Terminal    Musik    Indonesia
Membawa : Berita Duka
Embong Raharjo Meninggal Dunia
Saksofonis Embong Raharjo meninggal dunia dalam usia 51 tahun, jumat (30/11) sekitar pukul 10.00, di Rumah Sakit (RS) Tria Dipa, Pancoran, Jakarta Selatan. Jenazah pria kelahiran Solo, Jawa Tengah, 26 Januari 1950, itu disemayamkan di Rumah Duka RS St Carolus, Jakarta Pusat. Jenazah dikebumikan di Pemakaman Pondik Rangon, Jakarta Timur. Embong dirawat di RS Tria Dipa sejak 14 November, setelah sempat dirawat di RS Mitra Keluarga. Menurut Didi SSS, adik kandung Embong, almarhum sebelumnya menderita asam urat kronis. saat diperiksa, di ketahui ada ganguan pada ginjal. Embong meninggalkan seorang istri, Maria Guadalupe Mike Raharjo ( 47), dan tiga anak perempuan, Lanny(28), Yuyun(26) dan Beby(22). Tampak hadir melayat di rumah duka antara lain sejumlah musisi jazz Indra Lesmana, Gilang Ramadhan bersama ayahnya Ramadhan KH, Dullah Suweleih, Happy Pretty, dan Riza Arshad. Mereka mengaku sangat kehilangan jazzer sekelas Embong. Indra yang bermain bersama Embong dalam Jaca Jazz mengatakan, saat ini untuk Indonesia belum ada yang bisa menggantikan Embong.
" Dia musikus yang lengkap, seorang multireed player dengan teknik tinggi dan menguasai progresi chord dengan baik. Dia juga mempunyai kemampuan sight reading(membaca partitur)yang tinggi sehingga komposisi dapat dia kuasai dengan cepat," tutur Indra di Rumah Duka St Carolus.Seniman jazz senior Benny Mustafa menilai Embong sebagai pemusik pada era 1970-an sudah mampu bicara di tingkat dunia. Benny pemain drum seangkatan Jack Lesmana itu, sudah mengetahui bakat Embong sejak almarhum bergabung dengan Maryono di Surabaya. " Waktu itu di kuping saya Embong itu sudah luar biasa, terutama permainan flute-nya. Kita harus akui, di era 1970-an Embong bukan saja pemain berkelas nasional, tapi boleh di bilang internasional," tutur Benny, yang sering bermain bersama Embong. Perkusionis Dullah Suweleih menilai Embong sebagai aset nasional untuk instrumen tiup setelah Maryono dan Udin Syach yang semuanya sudah meninggal.
Dullah mengenang Embong sebagai pemain profesional dengan dedikasi tinggi pada bidangnya. " Dia kalau bekerja selalu sungguh-sungguh. Orangnya enak diajak bercanda, dan clean, tidak pernah bermasalah dengan teman," tutur Dullah. Oleh rekan-rekan dekatnya, Embong dikenang sebagai seorang perfeksionis dan sangat disiplin. Embong menurut Indra, selalu datang satu jam lebih awal dari jadwal latihan atau show. Embong bersikap ngemong kepada musisi yang lebih muda. Embong putra kedua dari delapan bersaudara keluarga Sunarno, pemain flute di RRI Solo, pernah tergabung dengan sejumlah grup, antara lain Wong Emas, Jakarta All Stars, Bhaskara, dan Java Jazz. Bersama dengan kelompok yang berbeda, Embong beberapa kali tampil di hajatan jazz dunia North Sea Jazz Festival di Den Haag Belanda. Belakangan Embong sering menjadi pemain tamu pada band Audiendi. Terakhir pada 22 oktober lalu, Embong bermain bersama Audiensi di sebuah hajatan ngunduh mantu keluarga Sapto Utomo di perumahan Semolowaru, Surabaya. Embong memainkan lagu Endless Summer Night yang biasa dibawakan saksofonis Dave Koz. " Mungkin itu permainan Embong terakhir, " tutur Donny Hardono dari Audiensi, yang membawa Embong ke Rumah Sakit Mitra Keluarga. Embong mulai rekaman bersama Maryono dan Bubi Chen sejak 1972. Bersama Jack Lesmana dan Ireng Maulana pada 1975, Embong mendukung album Kau dan Aku. Pada 1995 ia membuat album bersama Michael Colina di GRP, perusahan rekaman yang menghasilkan album jazz. Belakangan Embong juga membuat instrumental lagu rohani.
Didi SSS, yang juga pemain tiup, mengaku mendapat firasat buruk setelah Embong kembali dari North Sea Jazz Festival di Den Haag. Belanda. Saat itu, dia mendorong-dorong adiknya itu untuk main di North Sea. " Kamu harus ke North Sea soalnya aku belum tentu bisa kesana lagi, " tutur Didi menirukan ucapan Embong. Didi mengatakan, meski kakanya lebih dahulu terkenal, ia tak pernah mau memberi fasilitas untuk mendongkrak ketenaran adiknya. Embong selalu berpesan agar jika mau menjadi musisi, Didi harus mau bekerja keras. Belakangan adik Embong yang lain, Agus, juga mengikuti jejak dua sudara lainnya di pentas musik. Didi mengatakan, Embong masih mempunyai obsesi untuk mendirikan sekolah musik khusus alat tiup.
Kembali
Hosted by www.Geocities.ws

1