Terminal    Musik    Indonesia
Membawa Berita Duka : Drs H.Wahyu Sardono alias Dono (Warkop), menghembus napas terakhir
Kabut tebal menyelimuti dunia perlawakan Indonesia. Ahad dini hari 30 Desember 2001 sekitar pukul 00.50 WIB, Drs H.Wahyu Sardono alias Dono Warkop, menghembus napas terakhirnya di kamar no 11 Paviliun Ignatius rumah sakit St Carollus Salemba Jakarta Pusat.
Dia meninggal dengan tenang, disamping sahabatnya, Indrojoyo Kusumonegoro karena penyakit kanker dan paru-paru, dan ginjal yang lama dideritanya. Pria kelahiran Solo, 31 September 1951 itu menyusul istrinya, Titi  Kusumawardhani yang telah meninggal 14 Agustus 1999 karena serangan penyakit kanker. Dan meninggalkan tiga orang anak, masing-masing Andiko Ario Seno(21), Damar Canggih Wicaksono (15), dan Satrio Sarwo Trengginas (10). Dono putra keempat dari tujuh saudara seorang ayah, Citro Sudiono ini disemayamkan ke tempat peristirahatan terakhir, di Taman Pemakaman Umum Tanah Kusir, Jakarta Selatan, blok AA II. Prosesi pemakaman pelawak senior anggota Warkop DKI siang kemarin, memang benar-benar mengharukan. Ribuan pelayat turut meneteskan air matanya karena tidak kuat menahan kesedihan melihat kepergian mantan dosen jurusan Sosiologi FISIP UI itu. Rintikan hujan pun ikut menghantar kepergian dari rumah duka sampai di sholatkan di masjid Jami ' Nurul Huda, yang jaraknya sekitar 200 meter dari rumah almarhum.
Hujan mulai reda, setelah di berangkatkan dari masjid ke Tanah Kusir.  Tampak hadir di antara ribuan pelayat diantaranya Prof Yuwono Sudarsono, Prof Selo Sumardjan, Taufiq Savalas, Ulfa Dwi Yanti, Miing Bagito, Us Us, Sandy Nayoan, Debby Sahertian, Robby Tumewu, Mus Mulyadi, Gugun Gondrong, Sys SN, Renny Jayusman, dan Putu Wijaya.  Indro, satu-satunya personil Warkop yang tersisa, pada wartawan menceritakan bagaimana sahabatnya berjuang selama 24 jam menghadapi maut. " Saya menunggu dia dari subuh kemarin. Dan melihat perjuangan  dia selama 24 jam mengahadapi maut," ujar Indro yang juga ditunjuk sebagai wakil keluarga. Sejak dibawa ke rumah sakit dua hari lalu, Lanjut Indro, penyakit anggota 094 Mapala UI itu keadaanya memang sudah sangat parah. Komplikasi antara tumor, ginjal dan paru-paru basah terus menggerogoti tubuhnya. Hingga meninggal, tanpa pesan apapun. Termasuk juga keberlangsungan Warkop dan ketiga anaknya. Tentang penyakitnya, Pertama ketahuan, Dono menderita penyakit tumor di bokongnya awal September setahun lalu. Dan sekitar tanggal 25 September 2000, tumor itu telah berhasil diangkat. Namun yang disayangkan, sejak itu tidak pernah diperiksa lagi. Itulah yang namanya Dono. Rupanya pribadinya yang tertutup, tercermin dalam kehidupan sehari-harinya. Dia terlalu takut dengan dokter. " Dan saya adalah orang yang paling berisik dalam hal ini. Dia sudah tak punya istri lagi. Siapa lagi yang akan memperhatikan," tambah Indro sambil mengusap air matanya yang jatuh dipipinya.
Drs. H. Wahyu Sardono alias Dono (Warkop)
Kasino
Indro
Dono
Karena penyakitnya itulah, akhirnya merambat keorgan tubuhnya yang lain. Dan kedatangannya ke rumah sakit itu juga atas paksaan Indro. Sampai sampai, Indro terus memaksakan agar penyakit sahabatnya itu diperiksakan kembali ke dokter.Hal ini dikarenakan, kondisi Dono lama kelamaan semakin kurus. " Ketika saya paksa, dia bilang aku sama Ario(anaknya)saja. Saya pikir yah mungkin mendidik anak.
Namun, ketika saya monitor, ternyata belum berangkat. Itu terjadi sekitar tiga bulan yang lalu," kenang dia. Indro melanjutkan, sehari setelah itu di telepon, yang mengabarkan ternyata Dono terkena paru-paru basah. Indro pikir kalau hanya paru-paru basah, disedot saja sudah selesai. Dirumah sakit, dokter yang menanganinya, sempat menanyakan apakah Dono pernah terkena tumor. Indro menjawab, pernah tapi sudah diangkat. " Dari ungkapan dokter inilah sebenarnya saya sudah mulai terasa kalau dia akan menyusul istrinya. Tapi saya tidak mengungkapkan dan ndak berani ngomong. Karena tak menguasai ilmu kedokteran, " lanjut Indro.Sampai akhirnya dirawat ke rumah sakit. Saat dirawat ada dua alternatif dalam menanganinya penyakit Dono, yaitu termoterapy atau tumornya diambil kembali. Namun, Allah menentukan lain. Bersamaan dengan penolakan dua pilihan yang ditawarkan oleh tim kedokteran RS St Carolus, Dono meninggal dengan tenang pukul 00.50 dini hari setelah Indro membisikan sesuatu ke telinganya, " Saya ikhlas mas, kalau mas Dono ingin tinggalkan kami," ujarnya sambil meneteskan air mata.
Ciuman Sahabat : Indro untuk terakhir kali mencium kening sahabatnya, Wahyu Sardono(Dono) yang terbujur kaku, saat melayat di rumah duka Jalan lenteng Agung Raya, Jakarta, Ahad (30/12)
Kembali
Hosted by www.Geocities.ws

1