#21
November 2000 Edition
Tim Redaksi:
Robertus Wahendro Adi, Stefanus Djoni, Heru Wibawa (photographer) 
  
Sekapur Sirih
Salam jumpa kembali dalam e-bulletin kali ini. Persembahan-persembahan dalam edisi ini khusus untuk mempersiapkan diri kita akan suatu peristiwa besar yang setiap tahun datang dan pergi, Natal. Sejak sekitar 2000 tahun lalu, kelahiran Yesus telah menjadi titik awal bagi sejarah puncak keselamatan manusia. Dari masa ke masa, peristiwa itu menjadi kenangan seluruh bangsa. Mengingatkan kita akan kehadiran Tuhan, mengingatkan kita akan cinta Tuhan, which always accompanies us in our journey. Juga teman kita, Stanley, melalui "Our Journey Together" bagi-bagi cerita tentang pengalamannya mengikuti pelajaran katekumen di KKIS.

Semoga persembahan kali ini bisa bermanfaat bagi rekan-rekan semua.
Selamat membaca.

(Redaksi)
 


MENU
*
Sekapur Sirih
Kilasan Info 
Utama: Apakah Hanya Alkitab Dasar Iman Kita?
Manusia Memahami Cinta
Kilas Balik
Jangan Lupa
Serba-serbi
Yang Segera Tambah Umur

*

 

Kilasan Info


Our Journey Together


Mungkin ada di antara rekan-rekan sekalian yang sudah mengetahui apa yang dimaksudkan dengan judul kalimat di atas. Judul tersebut adalah judul dari buku pegangan yang digunakan para peserta katekisasi KKIS di gereja St. Bernadette.

Saya sendiri sudah pernah mengikuti pelajaran katekisasi ini di Jakarta. Bahkan sudah dua kali mengikutinya. Pada saat itu saya menggunakan buku penuntun "Damai Bagimu".
Karena kesibukan pada saat itu, saya tidak sempat menyelesaikannya sesuai dengan waktunya. Bahkan karena pindah kerja di Singapore, tidak memungkinkan bagi saya untuk meneruskannya.

Kesan saya pada saat mengikuti katekisasi di Jakarta adalah bertambahnya pengetahuan mengenai Katolik. Dari pembahasan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, tata cara upacara, sakramen, dan seterusnya yang berhubungan dengan Katolik, yang sebelumnya belum pernah mengetahui atau hanya sedikit mengetahui.

Namun ada sedikit kekurangan dari metode pengajarannya. Bahkan ada juga yang mengatakan menjemukan. Hal ini terjadi karena hubungan antara pengajar dengan yang diajar secara satu arah. Sehingga hal-hal seperti mengantuk, membosankan, dan teman-temannya akan mudah muncul. Dan akhirnya akan mengakibatkan intensitas untuk mengikuti proses katekisasi menjadi berkurang. Apalagi waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pelajaran terhitung cukup lama, sekitar satu tahun. Sehingga tidak mengherankan apabila jumlah peserta yang dapat mencapai garis finish hanyalah beberapa persennya saja.

Setelah saya mengikuti metoda yang diterapkan KKIS di St. Bernadette dalam memberikan pengajaran, saya merasa cara yang diberikan lebih baik dari yang pernah saya dapatkan sebelumnya. Di sini kita mempelajari agama Katolik dengan memberikan gambaran sesuai dengan kehidupan sehari-hari. Juga ditampilkan ayat-ayat yang berhubungan dengan kejadian sehari-hari tersebut. Kemudian didiskusikan antara katekumen dengan pembimbing.

Dari sini kita juga membicarakan mengenai hal-hal yang pernah kita hadapi dan saling bertukar pemikiran dan pengalaman. Apalagi kalau yang berbicara adalah Frater John Wong yang akan ditahbiskan menjadi romo tidak lama lagi dan para ibu dan bapak dari KKIS, dijamin enak punya.

Karena menggunakan cara interaktif dengan cara berdiskusi ini, maka jumlah yang dapat mengikuti pelajaran ini pun tentunya tidak dapat terlalu banyak. Total jumlah yang ideal adalah di bawah sepuluh orang. Dan juga waktu yang dibutuhkan minimal adalah dua jam. Peserta utamanya sendiri tentu saja adalah orang-orang yang berminat menjadi Katolik yang kemudian akan dibaptis. Kemudian para pembimbing dan juga orang-orang yang berminat untuk dapat turut serta membahas ajaran Katolik.

Dan bagi para mudika maupun para Bapak dan Ibu KKIS yang berminat untuk mengikuti pelajaran ini, dapat hadir pada setiap hari Minggu, pukul 8:30 dan / atau pukul 13:00. Silakan datang dan buktikan sendiri apakah cara "Our Journey Together" ini lebih baik atau tidak.

Terakhir, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Frater John Wong, Tante Josephine, Oom Adi dan Tante Agnes, atas segala bimbingan yang telah diberikan selama ini. Dan juga kepada Kurniawan, Andri, Mario, Moerti, Djoni, El Fie, Monique, Anna dan para calon yang telah membantu berjalannya kegiatan katekumen ini.

(Stanley)

<menu>
 

 

Utama


Apakah Hanya Alkitab  Dasar Iman Kita?


Hampir semua denominasi Protestan mengatakan "Hanya Alkitab sumber Iman Kristiani" (Sola Scriptura), tetapi tidak untuk gereja Katolik. Lalu apakah dengan ini gereja Katolik tidak menghargai Kitab Suci? Oh, tentu tidak, sebab Alkitab sendiri ditetapkan oleh gereja Katolik; maka adalah aneh jika justru Katolik tidak menghargai Kitab Suci (untuk lebih jelasnya baca Sejarah Alkitab).

Gereja Katolik menerima Kitab suci sebagai dasar iman, tetapi bukan satu-satunya dasar iman. Mengapa? Sebab masih ada dua hal yang lain, yaitu:

1. Hak Mengajar Gereja (Magisterium)

Mengapa Gereja memiliki wewenang mengajar? sebab Gereja adalah Pondasi Kebenaran; "...jemaat dari Allah yang hidup, tiang penopang dan dasar kebenaran" (1 Tim 3:15); dan juga karena Yesus sendiri memberikan wewenang itu kepada Petrus secara pribadi (Mat 16:18-19) (untuk lebih jelasnya lihat tentang kepausan) dan kepada Para Rasul yang lain (Mat 18:18; Lk 10:16). Atas dasar inilah maka jemaat awal taat pada pengajaran para rasul (Kis 2:42). Lalu apakah hak mengajar ini hanya untuk para rasul atau diwariskan kepada para penggantinya? Tentu saja hak mengajar ini diwariskan, sebab Yesus menjanjikan Gereja-Nya akan bertahan sampai sepanjang masa (Matius 28:20). Kita tahu para rasul tidak akan bertahan sepanjang masa karena mereka adalah manusia; tentu secara akal sehat pastilah wewenang itu diwariskan supaya gereja dengan pola yang sama seperti dahulu (Apostolik) tetap bertahan sepanjang masa.

2. Tradisi Suci

Tradisi Suci adalah ajaran yang tidak tertulis; seperti yang diungkapkan dalam:

  1. Kis 2:42, di mana dikatakan bahwa jemaat kristen perdana bertekun dalam pengajaran para rasul, jauh sebelum tulisan-tulisan Perjanjian Baru sendiri lahir. Jadi kehidupan iman Gereja tidak terbatas pada buku saja, tetapi juga pada ajaran lisan para pemimpin suci yang ditetapkan oleh Tuhan.
  2. 1 Kor 15:3, di mana dikatakan oleh Paulus bahwa kebenaran tentang Yesus Kristus dia terima sendiri (jelas secara lisan)
  3. 2 Tes 2:15, di mana Paulus menasihati umatnya: "Berdirilah teguh dan berpeganglah pada ajaran-ajaran yang kamu terima dari kami, baik itu secara lisan maupun secara tertulis." Ajaran-ajaran yang tidak tertulis semacam itulah yang kita sebut Tradisi.
  4. Yoh 21:25 yang berbunyi: "Masih banyak hal-hal lain lagi yang diperbuat Yesus, tetapi jikalau semuanya itu harus dituliskan satu per satu, maka agaknya dunia ini tidak memuat semua kitab yang harus ditulis itu." Ayat ini menunjukkan bahwa tujuan penulisan Injil bukanlah untuk mendaftar semua ajaran Kristen atau membuat daftar lengkap dari ucapan dan perbuatan Yesus. Yang dia tulis hanyalah hal-hal yang paling mendasar untuk keselamatan manusia. Hal yang sama kiranya berlaku untuk kitab-kitab Perjanjian Baru lainnya.
Apakah Tradisi ini terjamin kebenarannya karena tidak tertulis? Tradisi terjamin kebenarannya karena dipelihara oleh Gereja yang adalah Tiang Pondasi Kebenaran; "...jemaat dari Allah yang hidup, tiang penopang dan dasar kebenaran (1 Tim 3:15).

Contoh Tradisi Suci adalah masalah Maria diangkat ke Surga. Ini sebenarnya adalah Tradisi Apostolik karena paham ini berkembang sejak jaman dahulu ketika masih dekat dengan masa Para Rasul seperti yang diungkapkan di bawah ini:
St. Gregory (594 AD), bishop of Tours, declared that "the Lord ... commanded the body of Mary be taken in a cloud into paradise; where now, rejoined to the soul, Mary reposes with the chosen ones."
St. Germaine I (+732 AD), Patriarch of Constantinople, speaks thusly to Mary, "Thou art ... the dwelling place of God ... exempt from all dissolution into dust."
And St. John Damascene asserted, "He who had been pleased to become incarnate (of) her ... was pleased ... to honor her immaculate and undefiled body with incorruption ... prior to the common and universal resurrection."
Hingga akhirnya paham ini dijadikan dogma secara resmi tahun 1 November 1950 oleh Paus Pius XII. Paham ini juga dapat digali dalam Alkitab (lihat pada "Maria sebagai Tabut perjanjian", "Maria dikandung tanpa Noda dosa", dan "Maria diangkat ke Surga").

Dari contoh di atas, jelas bahwa Alkitab dan Tradisi saling menunjang; bahkan sebenarnya Alkitab adalah Tradisi yang Tertulis seperti yang diungkapkan dalam Lukas 1:1-4; bila kita baca prolog Injil tersebut maka alurnya akan tampak seperti ini: Pada mulanya adalah ajaran lisan yang disampaikan orang-orang yang merupakan saksi mata apa yang diperbuat Yesus dan "Pelayan Firman" lalu Penulis Injil Lukas membukukan semuanya setelah diselidiki kebenarannya supaya memperkuat keyakinan bahwa apa yang sudah diterima (secara Lisan) adalah benar adanya.

Dari uraian di atas nampak betapa eratnya hubungan Tradisi dan Alkitab. Oleh karena itu Alkitab harus ditafsirkan dalam konteks dan dalam kesatuan dengan Tradisi. Sulit membayangkan penafsiran Alkitab lepas dari Tradisi, sebab sebelum Alkitab ditulis, Sabda Allah itu sudah lebih dahulu dihayati dalam Tradisi. Sebaliknya, karena penulisan Alkitab itu ada di bawah pengaruh Roh Kudus sendiri, maka Tradisi yang dihayati Gereja di segala jaman itu harus dikontrol dalam terang Alkitab. Dan dalam menafsirkan Tradisi dan Alkitab, Gereja Yesus Kristuslah yang mendapat wewenang untuk mengajar dan wewenang untuk mengajar soal-soal iman dan susila ada di tangan para uskup sebagai pewaris sah para rasul dengan paus sebagai pemimpin, yakni pengganti Petrus. Mengapa? Sebab dalam 2 Pet 3:15-16 diingatkan bahwa Alkitab sangat sulit untuk dimengerti sehingga butuh wewenang khusus untuk menafsirkannya, dan wewenang itu ada di tangan Gereja yang sudah diberi wewenang oleh Yesus sendiri.

Semoga artikel ini menambah kecintaan kita kepada Gereja Katolik.

(Sumber: www.gerejakatolik.net)

<menu>


Manusia Memahami Cinta


Straits Times edisi 22 Nopember 2000 memuat laporan bahwa masyarakat Amerika paling sering mengucapkan ‘I love you’ dibandingkan masyarakat dari tempat lain. Tiga per empat dari mereka mengucapkan kalimat itu minimal sekali sehari. ‘Love’ termasuk dalam 10 kata favorit masyarakat Inggris [The Times, 19 Oktober 2000].

<‘Love’, atau ‘Cinta’ - ‘Kasih’ dalam bahasa Indonesia, sejauh manakah kita mengerti maknanya?>

Sejarah mencatat, satu kata ini telah banyak memberikan inspirasi berkarya bagi berjuta musikus, cerpenis, pelukis, penulis, filsuf, dan boleh dikatakan seluruh umat manusia di bumi. Dalam kehidupan sehari-hari, sepasang kekasih mengungkapkan “I love you’ sebagai tanda cintanya. Seorang anak berkata kepada ibunya“I love you”, demikian juga orang tua kepada anaknya, seorang lain kepada temannya, guru kepada murid, nenek kepada cucu. Penggemar sepakbola mengatakan “I love the Premiership”, “I love Arsenal”. Juga seorang perempuan berkata tentang anjingnya, “I love my dog”, atau seorang yang sedang di etalase toko, “I love this jewel”. Ada juga kata-kata dan phrase-phrase seperti “make love”, “love affair”, “lovesick”, “lover”,”lovely”, “lovelorn” dan lain sebagainya.

Namun demikian, makna kata ini masih menjadi suatu yang misterius dan sepertinya tidak satu pun manusia di bumi ini yang bisa mengklaim diri memberi sebuah penjelasan yang memuaskan. Kemisteriusan makna yang terkandung di dalamnya bahkan bisa menyamai kemisteriusan ‘Tuhan’. Banyak filsuf dan ahli psikoanalysis mencoba untuk merumuskan pengertian-pengertian cinta. Cinta yang dalam satu sisi dianggap sebagai sebuah fenomena alamiah manusia, di sisi lain dianggap sebagai sebuah konsep yang irasional.

<“When you say ‘I love you’, does it mean ‘I want you’?” >

Cinta sejati, true love, merupakan istilah yang sangat populer. Istilah ini mengandung pengertian cinta yang sebenar-benarnya, cinta yang membahagiakan, cinta abadi, cinta yang membebaskan. Kata Sting ‘if you love somebody, set them free’. Benarkah? Ataukah ini sebatas konsep yang hanya berlaku dalam tataran idea? Bagaimana implementasinya pada tataran praktis? Adakah cinta yang tidak sejati?

Seorang yang jatuh cinta akan merasa sakit hatinya karena kehilangan kekasihnya. Seorang ibu bersedih berpisah dengan anak yang dicintainya. Seorang selalu berharap didampingi oleh orang-orang yang dicintainya. Tanpa dipungkiri fenomena-fenomena semacam ini seringkali ada dalam setiap kehidupan manusia, dari dulu hingga saat ini. Sebuah kenyataan bahwa semakin manusia mencintai, semakin ia mengikatkan diri.

Dalam istilah Yunani cinta dikelompokkan dalam tiga istilah: eros, philia, agape. Eros merujuk pada cinta yang penuh dengan keinginan menggebu akan sesuatu. Dalam hal ini, cinta lebih kepada sesuatu yang bersifat keindahan, kecantikan dan keanggunan. Seringkali eros diasosiasikan sebagai cinta karena ketertarikan seksual. Philia merujuk pada cinta persahabatan, cinta orangtua kepada anak, cinta saudara dalam keluarga, cinta akan suatu pekerjaan, dsb. Sedangkan agape adalah cinta yang bersifat universal. Agape mengacu pada hubungan paternal manusia dengan Tuhan. Cinta ini juga diperluas pengertiannya sebagai cinta kepada sesama manusia. Agape adalah cinta yang sempurna dengan unsur transendensi di dalamnya, dan tidak berharap untuk menerima balasan.

Kitab suci mencatat banyak hal tentang cinta.
Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu” (Ul 6:5; bdk Mat 22:37, Mrk 12:30, Luk 10:27) adalah hukum tertinggi yang diajarkan Yesus; yang setara dengannya: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Im 19:18; bdk Yoh 13:34, Mat 22:39, Mrk 12:31, Luk 10:27), bahkan “…..Kasihilah musuhmu….” (Mat 5:44. Luk 6:27). Rasul Paulus menguraikan cinta/kasih dalam I Korintus 13. Kidung Agung Salomo: “…taruhlah aku seperti meterai pada hatimu, seperti meterai pada lenganmu, karena cinta kuat seperti maut……… nyalanya adalah nyala api, seperti nyala api Tuhan. Air yang banyak tak dapat memadamkan cinta, sungai-sungai tak dapat menghanyutkannya ……”. St. Agustinus, St. Aquinas, St. Francis... masih banyak lagi yang mengarungi dan mendalami misteri cinta ini.

Kembali kepada diri kita, apakah makna cinta bagi kita? sejauh mana kita mencinta?
When you say ‘I love you’, who, or what, are you referring to?

(‘ndro)

Beberapa 'quotes' tentang cinta ...

  • You learn to speak by speaking, to study by studying, to run by running, to work by working; and just so, you learn to love by loving. All those who think to learn in any other way deceive themselves. Saint Francis de Sales
  • Where there is love there is life. Mahatma Gandhi
  • When you love you should not say, "God is in my heart", but rather, "I am in the heart of God". Kahlil Gibran
  • Do you love me because I'm beautiful, or am I beautiful because you love me? Oscar Hammerstein, II
  • Love is a condition in which the happiness of another person is essential to your own. Robert Heinlein
  • There is only one happiness in life, to love and be loved. George Sand
  • I love thee, I love but thee,.... With a love that shall not die....Till the sun grows cold, ....And the stars grow old... William Shakespeare
  • I need you to love, you need me to be loved, love needs us to exist. 'ndro :-)


<menu>
 

 
 

Kilas Balik


Koor dan Makan Cendol
Rutin Jumat (plus Rabu malem)

Kuis bulan ini: Apa hubungan antara Koor dan Makan Cendol? Siapa bisa hayoo…

Hari-hari di bulan ini dan bulan depan menjadi hari sibuk bagi paguyuban Koor Mudika. Bagaimana tidak, order-order untuk tampil selalu mengalir: Carolling, Misa Natal, dan ‘Makan Cendol’ …… selain untuk pelayanan misa indo rutin minggu keempat tentunya.

Makanya Koor’ans sedang giat berlatih akhir-akhir ini. Hari latihan pun di-extend ke hari Rabu malem. Yang ini khusus latihan untuk makan cendol eh … misa pentahbisan Frater John Wong di KL, tanggal 2 Desember nanti. ‘Makan Cendol’ adalah kata sandinya, soalnya rencananya kita akan menyerbu warung cendol KL. Hermanto sudah siap jadi panglimanya!

Selamat berlatih koor mudika. Soprano, altois, tenoris (bukan: teroris), dan bass, kita mendukung dan berdoa buat Frater John Wong supaya lancar-lancar aja pentahbisannya, dan sukses menjalani misi-misi pastoral selanjutnya.
 

Badminton
Minggu sore, jam 15.00-17.00

Dari lapangan olah raga dilaporkan bahwa atlet-atlet badminton mudika minggu kemarin giat berlatih di Singapore Telecom Academy: Bambang, Fenny, Heri, Budi, Ping Ping, Judith, Erik, Hendro ditambah dengan seorang supporter dari laut, Nanand. Wah… asyik juga ya maen badminton. Eh gak hanya badminton ding, di situ juga ada meja pingpong, so bagi kamu-kamu yang suka pingpong juga bisa maen di situ, seperti kemarin: Judith, Heri dan Hendro. Juga tersedia kolam renang yang super sepi jadi bisa ‘mandi’ sepuas- puasnya. Ya gak Nan?
 

Makan Club

Rupa-rupanya lidah dan perut juga diberi perhatian khusus oleh mudikans. Terbukti dengan mulai berdirinya Makan Club yang mengkhususkan diri menghabiskan makanan-makanan lezat dan murah di akhir minggu sambil jalan-jalan bareng menikmati liburan. Sialnya, Mr. Alex, si pelopor tidak bisa menghadiri acara pertamanya minggu kemarin di Ivin's gara-gara sakit perut abis makan sayur asem (sudah tau ‘asem’, masih dimakan, salah elo Kur).

Laporan dari Ivin's mengatakan bahwa Nanan berhasil melahap habis dua porsi nasi, Bambang dan Hendro satu setengah (terus terang gue masih mau nambah…) sementara yang lain cukup satu. Akhir acara tidak menyisakan satu pun dari sekian porsi Honey Pork, Udang sambal, Cap Cay (yang cuman ada dua macam sayur), sambal kangkung, otak-otak, chicken apa tuh lupa dan macam-macam dessert.

Wah oke juga nih……minggu ini ikutan lagi ah……. Dijamin less than S$20, kalo lebih minta bayarin aja ama Bang Alex, ketua clubnya.

Cheers.


Untuk Ambon

Aktivitas memberikan bantuan untuk saudara-saudara di Maluku masih terus berjalan. Hari Minggu 12 November lalu, Grace Riyanto, seksi sosial mudika, mengkoordinir pengumpulan baju-baju bekas layak pakai untuk disumbangkan ke pengungsi di Manado. Sementara itu, sampai saat ini dana sumbangan berupa uang masih terus diterima sampai tanggal 26 Nov (baik sebelum maupun sesudah misa indo). Sumbangan akan diteruskan ke Romo Ismartono, SJ yang akan ikutan kita nanti ke Kuala Lumpur.

Bagi teman-teman silakan hubungi Felis untuk keterangan lebih lanjut.
 

<menu>
 

 
 

Jangan Lupa:

Jangan lupa.........Legio Maria
Jam 11.00 tiap minggu ke-2 dan ke-4
Jam 15.00 tiap minggu ke-1, 3 dan 5
Tempat: Classroom 4, Parish Centre Level 3, Church of St. Bernadette.
Selengkapnya hubungi Sunny <[email protected]>

Jangan lupa............................mudika ada pendalaman iman.
Tiap hari minggu ke-1, 3 dan ke-5 setiap bulan. Tempatnya di Gereja St. Bernadette, jam 11:00
selengkapnya hubungi Kurniawan <[email protected]>
(Sie Rohani)

Jangan Lupa .......................tiap hari Jumat ada koor.
Tempatnya di ruang koor (choir room) Gereja St. Bernadette, jamnya 19:30.
Kalo bingung, bisa nanya Reni <[email protected]>
(Sie Koor)

Jangan Lupa ........................olahraga biar badan tetap fit dan sehat.
Ada tennis tiap Sabtu ke-2 dan 4, jam 17:00 - 20:00.
Ada badminton tiap Minggu ke-1, 3 dan 5 jam 15:00.
Ada basket tiap Sabtu ke-1, 3 dan 5 jam 08:00.
jangan lupa juga hubungi Heri <[email protected]>
biar nggak tersesat. dan ketinggalan bus. 
(Sie OR )

Jangan Lupa ..........................mudika selalu asyik kegiatannya.
Termasuk yang udah lewat, mau tau ????
Klik aja di sini...


<menu>

 

 

Serba-serbi

    IMAN

    Ada seorang petani yang beserta keluarganya menjadi orang yang percaya dalam suatu misi penginjilan di wilayah terpencil tempat tinggalnya. Tema kotbah waktu itu, "Iman dan Pengharapan", begitu tertanam di benak petani tersebut.

    Keesokan harinya, sedang ia bersiap-siap melakukan perjalanan menuju pasar terdekat untuk menjual kayu bakar, tertegun ia memandang gunung yang harus dilaluinya sambil teringat kotbah kemarin:

    "Jikalu engkau memiliki iman sebesar biji sesawi saja, apabila engkau perintahkan kepada gunung 'beranjaklah', maka gunung tersebut akan beranjak dari hadapanmu..." Segera dipikirnya untuk memindahkan gunung tersebut supaya memudahkan perjalanannya setiap hari.

    Maka berpuasalah petani tersebut dengan maksud "menumbuhkan iman sebesar biji sesawi". Pada suatu senja, setelah dirasakannya cukup imannya untuk memindahkan gunung, maka berserulah ia kepada gunung di hadapannya:

    "Besok pagi, hai gunung engkau harus beranjak dari situ supaya aku tidak bersusah payah pergi ke pasar dengan melintasi engkau!"

    Lalu ditutupnya jendela kamarnya untuk beristirahat malam itu.

    Keesokan harinya saat petani terbangun, dengan semangat segera dibukanya pintu jendela kamarnya itu. Kemudian sambil tersenyum kecil dia berteriak kepada istrinya:
    "Sayangku, seperti dugaanku kemarin, gunung itu masih di tempatnya..."


    Satu bulan lagi Natal. Hiasan indah, lampu-lampu bernuansa biru, dan pohon natal megah telah mewarnai Orchard Road dan sekitarnya. Mall, shopping centre dan semacamnya sudah memasang banyak poster dan menjual kartu ucapan. Orang-orang sibuk memilih dan berbelanja hadiah natal. Toko-toko bersaing berebut pembeli. Meriah, gemerlap, gembira, dan pesta, itulah suasananya. Tetapi, untuk apakah itu? Untuk siapakah Natal? Mengapa Natal? Siapa Bernatal? Dan apakah Natal?
    Marilah kita merenungkan arti Natal. Persiapkan diri kita untuk Natal mulai saat ini
    (NN)


<menu>
 


Yang Segera Tambah Umur


4-Dec Deasy
8-Dec Eric Sarayar
11-Dec Ferdy Ferdiant
13-Dec Irene Tika Basani
13-Dec Surianto Ely
14-Dec Grace Widyalestari Rianto
15-Dec Erni
15-Dec Margie
17-Dec Natalia
18-Dec Herman susilo
20-Dec Renatha B Dharma
21-Dec Lani Setiawati
24-Dec Sukmawati/Chen Chen
25-Dec Yesus
26-Dec Vivi
27-Dec Aina Taslim
27-Dec Christina Harun
30-Dec Margaretha Shanney Devy Vanessa
31-Dec Stan


<menu>



Any question and suggestion??
E-mail [email protected]

Back to Bulletin Index
Back to Main Page
 

©Mudika-KKIS 1998-2000. All rights reserved.


Hosted by www.Geocities.ws

1