Terminal    Musik    Indonesia
Membawa : Wajah Bekasi, Kemacetan Lalu- Lintas
Sebagai daerah penyangga DKI Jakarta, Kabupaten dan Kota Bekasi sarat dengan permukiman dan kawasan industri. Kepadatan itu ditambah dengan banyaknya pusat perbelanjaan, sarana hiburan, hotel serta restoran. Setiap hari, ribuan kendaraan bermotor mulai truk tronton, angkutan umum, mobil pribadi, sepeda motor, hingga becak melewati jalan-jalan di Bekasi. Jalanan pun penuh lubang, bergelombang, dan semakin rusak oleh tekanan ribuan kendaraan itu. Kemacetan sudah menjadi ciri Bekasi. Jarak satu kilometer saja bisa ditempuh dalam satu jam lebih. Bus kota yang berderet rapat sepanjang 500 meter antara Terminal Bekasi hingga pertigaan jalan Ir. H Juanda dengan Jalan HM Joyomartono merupakan pemandangan sehari-hari. Semua kendaraan seakan berebut ingin melewati jalan itu.  

Sebut juga Jalan Ir H Juanda yang dilewati puluhan  trayek angkutan umum setiap hari. Titik-titik tertentu, seperti di depan stasiun kereta api dan sekitar pasar proyek, bahkan dijadikan subterminal oleh para supir angkot. Sudut-sudut jalan pun tidak jarang dijadikan pangkalan angkot untuk ngetem. Pemandangan itu bisa dilihat  di Jl A Yani, Jl Agus Salim., Jl Kalimalang, dan Jl Cut Mutiah, juga Jl Caman dan Jl Jatiwaringin. Jl Jenderal Sudirman yang lebar dan merupakan jalan utama di Bekasi Barat saja saat ini menjadi terlihat sempit dan macet. "Habis, bagaimana lagi. Kalau tidak berhenti di depan stasiun, kami akan kehilangan penumpang karena penumpang banyak naik dari sini," ujar seorang sopir angkutan kota.

Kepala Dinas Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (DLLAJ) Kota Bekasi Drs Najiri MM mangaku adanya subterminal atau terminal bayangan yang merepotkan. Lebih-lebih lagi, di antara angkot itu banyak pula yang melanggar trayek dan tidak masuk terminal. Prilaku pengemudi kendaraan pribadi pun sama saja dengan sopir angkutan kota. Saling serobot dan tak mematuhi rambu lalu lintas sudah jamak terjadi. Kemacetan jalan di Bekasi itu boleh jadi karena lambatnya pembangunan prasarana kota di bandingkan dengan pertumbuhan pemukiman. Data di Pemkot Bekasi menunjukkan, dari 10.753,  93 hektare lahan yang terbangun di Kota Bekasi, 46,36 persennya digunakan untuk pemukiman dan 1, 89 persen untuk industri.  Industri kabupaten Bekasi justru lebih mendominasi lagi.

Saat ini, terdapat 617 pabrik di atas tanah seluas 3.585 hektar(tersebar di berbagai wilayah). Pabrik-pabrik dan industri itu mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 231.941 orang. Menurut kepala Sub-bagian Protokol Pemerintah Kabupaten Bekasi Bambang S, dampak dari tumbuhnya ratusan pabrik itu akan muncul pula banyak perumahan. Terdapat 479 lokasi perumahan di atas lahan seluas 21.472,34 hektar di Kabupaten Bekasi. Dengan jumlah permukiman serta kawasan industri  yang berlimpah, tentu transportasi akan semakin padat pula. "Itulah yang menyebabkan kemacetan di Kabupaten Bekasi," katanya.
Kembali
Hosted by www.Geocities.ws

1