Terminal    Musik    Indonesia
Ribuan Satwa di Kebun Binatang Nasional Mengalami Stres
Tak hanya manusia yang bisa stres. Ribuan satwa di sejumlah kebun binatang (KB)di Indonesia, sejak krisis ekonomi 1997, diduga mengalami tekanan psikis yang berat. Kondisi satwa tersebut semakin tidak terawat, juga tempat tinggal mereka. Akibatnya, ribuan satwa dari jenis primata, mamalia, serta spesies lain itu menunjukkan prilaku yang tidak normal. " Mereka terkurung dalam sel sempit dengan tempat yang tidaksesuai dengan habitatnya," ujar Ketua Konversi Satwa Bagi Kehidupan (KSBK) Rosek Nursahid. Seusai memaparkan hasil penelitiannya di 10 kebun binatang di Indonesia, Di Surabaya. Tanda-tanda satwa stres, menurut Rosek, ada bermacam-macam. Sekitar 50 persen spesies itu menunjukkan prilaku aneh : melangkah maju-mundur, menggeleng-gelengkan kepala berulang kali, meludahi orang lewat, melompat ke sana ke mari, atau menjulurkan kepanya keluar kandang.

Di KB Gembiraloka, Yogyakarta, katanya, empat gajah menggeleng-gelengkan kepalanya beberapa jam. Empat kaki gajah tersebut dirantai sehingga tidak bisa bergerak leluasa. di KB Ragunan, Jakarta, ujarnya, 33 persen beruang meggeleng-gelengkan kepala, dan seekor harimau Sumatera berjalan maju-mundur. Sejumlah orang utan di KB Surabaya juga tampak murung, Sedangkan monyet banyak menjulurkan kepalanya keluar kurungan. Sejumlah satwa dari jenis mamalia dan primata lainnya juga sering melompat-lompat tak karuan. Akibat keadaan itu, Rosek mengungkapkan sejumlah satwa di kebun binatang tersebut banyak yang mati. Jumlah singa di KB Pejarakan, Bali, kini tinggal dua ekor dari 9 ekor pada 1997. Kematian gajah, harimau, sempanse, monyet, dan berapa satwa lain menunjukkan peningkatan selama setahun terakhir.

Penelitian yang bekerjasama dengan World Society For The Protection of Animals(WSPA), Inggris, itu menyebutkan kematian satwa itu, diantaranya : sebanyak 37 bekantan di KB Surabaya, 7 ekor singa di KB Pejarakan, 16 ekor singa di sejumlah kebun binatang lain, 4 lumba-lumba di Taman Sari Indonesia, Bogor, serta puluhan jenis lainnya mati di berbagai kebun binatang. "Kurang mendapatkan makanan dan perawatan, " ujarnya. Sejumlah petugas kebun binatang bahkan ada yang memperdagangkan satwa itu, baik secara utuh maupun hanya bagian organnya. Pengelola kebun binatang, ungkapnya, banyak yang tak mampu lagi membiayai pemeliharaan maupun perawatannya. " Apalagi setelah krisis ekonomi sejak 1997 lalu, biaya pemeliharaan dan perawatan hewan itu makin meningkat, " tandas Rosek.
Kembali
Hosted by www.Geocities.ws

1