BERSATU KITA TEGUH

"Ngapain sih rapat-rapat segala?"

"Enakan pulang!"

"Buruan, woi! Lapaaaar!"

"Ayo, donk, ntar sore kudu basket nih!"

"Gue mo marching!"

Dan banyak seruan lagi. Kelas 2 C jadi sangat bising, nglebihi bisingnya Pasar Modal. Tentu banyak yang protes dengan undangan Rapat Genting dari Ryan (Ryan emang nulis gitu). Selain lapar yang bukan mae, capek sesiangan ada di dalem kelas, apalagi tadi Pak Sur ulangan mendadak, belom lagi yang mo ekstra basket dan marching, masih ada lagi yang kudu les ini-itu. So, jejeritan itu tadi yang kedengeran.

"Driver Gue udah nungguin dari tadi tuh!"

"Rapat apaan sih, Yan?"

Ryan memukul-mukulkan penghapus ke papan tulis. Butiran lembut kapur langsung beterbangan kayak kuman. Ia terbatuk-batuk bentar. "Makanya ongkos dikit, kek, pake whiteboard!" keluhnya. Beberapa butiran kapur akhirnya parkir di rambutnya. "Woi, Pasar Burung! Diem donk! Kalo nggak ngerti diem, oke, be quite, please! Kapan Gue bisa ngomong kalo masih pada jejeritan kayak gini!" serunya. "Ini emang rapat yang amat sangat genting sekali," ujarnya setelah kelas rada tenang. "Kemaren Gue rapat dengan pengurus OSIS dan panitia Pemilihan Ketua OSIS."

"Alah, kirain rapat apaan, Gue telat les piano nih!" seru Sari.

"Stt!" yang lain menyahuti.

"Oke, intinya kita diminta cepat-cepat nyiapin satu calon untuk diajukan sebagai Calon Ketua OSIS. Aturannya, calon hanya bisa diajukan oleh kelas dalam Majlis Perwakilan Kelas. Soal milih, itu nanti hak kita masing-masing. Tapi yang jelas kita diminta segera mengajukan calon. Now, siapa yang mau kita calonkan?"

Kelas kembali ribut. Masing-masing jejeritan asal nyebut nama.

"Woi, Pasar Burung! Waduh, benar-benar nggak beradab sih ada orang ngomong malah ribut sendiri-sendiri. Gue serius! Gue bisa sih asal nyalonin. Tapi Gue nggak mau kurang ajar nggak nampung aspirasi sak kelas. So, mari kita rapatin sekarang. Yang jelas, calon itu harus capable, credible, acceptable, reasonable, dan bel bel yang lain. Gimana?"

"Udah, Lo aja! Dan rapat selesai!" seru Sari sambil berdiri.

"Gue yang mimpin rapat! Kalo Lo mo pulang, pulang aja! Tapi yang berhak nutup rapat ya Gue!" kata Ryan.

"Driver Gue udah nunggu dari tadi," keluh Sari.

"Stt!" yang lain ikutan berseru.

Sari duduk lagi. Mukanya jutek banget.

"Kayak lele!" bisik Yaya pada Sally ketika melihat wajah jutek Sari.

"Kembali ke topik semula. Gimana?" kata Ryan.

Joko acung tangan,"Gue, Yan. Oke, friends, mari kita serius. Atas nama kelas. Dalam skala mikro emang demi kelas. But dalam skala makro demi sekolah!"

"Buruan!" seru Sari yang langsung disahutin dengan "stt" dari teman-temannya.

"So, friends, jika kita ajukan calon yang bel bel tadi itu, berarti kans calon kita lebih besar. Coba pikir, kelas kita ada yang menjadi ketua OSIS, siapa yang bangga? Kita’kan?"

"Gue mo ngomong, Yan!" seru Sally. "Oke, kita nggak perlu jauh banget mikirnya bahwa calon kita kudu jadi Ketua OSIS. Yang penting, nurut Gue, kelas kita maju dulu. Soal jadi atau tidak itu urusan nanti. Yang penting kita serius menyaring calon. Tapi jangan bebani si calon dengan kudu menang. Sebab ketua OSIS bukan sekedar menang atau kalah."

Semua anteng.

"Thanks, Jok, Sal. Oke, ada usulan?"

Yani angkat bicara,"Gue setuju banget bahwa kelas kudu nyiapin calon yang bonafid, terlepas dari kalah atau menang. Kelas kita udah punya public figur seperti Yaya yang jadi mayoret marching kita. Why bukan Yaya?"

"Oh, no!" seru Yaya sambil berdiri. Ia sudah membuka mulut hendak bicara. Matanya tertuju ke arah Ryan. Tak lama ia duduk lagi,"Eh, sorry, Yan, Gue boleh bicara?"

"Boleh. Silakan!"

"Bener Gue mayoret marching SMU kita. Tapi apa itu menjamin gue juga bonafid sebagai calon ketua OSIS? Ingat, ketua OSIS itu eksekutif kita. Mimpin marching mungkin mudah. Apalagi anggotanya latihan rutin. Tapi mimpin orang sak sekolahan, mengaktifkan kegiatan siswa, de el el. Asli, Gue nggak sanggup."

Kelas kembali ribut but but.

"Kenapa bukan Sally?" tiba-tiba Jupri yang Betawi asli dan duduk di bangku paling belakang angkat bicara. Suaranya lantang banget. Bahkan ia berdiri tegak. "Maksud Gue, kita tahu kayak apa Sally. Dia aktif di banyak kegiatan. Dia termasuk pengurus OSIS saat ini. Prestasi sekolahnya bagus. Prestasi di luar urusan pelajaran juga bagus. Dia..." tiba-tiba wajah Jupri memerah ketika terdengar suit-suit dari temannya. Ia jadi kikuk banget. "Dia pantas kita ajukan sebagai calon dari kelas kita." Jupri duduk kembali.

"Aku setuju,"ujar Uli setelah diperbolehkan bicara,"Sally tengil, sorry Sal, aku bicara jujur, tapi dia memang pantas kita calonkan karena aku yakin dia mampu."

"Stop, stop, stop! Gue boleh bicara ya, Yan, sebelum banyak pujian datang lagi pada Gue! Oke, Jupri, thanks atas pujian kamu yang cenderung melebih-lebihkan. Juga thanks buat kau, Uli, Gue hargai kejujuran kau. Tapi Gue nggak bisa. Gue nggak siap."

"Nggak siap apanya, Sal?" tanya Yaya.

"Sialan! Lo ikut-ikutan lagi," gumam Sally sambil duduk kembali. "Begini. Okelah ini baru calon. Belum ketua OSIS yang sesungguhnya. Tapi sebagai nominator tentu punya dua kemungkinan. Jadi atau tida Bagaimana jika kemudian jadi?"

"Sok yakin!" dengus Sari lirih takut di-stt teman-temannya lagi.

"Konsekuensinya, Man! Abot! Ketua OSIS bukan sekedar jabatan. Tetapi juga tanggung jawab. Melempem tidaknya aktivitas siswa SMU kita sangat tergantung dia. Dia juga nggak cuma wakil siswa. Tapi juga kudu jadi jembatan antara siswa dengan guru.Taroh kata ini sebuah negara, ia adalah presidennya. Dituntut untuk peka terhadap fenomena. Cause, dia adalah pengambil keputusan. Dia juga kudu aktif berhubungan dengan negara-negara laen. Bener dia nggak sendiri cause ada pengurus laen yang ngedampinginya. Tapi tetep tanggung jawabnya gede. Dan yang laen lagi, karena dia pelajar dia juga kudu tetep tahu posisinya sebagai pelajar. Artinya kudu melek pelajaran biar nggak kelihatan bodo-bodo banget. Sekian."

"Penjelasan Lo justru bikin kita makin yakin Lo emang pantas!" seru Joko penuh keyakinan.

"Setujuuuuu!" kelas kembali jejeritan.

"Be quite, please! Gimana, Sal? Apa lagi yang Lo ngerasa nggak siap? Perlu Lo catet, Sal, Gue janji, kita janji, bakal bantuin Lo! Apapun! Kita bakal dukung Lo! Nggak cuman dalam proses pemilihan. Tapi juga nanti pas Lo jalan. Nggak perlu kudu jadi ketua OSIS. Apapun Lo pegang posisi nanti."

"Setujuuuu!"

"Kau boleh pegang janji akulah!"seru Uli.

Sally gelagapan. Diinjeknya kaki Yaya. Tapi Yaya malah ikut sorak-sorak bergembira sama teman-teman laennya.

"Apa emang kudu Gue? maksud Gue, tadi Jupri ngomong gini-gini lantas setuju aja. Kenapa nggak coba disaring lagi. Gue yakin banyak potensi di kelas kita. Katakanlah kita saring bakal calon dululah. Gimana, Yan?"

"Kalo gitu, Yan, Gue usul Lo juga diajukan!" seru Yani.

"Oke, oke, Gue tulis, ya." Ryan menulis nama Sally dan namanya di papan tulis. "Ada lagi?"

"Usul, Gue dukung usulan pertama Yani tadi, Yaya!" seru Guntoro.

"Setujuuu!" sahut yang laen.

"Gimana, Ya, ini yang minta forum. Bukan Gue. Gue tulis ya?" Ryan menulis lagi.

"Gue kira, Joko pun punya kans untuk kita ajukan," usul Jupri lagi.

"Terus? terus? Wah, Jupri curang, nggak muji Gue. Ke Sally Lo muji selangit," sahut Joko. Kelas jejeritan again.

"Oke, tenang, tenang. Cukup empat saja? Atau masih mau lagi? Cukup?"

"Cukup!"

"Kalo gitu, friends, mari kita mulai belajar demokrasi, kita siapkan kertas dan memilih calon yang kita anggep layak. Lalu tolong, Jupri, Lo maju ke depan bawa kertas teman-teman ya!"

Jupri pun mau membawa kertas-kertas dari sak kelas. Beragam kertasnya. Ada yang pake kertas surat, nyobek diary, ada yang membagi kertas jadi delapan potongan dan dibagi rata, ada yang pake kertas ulangan Pak Sur yang tadi langsung dikoreksi. Uli dan Joko ngebuka dan ngebacain nama-nama yang tertulis. Guntoro membuat tanda turus di belakang nama-nama yang tadi ditulis Ryan. Hasil akhir dari 33 orang yang ngegunain hak suara cause 2 yang laen nggak masuk, Sally mencatat 22 suara, Ryan dan Yaya masing-masing 5, dan Joko 1.

*

"Lo yakin Gue bisa, Ya?" tanya Sally sambil memukul-mukulkan stick membuat irama.

"Yang penting Lo siap-siap aja buat seleksi! Kita bakal bantu!" sahut Yay sambil memutar-mutar tongkat.

"Kalo nanti Gue bener terpilih?"

"Yaa kita makin ngebantu Lo!"

"Ya?!"

"Hmmm?" sahut Yaya.

"Nggak jadi," Sally nglanjutin mukul-mukul stick.

Tiba-tiba Yaya nggentiin stick Sally,"Sal, believe me! Lo pasti bisa!"

*

Acara pemilihan ketua OSIS dijadualin bakalan makan waktu 2 minggu. Seminggu pertama adalah masa kampanye tertulis. Dari pembuatan poster resmi, data diri, visi, sampe program kerja. Minggu ke-2 dibagi dalam 3 sessi. Sessi I, 3 hari berturut-turut tes wawancara yang digelar saban pulang sekolah. Sessi II kampanye oral. Yang ini cuman sehari. Dan 1 hari berikutnya masa cooling down. Abis itu, masa Pemilu. Gile, padet bener.

Untungnya temen-temen Sally nggak ngegombal waktu bilang mo bantuin. Buktinya mereka ngebantuin bikin poster yang very very artistik. Sally tinggal buat data diri, visi, dan program kerja. Itu juga ia minta masukan dari teman-temannya. Bahkan ketika wawancara yang makan waktu tiga hari sampe Maghrib itu secara gantian Ryan, Joko, dan Guntoro nungguin dan nganter pulang dia. Of course Sonny seneng banget karena itu berarti tugas dari maminya buat ngejemput Sally jadi ngak perlu dijalankan.

Pas kampanye oral, sekolah jadi rame banget, penuh dengan poster-poster dukungan. Bayangin, sampe ada poster asal nggak jelas identitasnya nulis: SAYA PILIH PAK BAS! Lalu ada lagi tulisan : TURUNKAN SPP. Apa nggak sableng tuh. Untung Pak Bas tabah. Ia hanya senyum-senyum aja dan minta pada Pak Min untuk nurunin poster sableng itu.

Sally asli deg-degan banget. Gimana nggak deg-degan, sak sekolahan ngeliat dia semua. Tapi waktu ia ngeliat temen-temennya bertepuk riuh dan diiringi bunyi terompet tahun baru, semangan Sally jadi menyala lagi (emang api?). Sally ngak tahu, siapa yang jadi sponsor buat ngebeli terompet itu.

*

Sally asyik ngeliatin Yaya yang lagi nyobain cat kuku baru. Warna biru dengan titik-titik emas dan perak.

"Tapi Gue nggak punya baju yang pas, Sal, berarti Gue kudu beli."

"Akh, Lo, mendingan tadinya cat kukunya yang nyesuein baju. Bukan bajunya," sahut Sally.

"Yaya, telphon!" teriak mami Yaya mengejutkan dua cewek itu.

"Yes, Mom!" Yaya bales teriak. "Heran, ini rumah apa hutan, saban hari teriak-teriak melulu!" gumamnya sambil melangkah keluar. Lalu ia balik lagi ke kamar,"Sal, buat Lo, dari Ryan! Buruan!"

Sally keluar bersama Yaya. "Hallo?"

"Sal, Gue cariin kemana-mana nggak tahunya di sini!" semprot Ryan.

"Iya, Gue mo nginap di sini. Besok mo langsung ke Senayan."

"Woi, selamat ya! Lo suara terbanyak. Gile, perhitungan ampe dihentikan karena dipastikan Lo punya suara terbanyak. Udah lebih dari 75 %. Baris nama Lo ampe nggak muat tanda turus. Senin diumumkan resmi. Bla...bla...bla..." Ryan bercerita panjang lebar.

"Thanks, Yan!" gumam Sally lirih.

"Gue mau pengumuman! Dagh, Sally!"

"Dagh!" Sally ngletakin gagang telepon.

Yaya langsung nyium pipi kiri kanan. "Congratulation, Non! Woi, kok bengong?"

"Kok Gue?" Sally bergumam.

"Lho, woi, Non, ngapain?"

"Aduh, Ya, kok Gue?"

"Lha iya emang Lo yang dapet suara terbanyak. Udah deh, Lo nggak usah ragu lagi. Ayo, woi! Semangat! Semangat! Udah deh, Sal, Lo kudu siap-siap. Kan Lo sendiri yang bilang tiap nominator punya dua kemungkinan. Dan sekarang udah terbukti. Lo dapet suara terbanyak. Wake up! Ayo, tugas Lo nggak cuman sampe pemilihan. Tugas Lo masih panjang, satu tahun ke depan. Dan Lo inget ya, kita nggak bakalan ninggalin Lo. Kita bakal bantu Lo!"

"Thanks, Ya. Gue nggak ngerti kalo nggak ada Lo dan teman-teman Gue nggak bakalan bisa begini."

Lalu keduanya berpelukan. Asli, kayak film India!

***

Hosted by www.Geocities.ws

1