Terminal    Musik    Indonesia
Kejadian Aneh pernikahan Agung Kraton Yogyakarta
Ratu Kidul Ikut " Hadiri " Prosesi
Kejadian aneh tampak mewarnai prosesi Upacara Perkawinan Agung Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Selasa, sehingga menjadi bahan pembicaraan sebagian tamu undangan. Kejadian yang dirasa aneh tersebut adalah berupa pusaran angin yang cukup besar berada di atas Bangsal Kencana, tempat berlangsungnya upacara itu, saat Penguasa Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan Hamengku Buwono X beserta permaisuri GKR Hemas akan menjemput kedatangan Presiden Megawati Sukarnoputri. Angin ribut kembali terjadi saat dilakukan prosesi " panggih " yaitu saat kedua pengantin GKR Pembayun dan KPH Wironegoro dipertemukan dihadapan Sri Sultan HB X dan permaisuri GKR Hemas serta disaksikan Presiden Megawati Sukarnoputri serta undangan lainnya. Seorang abdidalem Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat mengatakan bahwa kejadian itu dipercaya sebagai pertanda kedatangan Kanjeng Ratu Kidul di perhelatan agung ini.

" Kanjeng Ratu Kidul tengah " miyos "(datang)." ujar abdidalem tersebut dengan sikap menunduk penuh takzim ketika menanggapi kejadian tersebut. Mitos Kanjeng Ratu Kidul, seorang putri Penguasa laut kidul ini, sampai kini masih berkembang ditengah sebagian masyarakat tradisional Jawa khususnya Yogyakarta dan Surakarta. Mereka itu sampai kini masih mempercayai adanya Penguasa lautan selatan Pulau Jawa. Selain itu, dipercaya pula bahwa Kanjeng Ratu Kidul memiliki hubungan dengan pendiri Kraton Mataram, Panembahan Senopati yang menjadi leluhur Kraton Ngayogyakarta dan Keraton Surakarta. Kemudian dipercaya bahwa Kanjeng Ratu Kidul memiliki hubungan dengan para penguasa Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat dan penguasa Keraton Surakarta Hadiningrat hingga saat ini. Kepercayaan yang erat hubungannya dengan Kanjeng Ratu Kidul tersebut, maka dalam waktu-waktu tertentu pihak Keraton Ngayogyakarta, sampai kini masih mengadakan uapacara tradisional " Labuhan " yaitu membuang sesaji di laut selatan Provinsi D.I.Yogyakarta, dengan tempatnya di pantai Parangkusumo, Parangtritis Kabupaten Bantul.
Beri Ucapan Selamat. Presiden Megawati Sukarnoputri memberikan ucapan selamat kepada kedua mempelai, Gusti Kanjeng Ratu(GKR) Pembayun dan Kanjeng Pangeran Haryo(KPH) Wironegoro, yang didampingi GKR Hemas dan Sri Sultan Hamengku Buwonon X, dalam resepsi pernikahan agung di kompleks Keraton Yogyakarta 28/5/2002.
Sementara itu, bagi masyarakat Yogyakarta, prosesi upacara Perkawinan Agung Kraton Nyayogyakarta Hadiningrat, dinilai sebagai hal istimewa dengan penuh kesakralan dan keagungan. Prosesi uapacara Perkawinan Agung Kraton Ngayogyakarata Hadingningrat, antara puteri sulung Sri Sultan Hamengku Buwono X, GKR Pembayun dengan KPH Wironegoro, Selasa 28 Mei 2002, dan dihadiri oleh Presiden Megawati Sukarnoputri serta sejumlah menteri dan para Duta Besar(Dubes)belangsung khidmat, lancar serta meriah. Presiden Megawati yang datang sekitar pukul 10.00 WIB dijemput sendiri oleh Sri Sultan HB X, beserta permaisuri GKR Hemas di pintu gerbang Keben Kraton Yogyakarta, kemudian bersama-sama menuju Bangsal kencana tempat upacara perkawinan itu. Sebelumnya di pintu gerbang Bangsal Kencana, Presiden Megawati yang pada saat itu memakai busana kain dan kebaya serta dipadu selendang warna merah hati, berhenti sejenak untuk mengisi buku tamu dan disaksikan oleh Sri Sultan HB X berserta permaisuri.

Tampak hadir pula dalam upacara Perkawinan Agung itu, Ketua MPR RI Amien Rais, Ketua DPR RI Akbar Tanjung, serta para pembantu presiden antara lain Menko Polkam Susilo Bambang Yudyono, Panglima TNI Laksamana Widodo AS, dan Mendagri Hari Sabarno. Setelah Presiden Megawati sejenak duduk di Bangsal Kencana yang diapit oelh Sultan HB X dan GKR Hemas, prosesi perkawinan agung tersebut dimulai dengan acara Panggih yaitu dipertemukannya perempuan dan laki-lai yang didahului oleh  adegan " edan-edanan" oleh  "abdi dalem" Kraton.
Kemudian kedua pengantin saling melempar gantal, dan GKR Pembayun mencuci kaki pengantin laki-laki, memecah telor dan diakhiri dengan "pondongan" yaitu pengantin laki-laki dengan dibantu salah seorang adik Sultan HB X, GBPH. Yudhaningrat memanggul pengantin perempuan. Setelah selesai "pondongan" kemudian Sri Sultan HB X, GKR Hemas, kedua pengantin dan kedua orang tua pengantin laki-laki, menerima ucapan selamat dari Presiden Megawati dan disusul oleh para tamu undangan lainnya.

Sebelum prosesi Perkawinan Agung ini di maulai, sekitar pukul 07.00 WIB, Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sultan HB X secara resmi menikahkan sendiri KPH Wironegoro di Masjid Panepen sebelah selatan Kraton Kilen. Disaksikan penghulu Kraton KRT Achmad Kamaludiningrat, pengantin laki-laki KPH Wironegoro menyerahkan mas kawin berupa sebuah kitab Al Quran, seperangkat peralatan Sholat dan sebuah cincin bermata berlian. Selasa sore sekitar pukul 16.00 WIB, kedua mempelai dikirab dengan menggunakan kereta pusaka kraton ini bernama "Jong wiyat" yang ditarik enam ekor kuda mengelilingi benteng kraton setempat. Sehari sebelumnya yakni Senin malam di Bangsal Prabayeksa kompleks kraton tersebut, Pengageng(penguasa) Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan HB X "mananting" (menanyakan ketepatan hati)putrinya Gusti Kanjeng Ratu (GKR)Pembayun untuk dipersunting Kanjeng Pangeran Harya(KPH)Wironegoro. Dalam upacara adat Jawa itu - yang biasanya dilakukan menjelang perkawinan  - GKR Pembayun menyatakan ketepatan hatinya dipersunting KPH Wironegoro dan bersedia menjadi isteri putra dan pasangan Sudjatmoko dan Ny Monik Sri Widyatni Sarwi Rahayu ini.
Kembali
Hosted by www.Geocities.ws

1