Angin Surga
      Terminal Musik Indonesia
Membawa : Kerajaan Burung Di Jalan Barito


Pagi itu, Joko terlihat asyik melaburkan cat minyak berwarna hitam ke atas sebuah sangkar. "Ini baru saya bikin,"kata lelaki itu. Sangkar itu dibuat untuk menyambut pedatang baru di kiosnya yang terletak di Jalan Barito, Jakarta Selatan. Si tamu itu adalah burung beo. Joko kemudian memasang harga beo itu Rp 750 ribu. Kelas beo di kios Joko setara dengan burung nuri dan cecak rawa.
Di kios Joko ada ratusan ekor burung. Beraneka ragam burung ada. Harganya juga bermacam. Mulai dari Rp 50 ribu sampai jutaan rupiah. Kalau menghitung jumlah burung di sepanjang jalan tersebut, totalnya bisa mencapai ribuan. Soalnya di situ ada 65 kios burung. Rata-rata per kios menjajakan lebih dari seratus burung.

Pemandangan unik lain di situ, selain banyak burung terkurung, juga banyak burung bebas yang rajin singgah di situ. Burung-burung bebas itu juga berkicau mengikuti irama rekannya yang di dalam sangkar. "Burung2 itu ada yang lepas dari sangkar, ada yang datang dari tempat lain," ujar Joko. Karena itu, tak heran jika saban hari di jalan itu  ramai dengan kicau burung yang bersahut-sahutan. Suasana demikian, didukung dengan pepohonan yang masih lumayan hijau di jalan tersebut, mebuat sungguh serasi. Dengan demikian, penggemar burung yang singgah di jalan itu sering lebih terpaku dengan kicauan burung tersebut. "Nikmat sekali,"ujar Indra, seorang penggemar burung. Setelah menikmati sejenak, ia pun merogoh koceknya dan memboyong seekor nuri berwarna-warni. Indra kemudian berlalu dengan Mercy-nya. Bigitulah suasana di pasar burung Barito sepanjang hari.

Semua pembeli sama seperti Indra, mengaku senang dengan burung. Oleh sebab itu, mereka perlu burung dirumahnya. Setiap hari mereka ingin mendengar kicaunya. Setiap bangun tidur pun burunglah yang pertama di lihatnya. Bila perlu, untuk seekor burung itu dibuat sangkar yang indah. Bila sudah bosan, menurut beberapa pedagang burung di Barito itu, biasanya para pembeli burung tersebut ada yang menjualnya kembali atau menukarnya dengan burung yang lain. "Jarang yang melepaskannya,"tutur Joko. Para penggemar burung itu, katanya, biasanya datang lagi jika burungnya mati. Para pedagang burung di situ juga mengaku mengawali dagangnya dengan kesenangannya pada burung. Pengakuan itu seperti yang diutarakan Joko, yang baru 25 tahun berjualan burung di Barito.

Joko bilang, abangnya, Parjono, malah sudah 35 tahun mengekspresikan hobinya lewat jual beli burung. Agus, pedagang burung yang terhitung pendatang baru di kawasan itu, juga memberikan keterangan yang sama. Sementara itu, pasar burung tersebut, menurut Joko, sudah ada di sana jauh sebelum abangnya, Parjono, berdagang burung. Pola gemar memelihat burung, lalu menjualnya itu pun memang telah menjadi hobi keluarganya, termasuk anak2 Joko, yang juga ikut berdagang burung. Dikatakan Joko, selama berdagang burung, belum ada kendala yang berarti dalam hidupnya. "Paling-paling masalah muncul jika burung itu mati atau lepas, yang berarti kami rugi,"
ucapnya, yang beberapa burung pernah terlepas dari sangkar saat diberi makanan, diantaranya burung beo yang berharga Rp 750 ribu satu ekor.

Pengakuan seperti Joko itu juga muncul dari pedagang burung lain yang ada didaerah itu. Jaya, misalnya, yang mengaku menjual burung sejak dua tahun silam. Kegiatan seperti di Jalan Barito itu juga berlangsung di Jalan Pramuka. Kedua lokasi tersebut adalah pasar burung yang lumayan besar di Jakarta. Barangkali jual beli burung itu memang tak menjadi soal bagi penjual dan pembelinya. Hanya saja, akan menjadi masalah bagi penyayang binatang. Beberapa kali protes bisnis hewan langka, termasuk burung itu, sempat mencuat. Apalagi pemburu burung di daerah-daerah pedalaman juga bakal mengancam populasi burung.
 

Info: Republika
 
Kembali


Hosted by www.Geocities.ws

1