Para pengelola rumah produksi mulai mengembangkan klip komedi untuk berbagai tayangan yang muncul di stasiun teve. Nam klipnya mereka sebut Komik (Klip Komik Unik), yang tampilannya agak berbeda dengan tanyangan komedi lainnya. Munculnya komik selain sebagai pengembangan imajinasi seni juga upaya menghindari penjiplakan dari tayangan sejenis yang telah ada. Komedi karya rumah produksi Jayakarta Astria Utama ( Jaas Pro) ini mencoba menyajikan pengalaman unik atau lucu sang bintang tamu yang dipandu pembawa acara, Ingrid Widjarnako. Dengan mengambil setting di lokasi kejadian, Komik ingin menampilkan inti cerita tanpa perlu menggiring penonton dengan pengantar panjang. Selain itu pemirsa juga diajak terlibat dalam produksi dengan mengirimkan pengalaman lucu ataupun ide cerita yang nantinya akan diangkat dalam adegan lucu oleh tim kretif Jaas Pro.
Komedi ini juga berusaha menampilkan humor ringan tanpa perlu pornografi, SARA, eksplotasi kekurangan fisik seseorang atau idiom gaya banci. Pelawak Srimulat, Tessy yang selama ini dikenal karena perannya sebagai banci akan tampil sebagai lelaki sejati dengan nama aslinya, Kabul Basuki. " Di sini saya tidak repot-repot, soalnya jadi laki beneran," kata Kabul. Sedangkan Inggrid Widjarnako menerima tawaran tersebut karena selama ini dia merasa dibesarkan TVRI sebelum menapaki dunia artis lewat TV swasta hingga menjadikannya publik figur. " Kalau tampil di TVRI sama saja tampil di seluruh Indonesia," selorohnya. Sustradara Komik, Bambang Permadi mengakui ide cerita ini bukanlah suatu yang baru. Namun ia berupaya membedakannya dengan tayangan sejenis lainnya seperti Toples atau Spontan yang terlebih dulu ditayangkan. Ia mencontohkan Toples yang menepatkan pasangan pelawak Topan dan Leysus sebagai motor dari komedi tersebut, mengambil lokasi syuting di studio.
Kelucuan sudah mereka bangun sejak awal dan banyak bintang bintang ternama yang tampil di dalamnya. Begitu pula dengan Spontan yang menerima kiriman rekaman video lucu dari permirsa. Namun menurutnya, kelucuan itu justru dibangiun dari gambar yang diulang-ulang atau dubbing yang dibuat lucu. Sedangkan Komik, proses syuting di lakukan di luar studio. Kelucuan yang dibangun hanya pada akhir cerita agar pemirsa terus menyaksikan acara hingga akhir. Para artisnya sebagian besar wajah baru karena ingin meraih perhatian penonton. Situasinya akan berbeda bila menggunakan bintang televisi yang terkenal karena telah memiliki image tersendiri di masyarakat. Jaas Pro juga tidak memilih TV swasta sebagai tempat penayangannya, melainkan TVRI yang dianggapnya murah dan menjangkau seluruh wilayah Indonesia. Bambang mencotohkan, biaya tiap episodenya apabila ditanyangkan di TVRI hanya Rp 13 juta dengan sistem blocking time. Sedangkan di tevisi swasta untuk hal yang sama harus keluar uang sekitar Rp 120 juta.
Masalah pendanaan juga dilakukan sendiri oleh Jaas Pro dengan mencari sponsor karena TVRI tidak memiliki dana awal untuk membiayai tayangan tersebut. Sedangkan pembagian keuntungan bersih dilakukan bersama TVRI setelah dipotong biaya produksi dan penyiaran. " TVRI tidak banting harga saat negosiasi. Tapi masalahnya kita tidak punya dana yang cukup. Kalau programnya sudah menghasilkan income mungkin bisa," kata Retno Intani, manajer Kerjasama Usaha Dalam Negeri TVRI. Menurut rencana, tanyangan komedi berdurasi sekitar 30 menit ini akan ditanyangkan seminggu sekali pada pukul 21.30 EIB mulai 10 Februari yang lalu. Tanyangan ini terbagi dalam empat segmen di mana tiap segmen terdiri dari satu klip komedi. Diawali dengan presenter yang memperkenalkan bintang tamu pelawak dan membahas pengalaman lucu mereka. Namun, obrolan dihentikan sejenak untuk menyaksikan klip komedi. Setelah diselingi iklan, tayangan dilanjutkan sampai segmen keempat berisi klip komedi yang naskahnya merupakan kiriman pemirsa dan divisualisasikan tim kretif Komik.