Lain Yana, lain pula Katon. Vokalis Kla Project ini, awalnya justru tak mau berkarier solo. " Saya orang yang paling menentang karier solo di Kla," ungkapnya. Lilo adalah orang pertama memutuskan ingin berkarier solo yang disusul oleh Adi, yang tampil solo sebagai musisi yang sukses menggarap album Memes, Terlanjur Sayang. Belakangan Katon tak tahan dan membuat Album Solo.Uniknya, album solo perdana Katon Dinda di Mana justru keluar lebih dulu ketimbang milik rekannya. Dinda laku sampai 600 ribu keping di atas album Kla Project Yogyakarta (450 ribu). Setelah itu, berturut-turut keluar album Cinta Putih, Harmoni serta Damai dan Cinta.
Meski tak mengekor angka fantastis album perdana, toh Katon tetap puas. "Paling tidak saya tetap menunjukkan eksistensi. Saya ingin seperti Phil Collins atau Sting yang meski tidak bersama grupnya tetap terlihat warna khasnya," kata ayah dua anak ini. Berhitung dan kreatif, kata Yana dan Katon, adalah kunci agar bisa sukses berkaier solo tanpa merusak kelangsungan grup. Berhitung adalah kiat potensi pasar. Sedangkan lebih kreatif sebagai bagian dari tanggung jawab pada publik. Katon, misalnya sangat memilah-milah karyanya yang cocok dinyanyikan di Kla atau untuk album solo. "Warna Kla itu pop progresif sedangkan album solo saya lebih ke pop trendi, " kata mantan pramugara Garuda ini.
Itulah mengapa, ketika menciptakan Dinda di Mana, Katon sangat menyadari bahwa tembang itu tak bakal cocok dinyanyikan Kla. "Itu bukan jenis lagu Kla. Yang mendingan saya nyanyikan sendiri saja," kata Katon. Kreativitas pula yang sedang dicoba tawarkan Nci dengan album perdananya. Kemampuan menari yang didapat dari Willi Puah, koreografer AB Three tak dibuang begitu saja olehnya Lulusan Sastra Prancis UI ini. Ia pun mengasah lebih tajam vokalnya pada Chatarina Leimena, guru vokal IKJ. Waktulah yang akan membuktikan hasil jerih payah Nci kelak.