| edisi: oktober 2001 | pojok. pojok mudika, pojok singapura |
e-bulletin
mudika kkis best viewed with i.e. 4.0 dan sederajatnya. for correspondence, please mail to [email protected] |
|
|
||
| (o) viewing corner. what's on and in this month | ||
| mudika perang saudara? more... (news) | ngomong apa? more... (focus) | meditasi sambil olahraga? more... (jadual) |
| trivia?more... (leisure) | pin-up mudika? more... (faces) | apa ini? more... (infos) |
|
|
||
| (e) editorial corner. so thus we speak... | |
|
Greetings
Mudikan, Halo Mudikans, Ga kerasa juga, sekarang udah bulan Oktober, berarti Pojok sekarang udah memasuki edisi ke 8. Gimana nih responnya ? Mengecewakan ga ? Kalo ada kritik dan feedback mengenai pojok ini, jangan takut-takut deh, bilang aza ke salah satu rekan dari redaksi kami. Bulan Oktober ini merupakan bulan Rosario, jadi topik untuk bulan ini ya sekedar memberi informasi apa itu Novena, devosi pada Bunda Maria, dan latar belakang Rosario. Selain itu, ada reportase yang tidak kalah gress-nya � langsung dari pandangan mata, apalagi kalo bukan Beach Party. Reportase yang laen lagi mengenai PD Efata dan The Bible & The Church. Sie Media berharap agar pojok ini dapat berfungsi sebagai ajang informasi dan kreativitas dari para Mudikans. Ayo dong pada nyumbang artikel dong, kapan lagi loh bisa dipublish, kalo ga di sini, he he he. Kami akan terima dengan senang hati. |
Oh ya, pada kesempatan ini, Sie Media mau berterima kasih banyak pada Bebet untuk cerpennya, Stephan Onggo untuk kesimpulan dari The Bible & The Church, juga Eveline dan Eka untuk reportase Beach Party yang bagus banget. Jangan lupa juga untuk mencek jadwal-jadwal kegiatan Mudika untuk bulan-bulan mendatang, karena di bulan Oktober ini, Sie Rohani mengadakan Rosary Crusade, juga masih ada acara yang laen. Jadi bagi para mudikan yang merasa punya cukup banyak waktu luang, bisa ikut serta dalam acara-acara yang diadakan oleh Sie Acara, Sie Olah Raga, Sie Rohani, atau pun sie-sie lainnya�. Ok deh, segitu dulu, selamat membaca Pojok Oktober 01 Have a wonderful day, Salam
|

pantai yang masih cerah nih, baru datang

lagi perang, liat tuh siapa yang lagi nyumput di bawah �. Si Grace, he he he

babu number 5

pantai yang sudah malem, akhir party
| (.) kilasan corner. news in brief | |
|
22
Sep Beach Party "U & Me @ Mudikans" |
06
Oct Persekutuan Doa Efata "Tuhan, Kumau Bilang Ya" |
| (!) nanti corner. activities ahead of us! | |
|
Sie Rohani Rosary
Crusade 2
Rosary
Crusade 3
Persekutuan
Doa EFATA! |
Sie
Koor Latihan Koor untuk Pemberkatan Nikah Utk tgl 28 Okt 01 nanti � Lagu-lagunya enak loh
|
|
Sie Olahraga Pertandingan Voli lawan NTU Hari dan tanggal masih dalam perencanaan Lihat berita selanjutnya di milist Mudika |
Sie Acara Akan ada acara cruise, bersama KKIS Info lebih lanjut hubungi Hendro deh�sang Lurah Mudika |
Hoiiii mudika, ada acara yang gress lagi ... KKIS mengajak kita semua untuk ngadain CRUISE ke Sister Island
Hari : Minggu, 4 Nov
01 Kumpul di Clifford Pier jam 08.15 pagi
Biaya S$20 per orang termasuk ongkos naik kapal pp, bisa lunch buffee sepuasnya
nih dan berbagai acara menarik yang berhadiah.
Ayo nih ... pada mau
fun ga ????
Kapasitas kapal terbatas loh.
Untuk pendaftaran,
silakan menghubungi :
Monique Natahusada (HP 98716220)
Candy (HP 90295179, e-mail [email protected])
Fenny (HP 98353005)
Elvina (HP 96491008, e-mail [email protected])
Ibu Christine (Ph 2584110)
| (-) tengah corner. middle navigation links | ||
| tempayan rusak?? more... (news) | virgin mary? more... (focus) | nyanyi sambil olahraga? more... (jadual) |
| kutipan mudikans?more... (leisure) | siapa ni? more... (faces) | konstipasi? more... (infos) |
|
|
||
| (+) fokus corner. focus of the month |
|
Serba Serbi Novena dan Rosario Apa maksudnya dan bagaimana devosi kepada Bunda Maria ? Devosi berarti hormat dan bakti yang besar keapda Allah atau kepada orang kudus. Devosi kepada Bunda Maria bisa diungkapkan dengan macam-macam perbuatan: misalnya dengan berdoa Salam Maria, berdoa rosario, litani Santa Perawan Maria, melakukan perbuatan-perbuatan baik demi cinta kepada Maria, dsb. Pendek kata semua tindakan manusiawi yang mengungkapkan hormat dan kasih yang besar kepada Maria. Apakah doa novena itu harus dilakukan 9 kali berturut-turut dan waktunya sama? Kata "novena" adalah kata sifat dalam bahasa Latin, yang berarti "masing-masing sembilan atau tiap-tiap kali sembilan" (dari kata novem yang berarti sembilan). Jadi, kalau mau mendoakan novena dalam arti sesungguhnya, doa itu harus dilakukan sembilan hari berturut-turut (sesuai dengan namanya, bukan ?). Kalau tidak demikian, ya tidak apa-apa , tetapi jangan sebut doa itu doa novena. Tidak ada ketentuan bahwa novena harus didoakan pada jam yang sama. Doa novena ini meniru para Rasul yang tekun berdoa menantikan turunnya Roh Kudus (Kis 2). Ketekunan orang dalam berdoa selama sembilan hari berturut-turut memang mempunyain nilai tersendiri. Bukankah ketekunan semacam itu bisa mengungkapkan keseriusan doanya? Bagaimana asal usul dan latar belakang doa rosario ? Garis besar sejarah doa rosario yang sebenernya sulit untuk diketahui secara rinci dan pasti. Doa rosario berlatar belakang praktek para rahib kuno yang mendoakan Kitab Mazmur (yang terdiri dari 150 mazmur). Namun karena tidak semua rahib bisa membaca dan menghafal mazmur-mazmur tersebut, maka ada praktek menggantikan ke-150 mazmur itu dengan doa-doa lain yang pendek, terutama doa Bapa Kami. Maka dahulu tasbih / rosario disebut juga "Bapa Kami" (Pater Noster). Di kemudian hari, ketika doa Salam Maria sudah terbentuk secara lengkap pada abad ke-15, doa ini dipakai juga sebagai pengganti mazmur. Dalam perkembangannya malah rosario Salam Maria ini menjadi paling populer. Ke-150 doa Salam Maria itu dibagi menjadi 15 puluhan Salam Maria. Lalu pada awal abad ke015 ada renungan-renungan untuk mengiring 15 puluhan Salam Maria itu. Akhirnya, mengenai Yesus Kristus (dan Maria), yakni 5 peristiwa gembira, 5 peristiwa sedih, dan 5 peristiwa mulia. Pada tahun 1520, Paus Leo X memberikan pengesahan apostolis dari doa rosario. Doa-doa yang ditujukan kepada Maria jelas mau mengungkapkan cinta mereka kepada Bunda Maria. Rosario berasal dari kata Latin Rosarium, artinya kebun bunga mawar. Doa Salam Maria yang diulang-ulang itu bagaikan bunga mawar (Latin: rosa) yang dipersembahkan orang kepada Maria. Mengapa bulan Maria itu bulan Mei dan Oktober ? Dalam arti tegas, bulan Maria hanyalah bulan Mei. Sedangkan bulan Oktober adalah bulan rosario. Hanya saja, karena berdoa rosario berarti menghotmati Maria, maka pada akhirnya bulan rosario dapat dianggap bulan Maria juga. Bulan Mei ada di tengah musim semi, saat daun-daun dan bunga-bunga mulai mekar kembali. Untuk merayakan musim yang indah itu orang-orang Romawi mengadakan pesta untuk menghormati Dewi Flora (dewi bunga dan musim semi), dan orang-orang Jerman merayakan pesta untuk menghormati dewi bumi. Nah, bulan Maria (Mei) dimaksudkan untuk menggantikan perayaan-perayaan kafir tersebut dengan penghormatan kepada Bunda Maria. Mengapa bulan Oktober? Karena bulan rosario dihubungkan dengan kemenangan armada laut Kristen atas armada laut Turki di Lepanto (Italia), pada 7 Oktober 1571. Kemenangan itu terjadi berkat doa-doa kepada Maria. Maka tiap 7 Oktober dirayakan peringatan Santa Maria Ratu Rosario. (diambil dari Umat Bertanya, Romo Pid Menjawab jilid 1) October 7, the feast of Our Lady of the Rosary It was St. Dominic in the late twelfth and early thirteenth centuries who encouraged everyone to say the Rosary. St. Dominic was greatly saddened by the spread of a terrible heresy called Albigensianism. With the members of his new Order of Preachers, he was trying his best to destroy this dangerous heresy. He begged the Blessed Virgin for help, and it is said that she told him to preach devotion to the Holy Rosary. St. Dominic obeyed and he was very successful in stopping the heresy. The Holy Rosary is a simple devotion which can be practiced by all people - old and young, learned and unlearned. It can be said anywhere, at any time. While we say the Our Father, ten Hail Marys and Glory to the Father, we think about great moments in the lives of Jesus and Mary. In this way, we grow closer and closer to Jesus and his Blessed Mother. We learn to imitate their holy lives. Mary is very pleased when we say the Holy Rosary often and well. She used to say it with St. Bernadette when she appeared to her at Lourdes. The three little children of Fatima learned from Mary the power of the Rosary. Mary taught them that the Rosary obtains graces and saves sinners from hell. A Dominican pope, Pius V, established today's feast. It is to show our gratitude to Mary for a military victory over the Turks at Lepanto on October 7, 1571. Let us acquire the beautiful habit of saying the Rosary every day. (from Saint of the Day, 7 Oct 01)
|
| (@)
tampang corner.
mudikans
profiles exposed?! demi lebih mengenal tampang dan 'status' mudikans, pada setiap edisinya pojok membuka rubrik baru. untuk usulan model di e-bulletin edisi berikut, harap mail ke sie pub atau sie media (email address ada di bawah). |
||
|
|
|
|
|
Nama formil : Candy Sari |
Nama formil
: Ferdinand Purwadi |
Nama formil
: L A Reni S |
|
(^)
ngelamun corner.
mudikans writings
and creations... redaksi menerima materi dari para pembaca, baik berupa tulisan, karangan, puisi, cerpen, cerbung, kutipan favorit, celetukan, ratapan, tangisan, dll. harap dikirim langsung ke alamat email siepub atau langsung ke orang media (email address dibawah). redaksi berhak mengedit dan menyesuaikan materi dengan seijin pengirim. |
||
|
opini mudika
"Ma, terima kasih atas jebakannya� �Bulan merah jambu luruh di kotamu�.kuayun sendiri langkah-langkah sepi� Kla Project adalah favoritku. Petikan gitar jemariku masih tetap kompak dengan suaraku mendendangkan lirik-lirik lagunya sambil kunikmati angin yang sedang menabuh daun-daun. "Rei, ikutan Mama yuk " "Males Ma" Seperti biasa, ajakan Mama selalu kutolak mentah-mentah. Doa rosario, Pendalaman Iman, Arisan, dan segala tetek bengek yang�.ehm�..membosankan! "Rei, hari ini yang mengadakan mudika lho. Kamu nanti pasti banyak teman di sana" "Ah, Mama. Ntar malem ada film bagus" "Kamu ini�.kapan sih bisa nyenengin Mama?" "Ma, jangan lupa bawa jajannya ya�.hehehe" "Huuu�.kamu ini bisanya makaaannn�. saja" Mama membelai punggung kepalaku, sebentar, lalu berjalan pergi, sementara Papa sudah menunggu sejak tadi di mobil. Tentu aku bukan anak yang durhaka, yang tidak pernah menyenangkan Mama Papa, tetapi untuk datang ke kegiatan yang itu-itu tadi, terus terang aku nggak ada mood. Bukannya aku orang yang tidak mengenal Tuhan, toh aku juga selalu ke gereja setiap minggu, dan rajin berdoa di rumah. Baca kitab suci? Kadang-kadang�..soalnya suka nggak ngerti gimana ngartiinnya. Getar-getar dawai masih kupersembahkan, mengiring sang mentari yang perlahan-lahan tenggelam. Setengah delapan malam. Seperti biasa, televisi telah siap, �Return of the Condor Heroes�, itu yang kunanti-nantikan. Kali ini Gadis Naga Kecil sedang melatih Yo Ko. Cantik, anggun, lembut, dan perkasa. Sosok �Bibi Lung� itu yang membuatku selalu terpesona. Lebih tepatnya tergila-gila. Makanya episode-episode seperti ini tidak seharusnya kukorbankan. Apalagi hanya demi sebuah kegiatan yang membosankan. Sore kembali datang, ketukan dari pintu depan sempat mengganggu. "Oo Nak Lia. Mari masuk" "Terima kasih Tante" Suara asing terdengar dari pintu depan. Langkah-langkah kaki Mama terdengar dari bilikku menuju kamarnya. Tak lama kemudian, Mama kembali menuju ruang tamu. "Ini CD nya. Kamu bisa pilih sendiri lagu-lagu mana yang kamu suka. Oiya, sudah kenal dengan anak Tante belom? Rei, sini" "Sebentar Ma" Aku sibuk sebentar, merapikan baju, lalu ke depan. "Kenalin ini Lia, keponakannya Tante Gina" kata Mama. "Reiko" "Liani" Deg! Matanya bening. Senyumnya manis. Nakal sekali. Menggelitik jantungku yang mulai berdegup tak beraturan. Ma, siapakah gerangan dia ini? Kok kurang ajar sekali masuk ke dalam dadaku�.ugh� Ma, tolongin Rei Ma�.nggak kuku�. "Lia ini pengurus Mudika lho. kamu seksi apa Lia?" Pertanyaan Mama mengejutkan sekali. "Seksi Humas, Tante" "Oiya, seksi humas. Ini anak tante diajakin mudika ya. Biar nggak di rumah terus. Rei, kamu ngobrol sebentar sama Lia, Mama mau ke belakang dulu. Rotinya keburu gosong" Ah, Mama! Aku tahu, Mama sengaja menggodaku. Senyuman dan pandangan nakalnya tadi sempat kutangkap. Tanpa persetujuanku lebih dahulu Mama segera pergi, meninggalkanku yang tengah kehilangan kata. "Rei, kamu mau ikutan retret nggak?" "Kapan?" Suaranya ramah, ringan dan lembut. Kata-katanya terus mengalir menandakan sifatnya yang sangat supel dan cerdas. Asik juga bicara dengan dia. Lia�Lia�.. Matamu itu, senyummu itu, dan�kata sapamu� mengaduk-aduk seisi kepala dan dadaku. Thanks God, akhirnya Mama menyelamatkanku dari bulan-bulanan topan badai. Sang dewi usil itu telah pergi. "Gimana? Mau ikut retret?" Mama tersenyum, menggoda. "Nantilah, lihat jadwal" "Alah, sok sibuk kamu. Hehehe�.Mama tahu, anak Mama sekarang lagi�ehem�ehem" Mama langsung ngeloyor ke dapur lagi. Duh, Mamaku ini selalu saja gemar menggoda anaknya. Aku jadi bingung. Terus terang Ma, aku suka matanya yang bersinar bak Orion. Aku suka senyumnya juga. Ma, aku pernah melihat langit yang bersih saat malam hari dari sebuah perbukitan. Indah sekali Ma, aku ingin melihatnya kembali. Seperti saat tadi Ma, aku ingin waktu kembali. Aku ingin protes, kenapa Mama tidak memberi tahu bahwa ada makhluk semacam Lia itu di mudika. �Habis kamu diajakin Mama selalu nggak mau� aku kuatir Mama menjawab begitu. Dan memang, jawaban itu telak, satu kosong untuk Mama. Akhirnya, gitarku lah yang kuajak menemani. Tempat aku bercerita tentang hatiku yang kini merindukannya. Lia..Lia�kamu telah membawaku ke sebuah negeri di awan. **** "Rei, kamu bisa main gitar ya?, nanti bisa nggak minta tolong ngebantuin nyanyi? " Begitulah, kalau Lia yang meminta, untuk menolak aku jadi tak kuasa. Seperti saat ini juga, aku sudah terjebak dalam kumpulan orang-orang yang bagiku asing. Mereka sangat akrab satu sama lain. Ngobrol, bercanda, saling mencela, dan bicara-bicara seadanya. Seru sekali. Tetapi? Tidak dengan aku. Barangkali mereka merasa sudah cukup dengan hanya tahu namaku. Barangkali mereka merasa sudah cukup mengenalku sebagai anak tunggal Ibu Bernadet yang terkenal aktif di paroki. Tidak lebih. Dan itu sangat menyebalkan. "Rei, kamu sudah mendapat buku retret?" Kecuali Lia. Gadis ini tidak seperti yang lain. Selalu menyapaku, dan mengajak bicara. Meski kadang juga aku merasa ungkapannya hanya basa-basi saja. Lia lah yang mengenalkan aku kepada para anggota yang lain. Entah, mungkin itu karena dia memang orang yang ramah, atau mungkin juga karena dia hanya menjalankan tugasnya sebagai seksi Humas. Anyway, aku selalu menikmati apapun asal dengannya. Barangkali aku sudah terbius oleh reaksi kimia phenylethylamine. Aneh, aku membiarkan diriku tetap begitu. Sehari di rumah retret, aku sudah mulai menghapal nama anak-anak mudika. Kalau aku perhatikan, mereka ini aneh-aneh. Ada yang namanya Firdaus. Badannya kekar, kulitnya item, dan gigi agak merongos seperti badak yang tak bercula. Firdaus terkenal jagoan makan. Apapun bisa disantap, apalagi babi panggang. �Tiga piring itu biasa� pernah dia berkomentar. Lain Firdaus, lain pula Ciko. Ciko walaupun sekekar Firdaus, tetapi berperangai halus bergaya bahasa jawa tengah. Kayak kerbau saja, badan gede tetapi perangai klemak-klemek. "Heh, kok ngelamun. Sudah nulis refleksi?" Indria tiba-tiba sudah disampingku "Belom. Susah. Kamu gimana?" "Ah masak. Aku sih sudah selesai" "boleh lihat ngga?" "eh, gak boleh. Itu rahasia" "Gimana sih caranya? Apa yang dimaksud dengan tujuan hidup?" "hem gimana ya�Tujuan hidup itu sebenarnya sesuatu hal yang sangat subyektif. Tujuan hidup tergantung dari diri kamu sendiri dan juga merupakan panggilan Tuhan kepadamu. Apakah kamu pernah merenungkannya? Apakah kamu pernah berefleksi?" "Refleksi itu apa sih?" "Refleksi sebenernya bisa diumpamakan sebagai orang yang sedang bercermin. Dengan memakai cermin itu kamu bisa menghias diri kamu sendiri. Kamu bisa mengetahui apa yang kurang dan apa yang perlu kamu perbaiki dalam diri kamu. Bayangkan bagaimana bila kamu menyisir rambut tanpa cermin" "Kalau kita berefleksi, apa yang bisa dijadikan cermin?" aku sebenarnya masih belum mengerti maksud Indria. "Ingatan atau lebih tepatnya Kesadaran. Kamu harus menyadari hal-hal apa yang telah kamu lakukan di waktu lampau. Apa segi negatifnya, dan apa segi positifnya. Bandingkan dengan tujuan hidup kamu dan tanyakan apakah semua itu sesuai dengan yang diajarkan Tuhan kepadamu. Dengan begitu, kamu bisa menentukan suatu langkah-langkah dimasa yang akan datang, dan kamu tidak akan menyesali keputusan-keputusan yang akan kamu ambil saat ini" Indria ini seperti burung Cicakrowo. Mengoceh terus dan terus tiada henti. Ada sejumlah teori-teori yang kadang tidak aku mengerti. Intinya, semakin dia mengoceh panjang lebar, aku semakin tidak tahu, dan perlu diakui bahwa aku tidak pernah sekalipun melakukan �refleksi�, apa yang telah ia teorikan itu. Pokoknya hidup itu lempeng saja�. Ada badak, kerbau, cicakrowo, ada pula buaya. Tak lain dan tak bukan, dia adalah ketua mudika. Posisinya memang cukup elite dan oleh karena itu popularitasnya meningkat. Ada saja yang bisa dijadikannya alasan untuk sekedar berbincang-bincang dengan gadis-gadis mudika yang manis. Aku lebih tak rela lagi manakala buaya itu semakin lama semakin sering bersama Lia, Gadis Naga Kecil ku. Yang minta data kek, urusan kartu mudika, penyambutan anggota baru dan urusan-urusan lainnya. Busyet, buaya itu sering mengganggu perbincanganku dengan Lia, dan of course, nothing I can do, urusan mudika lebih penting daripada ngobrol ngalor ngidul, kesan yang kudapat dari gelagatnya. Buaya terus beraksi, seakan-akan binatang tercela itu selalu memanfaatkan kebaikan dan keramahan Lia. Kudengar dari gosip-gosip, saat ini buaya sedang mengejar naga. �Saingan� batinku. Berputar-putar, tujuh keliling. At last, I have an idea. "Sebenarnya kegiatan mudika itu apa aja sih?" knowing your enemy, strategi perang ala Sun Tzu pun kukibarkan. "Banyak. Kamu pengen tahu yang mana?" Jodi, si buaya, menjawab dengan tersenyum. Puih! Senyumannya menantangku. Answering question with a question. Salah satu taktik memenangkan perdebatan. "Yah..yang ada aja." "Di mudika ada pendalaman iman, pelayanan misa, voli, bulutangkis, tenis, basket, koor, dan acara insidensial kayak jalan-jalan ��." "Kesannya kok banyak hura-hura ya?" "Maksudmu?" "Itu kegiatan olah raganya, dan juga acara-acara lainnya kok lebih banyak daripada acara rohani?" got, aku sudah menemukan salah satu titik lemah. "hemm�.kamu ada ide nggak, gimana supaya acara rohaninya lebih banyak?" Sialan. Buaya ini ternyata cukup pintar. "Hemmm�.. bisa kamu adain persekutuan doa misalnya, atau pelajaran kitab suci atau kelompok doa taize atau apa kek.." "Yup. Barangkali mungkin nanti akan diadakan. Anyway, kamu mau pegang salah satunya? Terus terang, kita lagi kekurangan orang untuk menghandle kegiatan-kegiatan yang bersifat rohani. Selain itu, kita juga harus memikirkan tentang materi rohani yang pas. Tidak ngawur" Busyet! Permasalahan klasik kembali muncul. Yang bikin keki adalah bahwa yang beride itu selalu yang tertunjuk pertama kali untuk �do action�. "Habis mau gimana lagi, kalau yang punya ide dan kemauan aja nggak mau menjalani, apalagi yang gak tahu apa-apa?" Kata-katanya ada benarnya juga, meski tidak seratus persen aku setuju. "Kecuali yang beride itu emang sudah mempunyai tugas tertentu di mudika, misalkan sudah mengkoordinasi koor, atau yang lain, untuk menghindari tumpang tindihnya tugas-tugas di mudika. So, kamu mau Rei? Kita bagi-bagi tugas pelayanan" Kata-kata lanjutannya ini seperti senjata makan tuan. Menusuk tepat. Perbincangan kami pun terus berlanjut selama masa menunggu mandi dan makan malam. Jodi ternyata cukup peduli dengan komunitas yang dipimpinnya. Kuakui, dia memang orang yang apa adanya. Tanpa tedeng aling-aling dia mengatakan semua hal dengan keterbukaannya. Bahkan pandangannya cukup luas tentang visi dan misi kelompok ini. Pantas dia bisa menjadi ketua (sekaligus bisa menjadi buaya). "Rei, kamu mau ikutan koor ? Latihannya tiap hari jumat malem" Lia ternyata ikut berkomentar. Padahal tadi, hanya duduk disamping memilih teks-teks lagu. Dan memang kusengaja supaya dia mendengarku ber�diskusi� dengan Jodi. Terjebak! Aku telah terjebak! Hari-hari berlalu. Sudah tak terhitung berapa kali aku bergabung dalam acara-acara mudika semenjak retret lalu. Siapa lagi kalau bukan Lia yang memotivasiku, ditambah dengan masih terkenang-kenangnya romantisme retret lalu. Lia cukup care kepadaku, juga kadang suka sharing tentang aktivitasnya di Mudika. Rasanya mudika tanpa kehadiran Lia menjadi kosong. "In this community I grow. I can give, get, love and be loved." kata-kata Lia masih sempat kuingat. Terkadang aku tidak bisa mengerti tentang ucapannya itu. Sebuah kelompok yang membosankan ini ternyata mempunyai arti lain bagi Lia. Dan jujur saja, aku juga menemukannya pada diri orang-orang lain di sini. Why not at me? Minggu-minggu yang terus berganti ternyata semakin juga membawa diriku pada kepedihan yang mencapai puncaknya. Naga jatuh ke tangan buaya. Berita yang mungkin bagi para mudika adalah hal yang biasa, tetapi bagiku sebagai pukulan yang begitu hebat. Sakit! �Kadang angan terbang jauh ke awan, rasa rindu kian menawan, dingin dan kelam, remukkanku di dalam� Diam. Gitarku masih seperti dulu menemaniku. Alunan denting-dentingnya sejalan dengan semakin sumbangnya nada-nada hatiku. Masa-masa ketika aku bertemu Lia telah menyeretku kepada dunia yang sebenarnya tidak ingin aku rambah. Namun entah, bahwa kini aku telah larut ke dalam dunia itu dan terjatuh pada bingkaian kelam yang erat menjeratku. Lia, Mudika, dan Buaya. Enam bulan bukan waktu yang singkat dalam pergumulanku dengan tiga kata itu. Mudika, kelompok ini unik. Dahulu aku hanya memandang sebelah mata padanya, namun sekarang, diakui ataupun tidak, telah membantuku dalam menemukan kembali diriku yang tidak terperhatikan. Paling tidak, di komunitas ini aku bisa menemukan teman-teman yang baru (yang juga unik dan menarik). Buaya, naga, cicakrowo, kerbau, badak, beo dan segala macam karakter negatif yang kulihat pada orang-orangnya ternyata hanyalah terbatas pada sebuah persepsi sok idealku saja. Buaya dengan kepintarannya ternyata telah memimpin aktivitas mudika dengan baik. Kata lawan dia licik (mungkin hanya kataku, red ), tetapi sebenarnya dia cerdik. Si Badak ternyata tidak hanya pandai makan, tetapi juga sangat aktif menemukan ide (termasuk ide-ide gilanya yang suka bikin ketawa�.bahkan ia juga rela menjadi sasaran ketawa). Si Badak juga ternyata punya kepercayaan diri tampil dalam setiap acara-acara pentasnya Mudika, sedemikian hingga setiap acara menjadi semarak, ciri khas anak muda. Demikian juga Kerbau yang pendoa itu, atau Cicakrowo yang jago teologi, pokoknya semuanya�.. semuanya punya keistimewaan tersendiri dalam perannya menyemarakkan Mudika (yang dulu kelihatan membosankan, tetapi ternyata tidak). Ah, apakah ini adalah perwujudan kata-kata dalam Kitab Suci bahwa �Ditangan Dialah segalanya menjadi sempurna�? Masih ditambah lagi Lia, si naga kecil itu. Naga rupanya telah menjadi daya tarik tersendiri bagi orang-orang yang maunya cuma senangnya sendiri, kayak ulat�.ah ya�.aku seperti ulat: si penggerogot, asbun, sok tahu, dan yang maunya semua buat diri sendiri�bukan diri sendiri buat semua. Lia memang pantas menduduki posisi penjebak. Sepertinya memang benar bahwa untuk mendapatkan domba-domba nakal dan bebal (kayak aku ini), siasat penjebakan perlu dilakukan. Otherwise, domba-domba itu tetap dungu dan tidak akan pernah mau melihat dan mendengarkan. "Anak-anak terang harus lebih cerdik" kata Indria. Terus terang, aku menjadi semakin suka terjebak di komunitas ini. Yang jelas, ulat yang dulu itu sekarang sudah mulai menjadi kepompong dan siap terbang menjadi kupu-kupu yang indah, yang pengetahuannya tidak hanya terbatas pada nama-nama artis, lagu-lagu melankolis dan sifat-sifat binatang saja melainkan juga meluas pada kemauan untuk memberikan diri pada orang lain, dan tumbuh menjadi sempurna bersama orang lain. Bukankah Tuhan tidak pernah mengajarkan bahwa iman itu adalah untuk diri sendiri saja? Anyway, apakah saat ini aku sedang berefleksi? Whatever. Aku sebenarnya juga ingin tahu tentang peran Mama dalam konspirasi penjebakanku ini. Kalo terlibat, berarti dua kosong deh buat Mama. �Ma, terima kasih atas jebakannya� Singapore,
August 2001 cerbung MY EYES (3)
Sudah pagi lagi, matahari menerangi
ruangan. Aku menoleh ke arah meja, dan aku menemukannya dengan posisi
tidur yang sama. Aku berusaha
untuk bangun, tidak sengaja kakiku menyenggol mangkuk air yang diletakkan
di lantai. Ia terbangun. Memandang ke arahku. Aku melihat matanya. Ia
menghampiriku lalu duduk disampingku, memegang sambil memeriksa perban
kepalaku. Tangannya lembut, hati-hati sekali ia memegang kepalaku. Aku
mencoba berdiri, tapi ia memegang lenganku dan aku terjatuh, entah mengapa
aku langsung menangis, ia memelukku. Ada rasa aman dipelukkannya, ada rasa
khawatir di dekatnya, ada ketakutan berada di sampingnya. Aku menangis
lama sekali, aku ingin pulang, aku ingat kedua orang tuaku. Apa yang
sedang mereka pikirkan, apakah mereka tahu keadaanku? Setelah lama aku
menangis, tidak ada satu katapun keluar dari mulutnya untuk menenangkan
aku. Aku hanya menangis di
pelukkannya. Aku berhenti menangis. Ia membuka
perbanku dan menggantinya dengan yang baru. Ia membantuku berdiri,
kemudian memberikan sebuah baju dan celana panjang. Bajuku. Kemudian ia
keluar dari ruangan itu, aku langsung membuka baju yang kupakai dan
mengenakan baju yang ia berikan. Tidak lama kemudian ia masuk kembali. Ia
memegang tanganku, membantuku berjalan mencapai pintu. Ia membuka pintu
itu dan membawaku keluar dari ruangan itu. Ada apa ini? Untuk pertama kalinya aku melihat
keadaan di luar ruangan itu. Gang yang kuingat gelap, terlihat terang
disinari matahari. Agak silau memang. Tapi tak lama untuk membiasakan diri
dengan cahaya luar. Tidak seseram yang kuingat. Sepi memang, tapi sama
sekali tidak mengerikan. Ia membantuku berjalan perlahan-lahan menyusuri
jalan itu. Kucermati setiap bangunan yang ada di sana, ada sebuah tempat
sampah besar di sisi kiri, bangunan di sana memang terbuat dari batu hitam,
mungkin itu yang membuatnya semakin terlihat gelap di waktu malam. Tidak lama kami berjalan, kulihat mobil
hilir mudik di ujung jalan. Aku memandang wajahnya, mencari tahu apa yang
sedang ia pikirkan. Tapi ia hanya membalas memandangku kemudian kembali
melihat ke depan. Sampailah kami di jalan raya. Ia
berhenti. Melihat keadaan di sekelilingnya, kemudian ia melangkah ke arah
kanan, sambil selalu memegang tanganku. Tak lama kami berjalan, kami
berhenti di sebuah tempat makan, kami duduk di luar dan menunggu seorang
pelayan melayani kami. Selama dalam perjalanan ia tidak berbicara sepatah
katapun. Seorang pelayan wanita datang menghampiri meja kami, dan
menanyakan makanan yang kami pesan. Ia menyebutkan beberapa makanan dengan
bahasa yang aku tidak mengerti. Entah mengapa aku tidak berusaha minta
tolong pada wanita pelayan itu. Aku hanya diam. Tidak lama kami menunggu, hidangan yang
ia pesan datang. Kemudian
tersenyum dengan pelayan wanita itu dan kemudian melihat ke arahku, dan
mulai memakan makanannnya. Aku melihat makanan yang ia pesanankan untukku,
semangkuk sup jamur, dengan dua buah roti, dan secangkir teh. Aku melahap
makanan yang ia pesankan. Kami tidak saling berbicara, juga tidak saling
memandang. Hanya makan. Setelah selesai, ia memanggil pelayan dengan
mengangkat tangannya. Pelayan itu seperti mengerti apa yang ia minta.
Tidak lama, pelayan itu datang kembali membawa secarik kertas. Ia membaca
secarik kertas itu dan
mengeluarkan beberapa lembar uang dari kantung bajunya. Kemudian ia
berdiri, dan menungguku untuk melakukan hal yang sama. Aku berdiri, dan ia
mempersilahkan aku berjalan di depannya. Ia memegang lenganku, dan kami
berjalan lagi. Lama kami berjalan, terlihat dari
kejauhan ada sebuah taman, rumput hijau terhampar luas, pepohonan rindang
membuat sejuk pandangan, kami berjalan mendekati taman itu. Ada sebuah
danau kecil, dan beberapa angsa berenang di danau itu. Pemandangan yang
indah. Udara hari itu tidak begitu dingin. Ia menuntunku ke sebuah bangku
taman yang menghadap ke danau. Bangku itu terbuat dari kayu, beberapa
bagian terlihat tidak mengkilat lagi, lapisannya terkikis oleh hujan dan
udara. Kaki bangku berwarna hijau dan ada ukiran melengkung di ujungnya.
Kami duduk di bangku itu, pas hanya untuk dua orang. Aku melihat keadaan di sekelilingku.
Bapak tua sedang memancing di pinggir danau, ada jembatan kayu dipinggir
danau. Sepasang kekasih sedang duduk di sisi lain danau itu. Aku sedang
menunggu lelaki yang duduk di sebelahku untuk berkata-kata atau paling
tidak melakukan sesuatu. Rasa takutku hilang, mungkin karena aku berada di
tempat umum dan melihat begitu banyak orang di taman itu. Maaf. Kata itu mengejutkan aku. Aku
tidak berani melihat wajah pria itu, aku hanya mendengar dengan
menundukkan kepalaku. Ada keinginan untuk melihat wajahnya, tapi ada
sesuatu yang menghalangiku. Dan kata-kata lain menyusul tidak lama ia
mengucapkan kata itu. Akhirnya ia menceritakan kejadian yang ia lakukan
terhadapku, mulai dari stasiun bawah tanah itu. Ia memang bermaksud ingin
melukaiku. Ia mengamatiku sejak aku naik kereta api di stasiun sebelumnya.
Melihat gerak-gerikku, saat aku mengibas-ngibaskan tanganku menjauhkan
asap rokok dari pria tua di sebelahku, dan tersenyum pada wanita yang
duduk di seberang kursiku, mengamati peta yang kupegang. Aku sasaran yang
tepat baginya saat itu. Ia mengikutiku turun di stasiun
berikutnya, begitu katanya dan aku teringat kejadian saat ia mencengkeram
tanganku, membawaku ke sebuah tempat
sepi di stasiun itu. Ia bercerita bahwa aku bukan korban pertamanya.
Sudah ada beberapa wanita lain. Dan semua berakhir kematian bagi semua
wanita itu. Jantungku berdebar kencang, inikah saatnya untukku, apakah aku
sebentar lagi mengalami hal yang sama dengan semua wanita yang ia
ceritakan? Matamu. Aku melihat sesuatu di matamu.
Kalimat yang keluar dari mulutnya setelah beberapa lama ia terdiam. Semua
wanita yang ia temui, ia
melihat ketakutan dan kepasrahan dari mata mereka. Ia dapat dengan mudah
menguasai mereka, dan semua memberontak dan berteriak. Tidak ada
seorangpun yang curiga atau memang tidak ingin mencampuri urusan sepasang
kekasih yang bertengkar. Siapa yang menyangka? Ke rumah di gang, ia bawa setiap
wanita-wanita itu. Di sana ia bisa melakukan apa saja, yang ia inginkan
dari wanita itu. Ia tidak mengambil satu barangpun, atau meminta tebusan.
Bukan uang tujuannya. Ia
bercerita, sejak kecil ia dikuasai oleh ibunya. Ia harus menuruti semua
kata-kata yang keluar dari mulut ibunya. Dari hal kecil seperti
mengambilkan sepatu, menjaga adik-adiknya, sampai membersihkan muntahan
saat ibunya mabuk, menerima pukulan-pukulan bila ia tidak segera melakukan
apa yang diperintahkan ibunya, serta pukulan-pukulan lain yang iapun tidak
mengerti mengapa hal itu dilakukan terhadapnya.
Sedikitpun ia tidak pernah menyinggung hal-hal tentang ayahnya. Apakah ayahnya
sudah meninggal, atau apakah ibunya membesarkan dia hanya seorang diri?
Kemudian ia berhenti bercerita, tidak ada kesedihan terpancar dari mukanya.
Suaranya datar, pandangannya lurus menghadap danau, tapi tatapannnya
kosong. Mungkin ia ingin melupakan peristiwa itu, pikirku. Desahan
panjang, diikuti suara beratnya kembali keluar. Kali ini bukan lanjutan
cerita ibunya, tapi wanita lain yang ia temui setelah 15 tahun ia keluar
dari rumah itu. Nama wanita itu tak pernah tersebut. Hanya kata-kata
sanjungan, betapa ia sangat mencintainya dan gambaran kecantikkannya.
Rambut pirangnya yang panjang, senyumannya yang sampai sekarang tak pernah
ia lupakan. Keindahan
dan kebahagiaan hanya terpancar 6 bulan pertama pernikahan mereka. Pujian
yang keluar, tiba-tiba terputus, diganti dengan kekecewaan, dan kesedihan.
Semakin hari semakin memburuk setelah itu, katanya. Makian, semakin sering
keluar dari mulut istri lelaki itu, bentakan-bentakan hampir setiap menit
ia dengar, bantingan-bantingan pintu adalah hal rutin yang ia alami tiap
hari. Entah apa yang membuat istrinya berubah, itu katanya.
Hal itu berlangsung 2 tahun lamanya. Ia berusaha bertahan. Sampai
suatu saat, mereka bertengkar hebat,
pertengkaran yang membawa wanita itu diam tak bernafas. Berawal
dari pembicaraan perceraian. Tak ada titik temu antar mereka. Wanita itu
semakin melepaskan amarah, bentakan dan
pukulan-pukulan diarahkan padanya. Ia berusaha diam tak melawan. Setiap
pertengkaran berakhir dengan kepergian istrinya yang tak tahu kemana.
Lama kelamaan, ada keraguan akan kesetiaan, janji yang mereka
ucapkan bersama. Malam berganti, kejadian sama terulang, tetap ia bertahan.
Bertahan dengan cinta yang ia harapkan untuk kembali. Kebencian
akan ibunya mucul kembali. Rasa dendam yang terkubur puluhan tahun. Muncul
kembali pada saat pertengkaran terakhir, terakhir bagi wanita itu. Ia
mencengkeram lengan wanita itu, menatap matanya dengan tatapan kekecewaan
dan kepedihan hati. Wanita itu tak bergeming, ia semakin meronta,
mengeluarkan kata-kata makian, membeberkan perselingkuhannya. Ia mencengkeram dengan lebih keras, wanita itu tak dapat
bergerak. Sambil memegang keras wajah wanita itu dengan tangan kanannya,
ia menatap wanita itu. Wanita
itu melihat kemarahan di mata lelaki itu, wanita itu memandangnya dengan
penuh ketakutan, ketakutan yang membuat lelaki itu merasakan kuasa, kuasa
akan diri wanita itu sepenuhnya. ☹ Ia lalu memukul istrinya, sekali, dua
kali, tiga kali, empat kali,�. sampai akhirnya wanita itu tersungkur dan
terjatuh. Tetapi itu tak membuatnya berhenti, entah berapa kali ia memukul
wanita itu setelah ia terjatuh. Kemudian
ia terdiam dan terpaku, meninggalkan istrinya dengan darah hampir menutupi
seluruh wajah dan pergi meninggalkan kota itu. Ada kepuasan yang tak
ternilai dari kejadian itu. Ia bercerita ia merasa menemukan dirinya.
Melakukan sesuatu yang ia ingin lakukan selama ini. Ia berkelana, sampai di kota ini. Baru
kali ini aku mendengarnya berbicara. Mengungkapkan rasa. Apa yang ada di
pikiran dan hatinya. Ia tidak memandangku sedikitpun saat ia menceritakan
ini semua. Ia memandang ke bawah dengan kedua lutut menyangga kedua
lengannya. Aku duduk di sebelahnya terdiam tidak berani bergerak. Tak
sepatah katapun keluar dari mulutku, badanku gemetar. Aku sedang
berhadapan dengan seseorang yang telah membunuh istrinya. Aku? Aku bukan
siapa-siapa. Tuhan lindungi aku. Matamu. Kata yang keluar dari mulutnya.
Aku teringat saat ia memandangku di stasiun itu, kami saling memandang
lama sekali. Ia kembali berkata-kata, mataku, ia dapat membaca sesuatu
dari mataku. Bukan ketakutan. Ada harapan di sana, ada kedamaian,
kejujuran yang memancar di dalamnya. Pandangannya
terhadap wanita berubah, setelah ia melihat mataku. Itu katanya. Ia
melihatku berbeda. Dan itu selalu ia ucap berulang kali. Tiba-tiba
teringat olehku, mengapa selama ini aku tidak pernah melihatnya merokok,
walau sering aku mencium bau tembakau dari tangannya. Kejadian itu.
Kejadian di stasiun bawah tanah. Saat aku mengibaskan tanganku untuk
menjauhkan asap rokok dari bapak tua yang duduk di sebelahku. Ia tahu aku
tidak tahan terhadap asap rokok! Selama ini, ia mengusap kepalaku,
membelai rambutku, merawat lukaku, membersihkan
badanku, membiarkan aku tidur di ranjangnya, menuntunku sampai di taman
ini. Ia sayang padaku? Itu pertanyaan yang melintas di kepalaku. Aku mendengar seorang lelaki bercerita
tentang kebenciannya terhadap semua wanita, dan semua itu berubah
karena ia memandang sepasang mata wanita. Mataku. Kemudian ia beranjak pergi,
meninggalkan aku sendiri di taman itu. (fin.) -kecilku |
||
data diurut berdasarkan tanggal ultah, kota kelahiran, dan nama mudikans yg berbahagia. happy birthday! kami turut mendoakan! |
||
|
01-Oct
Bandung Imelda Wihardja |
01-Nov
Kediri Iva Tio |
|
| (#) rutin corner. mudikans schedules and activities | |
|
Sie Rohani Activitas : Pendalaman Iman Waktu : Setiap hari Minggu Ke-3, pk. 11.00 - 12.00 Tempat : St. Bernadeth (Classroom 4, lantai 3) Contact person : Stephan Onggo: office phone : 8744366) Sie Koor |
Sie Olahraga Activitas : Basket Waktu :Setiap hari Sabtu, pk. 08.30 - 12.00 noon Tempat : Cairnhill CC, belakang Newton MRT Contact Contact person : Hermawan (HP : 93618969) Activitas : Voli Waktu : Setiap hari Sabtu Ke-2, 4, pk. 16.00 - 18.00 Tempat : NIE (National Institute of Education), Bukit Timah Rd Contact person : Hermawan (HP : 93618969) Activitas : Badminton Waktu : Setiap hari Minggu Ke-1, 3, 5, pk. 15.00 - 17.00 Tempat : to be scheduled Contact person : Hermawan (HP : 93618969) Activitas : Tenis Waktu : Setiap hari Sabtu ke-1, 3, 5, pk. 18.00 - 20.00 Tempat : Parkview Bukit Batok Contact person : Hermawan (HP : 93618969) Andri (HP : 98465132) |
| Konstipasi? ingin saluran lancar tapi tak tahu sapa yg musti dihubungi? berikut daftar e-mail contact person mudika. | |
| Ketua
: Robertus Wahendro Adi - [email protected] Sekretarisnya: Renny - [email protected] Sie Keanggotaan : Sie Rohani : Stephan Onggo - [email protected] Sie Olah Raga : Hermawan Christanto - [email protected] |
Sie
Acara : Eveline Satyadi -[email protected] Selvia Ardianto - [email protected] Sie Koor : Yenny Thio - [email protected] Sie Media : Sie Komunikasi : Andriato Joewana - [email protected] |
|
pojok mudika sg. pojok is published and distributed monthly by mudikans, indonesia mudika society in singapore. compiled and presented by seksi media mudika kkis. entire contents copyright (c)2001 by mudikans except noted. all rights reserved. no portion of this publication may be reproduced, in any form or by any means, without the express written permission of the copyright holders. join the mudikans! submit us your creations and writings! for comments, any information and material submission, please email us at: [email protected]. sie media would like to thanks all of e-bulletin fans and those who help pojok published. among them are: Evelyn, Eka, dan untuk yg rela dicela dan ikut bantuin pojok ini walau ngga sempet/lupa disebut. thx banget. god bless u! (alternate page for pojok: http://www.geocities.com/mudikakkis/bulletin/2001-03/okt.htm atau http://www.geocities.com/mediakkis/e-bulletin-okt.htm) |
| (-) ujung corner. end navigation links | ||
| tadi ada berita apa yo? more... (news) | test umptn? more... (focus) | nyanyi sambil meditasi? more... (jadual) |
| renungan?more... (leisure) | tampangku? more... (faces) | bingung? more... (infos) |
|
|
||
|
|
|
terusin permainan kemaren yaaah... ini foto dokumentasi pribadi redaksi, cikal-bakal jamu 2001 ada di sini nih, udah keliatan tampang2 pengen bekennya...ehehe... apalagi tampang pengen nampang.. coba diliat siapa-siapa aja disini yg belakangan jadi jamu.... plus, seperti kmaren, coba dicari ada berapa perbedaan antara foto atas dan bawah... |
|
|
sampai ketemu di 'pojok' berikutnya!