Jarum jam nenunjukkan pukul 07.30. Minggu pagi itu matahari bersinar cerah seakan memberi semangat sekitar seratus perawat makam yang bekerja menyabit rumput, menyapu, dan mengecat nisan Taman Pemakaman Umum (TPU) Karet Bivak, Jakarta Pusat. Hari Minggu merupakan saat terpadat kunjungan peziarah ke makam tersebut. Ini berarti waktu terbaik bagi para perawat makam untuk mendapatkan tip dari peziarah. Para perawat makam tersebut masih muda-muda. Satu dari mereka dipanggil Gondrong, mengaku baru berumur 29 tahun.
"Nama saya sebetulnya Joko Darsono, tetapi kawan-kawan disini memanggil saya Gondrong," katanya sambil mengempulkan asap rokok dari sela-sela bibirnya.
Pagi itu setidaknya ada sepuluh mobil peziarah yang datang ketempat itu. Kedatangan mereka segera disambut para perawat makam tersebut. Tiga hingga empat orang dari mereka membentuk satu kelompok. Mereka menyambut dan mengantar peziarah ke makam yang dituju. Dengan sigap, mereka memunguti dedaunan kering dan mencabuti rumput liar di atas makam yang didatangi peziarah.
Setelah bersih, mereka mempersilahkan peziarah mendoakan sanak keluarga yang telah dikubur di tempat itu. Para perawat makam itu terlihat ikut tertunduk khusuk berdoa. Seusai berdoa, peziarah menabur bunga. Setelah itu, mereka pulang diantar para perawat makam itu hingga pintu keluar.
Peziarah menyalami mereka sambil menyelipkan uang tip kepada salah satunya. Uang itu kemudian mereka bagi. Jumlah tip berkisar antara Rp 3.000 hingga Rp 5.000. Bila sedang beruntung ada yang memberi lebih besar dari jumlah itu, tetapi hal ini jarang-jarang terjadi. Paling sedikit 400 orang menggantungkan nasib sebagai perawat makam di TPU yang luasnya sekitar 17 hektare itu. Dari jumlah itu, 230 orang tercatat resmi dan memiliki kartu anggota. Sisanya 170 orang sedang diproses keanggotaannya. Tercatat resmi? Begitulah kenyataannya. Mereka mendapat kartu anggota dari Yayasan Bakti Budi Leluhur yang mengkoordinasi para pekerja di situ. Setiap pekerja dikenai biaya pembuatan kartu anggota Rp 5.000. Menurut penuturan Gondrong, yayasan itulah yang mengatur mereka supaya tertib.
Sebelumnya, para perawat makam suka berebut melayani peziarah. Mereka sampai berkelahi hanya untuk mendapatkan sekedar uang tip dari peziarah. "Malahan ada yang sampai bunuh-bunuhan,"ungkap Gondrong. Korban terakhir bernama Buyung. Dia tewas dipukul tengkuknya menggunakan balok oleh rekan-rekannya sendiri. Peristiwa itu terjadi lima tahun silam. Cerita mengenaskan itu dibenarkan oleh Sidup Abdoel Gani, Ketua Yayasan tersebut. "Kami tidak ingin peziarah terganggu hanya karena para perawat makam berebut melayani mereka. Peziarah tentu ingin ketenangan dan kenyamanan saat nyekar,"kata lelaki berbadan gemuk dan berkumis tebal ini. Dia tampak sangat disegani para perawat makam disitu. Sudah setahun ini dia memimpin yayasan tersebut. "Kami sama-sama cari makan di sini. Saya tidak mau diantara kami saling bunuh hanya karena masalah sepele. Karena itu, dibentuk yayasan supaya saling gotong-royong,"jelas Sidup.
Melalui yayasan itulah, pendapatan para perawat makam disisihkan sebagian. Hasilnya sebagian telah digunakan untuk membangun toilet bagi keperluan peziarah. Toilet ini telah menghasilkan uang yang mengalir ke kas yayasan. Uang itu nantinya digunakan untuk keperluan anggota, misalnya kalau ada yang perlu biaya perawatan lantaran sakit. "Seluruh uang masuk dan keluar ada catatannya. Kami mencoba transparan," ujar Sidup lagi. Para perawat makam tersebut kebanyakan datang dari luar Jakarta. Jumlah mereka bisa bertambah dua hingga tiga kali lipat pada bulan puasa dan lebaran. Maklum pada bulan-bulan itulah saat puncak kunjungan ziarah.