|
Untuk Siapa Puisi Ini Ku Cipta ?
Marilah kembali ke daerah asalmu Marilah bersemadi di permatangan senja Menyaksikan maraknya ungun api Bahang terasa ke dalam jiwa Menular nadi mencantas suara Resah meniti kedamaian dinihari.
Ku lakarkan puisi simbolisme insan-insan Khalik Ku ciptakan irama bak Mozart berbicara Namun seindah mana sentuhan berbunga Layunya terbiar di selubungi epilog duka.
Mengapa dibiarkan segalanya berlaku Siangnya membisu hingar-bingar malamnya Mengalih arah kiblat terpesong arah kemudi Dari manakah asalnya fenomena itu ? Tempik bersorak ala komandan gila Memutar roda tanpa paksi yang nyata.
Dalam dingin salju Antartika Tersembunyi seribu satu rahsia Di dalam manusia ada manusia Persetankan lelangit hitam itu Yang mewarnai kesucian sekeping hati Menembusi jiwa antara jiwa.
Dongakkan seketika wahai halimunan bernyawa Pandanglah terus sekitar atmosfera itu Di sempadan mana kita berada ? Serpihan kaca menjadi air mata Lantas melahirkan lafaz memilukan "Tiada Tuhan selain Allah, Nabi Muhammad itu pesuruh Allah".
Musim itu di matamu musim sialan Berteraju di bawah satu bahtera Karam hanyut entah ke mana Bersinar di air kelibat Nur suria Seakan mengerti isi puisi ini Hanya yang terlena Bisa menangis dalam ketawa Damailah semua di perlayaran dunia !
Nukilan :
Awangku Khairil bin Awangku Shamsuddin (Subang Jaya : 1996)
|
|