Angin
Surga
Pemirsa televisi kini bisa menikmati suasana lalu lintas di berbagai lokasi Ibu Kota. Namun, kalau bisa demikian, memangnya di semua kendaraan Jakarta --apalagi angkutan umum-- sudah dilengkapi televisi? Bukan, tayangan yang disajikan Metro TV itu tentu saja dimaksudkan bagi pemirsa yang siap-siap ke luar hendak ke kantor. Setidaknya mereka bisa menghitung segera tidaknya ke luar rumah agar tidak terjebak kemacetan. Tayangan suasana lalu lintas itu dipancarkan oleh puluhan kamera pemantau milik Pemerintah Daerah DKI Jakarta. Tidak tanggung-tanggung, kamera itu beroperasi selama 24 jam dan mengawasi lokasi sekitarnya karena bisa berputar 360 derajat Saat zaman Orde Baru, kamera itu dipakai juga untuk memantau aksi-aksi demonstrasi mahasiswa. Sebuah kamera pantau di bilangan Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, sempat dirusak massa itu.
Karena serupa memang ditempatkan di berbagai lokasi penting,
antara lain di seputaran air mancur, perempatan jalan Budi Kemuliaan-Thamrin-Merdeka
Selatan-Merdeka Barat, Jakarta Pusat. Sekitar 26 kamera ditempatkan di
berbagai lokasi, seperti Bundaran Hotel Indonesia, Tugu Tani di jalan Menteng
Raya-Kebon Sirih, dan Taman Surapati di Jalan Diponegoro-Teuku Umar.
Selain iyu, diseputar Gedung DPR/MPR, Patung Obor di
Jalan Sudirman-Sisingamangaraja, dan CSW di jalanTruno-Joyo-Sisingamangaraja.
Tujuh kamera merek Siemens juga di pasang di Jakarta Barat dan enam kamera
merek Telnic di pasang di Jakarta Timur. Kamera tersebut melengkapi Sistem
Pengaaturan Lampu Lalu Lintas Kawasan ( Area Traffic Control System/ATCS)
yang ditempatkan di persimpangan jalan.
Kepala Seksi Komputer Lalu Lintas Dinas Lalu Lintas Angkutan
Jalan (DLLAJ0 DKI Akbar mengatakan, di wilayah DKI terdapat sekitar 39
lokasi yang sudah dipasang kamera pemantau. Kamera ini untuk membantu petugas
DLLAJ memantau kemacetan lalu-lintas, sekaligus melakukan solusi tercepat
mengendalikan arus kendaraan macet menjadi lancar kembali.
Hasil pemantau kamera itu langsung ditampilkan pada sekitar
24 monitor di sebuah ruangan kantor di Balaikota DKI Jakarta. Dengan demikian,
kemacetan lalu lintas atau aksi unjuk rasa di berbagai lokasi bisa terpantau
langsung. Dengan menggunakan sistem matriks, hasil rekaman kamera langsung
masuk dalam matriks. Selanjutnya secara otomatis masuk ke monitor televisi.
Dalam menjalankan operasinya, sistem tersebut menggunakan Leased Line PT
Telekomunikasi.
" Kamera itu memberi informasi kepada operator dalam mengatur
arus lalu lintas untuk mengurangi kemacetan. Kami bukan mengatur agar jalan
tidak macet, tetapi paling tidak bisa mengurangi kemacetan di jalan," papar
Akbar.
Setelah mendapat informasi secara cepat petugas DLLAJ
langsung bermain dengan ATCS untuk memperpanjang lampu hijau pada persimpangan
didepan dari persimpangan yang macet. Bisa juga ia langsung mengambil tindakan
lainnya. Sistem ATCS yang dibangun sekitar 1995 itu sebenarnya merupakan
salah satu cara mengurangi kemacetan Ibu Kota. Sampai sekarang tercatat
sebanyaknya 255 jumlah persimpangan yang menggunakan ATCS dengan 39 kamera.
Jasa pelayanan itu kini ditanyangkan langsung oleh Metro TV dalam penyiaran arus lalu lintas melalui siaran televisi pagi, siang, dan sore hari. Menurut Akbar, kerja sama itu sifatnya " saling menguntungkan" antara Metro TV dan misi DLLAJ yakni memberikan informasi kepada masyarakat soal arus lalu lintas Jakarta. Kalau zaman Orde Baru--entah orde kini--kamera juga bisa menyorot siapa pemimpin pengunjuk rasa. Hasil rekaman kamera bisa diperbesar untuk keperluan itu. Begitu pula rekaman kerusuhan Mei, mestinya bisa diketahui bagaimana kejadiannya. Oleh karena itu, kalau mau, polisi juga bisa memanfaatkan kamera pantau itu untuk merekam kejahatan di perempatan jalan yang gila-gilaan itu. Kalau mau.......
Kembali
Info : Kompas