#22
December 2000 Edition
Tim Redaksi:
Robertus Wahendro Adi, Stefanus Djoni, Heru Wibawa (photographer) 
  

Sekapur Sirih

... Sesungguhnya anak dara itu akan mengandung dan melahirkan anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel - yang berarti: Allah menyertai kita... (Mat 1:23)

Shalom all,

Teman-teman terkasih, hari Natal kian dekat. Seiring dengan itu suasana kota kian semarak dengan hiasan-hiasan indahnya. Banyak orang sibuk mempersiapkan kado Natal untuk kawan-kawan sekantor, keluarga dan orang-orang lain yang dicintainya. Hari Natal memang selalu mengingatkan kita akan kelahiran Sang Cinta itu sendiri. Ia yang lahir dan tumbuh dalam kesederhanaan cinta, telah menjadi pewarta dan pelaku cinta sejati di dunia ini. Sungguh suatu hal yang sangat istimewa sedemikian hingga kelahiranNya diperingati begitu istimewa oleh seluruh umat manusia. Masa-masa Advent adalah masa saat kita diajak untuk mempersiapkan kado-kado pada hari istimewa itu. Sudahkah kita siap ketika hari istimewa itu tiba?

Mudika KKIS juga tak ketinggalan membagi kado kebahagiaan Natal bagi sesama. Edisi ini menampilkan reportase langsung kegiatan carolling Mudika di Suntec City Convention Center dalam rangka ikut memeriahkan suasana Natal. (rame lho….. dan asik).

Pun ketika kita menghayati lebih dalam, Ia datang bukan tidak untuk apa-apa, melainkan untuk memanggil manusia berjalan dalam cintaNya. Gereja adalah warisan yang tak ternilai yang telah didirikan sendiri olehNya untuk mewujudkan misi cintaNya itu. Edisi ini juga mencoba mengulas seperti apa Gereja Katolik ini sejarahnya sedemikian hingga ia disebut sebagai Gereja pewaris sejati ajaran-ajaranNya.

Edisi ini menampilkan pula sosok Father John Wong. Siapa mudikan yang tidak kenal beliau? Beliau baru saja ditahbiskan menjadi Imam. So, jangan sampai ketinggalan untuk mengikuti perjalanan panggilan hidup beliau.

Akhirnya, mendekati masa Natal dan hari-hari akhir menjelang Tahun Baru 2001 ini, perkenankanlah redaksi mengucapkan selamat Hari Natal dan Tahun Baru, semoga damai dan kasih senantiasa ada di hati kita dan hadir di bumi manusia.

Selamat Membaca.

(Redaksi)



MENU
*
Sekapur Sirih
Kilasan Info 
Utama: Aku Percaya Akan Gereja Katolik Yang Kudus
"Belum terbiasa..."
Kilas Balik
Jangan Lupa
Serba-serbi
Yang Segera Tambah Umur

*

 

Kilasan Info
 

Apakah yang dimaksud dengan devosi?

Dalam iman Katolik, devosi didefinisikan sebagai: praktek-praktek rohani yang merupakan ekspresi yang konkrit bagi keinginan untuk melayani dan menyembah Tuhan dengan melalui objek-objek tertentu, seperti misalnya: misteri Ilahi, orang kudus, benda-benda religius, atau bahkan realitas yang berhubungan dengan Allah. Definisi lainnya menggambarkan devosi sebagai suatu bentuk doa di luar liturgi Gereja yang membantu perkembangan iman umat.

Contoh devosi: Kaplet Koronka, Medali Mukjizat, Novena Kepada Hati Kudus Yesus, Novena Tiga Kali Salam Maria.

sumber: http://www.gerejakatolik.net/

<menu>


 

Utama


Aku Percaya akan Gereja Katolik yang Kudus


"Gereja Katolik adalah gereja yang menyimpang dari ajaran Kristus. Bahkan istilah Katolik itu pun tidak alkitabiah. Silakan dicari di Alkitab, adakah istilah Katolik di sana? Lantas mengapa saudara setiap minggu mengucapkan 'Aku percaya akan Gereja Katolik yang kudus' dan bukan 'Gereja Kristus yang kudus'???"

Kita semua mengetahui bahwa kata “Katolik” berasal dari bahasa Yunani “katholikos” yang berarti “universal”. Bukti tertulis tertua yang menggunakan istilah “Gereja Katolik” adalah surat St. Ignatius kepada jemaat di Smyrna (sekitar 110 AD). Kalimat yang memuat istilah tersebut kira-kira berbunyi: “Di mana ada uskup, di situ ada jemaat, sama seperti di mana Yesus berada di situ ada Gereja Katolik”. Para ahli teologi non-Katolik tentunya tidak mau mengartikan kata “Gereja Katolik” sebagai acuan kepada institusi Gereja masa itu. Mereka umumnya lebih mengartikannya sebagai “Gereja yang katolik”.

Bukti tertulis berikutnya adalah surat mengenai kemartiran St. Polycarp (sekitar 156 AD). Pada surat ini, istilah Gereja Katolik secara jelas ditujukan kepada Gereja sebagai institusi (dan bukan Gereja yang katolik). Salah satu cuplikan kalimatnya berbunyi “Kepada Uskup Gereja Katolik di Smirna … ”. Bukti tertulis berikutnya adalah berasal dari Muratorian Fragment (180 AD). Dokumen ini juga memakai istilah Gereja Katolik sebagai nama institusi Gereja saat itu. Salah satu cuplikannya berbunyi “… beberapa opini tertulis (heretical writings) tidak dapat diterima oleh Gereja Katolik”. Masih banyak bukti tertulis lainnya yang semakin memperkuat pendapat bahwa Gereja Katolik telah dipakai sebagai nama dari Gereja Purba. Seiring dengan perkembangan gereja yang menjangkau semakin banyak umat dari berbagai bangsa dan golongan (pada abad ke-3, 10% penduduk kekaisaran Roma adalah Katolik), maka istilah “Gereja Katolik” yang berarti universal (untuk semua bangsa) menjadi lebih mudah dipahami oleh jemaat saat itu. Akhirnya, pada abad ke-4, Katolik secara luas telah dipakai sebagai nama dari Gereja yang didirikan oleh Kristus sendiri.

Sejarah mengakui bahwa pada masa hidup St. Ignatius, Rasul Petrus adalah Uskup di Antiokia. Gereja mempercayai bahwa Rasul Petrus-lah yang mentahbiskan St. Ignatius. Bisa dibayangkan betapa dekat hubungan St. Ignatius dengan Rasul Petrus (dan tentunya St. Paulus yang sering berdiskusi dengan Rasul Petrus). Demikian pula St. Polycarp, dia adalah murid Rasul Yohanes. Sejarah Gereja menunjukkan betapa besar pengaruh Rasul Yohanes dalam karya-karya St. Polycarp. Bahkan, melalui karya-karya beliau, keaslian ketiga surat Rasul Yohanes bisa dibuktikan.

Apa yang bisa disimpulkan dari riwayat kehidupan St. Ignatius dan St. Polycarp? Fakta bahwa istilah “katolik” dipakai pada saat Rasul Yohanes masih hidup, dan mengingat pengaruh para Rasul pada hidup mereka, bukan tidak mungkin kalau istilah “katolik” tersebut berasal dari para Rasul. Bukankah salah satu masalah penting pada jaman para Rasul adalah mengenai ke-“katolik”-an Gereja, yaitu apakah karya keselamatan Allah juga ditujukan kepada bangsa-bangsa selain Yahudi? Bukankah Kristus sendiri yang mengatakan “Pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Ku perintahkan kepadamu....…(Mt 28:19, 20)”? Bukankah ini berarti bahwa Kristus sendiri yang mengajarkan Gereja untuk bersifat Katolik?

Gereja disebut Katolik karena dua hal. Pertama (sebagaimana diungkapkan oleh St. Ignatius) Kristus ada di dalamnya, dan Kristus telah lahir ke dunia untuk semua umat manusia. Kedua, karena Kristus sendiri yang telah memerintahkan Gereja untuk melaksanakan misi ke seluruh umat manusia.

Sebagai penutup, seperti kita baca pada buletin edisi lalu dikatakan bahwa hampir semua denominasi Protestan mengatakan "Hanya Alkitab sumber Iman Kristiani" (Sola Scriptura). Itulah dasar berpikir mereka bahwa istilah Gereja Katolik itu tidak alkitabiah. Seandainya pendekatan ini benar, maka TIDAK ADA sebuah Gereja dari denominasi manapun yang mempercayai Tritunggal. Mengapa? Karena istilah tersebut tidak ada di Alkitab dan dipakai pertama kalinya oleh St. Teofilus (181 AD), seorang uskup Gereja Katolik!

Kristus telah lahir ke dunia untuk semua orang, demikian pula kita telah diutus untuk menjadi saksiNya bagi semua orang. Marilah pada saat pengucapan/pembaharuan janji baptis, kita berkata dengan penuh keyakinan: “Aku percaya akan Gereja Katolik yang Kudus”

(disarikan oleh Stephan Onggo, 2000)

Sumber:
Catholic Encyclopedia, New Advent (http://newadvent.org)
Saints & Angels, Catholic Online (http://www.catholic.org)
The Defenders of the Catholic Faith (http://www.catholic-convert.com)

<menu>


“Belum terbiasa……”

Father John…. Ah! belum terbiasa rupanya lidah ini memanggilnya dengan gelar baru. Tanggal 2 Desember kemarin di Petaling Jaya, kota tempat lahirnya 34 tahun yang lalu, seorang Brother dari Fransiskan ini ditahbiskan. Hampir sekitar seribu umat dalam misa tiga bahasa (Inggris, Melayu/Indonesia, dan Mandarin) menjadi saksi dan merestui pentahbisannya bersama dengan rekannya, Friar Moses Yap OFM.

Sungguh suatu kehormatan bagi redaksi atas kesempatan bisa bertemu dengan Father John yang cukup banyak bercerita tentang liku-liku panggilannya. Brother John Wong, begitulah dulu biasanya mudikans akrab memanggil, mengalami masa kecil di Petaling Jaya bersama dengan ayah, ibu dan seorang saudarinya. Gereja St Francis Xavier, tempat ia ditahbiskan merupakan tempat pertama ia mengenal Gereja. Di situ ia dibaptis, pertama kali mengaku dosa, menyambut komuni pertama, menerima sakramen penguatan dan menjalankan tugas pelayanan.

Pada masa-masa itu John Wong kecil sama sekali tidak pernah berpikir bahwa dirinya nanti akan menjadi seorang imam. Meskipun masa-masa sekolah dasar dan menengah dihabiskannya di La Salle Brothers, sekolah binaan Syarikat Jesuit. Panggilan pertama menjadi pastor muncul ketika ia sedang belajar keras untuk menghadapi ujian pada tahun pertama kuliah (1985) di University of New South Wales, Australia. Awalnya, panggilan dari suara hatinya ini ditanggapi dengan tidak serius. Namun Tuhan berkehendak lain. Tiga tahun kemudian, pada peristiwa yang sama yaitu ketika belajar menghadapi ujian, suara hatinya kembali muncul. 

Setelah lulus dengan gelar Bachelor of Science bidang Arsitektur UNSW, John Wong menanggapi panggilan itu dengan mengikuti Vocation Camp selama satu minggu dan ternyata panggilan itu pun semakin kuat. Mulailah ia mencari-cari dan terus menerus merefleksi panggilan-panggilannya. Waktu itu ia hanya mengenal tarekat Mission of Sacred Heart. Namun hatinya masih belum pasti bahwa ditempat itulah ia menjalani panggilanNya. Belum lagi dilema-dilema yang muncul kemudian ketika ia harus memilih kembali ke Malaysia atau tetap bekerja sebagai arsitek di Sydney. Tawaran menjadi PR (Permanent Resident) Australia pun menjadi hal yang dipertimbangkannya. Ia diberi kesempatan berpikir selama 2 tahun untuk menentukan pilihan. Akhirnya keputusannya adalah kembali ke Malaysia.

Yang termasuk dalam kebingungannya juga adalah ketika memilih tarekat tempat ia nanti akan berkarya. Kesemuanya baik, begitu ungkapnya, tetapi ia ingin mencari tempat yang cocok baginya. Sekitar bulan Maret 1993, John Wong penasaran dengan sebuah advertisement di Catholic News tentang Fransiscan Friary. Keingintahuannya itu di-follow up dengan surat-menyurat, sampai kemudian ia mendapat surat undangan untuk interview. Interview pertama masih belum yakin bahwa ia akan memasuki tarekat tersebut. Bulan Agustus 1993, ordo Fransiskan mengadakan seminar. Dalam seminar itu John Wong tertarik dengan pribadi St. Francis of Assisi. St. Francis yang bersatu dengan alam, rendah hati, dan dapat melihat kebaikan di dalam setiap hal, menjadi sosok yang membuat John Wong berketetapan hati masuk biara Fransiskan. John Wong menyadari bahwa semua yang telah ia lakukan dalam melayani Tuhan di aktivitas gereja, kehidupan sosial melayani sesama adalah bagus, tetapi ia merasa itu belum cukup.

I devote my life to God.... Mataku sudah terbuka. Aku sudah bisa melihat kekurangan dan kelebihan jalan ini,” itulah keputusannya. “Aku senang visinya (St. Francis). Di sini ada peluang untuk melayani Gereja, umat Allah dan semua manusia dengan lebih terbuka.” Kata-kata ini diuraikannya kembali berkenaan dengan ketiga kaul yang kelak dijalaninya. Kaul ketaatan, bukan hanya taat kepada Gereja atau superiornya, tetapi juga taat melayani umat Allah; kaul kemiskinan membuat lepas dari ikatan-ikatan harta duniawi; kaul kemurnian bukan hanya sekedar tidak menikah, tetapi menjadikannya lebih bisa mengasihi siapa saja.

Keputusan ini pun bukanlah hal yang mudah untuk dilaksanakan karena dilema-dilema kembali muncul. Orang tua yang meskipun tidak menghalangi, pada awalnya tidak merasa gembira menerima keputusan ini. Sang pacar demikian juga. Tetapi kehendak Tuhan berjalan di atas kehendak manusia. John Wong akhirnya menjalani pendidikan seminari di Fransiscan Friary dan seterusnya berkarya sebagai diakon di Church of St Bernadette, berjumpa dengan kita-kita... mudikans dan KKIS...

Selama 7 tahun di seminari, pria jangkung berperangai kalem ini banyak menjalani misi di berbagai tempat, antara lain Singapura, Thailand, Malaysia Timur (Serawak), Kuala Lumpur, dan Indonesia. Orang-orang yang dilayaninya selama misi itu meliputi pasien AIDS, anak-anak jalanan, orang-orang kusta dan bahkan juga orang-orang desa yang ingin membangun desanya serta orang-orang lain (elderly, disabled, catechuments, dlsb). Father John juga pernah meminta supaya ia dikirim ke Timor-Timur untuk membantu penduduk di sana, namun karena keadaan tidak memungkinkan, beliau akhirnya dikirim ke Flores.

Ketika ditanya kesan-kesannya setelah ditahbiskan, Father John mengatakan bahwa ia (dan Father Moses) masih belum terbiasa dengan gelar ‘Father’-nya. (Ya..., kami juga belum terbiasa kok Brother.. eh Father...) Hal lain adalah kesan bahwa mereka seakan-akan di’sanjung’ oleh umat. “It’s like putting us high upon a pedestal.” Padahal, menurut dia, pentahbisan itu bukanlah berkenaan dengan status, tetapi pelayanan. “Kami ditahbiskan untuk melayani, bukan dilayani……Pentahbisan ini bukanlah akhir, tetapi menjadi semakin terbukanya kesempatan kami untuk melayani…….Semua orang sama saja dihadapan Allah. Kita main peran yang berbeda tetapi dengan status yang sama, anak Allah.” Karena itulah mengapa misa pentahbisannya mengambil tema ‘Walk Humbly With God.’ Rupanya komitmen ini yang sekarang dijalani Father John dengan tulus dan senang hati seperti Yesus yang melayani dengan membasuh kaki murid-muridnya. “No regret. Sudah pasti.”

John Wong sekarang sudah menjadi seorang imam. Harapan-harapannya kepada umat Allah terutama kaum muda adalah supaya umat Allah selalu sadar, sadar akan “their dignity as human beings”, “their dignity as the children of God”, dan selalu terbuka melihat panggilan Tuhan dalam hidup. Beliau mulai menjalankan tugas pertamanya di Church of St. Mary of the Angels, Bukit Batok, pada 15 Januari tahun depan. Ia juga seorang friar, berada di antara kita, umat Allah. Selamat berkarya Father, pasti nanti jadi terbiasa kok  ^_^ (rwa).

<menu>
 

 
 

Kilas Balik


Operation Klintingan


Mission Commander: Cik Kurnia
Code Name: Klintingan
Naval Base: Suntec City Convention Center
D-day: Dec 13 and 14, at 1700 hour
Mission Objective: Christmas caroling in aid of Assisi Home and Hospice as well as Assisi Children’s Centre

Dashing through the snow, in a one-horse open sleigh …”

And so sang a jolly bunch of cute lads and lasses. It was Mudika’s debut performance in Suntec City on that fateful weekend. Dressed in red, green, and yellow (rest assured we are not affiliated with any political parties), and wearing the red Santa’s hats, the Klintingan swayed rhythmically to the tune of the carols. And if Auntie Dolly were there, I bet she would have said “sooo adorable…” (emangnye boneka Jogja?)

Besides supporting the Assisi Home and Hospice as well as their Children’s Centre, our objective was also to bring in the Christmas spirit and joy to some passing-by shoppers. Some shyly and tiredly sat down on the floor, some sang with us enthusiastically, some curiously gawked at us from the second floor, while some didn’t even bother to give us a wink. And our heartfelt gratitude goes to a few die-hard mudikans and KKIS members who supported us zealously throughout. As a birthday invitation card usually says, ”Tiada kesan tanpa kehadiran anda.”

That weekend, Mudika’s karaoke kings and queens revealed their talents. Led by Felis’ White Christmas, Bambang and Fenny did a duet in “Santa Claus is Coming to Town”. The whole Suntec City was gasping when Monique sang “The Christmas Song”, and a vigorous clapping thundered down when she finished it. Many of us must have thought she was simply lip-singing ? Paul and Juwita then carried out a beautiful duet in “O Little Town of Bethlehem”. The ever-challenging “It’s Beginning To Look A Lot Like Christmas” was executed well by Ferdinand, followed by Djoni and Reni’s Rudolph the Red-nosed Reindeer.

With Feliz Ke Tandaz, eh salah, Feliz Navidad, the Operation Klintingan was completed with big smiles, laughters, and handshaking amongst all of us. Tak lupa acara favorit kita jepret-jepret rame-rame. Although there was no recording company that came to offer us to sign a contract, Jesus did come into our hearts, and to me nothing beats this!
(simon)

Don't hesitate to join the upcoming operations:

  • Choir in English Christmas Mass (Monday Morning, 10:45, 25 Dec, at Church of St. Bernadette)
  • Indonesian Christmas Mass and KKIS Christmas Celebration (Monday Afternoon, 16.30, 25 Dec, at Church of St Bernadette)

<menu>
 

 
 
 
Jangan Lupa:

Jangan lupa.........Legio Maria
Jam 11.00 tiap minggu ke-2 dan ke-4
Jam 15.00 tiap minggu ke-1, 3 dan 5
Tempat: Classroom 4, Parish Centre Level 3, Church of St. Bernadette.
Selengkapnya hubungi Sunny <[email protected]>

Jangan lupa............................mudika ada pendalaman iman.
Tiap hari minggu ke-1, 3 dan ke-5 setiap bulan. Tempatnya di Gereja St. Bernadette, jam 11:00. Selengkapnya hubungi Kurniawan <[email protected]>
(Sie Rohani)

Jangan Lupa .......................tiap hari Jumat ada koor.
Tempatnya di ruang koor (choir room) Gereja St. Bernadette, jamnya 19:30.
Kalo bingung, bisa nanya Reni <[email protected]>
(Sie Koor)

Jangan Lupa ........................olahraga biar badan tetap fit dan sehat.
Ada tennis tiap Sabtu ke-2 dan 4, jam 17:00 - 20:00.
Ada badminton tiap Minggu ke-1, 3 dan 5 jam 15:00.
Ada basket tiap Sabtu ke-1, 3 dan 5 jam 08:00.
jangan lupa juga hubungi Heri <[email protected]>
biar nggak tersesat. dan ketinggalan bus. 
(Sie OR )

Jangan Lupa ..........................mudika selalu asyik kegiatannya.
Termasuk yang udah lewat, mau tau ????
Klik aja di sini...
 

<menu>

 

 

Serba-serbi
    Kado Istimewa

    Tuhan, 
    Telah kususuri jalan-jalan kota
    Kutelusur lorong-lorong pelosoknya
    Telah kumasuki pintu-pintu stall setiap mall
    Kucari-cari antara selipan, kotak, dan rak
    Namun tak kunjung jua kutemu kado istimewa untukMu

    Tuhan,
    Hari ini ku sujud kepadaMu
    Mempersembahkan kado istimewa untukMu
    Kutemukan ia di dalam hatiku
    Sembah puji akan cinta agungMu
    Meresaplah selalu dalam hatiku
    Biar kubagi untuk sesamaku
     
     

    Selamat Natal dan Tahun Baru
    (anon)


<menu>

 


Yang Segera Tambah Umur
 

5-Jan Hendra Mardiyo
6-Jan Aika Yuri Winata
7-Jan Irma Arsianti
7-Jan Reza Andradi
8-Jan Helina Arif
10-Jan Vera
12-Jan Kurniadi
13-Jan Francisca Yunita Susanto
18-Jan Philip Setiadi
23-Jan AC Mahendra K Datu
27-Jan Jenilia Kustono
27-Jan Thio Yenny
29-Jan Joy Wahyudi
28-Jan Maria Cynthia
30-Jan Grace Debby Suhaedy
31-Jan David Thesman
31-Jan Jeane Rebecca Hartono
 



<menu>



Any question and suggestion??
E-mail [email protected]

Back to Bulletin Index
Back to Main Page
 

©Mudika-KKIS 1998-2000. All rights reserved.


Hosted by www.Geocities.ws

1