Wali kota Surabaya Bambang Dwi Hartono dalam dialog otonomi di Radio Suara Surabaya, mengemukakan beberapa investor yang menyatakan siap menanamkan modalnya untuk penanganan sampah di Surabaya di antaranya dari Australia, Belanda, dan Cina. " Para investor itu sudah menawarkan diri dan menyatakan siap menanamkan investasi dalam penanganan masalah sampah, tapi semuanya masih terus kita pelajari," katanya. Menurut Bambang, masuknya sejumlah investor yang ingin menanamkan modal di sektor persampahan itu diharapkan dapat membantu pemerintah kota mengatasi persoalan tersebut. Namun, hingga kini pemerintah kota juga belum juga memutuskan investor mana yang akan dipakai. Bambang yang belum lama ditetapkan DPRD Surabaya menjadi wali kota menggantikan posisi Sunarto Sumoprawiro yang dilengserkan itu, mengakui sampah merupakan salah satu persoalan perkotaan yang cukup pelik dan memerlukan penanganan serius.
Menurut data Dinas Kebersihan Kota Surabaya, volume sampah di Kota Pahlawan setiap harinya mencapai sekitar 7000 hingga 8000 meter kubiik, baik itu sampah organik maupun anorganik. " Dan untuk penanganan jangka pendek, pemerintah kota terus berupaya mencari lahan-lahan alternatif untuk pembuangan sementara, selain juga mengandalkan Lokasi Pembuangan Akhir (LPA) di Kecamatan Benowo yang hingga kini pembangunannya dalam tahap penyelesaian," katanya. Selain itu, menurut wali kota, tahun anggaran 2002 pemerintah kota juga merencanakan membeli empat mesin penghancur sampah untuk membantu mengatasi masalah maspah tersebut. Persoalan sampah menjadi salah satu perhatian utama Pemerintah Kota Surabaya pada 2002, terbukti dengan meningkatnya jumlah anggaran yang disediakan dalam APBD 2002 yang saat ini sedang digodok di Dewan untuk keperluan itu mencapai Rp 32.5 miliar.
Namun begitu, Wali Kota yang juga tokoh PDIP Kota Surabaya itu mengingatkan bahwa masalah sampah bukan hanya persoalan pemerintah kota, tapi juga seluruh warga kota. " Karena itu, pemerintah kota akan sangat berterima kasih bila warga kota juga ikut aktif mengatasi persoalan sampah, seperti yang dilakukan warga di kawasan Wisma Permai dan sejumlah wilayah yang lain yang mengelola sampah menjadi pupuk kompos. Kalau ini bisa ditiru warga lain, tentu sampak bukan lagi menjadi momok warga kota," katanya. Selama dua tahun terakhir, sampah menjadi persoalan pelik dan serius yang dikeluhkan warga Kota Surabaya. Apalagi sejak ditutupnya LPA Keputih Oktober 2001 lalu, pemerintah kota sempat kalang kabut mencari lahan alternatif. Persoalan sampah di Surabaya mulai muncul sejak tahun 1999 ketika datang gugatan dari warga sekitar LPA. Warga yang tergabung dalam Forum Komunikasi Masyarakat Korban Sampah mengajukan tuntutan kepada pemerintah Kota Suarbaya. Di antaranya minta didirikan Puskemas di Sukolilo, pemeriksaan kesehatan secara kontinu, serta LPA ditutup total.