Merapi Membawa Musibah Sekaligus Berkah
Terminal    Musik    Indonesia
Gunung merapi di perbatasan Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta termasuk salah satu gunung api yang sering ' marah '. Gunung setinggi 2.986 meter dari permukaan laut itu, siklus letusan besar berkisar antara 30-40 tahun sekali dan letusan sedang dua sampai tiga tahun. Bila akan dan saat meletus, Merapi menaburkan hawa panas atau wedus gembel (sebutan masyarakat Jawa karena awan itu nampak seperti bulu domba). Saat turun dari puncak Merapi, awan berkecepatan kira-kira 120 kilometer per jam dan panasnya antara 600-1200 derajat celsius. " Awan panas itu dengan enaknya naik dan turun bukit, serta menerjang apa saja yang dilewati," kata Bupati Magelang, Jawa Tengah, Hasyim Afandi. Hal itu dikemukakannya di Pos Pengamatan Gunung Merapi Babadan, akhir Desember lalu di depan 15 anggota tim Komisi VII yang berkunjung ke ' punggung ' Merapi.

Tim yang dipimpin Agusman Effendi ini ' dikawal ' Direktur Jenderal Geologi dan Sumber Daya Mineral (GSDM), Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral Wimpy S Tjetjep. Bung Karno dan Megawati juga pernah berkunjung ke sini. " Cuma kalau berkunjung resmi, biasanya Merapi sembunyi berselimut kabut seperti sekarang ini. Pak Gubernur sampai empat kali baru bisa melihat puncaknya," kata Hasyim. Bisa dibayangkan seperti apa wujud manusia maupun binatang yang ' diseruduk ' wedus gembel alias awan panas akaibat letusan Merapi. Bangunan gedung yang terkena akan terbakar hangus, apalagi mahkluk hidup. Bahkan dalam jarak 100 meter pun, bila tersengat awan panas kulit manusia akan melepuh. Sesuai dengan hasil pengamatan visual dan instrumental yang dilakukan Badan Penyelidikan dan pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta, sejak tahun 9 Januari 2001 aktivitas Merapi cenderung meningkat.

Antara lain ditandai dengan meningkatnya guguran lava dan hembusan asap tebal . Dengan perkembangan tersebut, status Merapi yang semula waspada(memperlihatkan peningkatan aktivitas) menjadi siaga ( ada kenaikan peningkatan untuk meletus) pada 10 Januari. Sehari kemudian naik lagi menjadi status awas, yang artinya Merapi sudah mendekati meletus atau mencapai puncak bahaya. Sejak 10 Januari hingga akhir 2001, bahakan sekarang aktivitas Merapi cukup tinggi, baik guguran lava pijar maupun luncuran awan panas. Kini statusnya waspada. Seperi diungkapkan Dirjen GSDM Wimpy Tjetjep, di Indonesia terdapat 129 gunung api (terbanyak di dunia), 70 diantaranya diketahui pernah meletus sejak 1600. " Ke 70 gunung api ini termasuk yang kita prioritasnya untuk dipantau," katanya di kantor BPPTK Yogyakarta. Dari ke-70 gunung yang terkenal letusannya adalah Tambora (di Sumbawa, Nusa Tenggara Barat) pada 1815 dan Krakatau di Selat Sunda pada 1883. Kemudian Merapi, serta di Jawa Timur ada Semeru (tertinggi di Jawa), dan Kelud. Dari ke 70 gunung itu, 64 diantaranya dilengkapi dengan pos pengamatan gunung api.

" Kita bangga Merapi ini merupakan laboratorium alam, gunung api di dunia. Pokoknya semua ahli berkunjung ke Merapi. Setiap pakar gunung api pasti menengok ke sini. Merapi sebagai uji coba peralatan dan penelitian  para ahli di dunia. Merapi itu selain mendatangkan musibah, juga sekaligus berkah. " Coba, berapa juta ton pasir dari perut Merapi telah memberikan keuntungan bagi warga di sekitarnya," kata Wimpy. Memang benar, truk-truk, termasuk tronton pengangkut pasir tidak henti -hentinya beroperasi dan membawa angkutannya ke kota-kota di Jawa Tengah dan DIY. " Kalau disini harga pasir Rp 7.500 per kubik, di kota sudah 4-6 kali lipat. Di Kabupaten Magelang pasir Merapi memberikan sumbangan berupa pendapatan asli daerah sebesar Rp 24 miliar dari hasil jual per tahun Rp 36 miliar, " kata Bupati Magelang. Untuk ' mengeruk ' pasir disekitar kaki Merapi maupun sungai-sungai  di sekitarnya, tiap hari melibatkan sekitar 4000 pekerja. Bukan itu saja, debu merapi yang kotor itu juga menyuburkan tanah disekitarnya. Jadi, tidak usah heran bila warga sekitar tidak mau dipindahkan ke lain daerah, meski tiap dua tahun terkena musibah. Soalnya musibah itu sekaligus anugerah.

Ciri khas Merapi, selalu membentuk kubah aktif di puncak kemudian gugur menjadi  aliran awan panas. Oleh karenanya, PBB telah menetapkan Merapi dan sembilan gunung api lainnya di dunia, sebagai International Decade For Natural Disaster Reduction (IDNDR) pada dekade akhir abad XX.
Kembali
Hosted by www.Geocities.ws

1