Terminal    Musik    Indonesia
Membawa : Berita Duka
Teguh Karya Telah Tiada
Tokoh penting dunia film Indonesia, Teguh Karya, meninggal dunia hari Selasa (11/12) sekitar pukul 10.30 dalam perjalanan menuju rumah sakit. Teguh yang meninggal dalam usia 67 tahun itu tahun-tahun belakangan memang sangat menurun kondisi kesehatannya sejak terkena stroke sekitar tiga tahun lalu. Dari sejumlah informasi yang dihimpun, para awak teater Populer yang didirikan Teguh. Teguh yang belakangan selalu duduk di korsi roda sempat sarapan sereal. Pada waktu makan itulah Teguh seperti tersedak, diikuti kesulitan bernapas. Edy STB, yang sehari-hari menemani Teguh, dibantu Helmy, yang pernah ambil bagian dari filmnya, berusaha melarikan Teguh Karya ke Rumah Sakit Angkatan Laut Mintobarjo, Jakarta Pusat. Hanya saja, Teguh tak tertolong. Ia meninggal dunia dalam perjalanan menuju rumah sakit. Sore hari, jenazah Teguh Karya disemayamkan di tempat tinggalnya, Sanggar Teater Populer, Kebon Pala 1 no 295. Tanah Abang, Jakarta Pusat. Kepergiannya mendapat perhatian besar baik dari masyarakat perfilman, para anak buah Teguh Karya dari teater Populer, sampai masyarakat di lingkungan gang tempat tinggalnya. Puluhan anak di lingkungan itu, diberi kesempatan untuk bergiliran melihat jenazah Teguh. Menurut rencana, jenazah akan dikremasikan di Krematorium Cilincing.
Teguh Karya, kelahiran Maja, Padeglang, Jawa Barat, 22 September 1934, tak pelak memang harus disebut sustradara film terpenting yang ada saat ini, setelah rekan-rekan seangkatannya, seperti Sjumandjaja dan Wim Umboh, mendahuluinya. " Dia adalah tonggak perfilman Indonesia setelah Usmar Ismail," komentar sustradara/aktor Slamet Rahardjo, yang bergabung dengan Teguh sejak berdirinya Teater Populer pada tahun 1968. Bersama Slamet itu pulalah Teguh membentuk Teater Poluler selain nama-nama seperti N. Riantiarno, Henky Sulaiman, Boyke Boring, dan Silvia Naiggolan. Waktu itu mereka rutin berpentas di Hotel Indonesia, memainkan naskah-naskah  seperti Kammerherre Alving karya Ibsen, Antara Dua Perempuan dari Alice Gesternberg, ataupun Jangan Kirimi Aku Bunga dari Norman Barasch.
Dengan kerja keras para awak Teater Popler, boleh dikata kelompok ini berhasil mengenalkan tontonan teater bagi publik kelas menengah di Jakarta pada masa itu.
Pertunjukan mereka ditonton dari 400 orang pada masa awal, sampai kemudian mencapai 3000 orang. Dalam dunia teater itu pula, pantas dicatat sumbangan Teguh Karya dengan mazhab realisnya. Setting pentas biasanya dibuat sangat realistik, berikut perhatian Teguh yang luar biasa terhadap ditail, misalnya pada kostum dan tata rias. Hal itu pula yang kemudian di usung oleh Teguh Karya, ketika dia terjun ke dunia film tahun 1971. Selain realisme tadi, yang juga diusung ke film tentulah perhatiannya pada detail yang dalam beberapa hal juga menjadi kecakapan atau craftmanship, yang sulit dicari tandingannya. Istilah terakhir itu dipakai kira-kira untuk menggambarkan sumbangan Teguh pada representasi kesenian- semacam gladi ketrampilan pada seorang seniman. Tanpa craftsmanship, kesenian terancan menjadi slogan, pamflet, propaganda.
Film pertama Teguh adalah Wajah Seorang Lelaki (1971), diikuti 12 film lainnya, terakhir Pacar Ketinggalan Kereta (1989). Dalam beberapa filmnya, terbaca percikan-percikan komentar Teguh Karya yang dilahirkan dengan nama Liem Tjoan Hok mengenai " etnisitas ", yang disitu sering ditampilkan dalam problem ke " Indo"- an. November 1828, misalnya, adalah problem seorang Indo yang ingin menjadi Belanda murni. Dalam Ibunda, masih tergiang perkataan pemain utama yang kini sudah almarhum. Tuti Indra Malaon, menyapa anaknya dalam film itu dengan " Indo - Indo, memang kita ini siapa......."

Pernah dalam suatu wawancara untuk film berjudul Di Balik Kelambu (1982) yang menceritakan seorang lelaki yang menumpang di rumah mertua, Teguh langsung berujar, " Kita semua di Indonesia ini sebetulnya orang kos (maksudnya indekos)."Agaknya, soal indentitas, etnisitas, marjinalitas, merupakan sesuatu yang menganggu pikiran Teguh Karya.  Dari lingkungan terdekatnya, termasuk yang dikatakan Niniek L Karim maupun Christine Hakim, kemarin, Teguh Karya merosot kesehatannya sejak tahun 1998. Dia mengalami depresi melihat kerusuhan yang meletus di Jakarta berikut peristiwa penjarahan, pemerkosaan, bulan Mei 1998. " Sejak itu kondisi fisik Teguh menurun hingga ia terserang stroke," kata Christine. Kepedihan bangsa ini agaknya mengendap pada Teguh Karya. Slamet Rahardjo, kemarin, memperlihatkan sebuah balai kecil di halaman rumah Teguh Karya yang asri, yang katanya dibangun Teguh dengan pesan untuk menyimpan abunya. Kini, Teguh benar-benar pergi, dengan membawa kepedihan bangsa.
Kembali
Hosted by www.Geocities.ws

1