku kaget sekali. Herannya, bisa-bisanya tetanggaku tak ada yang melihat. Mengangkut barang-barang besar masak mereka tak melihat!

Yu Ti yang berikutnya, Ia benar-benar terapil. Tujuh bulan di sini ia telah mendapat kesibukan tambahan karena hadirnya Alan, anakku yang ketiga. Tiga tahun kemudian ia disusul anaknya yang akan segera melahirkan.

Yang kedelapan dan kesembilan adalah Aminatun dan Alimah. Keduanya berlaku tanpa liku-liku. Masing-masing satu tahun. Mereka keluar baik-baik. Aminatun karena mau menikah. Sedangkan Alimah, aku kurang begitu tahu, karena ia hanya senyum-senyum saja ketika kutanya.

Dan yang baru saja berlalu, ya, si Inah ini. Baru dua bulan ia ikut denganku tetapi sudah berani membohongiku. Buktinya, ia pamit tiga hari untuk menengok ibunya yang katanya sakit, sekarang sudah hampir sebulan ia tak pulang.

Lamunanku terhenti ketika kudengar Alan menangis. Alan memang rewel sekali. Padahal kakak-kakaknya tak serewel itu ketika ia seusia dia.

"Mamiiii!" Alan memperkeras volumenya. Segera kubersihkan tanganku dari busa sabun cucuian piring dan berlari ke kamar. Kutepuk-tepuk pelan pantatnya. Ia kembali tertidur. Perlahan kutinggalkan Alan dan berjalan menuju kamar Aan dan Anto. Kutepuk pelan pantat mereka untuk membangunkannya.

"Malas, Mam!" jawab mereka bersamaan.

"Ya, Tuhan!" desahku ketika hampir lima menit kubangunkan dan mereka malah kembali memeluk gulingnya. Kugoncang tubuhnya. "Ayo, bangun! Shalat dulu, terus buang sampah! Anto, Aan!" Anto bangun dan beringsut ke luar. Aan masih tergolek. "Aan, bangun, shalat dulu!"

"Nggak mau akh!"

"Eh, ini anak!" aku benar-benar gusar. "Bangun!" nadaku meninggi. Kucubit pantatnya. Aan menangis keras. Aku hanya ternganga dan bingung mau apa. Kucubit lagi. Bertambah lagi tangisnya. Tiba-tiba Alan juga menangis. Keduanya seakan bersaing untuk memperkeras suaranya.

Mas Tok masuk sambil menggendong Alan.

"Aan dicubit Mami!" Aan mengadu.

"Pagi-pagi sudah menangis! Bau! Ayo, gosok gigi, tuh, bau mulutnya bulat-bulat, eh ada yang kotak, ada lagi yang segi tiga," canda suamiku. Aan menurut dan berjalan ke luar.

"Jangan terlalu keras sama anak-anak…"

"Tidak boleh bagaimana? Memang ketiganya nakal, bandelm dab rewel! Coba dulu Anto perempuan tentu sudah bisa membantuku. Ini juga, cengengnya melebihi perempuan!" gerutuku pada Alan. Kuambil ia dari gendongan Mas Tok.

"Kalau begitu sekarang kita tambah satu lagi, perempuan, ya?" Mas Tok meraih bahuku. Tetapi kutepiskan.

"Enggak lucu!" kutinggalkan Mas Tok di kamar.

Mas Tok mengikuti langkahku ke dapur. "Aku sudah bicara dengan Mas Duran. Katanya ada calon. Mau?"

"Mas Diran yang tempo hari bawa Inah? Eh, Mas, bilang sama dia, kalau jadi agen yang becus. Aku paling tidak suka tiap saat ganti pembantu. Kalau yang dibawa seperti Inah, bisa-bisa setahun ganti pembantu dua belas kali! Nanti dibilang kita yang enggak bisa jadi majikan! Dia untung, tiang kali bawa pembantu kita kasih komisi. Lha kita?"

Tiba-tiba kudengar Anto dan Aan bertengkar di kamar mandi. Tak lama kudengar suara ember dan gayung jatuh. Lalu Aan menangis. Alan kuserahkan pada Mas Tok. Aku bergegas ke kamar mandi. Sikat dan sabun serta tempatnya berserakan di lantai. Ada bilur biru di wajah Aan dan ada bekas cakaran di hidung Anto. Tanpa banyak bicara kujewer telinga mereka. Keduanya meringis kesakitan. Tetapi Aan tak menangis lagi. Kulepaskan relinga mereka, Anto dan Aan tertunduk dalam. Iba juga aku jadinya.

Tiba-tiba kudengar ketukan di pintu. Bergegas aku ke depan hingga hampir menabrak tubtuh Mas Tok. "Pagi-pagi sudah bertamu!" omelku.

Pintu terbuka. Tampak Inah berdiri di sana! Aku diam. Ada berbagai rasa di dadaku, benci, kesal, marah, tetapi juga senang dan lega.

"Maafkan saya, Bu. Emak harus opname di rumah sakit. Jadi saya harus menunggui!" kata Inah lirih.

Aku diam.

"Saya belum diganti 'kan, Bu?" wajahnya penuh harap.

Aku tetap diam. Batinku masih berkecamuk. Inah menunduk. "Masuk!" hanya itu yang bisa kuucapkan akhirnya. Aku terduduk di sofa.

"Naik apa, Nah?" tanya suamiku.

"Kereta, Pak."

"Oh. Lalu emakmu?"

"Sudah sehat, Pak."

Lalu masih banyak yang mereka bicarakan, tetapi aku tak jelas benar mendengarnya, karena lama-lama mataku terpejam. Aku benar-benar lelah dan mengantuk kini.

 

 

Hosted by www.Geocities.ws

1