|
TIPS
FOR SLEEP TIGHT
We
spend about one-third of our lives in bed. It's remarkable how many people
spend this time on an uncomfortable, unsuitable mattress.
In
the past, the generally accepted theory was: the harder the bed, the better
it was for the back. The 'orthopedic' bed (i.e., rock hard) was promoted
as thesolution to any and all back problems.
This
theory has since been disproved. Any reputable mattress dealer will tell
you that the best bed for you is the one you find most comfortable and
supportive.
The
only way to select a mattress is to try it out. When you visit the showroom,
remove your coat and stretch out on a variety of mattresses.
Lie
on your back, and slide your hand into the small of your back. If the
hollow is empty with no support from the mattress, the bed is probably
too hard. If the hollow is completely filled with mattress, the bed is
most likely too soft.
Continue
'test driving' until you find the right fit. If you share a bed, one mattress
may not be suitable for both of you. If this is a problem, consider separate
mattresses and bases that can be linked together to suit your needs.
When
choosing a mattress, buy the very best you can afford. Countless nights
of restful sleep are well worth the investment.
If
you use a box spring, replace it when you choose a new mattress.
Putting
a new mattress on an old base will reduce the comfort of the mattress
and shorten its life. Once a month, turn the mattress over.
Every
three months, turn it top to bottom so that the foot becomes the head.
This helps prevent hollows from developing in your habitual sleep pattern.
Vacuum
the mattress regularly, using the soft brush attachment to pick up dust
mites and skin scales which humans shed at the rate of one pound annually.
We
also deposit a pint or so of sweat onto the mattress over the year, which
is a fine reason to avoid the temptation to buy a used mattress. Use a
quality mattress cover to protect your investment.
|
DOA BAPA KAMI
PERDAMAIAN
BAPA yang memandang
semua orang sama sederajat
KAMI setiap orang
siapapun namanya, apapun warna kulitnya apapun agamanya, di manapun dilahirkan,
berapapun usianya.
YANG ADA DI SURGA
dan di atas bumi yang penuh kedamaian, yang lebihmemihak kepada kaum miskin
dan terbuang.
DIMULIAKANLAH
NAMAMU dalam hati pria dan wanita, anak-anak dan para lanjut usia.
DATANGLAH KERAJAANMU,
kerajaan damai sejahtera, keadilan, kebenaran dan cinta kasih.
BERILAH KAMI REJEKI
yang diadoni damai sejahtera, bukan rejeki karena korupsi dan ketidakadilan,
yang merenggut hak jutaan kaum miskin, bukan pula rejeki yang membuahkan
perpecahan, perselisihan, iri, dan perebutan kekuasaan.
PADA HARI INI,
sebab esok mungkin sudah terlambat. Kekerasan sedang diskenario, moncong
senapan siap dibidikkan, peluru kendali sedang diarahkan.
DAN AMPUNILAH
KAMI bukan dengan cara kami biasa mengampuni melainkan dengan cara-Mu
yang tulus-tuntas, tanpa dendam terpendam.
SEPERTI KAMI PUN
MENGAMPUNI YANG BERSALAH KEPADA KAMI, yakni mereka yang mengagungkan kekerasan
sebagai panglima, dan kuatkanlah kami agar mengampuni diri kami sendiri
supaya kami musnahkan benih kekerasan dalam hati kami.
DAN JANGANLAH
MASUKKAN KAMI KE DALAM PERCOBAAN, yaitu memandang orang lain dengan penuh
curiga, mendiamkan saudara-saudara yang kecil-dina-miskin, mengobar-ngobarkan
kebencian dan dendam demi kepuasan psikologis dangkal.
TETAPI BEBASKANLAH
KAMI DARI YANG JAHAT, yang mengancam kedamaian kami warga masyarakat setiap
hari, yakni kekerasan dalam berbagai tingkatan dan bentuk, di manapun
kami berada. AMIN, kami amini penyertaanMu, yang membuat kami aman dan
beriman. Kini dan Sepanjang Masa. AMIN (diinspirasi dari "MANUAL FOR PROMOTERS
OF JUSTICE, PEACE, AND INTEGRITY >OF CREATION", International Commission
on J.P.I.C., Claretian >Publications, 1998).
|
|
opini
mudika
Renungan
28 July 2001, 00.20 03.15, Infant Jesus
Youth Centre
A
friend hears the song in my heart and sings it to me when my memory fails.
-- Unknown
Bicara
mengenai mudika KKIS tentu kita akan langsung teringat nama-nama Hendro,
Felis, Reni, Grace Debby, Ahin, Kurniawan, Erni-Philip dan Andri. Hampir
dalam setiap acara mudika akan sering terlihat tampang-tampang mereka
diantara mudika yang lainnya, Bambang-Fenny, Edo-Angel, Eveline, El Fie,
Yenny, dan masih banyak lagi yang lain. Memang keterlibatan beberapa orang
di atas patut dihargai dan di terima kasihkan sebab tanpa kehadiran dan
juga kerelaan mereka menggerakkan acara-acara mudika, sudah pasti acara
mudika kkis tuch akan melempem dan gak akan seaktif saat ini.
Mulai
dari kepengurusan Kurniawan 1998 1999, pengurus mudika muncul dengan
banyak ide-ide dan aktivitas dinamis. Mulai dari adanya web-site mudikan
yang diperbaharui oleh Erni selaku sie publikasi, Arief sebagai sie olahraga,
Grace sebagai bendahara dan laen-laen. Sarana dan ciri khas mudika mulai
tampak dan disalurkan dengan banyak aktivitas yang positif, mulai dari
pemisahan koor mudika dengan koor Ecclessia lalu jogging hari minggu pagi
di MacRitchie Reservoir semuanya terkoordinasi dengan baik lewat kepengurusan
Kurniawan saat itu. Salute buat Kurniawan yang dengan sabar, ulet, bijak
namun sungguh-sungguh menciptakan wadah mudika kkis menjadi tempat yang
nyaman untuk bertumbuh dan bergembira dalam suasana yang kekeluargaan.
There
is overwhelming evidence that the higher the level of self-esteem, the
more likely one will be to treat others with respect, kindness, and generosity.
-- Nathaniel Branden, author and psychologist
Tongkat
estafet disusul dengan kepengurusan Erni ditahun 1999 2000, yaitu banyak
kegiatan mudika yang mulai terealisasi dengan jelas dan kekompakan mudika
(boleh dikatakan) semakin nyata. Dari sebelumnya basketball hanya berupa
ide saja, namun dengan kerjasama pengurus (Eveline, Felis, Hendro dan
Andri) di periode ini setiap sabtu para penggemar basketball akhirnya
dapat rutin bermain basket di Cairnhill CC, Newton MRT. Penggemar volleyball
pun bisa berlatih setiap dua minggu sekali demikian juga penggemar tennis
dan badminton. Latihan koor semakin ceria dengan semakin bertambahnya
jumlah mudika di Singapura dan yang paling penting, kehadiran semua mudika
menambah dinamika dan kesatuan mudika.
Memang ada pasang surut mudika dalam arti ada beberapa mudika yang datang
dan pergi dari Singapura kembali ke Indonesia maupun melanjutkan study
nya di negara lain. Patut juga disyukuri adanya beberapa pasangan baru
yang oleh karena frekuensi pertemuan dan aktivitas mudika, persahabatan
tumbuh dan berkembang menjadi cinta. Tak luput juga hasil nyata kekompakan
mudika dengan menangnya Bambang Reza, Hanny Cynthia di pertandingan
antar gereja-gereja berbahasa Indonesia di Singapura tahun 2000.
Semua
momentum dan aktivitas tersebut membawa kasih persaudaraan dan persahabatan
yang meneguhkan satu dengan yang lainnya.
Dan
tahun ini pun tongkat estafet dari Erni disambut hangat oleh Hendro dengan
tidak menurunkan aktivitas mudika. Yang malah terjadi, aktivitas mudika
semakin dinamis dan menggebu-gebu mengingat tipical Hendro yang selalu
antusias, bersemangat dan penuh initiatif. Semua kegiatan rutin olahraga
tetap berlanjut dan masih ditambah lagi dengan antusiasme di Pendalaman
Iman nya Stephen Onggo, Legio Maria nya Sunny Virtus dan keikutsertaan
koor mudika di koor Dorothy yang sewaktu-waktu dipanggil dalam misa kudus
hari-hari besar gereja.
Tak
dapat disangkal bila nama mudika kkis sudah mulai berkibar dan mendapat
nama baik di gereja St. Bernie. Bila ada pepatah yang mengatakan bahwa
"The world stands aside to let anyone pass who knows where he is going--
David Starr Jordan"
Hendro dengan semua talentanya telah membuktikan kepada mudika bahwa ia
sungguh-sungguh layak memimpin kepengurusan mudika. Namun kurang tepat
rasanya bila kita pun tidak merasakan kebanggaan kepada diri kita sendiri
atas semua karya dan pengakuan yang sudah kita terima. Proficiat buat
semua mudikans yang uat menjalin kasih buat mudikans lama juga baru yang
datang dari Indonesia. Lalu, bagaimana caranya dan pada kesempatan apa?
Menjawab ini tentu saja perlu ada refleksi yang sungguh, terutama dari
para pengurus mudika saat ini atau pun pengurus mudika di tahun-tahun
mendatang. Tentu saja kita tidak menginginkan bila mudika menjadi turun
dalam hal kualitas juga kuantitas sayanglah semua kehendak baik dan
tujuan mulia Kurniawan, Erni dan Hendro, tante Agnes dan Om Adi, tante
Anna dan semua lainnya yang belom tersebutkan namanya - yang telah berjuang
agar mudika terus jaya.
Dalam
kesempatan ini penulis hanya ingin mengupas mengenai kuantitas dibandingkan
kualitas. Tetapi, bukan berarti bahwa penulis mengesampingkan segi kualitas,
namun saat-saat ini penulis sering sekali mendengar komentar-komentar
mengenai kuantitas yang cukup berkaitan dengan kualitas mudika kkis secara
umum. Bila tidak sedikit mudikans baru yang mengatakan bahwa mudika kkis
‘tidak ramah’ dan ‘kurang welcome’ adalah sesuatu yang benar kenyataannya.
Seringkali ini kurang disadari secara langsung oleh para pengurus maupun
bukan pengurus (baca anggota aktif). Sebab, baik pengurus maupun bukan
pengurus sudah terlena dengan komunitas mereka, group-group kecil yang
mereka ciptakan dengan kesadaran akan kesamaan minat, hobby, candaan dan
lain-lain. Tidak dapat dipungkiri bila akhirnya group-group ini menciptakan
gap yang jauh dengan mudikans baru, terutama mereka yang tidak mudah berinteraksi
dengan orang lain.
"wah
di mudika kkis mah kita tidak di welcome dengan baik tuch lain kalo
kita ada di Bethany atau di Presby… mereka tuch care banget ama pendatang
baru, langsung diberikan perhatian special, diundang kegiatan-kegiatan
mereka dan ditelponin untuk datang ke acara mereka tuch, gimana kita
gak sering ke sana coba kalo kita tuch selalu diperhatikan!" atau komentar
lainnya,"iya, gue mau azha bergabung dan diterima oleh mudika kkis, tapi
gue gak tau gimana caranya… apalagi buat gue yang pemalu…"
Ada
beberapa sudut pandang komentar di atas, pertama ada yang positif menerima
bahwa kenyataan itu benar namun ada juga yang bereaksi ‘datar’ dengan
mengatakan,"makanya, sering ikutan acara mudika donk… datang latihan koor,
olahraga/jogging atau pendalaman iman." Pada dasarnya kita tidak dapat
menyalahkan satu pihak atas yang lainnya. Tentu saja mudikan baru punya
kepentingan dan kendalanya sendiri untuk dapat berinteraksi dengan lingkungan
dan teman-teman yang baru. Sedangkan mudikans lama serta para pengurus
pun sangat sibuk dengan kerjaan, tugas-tugas sehari-hari dan kepentingan
lainnya. Namun, perlulah ada suatu refleksi buat para pengurus juga para
mudikans lainnya agar dapat memberikan suatu tempat yang teduh dan bersahabat
buat para mudikans baru yang memudahkan mereka beradaptasi dengan cepat.
Kita semua tentu setuju bila kita semua di sini adalah perantau dimana
kita akan mendambakan suatu tempat teduh buat saling berbagi dan bersuka
bersama.
Ada
satu cara yang bagus buat para pengurus yaitu dengan melibatkan mudikans
baru dalam aktivitas mudika, baik keterlibatan menjadi pengurus suatu
acara tertentu atau melibatkannya dengan turut aktif di latihan koor,
olahraga atau Legio Maria. Cara seperti ini pernah dialami banyak kali
oleh penulis (sebab itu berani mengusulkan) karena pada umumnya tipikal
orang Indonesia atau khususunya orang katolik tuch gak mau menyombongkan
diri dengan mengusulkan diri ikut serta di kepanitiaan atau kepengurusan.
Kebanyakan
orang katolik yang baru masuk lingkungan baru, perlu di’ceburin’ dulu
baru dech, setelah ‘berenang’ didalamnya akan tertarik untuk terus terlibat
di kegiatan mudika. Bagi mudikans baru pun, janganlah sungkan untuk berbaur
dengan para mudikans lainnya. Jangan ada rasa enggan atau takut tidak
diterima krn pengalaman ditolak atau sepertinya dicuekin. Memang, untuk
masuk dan dapat diterima di suatu lingkungan yang baru perlu juga ada
proses.
Bukan
berarti bila datang ke misa Indo di acara ramah tamah bisa langsung dapat
perhatian. Sebab yang sering terjadi di acara ramah tamah adalah pertemuan
semua mudikans baik yang sering bertemu ataupun jarang bertemu. Nah, jadilah
acara ramah tamah selesai misa Indo itu tempat yang ramai buat bercerita
teman lama yang jarang bertemu, tertawa buat pengalaman selama dua minggu
terakhir, dll.
Sebab
itu, buat semua mudikans, terutama mereka yang baru masuk di mudika KKIS,
jangan sungkan ikutan setiap aktivitas mudika. Jangan takut gak ada temen
saat mau ikutan badminton atau saat latihan koor karena semua mudikans
adalah teman. Juga enggak perlu suara bagus buat ikutan latihan koor atau
smash yang tajam buat ikutan main badminton, krn tujuan diadakan semua
kegiatan mudika toch bukan untuk mencari yang tangguh diantara mudika
semua itu hanya semata-mata sebagai hiburan dan persahabatan diantara
mudika. Jangan cuma datang sekali lalu surut krn tidak mendapatkan perhatian
atau tidak mendapatkan teman. Cobalah datang lagi dan datang lagi di setiap
kegiatan mudika, maka jurang antara mudikans lama dan mudikans baru pun
akan hilang dengan sendirinya.
Sesungguhnya
- keunikan akan talenta yang kalian miliki pun dapat disumbangkan buat
mudika kkis…
Akhir
kata, penulis pun menyetujui bahwa sarana mudika KKIS merupakan wadah
yang bagus buat menumbuh kembangkan tali cinta kasih antar sesama umat
katolik. Biarlah seorang teman menjadi seorang sahabat dan seorang sahabat
menjadi seorang kekasih yang bersama-sama berjalan sambil bergandengan
tangan meraih impian dan cita-cita…
Relationships.
That’s all there really is. There’s your relationship with the dust that
just blew in your face, or with the person who just kicked you end over
end… You have to come to terms, to some kind of equillibrium with those
people around you, those people who care for you, your environment.
Leslie Marmon Silko
djon-

cerbung mudika
MY
EYES
Saat itu aku diam
terpaku. Entah apa yang ada di pikiran orang itu. Dia menatapku seperti
ada sesuatu hal buruk yang akan ia lakukan terhadapku. Jantungku berdebar
kencang. Keringat dingin keluar dari sekujur tubuh. Ia memegang lenganku,
keras sekali. Yang membuatku takut, bukan karena raut wajahnya, bukan
dari tubuhnya yang tinggi besar. Tapi dari tatapan matanya. Aku seperti
dapat membaca pikiran melalui matanya, ia akan membunuhku!
Lama dia menatapku,
tak berbuat suatu apapun. Hanya memandang. Entah apa yang ia inginkan
dariku. Aku tidak membawa banyak barang. Aku hanya membawa tas kecil,
berisi dompet dan peta petunjuk jalan di tanganku. Barang-barangku yang
lain, aku taruh di tempat penginapan tidak jauh dari pusat kota. Aku sendiri
di kota ini, datang hanya untuk berlibur. Di dalam kebingungan dan ketakutanku,
terlintas wajah kedua orangtuaku, berdoa dan menyebut dalam hati nama
Tuhan berulang-ulang. Menahan tangis, dengan berharap ia meninggalkanku
sendiri.
Setelah menatap sekian
lama, ia mulai melakukan suatu gerakan. Ia menarikku, dan mengacungkan
telunjuk yang diarahkan ke mulutnya supaya aku diam tak bersuara. Kemudian
kami berjalan. Dia menarikku kembali untuk berjalan lebih cepat, orang
di sekelilingku melihat kearahku, tapi tidak satupun orang yang curiga
dan mencoba menolongku. Ketakutan yang teramat sangat menguasai segala
pikiran dan seluruh tubuhku.
Aku tidak dapat melawan,
berusaha melangkah mengikuti kakinya yang panjang dan langkahnya yang
cepat. Setelah berjalan sekian lama, tibalah kami di sebuah gang. Gelap
sekali. Tak ada satu lampu peneranganpun di sana. Lama sekali dia mencengkeram
tanganku, dan selalu menarikku berjalan lebih cepat. Aku mencoba berteriak,
tetapi sepertinya ia dapat membaca gerak gerikku dan membungkam mulutku
dengan tangan kirinya. Tercium bau tembakau dari tangannya. Aku berusaha
meronta, melepaskan diri dari genggamannya, tapi semakin aku bergerak
melawan, semakin keras ia mencengkeram tanganku dan mendekap mulutku.
Aku panik, mulai mencoba melawan lebih keras. Mencoba melepaskan tangannya
dari mulutku. Tapi dia terlalu kuat. Entah berapa lama kami menyusuri
gang itu, semakin dalam kami berjalan semakin aku berusaha melawan. Tak
terasa air mataku mengalir. Tangisanku mulai mengeras, tapi ia mendekap
mulutku keras sekali.
Tiba-tiba ia berhenti,
membuka sebuah pintu kecil di sebelah kanan gang itu, dan menarikku ke
dalam sebuah ruangan gelap. Lebih gelap dari gang yang ku lalui tadi.
Aku mulai menangis lebih keras, berusaha berteriak. Yang kutahu ia memukulku,
dan aku terjatuh.
Aku terbangun, kupegang
pipi kananku, sakit sekali. Setelah aku mulai sadar, kucoba mengenali
keadaan di sekelilingku. Aku berbaring di atas sebuah ranjang, beralaskan
kain putih. Ada segaris sinar memasuki ruang itu. Setelah mataku terbiasa
dengan gelap, aku mulai dapat melihat beberapa bayangan. Sebuah meja kecil
di sudut ruangan dengan hanya sebuah bangku di dekatnya. Ada gelas dan
piring kecil di meja itu. Aku coba menangkap bayangan lain, ada sebuah
rak buku di sudut lainnya. Ada beberapa buku tersusun rapi, hanya itu.
Tapi aku tidak melihat ada orang lain di ruangan itu. Aku berusaha mencari
sosok lelaki tinggi besar yang membawa dan menarikku kemari. Tapi tidak
kutemukan. Dimana dia?
Kemudian aku mencoba
bangkit bangun untuk duduk. Sakit di pipiku belum hilang dan kurasakan
sakit di kepalaku. Mungkin karena saat aku terjatuh, kepalaku terantuk
lantai, pikirku. Tak kubiarkan sakit di kepalaku menahan untuk mengetahui
keadaan di sekitarku. Tidak ada rasa sakit lain di tubuhku. Apa yang terjadi?
Aku berusaha berdiri dan berjalan mendekati pintu, sambil memegang kepalaku.
Kucoba membuka pintu itu, tapi tidak bisa. Pintu itu terkunci. Kucoba
dengan sekuat tenaga, memaksa lebih keras membuka pintu itu. Genggaman
tanganku pada gagang pintu itu terlepas, aku terjatuh dan pandanganku
gelap.
Aku terbangun, terbaring
di ranjang yang sama, menoleh ke arah meja dan hanya melihat cahaya redup
dari sebatang lilin di atas meja. Aku berusaha untuk melihat sekelilingku,
aku menangkap ada bayangan seseorang, duduk di kursi dekat meja itu. Itu
lelaki yang membawaku kemari pikirku. Aku mencoba untuk tidak bergerak,
atau menimbulkan suara sedikitpun. Tak ada suara, hanya terdengar nafasnya
yang berat, dan bau tembakau. Entah apa yang sedang ia lakukan di meja
itu. Kemudian terdengar kursi bergeser, lelaki itu berdiri kemudian berjalan
ke arahku. Aku diam tak bergerak, dan menutup kembali mataku sambil memohon
agar ia tak menyentuh dan meninggalkanku sendiri. Terasa tangannya memegang
keningku, mengusap rambutku.
Bau tembakau itu tercium
kembali. Hangat sekali tangannya, dan terasa kasar. Aku merapatkan mataku
sambil berdoa memohon supaya ia tidak melakukan hal lebih dari itu. Ia
memegang pipiku, ya Tuhan, tolong aku. Sepertinya Tuhan mendengar rintihanku,
lalu ia menarik tangannya dan berjalan kembali ke meja kecil dan kemudian
duduk. Ya Tuhan, keluarkan aku dari sini.
Pagi itu sinar yang
sama menerangi ruangan itu. Aku langsung menoleh untuk melihat lelaki
di meja itu. Dia masih di sana. Hanya, ia tertidur dengan merebahkan kepalanya
di meja, ditopang oleh kedua tangannya. Ia hanya menggunakan kaus dan
celana panjang. Terdengar nafas beratnya. Dan sekali-sekali mengeluarkan
suara berat. Ingin sekali aku melihat wajahnya. Ntah mengapa? Seperti
apa raut muka lelaki itu? Yang kuingat hanyalah matanya. Ada sesuatu yang
aneh. Kulihat ada suatu keraguan disana. Aku haus, dan perutku terasa
sakit. Kucoba mengingat-ingat kapan terakhir aku makan, sambil mengira-ngira
sudah berapa hari aku di tempat ini. Apa tidak ada yang mencariku, apa
pemilik penginapan itu tidak curiga, mengapa aku belum kembali? Apakah
orangtuaku merasakan bila aku dalam kesulitan? Aku ingin pulang.
Aku coba untuk duduk
di pinggir tempat tidur itu. Aku melihat ada gelas dan piring yang sama
seperti yang aku lihat kemarin. Aku haus. Kukumpulkan keberanian, berjalan
ke arah meja itu, sakit kepalaku sudah tak terasa lagi. Sambil mengendap-endap
aku berusaha meraih gelas itu. Kulangkahkan kakiku seperlahan mungkin,
sehingga tak menimbulkan bunyi yang akan membuat lelaki itu terbangun.
Aku berhasil mendekati meja itu dan meraih gelas di atasnya. Kuambil gelas
itu, meminum air di dalamnya, lelaki itu tak bergerak kukembalikan gelas
itu ke tempat semula secara perlahan, kemudian aku berjalan kembali ke
tempat tidur. Berhasil. Kuperhatikan lebih cermat keadaan di sekelilingku,
mencari kemungkinan lain untuk keluar dari tempat itu.
Aku kembali berdiri,
mengambil keputusuan untuk berjalan ke arah pintu, mengendap-endap, sekali-kali
melihat ke arah lelaki itu, untuk memastikan ia tidak terbangun mendengar
langkah kakiku. Aku menjangkau gagang pintu, dan memutarnya secara perlahan.
Terkunci. Ingin menangis rasanya. Aku putus asa. Kuputuskan untuk kembali
ke tempat tidur. Dia tetap tak bergerak. Beribu-ribu pemikiran terlintas,
mencari cara untuk keluar dari tempat itu. Pemikiran yang membawaku kembali
tertidur.
Saat aku terbangun,
aku melihat seseorang duduk di tepi ranjang. Lelaki itu!! Kusadari ia
sedang menatapku. Aku terkejut, nafasku terhenti, tiba-tiba tubuhku gemetar.
Sudah terlambat untuk pura-pura tertidur, ia sedang menatap mataku. Tetap
sama, ia tak berkata-kata. Lama sekali ia memandangku, seribu macam pikiran
buruk melintas, menerka apa yang akan dilakukannya. Haruskah aku memohon?
Sorotan matanya begitu tajam, tak terasa aku menangis, seperti memohon
pengampunan. Dia membelai wajah, kemudian rambutku. Belaiannya seperti
seorang pria yang begitu mengagumi kekasihnya, tatapannya juga sama. Tapi
hanya rasa ketakutan yang kurasa. Ingin kuberteriak, menanyakan apa maunya.
Kemudian ia berdiri
sambil tetap menatap mataku. Ntah dorongan apa yang membuatku tergerak
untuk menatap matanya. Inilah pertama kali kami saling memandang lagi,
setelah peristiwa di stasiun bawah tanah itu. Raut wajahnya menampakkan
kelembutan, ia tidak sedang marah, sepertinya ia tidak ingin menyakitiku,
dia hanya memandang. Ia beranjak ke meja kecil di sudut ruangan, meraih
gelas dan mengambil sebuah piring kecil. Ia kemudian berjalan kembali
ke arahku, duduk kembali di tepi ranjang, dan menyodorkan gelas dan piring
itu.
Ragu. Itu yang kurasakan.
Apakah ia bermaksud baik? Kuputuskan untuk menerima tawarannya. Kusangga
badanku dengan kedua tanganku, aku duduk berhadap-hadapan dengannya. Lagipula
sudah beberapa kali aku sering kehilangan kesadaranku, dan ia tidak melakukan
satu halpun untuk melukaiku. Segelas susu dan 2 potong roti. Kuhabiskan
semua yang ia berikan. Selama aku melahap roti dan meneguk setiap cairan
di gelas itu, ia hanya memandangku, seperti ingin meyakinkan apakah aku
telah menghabiskan semua yang ia berikan. Setelah ia melihat aku menghabiskan
semuanya, ia mengambil gelas dan piring, kemudian menaruhnya kembali ke
atas meja. Ia tidak kembali ke tepi ranjang, tetapi ia duduk di kursi
di meja kecil itu. "Terima kasih", kata itu keluar lirih dari mulutku.
Oh Tuhan, mengapa aku mengeluarkan kata-kata, bagaimana jika ia terdorong
untuk melakukan sesuatu setelah mendengar kata yang keluar dari mulutku.
Tapi reaksi yang kudapat tidak seperti yang kubayangkan. Dia membalasnya
dengan senyum...
-kecilku
|