Utama
Aku Percaya akan Gereja Katolik yang Kudus
"Gereja Katolik adalah gereja yang menyimpang dari ajaran Kristus.
Bahkan istilah Katolik itu pun tidak alkitabiah. Silakan dicari di Alkitab,
adakah istilah Katolik di sana? Lantas mengapa saudara setiap minggu mengucapkan
'Aku percaya akan Gereja Katolik yang kudus' dan bukan 'Gereja Kristus
yang kudus'???"
Kita semua mengetahui bahwa kata “Katolik” berasal dari bahasa Yunani
“katholikos” yang berarti “universal”. Bukti tertulis tertua yang menggunakan
istilah “Gereja Katolik” adalah surat St. Ignatius kepada jemaat di Smyrna
(sekitar 110 AD). Kalimat yang memuat istilah tersebut kira-kira berbunyi:
“Di mana ada uskup, di situ ada jemaat, sama seperti di mana Yesus berada
di situ ada Gereja Katolik”. Para ahli teologi non-Katolik tentunya tidak
mau mengartikan kata “Gereja Katolik” sebagai acuan kepada institusi Gereja
masa itu. Mereka umumnya lebih mengartikannya sebagai “Gereja yang katolik”.
Bukti tertulis berikutnya adalah surat mengenai kemartiran St. Polycarp
(sekitar 156 AD). Pada surat ini, istilah Gereja Katolik secara jelas ditujukan
kepada Gereja sebagai institusi (dan bukan Gereja yang katolik). Salah
satu cuplikan kalimatnya berbunyi “Kepada Uskup Gereja Katolik di Smirna
… ”. Bukti tertulis berikutnya adalah berasal dari Muratorian Fragment
(180 AD). Dokumen ini juga memakai istilah Gereja Katolik sebagai nama
institusi Gereja saat itu. Salah satu cuplikannya berbunyi “… beberapa
opini tertulis (heretical writings) tidak dapat diterima oleh Gereja Katolik”.
Masih banyak bukti tertulis lainnya yang semakin memperkuat pendapat bahwa
Gereja Katolik telah dipakai sebagai nama dari Gereja Purba. Seiring dengan
perkembangan gereja yang menjangkau semakin banyak umat dari berbagai bangsa
dan golongan (pada abad ke-3, 10% penduduk kekaisaran Roma adalah Katolik),
maka istilah “Gereja Katolik” yang berarti universal (untuk semua bangsa)
menjadi lebih mudah dipahami oleh jemaat saat itu. Akhirnya, pada abad
ke-4, Katolik secara luas telah dipakai sebagai nama dari Gereja yang didirikan
oleh Kristus sendiri.
Sejarah mengakui bahwa pada masa hidup St. Ignatius, Rasul Petrus adalah
Uskup di Antiokia. Gereja mempercayai bahwa Rasul Petrus-lah yang mentahbiskan
St. Ignatius. Bisa dibayangkan betapa dekat hubungan St. Ignatius dengan
Rasul Petrus (dan tentunya St. Paulus yang sering berdiskusi dengan Rasul
Petrus). Demikian pula St. Polycarp, dia adalah murid Rasul Yohanes. Sejarah
Gereja menunjukkan betapa besar pengaruh Rasul Yohanes dalam karya-karya
St. Polycarp. Bahkan, melalui karya-karya beliau, keaslian ketiga surat
Rasul Yohanes bisa dibuktikan.
Apa yang bisa disimpulkan dari riwayat kehidupan St. Ignatius dan St.
Polycarp? Fakta bahwa istilah “katolik” dipakai pada saat Rasul Yohanes
masih hidup, dan mengingat pengaruh para Rasul pada hidup mereka, bukan
tidak mungkin kalau istilah “katolik” tersebut berasal dari para Rasul.
Bukankah salah satu masalah penting pada jaman para Rasul adalah mengenai
ke-“katolik”-an Gereja, yaitu apakah karya keselamatan Allah juga ditujukan
kepada bangsa-bangsa selain Yahudi? Bukankah Kristus sendiri yang mengatakan
“Pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu dan baptislah mereka dalam nama
Bapa dan Anak dan Roh Kudus dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu
yang telah Ku perintahkan kepadamu....…(Mt 28:19, 20)”? Bukankah ini berarti
bahwa Kristus sendiri yang mengajarkan Gereja untuk bersifat Katolik?
Gereja disebut Katolik karena dua hal. Pertama (sebagaimana diungkapkan
oleh St. Ignatius) Kristus ada di dalamnya, dan Kristus telah lahir ke
dunia untuk semua umat manusia. Kedua, karena Kristus sendiri yang telah
memerintahkan Gereja untuk melaksanakan misi ke seluruh umat manusia.
Sebagai penutup, seperti kita baca pada buletin edisi lalu dikatakan
bahwa hampir semua denominasi Protestan mengatakan "Hanya Alkitab sumber
Iman Kristiani" (Sola Scriptura). Itulah dasar berpikir mereka bahwa istilah
Gereja Katolik itu tidak alkitabiah. Seandainya pendekatan ini benar, maka
TIDAK ADA sebuah Gereja dari denominasi manapun yang mempercayai Tritunggal.
Mengapa? Karena istilah tersebut tidak ada di Alkitab dan dipakai pertama
kalinya oleh St. Teofilus (181 AD), seorang uskup Gereja Katolik!
Kristus telah lahir ke dunia untuk semua orang, demikian pula kita telah
diutus untuk menjadi saksiNya bagi semua orang. Marilah pada saat pengucapan/pembaharuan
janji baptis, kita berkata dengan penuh keyakinan: “Aku percaya akan Gereja
Katolik yang Kudus”
(disarikan oleh Stephan Onggo, 2000)
Sumber:
Catholic Encyclopedia, New Advent (http://newadvent.org)
Saints & Angels, Catholic Online (http://www.catholic.org)
The Defenders of the Catholic Faith (http://www.catholic-convert.com)
<menu>
“Belum terbiasa……”
Father John…. Ah! belum terbiasa rupanya lidah ini memanggilnya dengan
gelar baru. Tanggal 2 Desember kemarin di Petaling Jaya, kota tempat lahirnya
34 tahun yang lalu, seorang Brother dari Fransiskan ini ditahbiskan. Hampir
sekitar seribu umat dalam misa tiga bahasa (Inggris, Melayu/Indonesia,
dan Mandarin) menjadi saksi dan merestui pentahbisannya bersama dengan
rekannya, Friar Moses Yap OFM.
Sungguh suatu kehormatan bagi redaksi atas kesempatan bisa bertemu dengan
Father John yang cukup banyak bercerita tentang liku-liku panggilannya.
Brother John Wong, begitulah dulu biasanya mudikans akrab memanggil, mengalami
masa kecil di Petaling Jaya bersama dengan ayah, ibu dan seorang saudarinya.
Gereja St Francis Xavier, tempat ia ditahbiskan merupakan tempat pertama
ia mengenal Gereja. Di situ ia dibaptis, pertama kali mengaku dosa, menyambut
komuni pertama, menerima sakramen penguatan dan menjalankan tugas pelayanan.
Pada masa-masa itu John Wong kecil sama sekali tidak pernah berpikir
bahwa dirinya nanti akan menjadi seorang imam. Meskipun masa-masa sekolah
dasar dan menengah dihabiskannya di La Salle Brothers, sekolah binaan Syarikat
Jesuit. Panggilan pertama menjadi pastor muncul ketika ia sedang belajar
keras untuk menghadapi ujian pada tahun pertama kuliah (1985) di University
of New South Wales, Australia. Awalnya, panggilan dari suara hatinya ini
ditanggapi dengan tidak serius. Namun Tuhan berkehendak lain. Tiga tahun
kemudian, pada peristiwa yang sama yaitu ketika belajar menghadapi ujian,
suara hatinya kembali muncul.
Setelah lulus dengan gelar Bachelor of Science bidang Arsitektur UNSW,
John Wong menanggapi panggilan itu dengan mengikuti Vocation Camp selama
satu minggu dan ternyata panggilan itu pun semakin kuat. Mulailah ia mencari-cari
dan terus menerus merefleksi panggilan-panggilannya. Waktu itu ia hanya
mengenal tarekat Mission of Sacred Heart. Namun hatinya masih belum pasti
bahwa ditempat itulah ia menjalani panggilanNya. Belum lagi dilema-dilema
yang muncul kemudian ketika ia harus memilih kembali ke Malaysia atau tetap
bekerja sebagai arsitek di Sydney. Tawaran menjadi PR (Permanent Resident)
Australia pun menjadi hal yang dipertimbangkannya. Ia diberi kesempatan
berpikir selama 2 tahun untuk menentukan pilihan. Akhirnya keputusannya
adalah kembali ke Malaysia.
Yang termasuk dalam kebingungannya juga adalah ketika memilih tarekat
tempat ia nanti akan berkarya. Kesemuanya baik, begitu ungkapnya,
tetapi ia ingin mencari tempat yang cocok baginya. Sekitar bulan Maret
1993, John Wong penasaran dengan sebuah advertisement di Catholic News tentang
Fransiscan Friary. Keingintahuannya itu di-follow up dengan
surat-menyurat, sampai kemudian ia mendapat surat undangan untuk interview.
Interview pertama masih belum yakin bahwa ia akan memasuki tarekat tersebut.
Bulan Agustus 1993, ordo Fransiskan mengadakan seminar. Dalam seminar itu
John Wong tertarik dengan pribadi St. Francis of Assisi. St. Francis yang
bersatu dengan alam, rendah hati, dan dapat melihat kebaikan di dalam setiap
hal, menjadi sosok yang membuat John Wong berketetapan hati masuk biara
Fransiskan. John Wong menyadari bahwa semua yang telah ia lakukan dalam
melayani Tuhan di aktivitas gereja, kehidupan sosial melayani sesama adalah
bagus, tetapi ia merasa itu belum cukup.
“I devote my life to God.... Mataku sudah terbuka. Aku sudah bisa melihat
kekurangan dan kelebihan jalan ini,” itulah keputusannya. “Aku senang
visinya (St. Francis). Di sini ada peluang untuk melayani Gereja, umat Allah
dan semua manusia dengan lebih terbuka.” Kata-kata ini diuraikannya
kembali berkenaan dengan ketiga kaul yang kelak dijalaninya. Kaul ketaatan,
bukan hanya taat kepada Gereja atau superiornya, tetapi juga taat melayani
umat Allah; kaul kemiskinan membuat lepas dari ikatan-ikatan harta duniawi;
kaul kemurnian bukan hanya sekedar tidak menikah, tetapi menjadikannya
lebih bisa mengasihi siapa saja.
Keputusan ini pun bukanlah hal yang mudah untuk dilaksanakan karena
dilema-dilema kembali muncul. Orang tua yang meskipun tidak menghalangi,
pada awalnya tidak merasa gembira menerima keputusan ini. Sang pacar demikian
juga. Tetapi kehendak Tuhan berjalan di atas kehendak manusia. John Wong
akhirnya menjalani pendidikan seminari di Fransiscan Friary dan seterusnya
berkarya sebagai diakon di Church of St Bernadette, berjumpa dengan kita-kita...
mudikans dan KKIS...
Selama 7 tahun di seminari, pria jangkung berperangai kalem ini banyak
menjalani misi di berbagai tempat, antara lain Singapura, Thailand, Malaysia
Timur (Serawak), Kuala Lumpur, dan Indonesia. Orang-orang yang dilayaninya
selama misi itu meliputi pasien AIDS, anak-anak jalanan, orang-orang kusta
dan bahkan juga orang-orang desa yang ingin membangun desanya serta orang-orang
lain (elderly, disabled, catechuments, dlsb). Father John juga pernah meminta
supaya ia dikirim ke Timor-Timur untuk membantu penduduk di sana, namun
karena keadaan tidak memungkinkan, beliau akhirnya dikirim ke Flores.
Ketika ditanya kesan-kesannya setelah ditahbiskan, Father John mengatakan
bahwa ia (dan Father Moses) masih belum terbiasa dengan gelar ‘Father’-nya.
(Ya..., kami juga belum terbiasa kok Brother.. eh Father...) Hal lain
adalah kesan bahwa mereka seakan-akan di’sanjung’ oleh umat. “It’s like
putting us high upon a pedestal.” Padahal, menurut dia, pentahbisan
itu bukanlah berkenaan dengan status, tetapi pelayanan. “Kami ditahbiskan
untuk melayani, bukan dilayani……Pentahbisan ini bukanlah akhir, tetapi
menjadi semakin terbukanya kesempatan kami untuk melayani…….Semua orang
sama saja dihadapan Allah. Kita main peran yang berbeda tetapi dengan status
yang sama, anak Allah.” Karena itulah mengapa misa pentahbisannya mengambil
tema ‘Walk Humbly With God.’ Rupanya komitmen ini yang sekarang dijalani
Father John dengan tulus dan senang hati seperti Yesus yang melayani dengan
membasuh kaki murid-muridnya. “No regret. Sudah pasti.”
John Wong sekarang sudah menjadi seorang imam. Harapan-harapannya kepada
umat Allah terutama kaum muda adalah supaya umat Allah selalu sadar, sadar
akan “their dignity as human beings”, “their dignity as the children of God”,
dan selalu terbuka melihat panggilan Tuhan dalam hidup. Beliau mulai
menjalankan tugas pertamanya di Church of St. Mary of the Angels, Bukit Batok,
pada 15 Januari tahun depan. Ia juga seorang friar, berada di antara kita,
umat Allah. Selamat berkarya Father, pasti nanti jadi terbiasa kok ^_^
(rwa).
<menu>
|