Angin
Surga
Pemandangan unik lain di situ, selain banyak burung terkurung, juga banyak burung bebas yang rajin singgah di situ. Burung-burung bebas itu juga berkicau mengikuti irama rekannya yang di dalam sangkar. "Burung2 itu ada yang lepas dari sangkar, ada yang datang dari tempat lain," ujar Joko. Karena itu, tak heran jika saban hari di jalan itu ramai dengan kicau burung yang bersahut-sahutan. Suasana demikian, didukung dengan pepohonan yang masih lumayan hijau di jalan tersebut, mebuat sungguh serasi. Dengan demikian, penggemar burung yang singgah di jalan itu sering lebih terpaku dengan kicauan burung tersebut. "Nikmat sekali,"ujar Indra, seorang penggemar burung. Setelah menikmati sejenak, ia pun merogoh koceknya dan memboyong seekor nuri berwarna-warni. Indra kemudian berlalu dengan Mercy-nya. Bigitulah suasana di pasar burung Barito sepanjang hari.
Semua pembeli sama seperti Indra, mengaku senang dengan burung. Oleh sebab itu, mereka perlu burung dirumahnya. Setiap hari mereka ingin mendengar kicaunya. Setiap bangun tidur pun burunglah yang pertama di lihatnya. Bila perlu, untuk seekor burung itu dibuat sangkar yang indah. Bila sudah bosan, menurut beberapa pedagang burung di Barito itu, biasanya para pembeli burung tersebut ada yang menjualnya kembali atau menukarnya dengan burung yang lain. "Jarang yang melepaskannya,"tutur Joko. Para penggemar burung itu, katanya, biasanya datang lagi jika burungnya mati. Para pedagang burung di situ juga mengaku mengawali dagangnya dengan kesenangannya pada burung. Pengakuan itu seperti yang diutarakan Joko, yang baru 25 tahun berjualan burung di Barito.
Joko bilang, abangnya, Parjono, malah sudah 35 tahun mengekspresikan
hobinya lewat jual beli burung. Agus, pedagang burung yang terhitung pendatang
baru di kawasan itu, juga memberikan keterangan yang sama. Sementara itu,
pasar burung tersebut, menurut Joko, sudah ada di sana jauh sebelum abangnya,
Parjono, berdagang burung. Pola gemar memelihat burung, lalu menjualnya
itu pun memang telah menjadi hobi keluarganya, termasuk anak2 Joko, yang
juga ikut berdagang burung. Dikatakan Joko, selama berdagang burung, belum
ada kendala yang berarti dalam hidupnya. "Paling-paling masalah muncul
jika burung itu mati atau lepas, yang berarti kami rugi,"
ucapnya, yang beberapa burung pernah terlepas dari sangkar
saat diberi makanan, diantaranya burung beo yang berharga Rp 750 ribu satu
ekor.
Pengakuan seperti Joko itu juga muncul dari pedagang burung
lain yang ada didaerah itu. Jaya, misalnya, yang mengaku menjual burung
sejak dua tahun silam. Kegiatan seperti di Jalan Barito itu juga berlangsung
di Jalan Pramuka. Kedua lokasi tersebut adalah pasar burung yang lumayan
besar di Jakarta. Barangkali jual beli burung itu memang tak menjadi soal
bagi penjual dan pembelinya. Hanya saja, akan menjadi masalah bagi penyayang
binatang. Beberapa kali protes bisnis hewan langka, termasuk burung itu,
sempat mencuat. Apalagi pemburu burung di daerah-daerah pedalaman juga
bakal mengancam populasi burung.
Info: Republika
Kembali