Angin Surga
Terminal Musik Indonesia
Membawa : Bunglon Gandeng Neri Per Caso Untuk Go International
Mendongkrak popularitas sebuah grup musik bisa dilakukan dengan berbagai cara. Bunglon menyiasatinya dengan melibatkan kelompok vokal asal Italia Neri Per Caso. Strategi Bunglon ini merupakan langkah baru, dimana sebuah grup musik yang baru menghasilkan dua album langsung berkolaborasi dengan musisi mancanegara. Neri Per Caso mereka libatkan dalam karya, Dengan Mu atau dalam bahasa Italia disebut  E Tu. Dalam lagu ini Neri Per Caso bernyanyi dalam bahasa Italia dan diikuti Fay yang menyanyi dalam bahasa Indonesia. Lagu ini menceritakan keinginan mencurahkan hati kepada seseorang yang hanya bisa dilakukan jika bersama orang tersebut.

Tampaknya, yang dibidik personel Bunglon, bukan prestise semata. Mereka saat ini tengah membidik pasar International yang dianggap memberikan peluang cukup baik bagi warna musik mereka. " Saya pikir semua grup musik pasti ingin go internasional," kata Derry pemain keyboard kelompok Bunglon. Wujud keseriusan Bunglon juga mereka tampilkan lewat dua karyanya yang berbahasa Inggris di album Emas yakni, Come dan Love Again. Dua lagu bertema cinta yang diharapkan menjadi pembuka jalan bagi obsesi mereka.

Titel Emas sengaja mereka pilih karena album ini mereka mengalami beberapa perubahan yang positif. Seperti kolaborasi dengan Neri Per Caso, bertambahnya jumlah personil dari sebelumnya hanya empat orang Fay(vokal), Kice(gitar), Eko(bass), Derry( keyboard) kini menjadi lima setelah bergabungnya Andre(drum).
Sesuai namanya, Bunglon bukan berati konsisten. Namun mereka ingin membuktikan mampu membawakan beragam gayanya musik modern yang kini banyak disukai orang. Karya mereka yang disebut sebagai Urban Pop itu menawarkan beragam warna musik seperti Jazz, Funk, R&B dan lainnya sehingga  terasa lebih kretif.

" Kesannya Bunglon tidak memiliki kiblat musik, tapi tiap personil memiliki gaya sendiri-sendiri ada yang jazz, rock, pop. Memang banyak yang bilang kalau gayanyamirip jazz, padahal kalau didengar seluruhnya ada dikonya, ada popnya," papar Fay.
Bagi Havids Syahnara, selaku lokal repertoir, keberadaan Bunglon tersebut mengingatkannya kepada grup musik jazz yang pernah ada di tanah air seperti Karimata, Emerald atau Modulus. Kini setelah grup musik tersebut hilang, terjadi kekosongan pasar. Hadirnya Bunglon yang serba bisa diharapkan bisa mengisi kekosongan tersebut dan mengharapkan tidak menghilang juga.
Home
Hosted by www.Geocities.ws

1