Angin
Surga
Telepon
umum rusak memang bukan cerita baru di Jakarta. Menurut catatan di kantor
PT Telkom Divisi Regional II( wilayah Jabotabek
****
Kerusakan Telepon umum bisa disebabkan karena gangguan
saluran atau gangguan teknis lain. Namun, menurut pejabat Hubungan Masyarakat
PT Telkom Divisi Regional II Asep Tatang, tak berfungsinya telepon umum
lebih banyak diakibatkan oleh ulah warga sendiri. Para rerusak telepon
umum biasanya adalah mereka yang mau menelpon secara prodeo alias tanpa
bayar. " Ada yang rusak karena dipakai menggunakan koin yang diikat dengan
tali. Bahkan ada yang menusuk lubang koin dengan lidi agar bisa menelpon
dengan cuma-cuma," jelas Asep. Sebagian telepon umum yang sudah kurang
sehat sering malah mati gara-gara sering digedor-gedor dan dipukul-
pukul warga dengan berbagai alasan.
Sementara itu, kerusakan telepon umum kartu sering disebabkan
karena pengguna yang memasukkan kartu telepon palsu. " Malah ada yang coba-coba
memakai telepon kartu hanya dengan kartu biasa," tambah Asep. Lebih gawat
lagi, kadang-kadang telepon umum juga jadi sasaran kaum penjahat. Awal
tahun lalu, misalnya, polisi menangkap dua tersangka pelaku pencongkelan
sebuah telepon umum di daerah Cilandak, Jakarta Selatan. Dari mereka diperoleh
barang bukti berupa uang logam pecahan Rp 100 yang total berjumlah
Rp 137.000.
Juga pernah terjadi, pesawat telepon umum kartu dibongkar
dan diboyong dari biliknya. Konon, pesawat itu akan digunakan untuk menghidupkan
kembali kartu telepon yang pulsanya sudah sebenarnya sudah habis. Di banyak
bilik-bilik telepon umum, andai pun pesawatnya tak rusak atau raib, kenyamanan
berhalo-halo lewat telepon tak bisa didapatkan. Kecuali yang berlokasi
di lingkungan dan dekat kantor PT Telkom, di Jakarta susah menemukan bilik
telepon umum yang bebas dari coret-coret grafiti warga iseng.
Ketidaknyamanan warga dalam menggunakan fasilitas telepon
umum juga disebabkan kurang terjaganya kebersihan telepon, baik karena
kurangnya perawatan dari pihak PT Telkom, maupun dari
warga pengguna yang kurang memperhatikan soal kebersihan dan kesehatan.
****
Asep menjelaskan, prilaku vandal dan tindak kriminal yang
menjadikan telepon umum sebagai korban jelas merugikan PT Telkom.
" Beban biaya perawatan menjadi tinggi. Apalagi di masa
krisis ini. Karena mahalnya harga suku cadang, kami terpaksa menghentikan
pelayanan telepon umum di tempat- tempat dimana sering dilakukan kerusakan.
Kami juga melakukan kanibal untuk memperbaiki telepon-telepon umum yang
potensial menghasilkan pemasukan bagi PT Telkom," kata Asep.
Telepon umum dipasang PT Telkom di satu lokasi bedasarkan
permohonan warga sekitarnya yang merasa membutuhkan sarana telekomunikasi
itu. Makanya, sebenarnya sulit dipahami jika warga masyarakat setempat
tak ikut menjaga. Bahkan, sebaliknya, malah memperlakukannya dengan semena-mena.
Apalagi membentot kabelnya sampai putus atau membongkarnya dari biliknya
untuk dibawa pulang.