|
Mawar Hati (VI) (Sempadan Penghadang Pertemuan)
dalam mencoret bait-bait puisi ini mataku bagai ditarik menatap sesuatu ke satu sudut kelam berdebu kerana di situ tergantung suatu nostalgia sebuah potret silam bisu yang berbingkai usang -
mawar tidak perlu ragu.
ingin rasanya ku meniti pelangi berlari berpegangan tangan menyapu awan terbang bak si camar yang keriangan daripada di sini terus menanti khabar darimu yang jelas belum pasti -
mawar usah lama membisu.
kenapa lama benar dirimu menghilang tidakkah terdetik untuk kembali menjengahku ku rindukan kuntumanmu yang segar persis seraut wajahmu yang tersenyum memanggilku untuk terus bertanya khabarmu kembalilah mawar hatiku -
mawar hati mawar yang satu.
rindu padamu masih seperti dulu sesekali suaramu menjelma mengingatkan sesuatu "kenapa mawar hati bukan mawarku ?" "kenapa mawar hati lama menyepi ?" -
mawar kembalikan cahaya dari kelopakmu.
ku akur kuntumanmu tidak seperti dulu wujud sejuta warna dalam dirimu di balik warnamu yang pernah ku kenali terselit debunga matahari yang berduri melakar suatu pengharapan menyakitkan -
izinkan aku bersuara melafazkan mawar tidak perlu ragu mawar usah lama membisu mawar hati mawar yang satu mawar kembalikan cahaya dari kelopakmu
Coretan :
Awangku Khairil bin Awangku Shamsuddin, Sarawak - Melaka, (30.12.2004 - 16.3.2005) |
|