Angin Surga

        Terminal Musik Indonesia

Membawa : Nasib Telepon Umum Jakarta..Digebuk..Ditusuk, Dibetot, Dirampok


Pada hari senin pagi akhir bulan lalu, sebuah telepon umum dimulut sebuah gang di Kelurahan Paseban, Kecamatan Senen, Jakarta Pusat, ditemukan dalam keadaan " tewas". Kabelnya terjuntai bak leher tanpa kepala. Gagang telepon yang seharusnya ada diujungnya sudah lepas. Beberapa warga yang datang untuk menelpon kecewa dan terpaksa membatalkan niatnya. Bisa dipastikan, seseorang sudah membentot paksa kabel telepon sampai putus. " Mungkin dia kesal enggak bisa nelpon karena pesawatnya kebetulan rusak," kata pemilik warung didekat sarana telekomunikasi itu. Dia juga bilang, telepon umum itu sudah sering digebuki pemakainya yang dongkol karena tak berfungsi dengan baik.
  Telepon umum rusak memang bukan cerita baru di Jakarta. Menurut catatan di kantor  PT Telkom Divisi Regional II( wilayah Jabotabek
Sekapur-Jakarta-Bogor-Tanggeran-Bekasi-Serang-Karawang-Purwakarta) terdapat 32.710 telepon umum koin di Jakarta dan sekitarnya itu. Namun selama bulan April 2000, dari jumlah itu kurang lebih sepertiganya, yakni 10.080 unit, sempat tak berfungsi karena kerusakan
Kalau kerusakan jenis-jenis telepon umum lain ikut dihitung, angka kerusakan tentu bakal lebih tinggi lagi. Disamping telepon umum koin, Wilayah Jabotabek Sekapur juga difasilitas dengan telpon umum kartu yang jumlahnya mencapai 22.849 unit dan sebagian besar, 17.400 unit, dioperasikan di lima wilayah Jakarta.

                                                                                  ****

Kerusakan Telepon umum bisa disebabkan karena gangguan saluran atau gangguan teknis lain. Namun, menurut pejabat Hubungan Masyarakat PT Telkom Divisi Regional II Asep Tatang, tak berfungsinya telepon umum lebih banyak diakibatkan oleh ulah warga sendiri. Para rerusak telepon umum biasanya adalah mereka yang mau menelpon secara prodeo alias tanpa bayar. " Ada yang rusak karena dipakai menggunakan koin yang diikat dengan tali. Bahkan ada yang menusuk lubang koin dengan lidi agar bisa menelpon dengan cuma-cuma," jelas Asep. Sebagian telepon umum yang sudah kurang sehat sering malah mati gara-gara sering digedor-gedor dan dipukul-
pukul warga  dengan berbagai alasan.

Sementara itu, kerusakan telepon umum kartu sering disebabkan karena pengguna yang memasukkan kartu telepon palsu. " Malah ada yang coba-coba memakai telepon kartu hanya dengan kartu biasa," tambah Asep. Lebih gawat lagi, kadang-kadang telepon umum juga jadi sasaran kaum penjahat. Awal tahun lalu, misalnya, polisi menangkap dua tersangka pelaku pencongkelan sebuah telepon umum di daerah Cilandak, Jakarta Selatan. Dari mereka diperoleh barang bukti berupa uang logam pecahan Rp 100 yang total berjumlah
Rp 137.000.

Juga pernah terjadi, pesawat telepon umum kartu dibongkar dan diboyong dari biliknya. Konon, pesawat itu akan digunakan untuk menghidupkan kembali kartu telepon yang pulsanya sudah sebenarnya sudah habis. Di banyak bilik-bilik telepon umum, andai pun pesawatnya tak rusak atau raib, kenyamanan berhalo-halo lewat telepon tak bisa didapatkan. Kecuali yang berlokasi di lingkungan dan dekat kantor PT Telkom, di Jakarta susah menemukan bilik telepon umum yang bebas dari coret-coret grafiti warga iseng.
Ketidaknyamanan warga dalam menggunakan fasilitas telepon umum juga disebabkan kurang terjaganya kebersihan telepon, baik karena
kurangnya perawatan dari pihak PT Telkom, maupun dari warga pengguna yang kurang memperhatikan soal kebersihan dan kesehatan.

                                                                                   ****

Asep menjelaskan, prilaku vandal dan tindak kriminal yang menjadikan telepon umum sebagai korban jelas merugikan PT Telkom.
" Beban biaya perawatan menjadi tinggi. Apalagi di masa krisis ini. Karena mahalnya harga suku cadang, kami terpaksa menghentikan pelayanan telepon umum di tempat- tempat dimana sering dilakukan kerusakan. Kami juga melakukan kanibal untuk memperbaiki telepon-telepon umum yang potensial menghasilkan pemasukan bagi PT Telkom," kata Asep.
Telepon umum dipasang PT Telkom di satu lokasi bedasarkan permohonan warga sekitarnya yang merasa membutuhkan sarana telekomunikasi itu. Makanya, sebenarnya sulit dipahami jika warga masyarakat setempat tak ikut menjaga. Bahkan, sebaliknya, malah memperlakukannya dengan semena-mena. Apalagi membentot kabelnya sampai putus atau membongkarnya dari biliknya untuk dibawa pulang.


Hosted by www.Geocities.ws

1