|
Mawar Hati (IV) (Pengembaraan Tiada Penghujung)
senyum mu bak mekarnya dahlia di singgahsana menyanyi diiringi gesekan madu si cemara megahnya dirimu berpanjikan duri di sebalik warna mengaburi mata pencinta yang mabuk asmara nalurimu entah kini kepunyaan siapa -
mawar serasi dengan kematangan dunia.
kelembutanmu ibarat racun bagi setanggi alamanda meski tiada hikayat yang mencatat susur-galurmu wujudmu tidak bertunjang pada sesiapa bersahaja melambai menerbitkan rasa cinta -
mawar lahir dari puspa cendana.
bisa tusukan selumbar saktimu masih dirasai dalam kelam mentari darahmu mula membeku tatkala cemburu kembali bermaharajalela serimu pudar diselimuti gerhana -
mawar tersenyum menyanyi irama sukma.
dari rantingmu tertera sebuah bicara "mana bisa mawar berbunga tiada bermusim mana bisa mawar menyusuri perjalanan cinta mana bisa mawar mengubah seribu satu cerita mawar bukan sebarangan mawar mawar mekar dipagari halangan mawar berseri abadi satu warna !" -
mawar setia di sebalik tirai Andalusia.
jika benar mawar masih kesepian serulah aku sebagai peneman jika benar mawar dihujani nista serulah aku pengubat sengsara -
namun ku termenung sejenak pada firasatmu... mawar serasi dengan kematangan dunia mawar lahir dari puspa cendana mawar tersenyum menyanyi irama sukma mawar setia di sebalik tirai Anadalusia -
Nukilan :
Awangku Khairil bin Awangku Shamsuddin Bukit Sebukor, Melaka (31 Disember 2002 - 26 Disember 2004) |
|