Terminal    Musik    Indonesia
Membawa : Batavia Pernah Buat Kanal Untuk Tanggulangi Banjir
Badan Metereologi dan Geofisika kembali meramalkan, pada akhir tahun ini dan awal 2002 Jakarta akan dilanda Banjir besar. Banjir sejak lama telah menghantui Ibu Kota. Gubernur Ali Sadikin pernah mengatakan banjir di Jakarta tidak dapat dihindarkan sampai kapan pun, selama tidak mengadakan sistem draenase yang sempurna. Untuk itu diperolehkan dana 800 juta dollar AS. Biaya ini menurut perhitungan 1975 , saat nilai dolar sekitar dua ribu rupiah. Entah berapa biayanya sekarang ini. Gubernur yang kreatif ini dalam upaya mengatasi banjir pernah melakukan penertiban terhadap bangunan liar di sepanjang bantaran Banjir Kanal. Tidak tanggung-tanggung, sekitar tiga ribu bangunan di tertibkan pada kawasan sepanjang 2,4 km.  

Jakarta rupanya ditakdirkan untuk akrab dengan banjir. Istilahnya pun beragam. Ada banjir kiriman, banjir bandang, banjir tahunan dan entah apalagi. Ini berkaitan dengan tinggi Jakarta yang hanya rata-rata 7 meter dari permukaan laut. Sebenarnya telah banyak dilakukan upaya untuk menjinakkan banjir. Antara lain dengan dibangunnya bendungan bendungan seperti Bendungan LLir dan Bendungan Jago. Kemudian dibangun banjir kanal yang mulai berfungsi pada 1920. Ciliwung dipotong mulai dari Manggarai, sebagain dibelokkan arahnya menuju Dukuh Atas, Karet, Grogol dan bermuara di Teluk Gong. Jauh sebelumnya, sebagai imitasi kota Amsterdam, dibuat pula kanal(grachten)yang melewati Jl Juanda, Hayam Wuruk dan Gajah Mada.

Ketika Banjir Kanal dibangun, penduduk Batavia baru 600 ribu jiwa. Mereka tinggal di daerah-daerah yang agak tinggi dari permukaan laut. Sementara tempat-tempat yang dulu dihuni oleh kodok, tonggeret, dan ular, kini dihuni manusia. Tentu saja dia menjadi korban banjir. Di antara kita mungkin masih ingat ketika banjir 1996 saat umat islam tengah menunaikan ibadah puasa. Peristiwa yang mengenaskan karena puluhan ribu rumah di Ibu Kota terendam. Yang disebut sebagai banjir terbesar selama 20 tahun akibat amukan kali Ciliwung. Bahkan saja, kawasan yang bertahun-tahun tidak terjemah genangan air, ikut terendam hingga satu meter. Bahkan, waktu itu air sudah sampai Istana Negara, bangunan yang paling bergengsi bagi bangsa Indonesia.

Bedasarkan analisis para pakar lingkungan, meningkatnya kualitas dan kuantitas banjir di Ibu Kota punya kaitan dengan masalah pengembangan pembangunan yang tidak sepenuhnya merujuk pada konsep tata ruang yang berorientasi kelestarian lingkungan. Selain itu, banjir merupakan dampak pembangunan yang cenderung parsial, mengabaikan fenomena alam yang berlaku. Padahal, dulu kota Batavia sebagian merupakan daerah berawa. Dapat dilihat dari nama-nama tempat seperti Rawamangun, Rawasari, Rawabadak, Rawabelong dan masih banyak lagi. Rawa-rawa ini sudah diuruk, sebagian digantikan gedung-gedung pencakar langit dan hutan beton. Termasuk rawa Pluit yang terbesar di Jakarta, yang kini berubah fungsi menjadi pemukiman mewah.

Tidak heran kalau sampai jalan bebas hambatan menuju Bandara Sukarno-Hatta di Cengkareng pernah dilanda banjir dan banyak yang urung untuk naik pesawat. Yang paling dasyat adalah sejumlah daerah resapan air di Jakarta Selatan, seperti Srengseng Sawah, Ciganjur, Cipedak, dan Jagakarsa kini pun sudah banyak berubah fungsi. Padahal menurut ketentuan daerah resapan air ini terlarang untuk industri dan pemukiman. Tapi aturan itu sama sekali tidak digubris. Bukan rahasia lagi bahwa yang namanya pungli, sogok, dan upeti bisa mengalahkan peraturan akibat ulah para birokrat. Yang pasti kalau terus dibiarkan beralih fungsinya daerah resapan air, banjir akan lebih mengancam Ibukota.
Kembali
Hosted by www.Geocities.ws

1