Pertunjukan mereka ditonton dari 400 orang pada masa awal, sampai kemudian mencapai 3000 orang. Dalam dunia teater itu pula, pantas dicatat sumbangan Teguh Karya dengan mazhab realisnya. Setting pentas biasanya dibuat sangat realistik, berikut perhatian Teguh yang luar biasa terhadap ditail, misalnya pada kostum dan tata rias. Hal itu pula yang kemudian di usung oleh Teguh Karya, ketika dia terjun ke dunia film tahun 1971. Selain realisme tadi, yang juga diusung ke film tentulah perhatiannya pada detail yang dalam beberapa hal juga menjadi kecakapan atau craftmanship, yang sulit dicari tandingannya. Istilah terakhir itu dipakai kira-kira untuk menggambarkan sumbangan Teguh pada representasi kesenian- semacam gladi ketrampilan pada seorang seniman. Tanpa craftsmanship, kesenian terancan menjadi slogan, pamflet, propaganda.
Film pertama Teguh adalah Wajah Seorang Lelaki (1971), diikuti 12 film lainnya, terakhir Pacar Ketinggalan Kereta (1989). Dalam beberapa filmnya, terbaca percikan-percikan komentar Teguh Karya yang dilahirkan dengan nama Liem Tjoan Hok mengenai " etnisitas ", yang disitu sering ditampilkan dalam problem ke " Indo"- an. November 1828, misalnya, adalah problem seorang Indo yang ingin menjadi Belanda murni. Dalam Ibunda, masih tergiang perkataan pemain utama yang kini sudah almarhum. Tuti Indra Malaon, menyapa anaknya dalam film itu dengan " Indo - Indo, memang kita ini siapa......."
Pernah dalam suatu wawancara untuk film berjudul Di Balik Kelambu (1982) yang menceritakan seorang lelaki yang menumpang di rumah mertua, Teguh langsung berujar, " Kita semua di Indonesia ini sebetulnya orang kos (maksudnya indekos)."Agaknya, soal indentitas, etnisitas, marjinalitas, merupakan sesuatu yang menganggu pikiran Teguh Karya. Dari lingkungan terdekatnya, termasuk yang dikatakan Niniek L Karim maupun Christine Hakim, kemarin, Teguh Karya merosot kesehatannya sejak tahun 1998. Dia mengalami depresi melihat kerusuhan yang meletus di Jakarta berikut peristiwa penjarahan, pemerkosaan, bulan Mei 1998. " Sejak itu kondisi fisik Teguh menurun hingga ia terserang stroke," kata Christine. Kepedihan bangsa ini agaknya mengendap pada Teguh Karya. Slamet Rahardjo, kemarin, memperlihatkan sebuah balai kecil di halaman rumah Teguh Karya yang asri, yang katanya dibangun Teguh dengan pesan untuk menyimpan abunya. Kini, Teguh benar-benar pergi, dengan membawa kepedihan bangsa.