#18
August 2000 Edition 
Tim Redaksi:
Robertus Wahendro Adi, Ganny Tombokan, Stefanus Djoni, Heru Wibawa
  
Sekapur Sirih


Tell the world I'm out
I want to meditate
I want to learn who I am
and why I am here

I want to meditate and think
about the wonders of nature
I want to be free to feel
the meaning of life

(Davis Polis)

Dua bait syair di atas sudah cukuplah kiranya menggambarkan kebutuhan manusia untuk sekedar mundur sejenak dari 'dunia' dalam rangka ingin mendalami dan memahami sebuah makna kehidupan yang sebenarnya.

Dalam edisi kali ini, e-bulletin ingin sekali membagikan hal-hal yang menjadi pengalaman sekaligus perenungan mudikans yang telah didapat selama 'mundur' sejenak dalam Retret Mudika 2000, 3-6 Agustus kemarin. Waktu yang singkat bukanlah parameter mutlak penentu sedikitnya hal yang didapat; terlebih adalah apa yang telah didapat itu terus-menerus menggema di dinding-dinding lorong kalbu yang seterusnya mengamplifikasi api semangat untuk kembali hidup dalam dunia nyata. Hal inilah yang terjadi dalam diri 'merpati-merpati muda' KKIS.

Retret Mudika 2000 tidak hanya berhenti sebagai sebuah romantisme belaka, tidak hanya sebuah kenangan manis yang terngiang-ngiang mengantung di awang-awang, tetapi lebih menjadi hidup dan menjadi bagian dari hidup itu sendiri. Berbagai macam follow-up dari masing-masing peserta cukup menggambarkan ini.

Akhirnya bagi para pembaca, selamat menikmati sebagian oleh-oleh retret melalui e-bulletin kali ini.
Tuhan memberkati.

(Redaksi)
 



MENU
*
Sekapur Sirih
Kilasan Info 
Utama: Holiday With The Lord
Oleh-oleh Retret
Kilas Balik
Jangan Lupa
Serba-serbi
Yang Segera Tambah Umur

*

 

Kilasan Info


RETRET

Manusia makluk sosial, artinya makluk yang memerlukan �socius� (Bahasa Latin: teman). Dia tidak sendirian; dia hidup di dalam dan karena orang lain, sehingga tertulis di dalam alkitab: �tidak baik kalau manusia itu seorang diri saja� (Kejadian 2:18). Tetapi, meskipun demikian, dia tetap seorang �diri�, seorang yang memiliki harga diri, seorang yang bertanggung jawab sendiri. Manusia adalah seorang �diri� meskipun dia tidak sen-�diri�-an.

Kenyataan bahwa dia seorang �diri� itu kadang-kadang membuatnya ingin me-nyendiri, bertemu dengan dirinya sendiri. Retret, sebuah kata dari bahasa barat, masih dapat dilihat bentuknya di dalam bahasa Inggris �to retreat�, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan arti �mundur� atau �tempat mengasingkan diri�. Pengertian �mundur� itu masih kita temukan di dalam kata 'retret' sekarang ini. Retret merupakan kegiatan mundur dari kehidupan sehari-hari, pergi ke tempat yang sunyi. Dalam Longman Dictionary of Contemporary English, kata �retreat� itu diterangkan sebagai kata yang mempunyai arti khas bagi orang Katolik: In the Roman Catholic religion: The practice of spending a periode of prayer, thought, and religious study, with a group of other Christians. Sebagai salah satu contoh kalimat disebut: spent a few days in retreat. (1978, 947).

Dalam Ensiklopedi Populer Gereja, "retret" diterangkan sebagai: latihan rohani untuk menggiatkan, memperdalam atau memperbaharui iman, harapan dan cinta kasih Kristiani, atau untuk mencari kehendak ilahi sebelum mengambil keputusan yang penting. Retret biasanya dilaksanakan dalam suasana tenang supaya dapat berpikir, berenung, berdoa dengan baik. Bimbingan oleh seorang yang berpengalaman sangat membantu; pembimbing itu memberi ceramah, bahan meditasi, dan nasehat dapat diminta. Di beberapa daerah terdapat rumah retret yang dapat menampung beraneka kelompok. (CLC, 1978, 237).

Untuk kegiatan yang sama, biasanya dipergunakan kata �khalwat�. Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia susunan W.J.S. Purwadarminta, "khalwat" berarti mengasingkan diri ke tempat yang sunyi dan hening.

Retret atau khalwat untuk apa? Untuk bertemu dengan Tuhan dan diri sendiri? Benarkah Tuhan dan diri sendiri hanya dapat ditemui di dalam keheningan? Tuhan dan diri sendiri tidak hanya ditemui di dalam keheningan. Dia ada di mana-mana, juga di dalam kehidupan kita sehari-hari.

Hal yang paling penting di dalam retret adalah kesadaran. Dia dapat ditemui di mana-mana, tetapi di dalam keheningan, cinta-Nya dapat dengan lebih mudah disadari. Bila kesadaran itu berkembang, maka di dalam kehidupan sehari-hari pun kehadiran-Nya dapat dialami dan dapat memberi makna di dalam kehidupan itu.

Retret adalah kesempatan untuk lebih menyadari kehadiran Tuhan di dalam kehidupan, sehingga hidup itu dapat menjadi ungkapan syukur dan terima kasih kepada-Nya.

Retreat 2000 page

<menu>


Utama


Holiday With the Lord



Hi, my name is Dean, James Dean. I�d like to share with you my recent experience with a bunch of gregarious photo-addicted Mudikans.

Being marooned in St Francis Xavier Retreat Centre, we spent a truly memorable weekend together. It all started in St. Bernadette with a special mass conducted by Romo Is and Brother John. Then on Friday the real thing began. The contingent from Ang Mo Kio arrived first, followed by another one from Paya Lebar. I was amongst some rebellious souls who decided to get there by ourselves. The traffic jam along CTE managed to give us some anxiety and made some of us keep looking at our watches. As soon as I got there, I immediately headed towards the dining table, a common phenomenon amongst the participants.

The concept of faith communities was introduced in the first session. From Jonathan Sacks� story, we learnt the importance of this third sector. By giving, we got more, not a bad proposition, eh? This �chim� concept was further expounded by Bu Bernadette, who talked about the role of faith communities and voluntarism in this era of globalisation.

I always believe in the power of prayer, and the retreat reinforced this belief. This was evidenced by the heavy downpour on Saturday morning. There must have been enough people praying for it to make it happen. Happiness shrouded the retreat center as we heard the beautiful sound of rain. Our prayer was answered, the morning exercise session was cancelled, and we got an extra half an hour sleep.

The next morning we didn�t pray hard enough, and the much awaited rain never fell. At 5am, Seksi Tatib Dicky, Johan, and El Fie started to bang and bash the doors, tables and chairs, creating havoc amongst us. With heavy eyes and much grumble, we succumbed to their order. It was still dark outside. Djoni led the morning exercise, followed by his and Dicky�s baptism by Hendro, Grace and the gang. Heavy battle ensued, and the whole affair only ended when all the involved parties were soaked to the skin.

Contemplation and sharing were the favourite activities. Most of us appreciated the opportunity, despite the little time allotted. We reflected upon many issues, ranging from praying method to friendship. Some of us, however, maximized the use of whatever little time given by contemplating in our sleep. Others liked to do it near the bush (Paul dan Surya, dapet ga yang elo cari?).

The morning prayer was a difficult time for the sleep-deficient souls. I could see many heads drooping and nodding while Romo Is led us through the session, while others like Michael enjoyed banging his head to wake us up.

And one more thing, the �ngamen� session on Saturday afternoon was so enjoyable that some of us sacrificed our chance to bathe (iih, bau!). Our guitarists Surya, Paul, Hendro, and Andri, were accompanied by several aspiring singers like Juwita, Erin, Mimi, Elsa, Hermanto de el el. We reminisced the old days through Gombloh�s Di Radio, Madu dan Racun, We are the World etc. Wished the time could be stretched further.

Up till now, do you feel something is missing? You�re right, the photo-taking session. Photo-mania has always been Mudikans� trademark, and we couldn�t bear to see those cameras staying so lonely on the table. The dinner tables seemed to be the favourite backdrop, followed by the soccer field and Mother Mary�s statue. Camera-shy people were an extinct species, as we could always find volunteers to be our photo models.

Then we came to the final game before the closing mass. We were told to say �I give all my heart to you� to everyone in the room. There were more than 50 people there and I started to figured out how many permutations and combinations would entail. As I said those words to the others, with Kur playing the Auld Lang Sine at the corner, I was suddenly enveloped with an overwhelming feeling. I started to see deeper into those familiar faces, and somehow our hearts seemed to be bonded by those few words. Strange but true, the concept of faith communities came alive in those moments.

Each of us left the retreat center with a bagful of memorable experience. Let�s pray that this experience will continue to live amongst us, as we practiced our faith in our daily lives. God Bless You All, and our sincere thanks to Romo Is and Bu Bernadette for their guidance.

(Simon)

<menu>



Oleh-oleh Retret:


Kunjungan ke
Chen Su Lan Methodist Children�s Home


Hidup tanpa cinta itu seperti gurun pasir merindukan hujan. Kering, gersang, panas dan haus. Demikianlah kiranya yang dialami oleh anak-anak yang kehilangan kasih orang tua.

Retret Mudika 2000 ternyata membawa arti tersendiri bagi sebagian mudikans dan anak-anak di Chen Su Lan Methodist Children's Home Singapore. Pada hari Minggu tanggal 20 Agustus kemarin, selesai acara sharing follow-up retret, mudikans berkunjung ke sana sebagai salah satu wujud nyata ketergerakan hati untuk bisa memberikan kasih kepada sesama yang membutuhkan.

Di bawah ini adalah salah satu sharing dari mudikan yang ikut berkunjung ke sana. Sharing ini diungkapkan dalam bentuk syair-syair indah, di mana terkandung makna yang sangat mendalam. Gambaran akan masih banyaknya saudara-saudara (dan terutama sekali anak-anak) yang sangat membutuhkan cinta. Dan biarpun sekejap peluk cium yang bisa kau berikan, sudah cukuplah itu jika berasal dari cinta yang keluar dari lubuk hatimu. Ia akan menjadi laksana hujan yang menumbuhkan benih-benih, dan memberikan kehidupan baru.

Kasihmu

Aku berlari,
aku mencari..
tak kudapatkan kasih itu�.

Aku berjalan,
aku menelusuri jalan hidupku�
apakah ini sudah nasibku�?

aku berteriak,
kuingin seorang dari mereka menjelaskan kepadaku�
tak seorangpun yang tahu.

Hari ini ada yang datang kepadaku�
dia menyapaku penuh kasih�
dia memelukku, dia menciumku�
dia mendengarkan aku�
seakan aku dicintai sejak seribu tahun yang lalu.

Hari ini hari yang berbeda dengan hari-hari yang lain�
ada suatu yang membuat aku tertawa
seperti anak kecil sebayaku yang tertawa bahagia
kulihat dua hari yang lalu di toko buku itu beserta orangtuanya..
Aku berdoa saat itu�
Aku bertanya kepada Tuhan,
seperti yang diajarkan suster Maria kepadaku� �berceritalah apa yang engkau rasakan kepadaNYA�

Suster Maria benar�.
doaku dikabulkan olehNYA�
kuberharap dua hari yang lalu di toko buku yang sama,
kuingin seseorang datang kepadaku,
mengasihi aku dengan tulus walau sejam saja.

Tuhan, hari ini hari yang bahagia bagiku�
rasanya kuingin berdiri di jendela besok pagi,
menunggu dia datang kembali kepadaku,
entah kapan lagi dia datang �
tapi aku percaya,
Tuhan akan mempertemukan kami kembali,
bukan hanya sejam saja,
tapi untuk selamanya,
walau hanya dalam hati saja.

(Eve)

<menu>

 


Kilas Balik


29 Juli 2000
Maen basket di St. Bernadette

Kali ini ibu ketua mudika kita pun, Erni, tidak mau ketinggalan untuk berpartisipasi aktif maen basket di gereja St. Bernadette... Yang biasanya cuma 5 - 8 orang mudikans saja yang ikutan maen basket, kali ini lebih dari 20 orang yg ikutan loch... ada Philip, Eveline, Wahyu, Hermanto, David (ada beberapa orang), Barani, Hermawan, Reza, dan masih banyak lagi mudikans yang jarang muncul - datang bermain.

Saking serunya, semua mudikans enggan berhenti maen - udah satu babak masih pengen terus maen sampe sekitar jam 11-an. Baru kali ini terlihat para mudikans begitu antusias ikutan maen basket !!! Makanya, ada usulan juga kalo dibuat pertandingan persahabatan dengan muda-mudi dari gereja Kristen laennya....

18 Agustus 2000
Misa kudus � Pesta 25 tahun Imamat Mgr. Batubara

Nyanyi dan makan� itu adalah kesenangan mudikans!!! :o) Apalagi kalo ada suguhan dinner bersama disusul dengan misa kudus� tentu saja mudikans pasti pada datang�

Jam setengah delapan sudah banyak mudikans yang datang di rumah tante Yosephine dan dengan serius berlatih lagu �Many Gifts One Spirit� juga lagu-lagu tematis lainnya. Kali ini, tidak perlu ditanya lagi � mudikans datang on time karena hidangan makan malam akan disajikan pada saat pembukaan (ini hipotesa Kurniawan, kalo acara pertamanya makan malam, sudah pasti mudika on-time...) ;-b

Setelah makan malam bersama, misa diawali pada jam 8.30pm oleh Mgr. Batubara dengan ujud ulang tahun ke-25 imamat beliau. Misa ucapan syukur ini dipersembahkan pula buat dua orang mudikans yang berulang tahun, Dicky dan Ferdinand.

Mengakhiri acara misa, Dicky dan Ferdinand serta Mgr. Batubara meniup lilin berkat dan kemudian membagikan tart kepada semua yang hadir... Suatu pesta misa syukur dan indah buat semua yang hadir... kalo mo liat yang hadir, bisa melihatnya di photo galery... :o)

20 Agustus 2000
Badminton di Somerset

Tentu kalian sudah mendengar kalo mudikans diundang pertandingan persahabatan oleh muda-mudi dari gereja Kristen di Singapura bukan ?!? Nah, respon dari mudikans sungguh-sungguh besar sekali... ini terbukti dengan puluhan mudikans yang cinta olahraga datang ke Somerset untuk latihan, sekaligus pra kualifikasi pertandingan pada tanggal 16 September 2000 mendatang.

Rasanya dua lapangan badminton masih kurang dech menampung antusias mudikans yang menggebu-gebu tersebut... dan rasanya tidak perlu dipertanyakan lagi donk kalo di pertandingan persabahatan nanti kita mengumpulkan point terbanyak... ;-b

Buat para pecinta badminton dan volley, segera mendaftar ke saudara Heri Liem atau Reza Samakoen buat mengikuti pertandingan persahabatan nanti... Cepetan loch karena akan ada seleksi pemain dan bagi yang belom beruntung terpilih, menjadi supporter mereka pun tidak kalah menariknya, karena bisa memanfaatkan kesempatan itu untuk kenalan dengan cewek-cowok dari gereja laennya.... :-b

03-06 Agustus 2000
Retreat mudika KKIS, St. Francis Xavier Retreat Centre, Hougang

Akhirnya setelah sekian lama kita menunggu-nunggu, datang juga hari pertama mudikans mengikuti Retreat 2000. Retret dibuka dengan misa kudus di gereja St. Bernadette dipimpin langsung oleh Romo Ismartono, SJ selaku pembimbing. Kemudian mulai hari Jumat malam menginap di St. Francis Xavier Retreat Centre sampai Minggu siang jam 13:00.

Tema �Spiritualitas Hidup Manusia Modern� sangatlah tepat untuk diambil dalam retret kali ini. Pas dengan lingkungan yang sedang dihadapi oleh mudikans dan kebutuhan untuk bisa tumbuh dan berkembang pada masa modern sekarang ini.

Retret ini juga dihadiri oleh Ibu Bernadette atau sering dipanggil Mbak Bernie, dosen psikologi UI, yang cukup apik membawakan materi tentang fenomena-fenomena dalam dunia modern; juga bagaimana sebuah komunitas iman (faith community) sangat diperlukan untuk membangun sisi lain kebutuhan manusia yang sempat terkikis oleh ekses-ekses perekonomian global yang semakin menggejala di akhir abad ini. Komunitas iman akan menguatkan kita menghadapi tantangan-tantangan globalisasi yang semakin membawa manusia kepada gaya hidup konsumtif dan peng�hilang�an martabat manusia sebagai manusia.

Sudah sifat mudikans untuk tidak tahan melihat orang mengintip kamera... ;-p Simon sebagai juru foto menjadi orang terfavorit, karena selalu dikerubuti banyak mudikans yang ingin bergaya di depannya...... walhasil, empat roll film habis ludes.

Ada banyak hal yang bisa didapat dari retret kita kali ini, dan walaupun berbeda-beda tiap peserta, most of all, mudikans semakin akrab dan dekat satu sama lain. Salah satu buktinya, waktu acara terakhir, pada bercucuranlah air mata dan bergetaranlah hati oleh kehangatan pelukan sebagai ungkapan kasih :�I give all my heart to you� di antara mudikans.

Juga retret itu sempat dihadiri oleh bapak-bapak dan ibu-ibu KKIS yang sangat amat mendukung dan memotivasi peserta. Brother John Wong tak lupa juga berkunjung dan ngobrol dengan kita-kita.

Eh, ada lagi yang bikin berkesan. Makanannya booo, yummy, abis masakan ala Indo...... empat jempol deh buat tante Margareta yang udah masakin. :-)

Waduh, banyak banget deh yang bisa diceritain waktu retret itu. Abis berkesan banget sich...!!! Tak lupa juga terima kasih buat semuanya yang telah berperan serta menyukseskan retret kita.

Ngomong-ngomong, kapan kita retret lagi....???? *^_^*

20 Agustus 2000
Follow-up Retret

Retret Mudika 2000 ternyata tidak hanya berhenti dengan selesainya acara di St. Francis Xavier Retreat Centre. Follow-up diselenggarakan di gereja St. Bernadette untuk semakin menghayati makna retret yang sebenarnya. Dari sharing beberapa teman, banyak hal dan bentuk yang sudah dan akan dilaksanakan sebagai perwujudan ketergerakan hati dan implementasi nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Ada yang menjadi lebih bersemangat untuk sharing dan memberi dengan banyak cara, ada yang mengunjungi dan membantu anak-anak panti asuhan, orang sakit, dll. Salah satu wujud nyata yang langsung sudah dijalani oleh beberapa rekan mudika adalah dengan mengunjungi penampungan anak-anak Chen Su Lan Methodist Children�s Home Singapore.

Latihan Koor Rutin

Tarik nafas......buang........ssssssss..............
Begitulah kira kira latihan pernafasan koor mudika beberapa waktu yang lalu, ada tambahan latihan vokal di koor mudika. Gimana caranya ambil nafas pake diafragma, trus gimana cara ngeluarin suara yg benar... pokoknya latihan koornya jadi makin asyik..........

Cuma kayaknya inventaris mudika mesti nambah.......mesti siap-siap tabung oksigen waktu buang nafas sampai 20 hitungan, banyak yg hampir kehabisan nafas........

Tujuan latihan vokal ini, biar koor kita bisa semakin bagus kualitasnya. Latihan akan bisa lebih berhasil, kalau selalu diawali dengan latihan vokal ini, atau istilah kerennya "Vokal Isi"; artinya vokal kita bener-bener disiapin untuk nyanyi dan juga kita lebih konsentrasi, saat latihan ataupun saat pentas........

Jadi mulai sekarang, setiap latihan koor bakalan ada 10-15 menit vokal isi dulu (kalau bisa sih waktu nyanyi di gereja, datengnya juga lebih awal, biar bisa vokal isi dulu..........)

Mudah-mudahan koor mudika bisa semakin bagus kualitasnya (dan kuantitasnya juga........biar banyak terus yang dateng) VIVA KOOR MUDIKA...................

20 Agustus 2000
Legio Maria

Info terbaru beredar di mudika bahwa hari Minggu 20 Agustus adalah pertemuan pertama Legio Maria. Dan dengan begitu, lahirlah satu kelompok karya baru dalam tubuh mudika kita. Dengan bantuan doa Bunda Maria, Tuhan telah mengijinkan terbentuknya kelompok ini. Semoga Tuhan selalu melindungi dalam setiap gerak langkahnya, berjuang bersama Bunda Maria dalam kehidupan dunia sekarang ini, menginjak �kepala ular� lambang setan dan kejahatan.

Teman-teman yang tertarik untuk ikutan, bisa menghubungi pengurus mudika.

(Reporter: Djoni, Simon, Dicky, Hendro dkk.)

<menu>

 
 
Jangan Lupa:

Jangan lupa................Line Dance
Tiap hari Selasa, minggu ke-1, 3 dan 5 jam 19:30.
tempatnya di Parish Hall, Gereja St. Bernadette.
Selengkapnya hubungi Djoni <[email protected]>
 (Sie Acara) 

Jangan lupa............................mudika ada pendalaman iman.
Tiap hari minggu ke-1, 3 dan ke-5 setiap bulan. Tempatnya di Gereja St. Bernadette, jam 11:00
selengkapnya hubungi Kurniawan <[email protected]>
(Sie Rohani)

Jangan Lupa .......................tiap hari Jumat ada koor.
Tempatnya di ruang koor (choir room) Gereja St. Bernadette, jamnya 19:30.
Kalo bingung, bisa nanya Reni <[email protected]>
(Sie Koor)

Jangan Lupa ........................olahraga biar badan tetap fit dan sehat.
Ada tennis tiap Sabtu ke-2 dan 4, jam 17:00 - 20:00.
Ada badminton tiap Minggu ke-1, 3 dan 5 jam 15:00.
Ada basket tiap Sabtu ke-1, 3 dan 5 jam 08:00.
jangan lupa juga hubungi Heri <[email protected]>
biar nggak tersesat. dan ketinggalan bus. 
(Sie OR )

Jangan Lupa ..........................mudika selalu asyik kegiatannya.
Termasuk yang udah lewat, mau tau ????
Klik aja di sini:
http://members.xoom.com/mudikakkis/news/PastIndex.htm
 

<menu>




Serba-serbi


Merpati Muda


Masih ingat lagu Merpati Muda ciptaan Hendro yang tampil perdana dalam retret kemarin? Ternyata tidak hanya melodi dan syairnya yang indah, tapi juga maknanya. Bak mencari telur Paskah, mari kita cari pesan-pesan yang terkandung di dalamnya.

Merpati muda melambangkan generasi muda. [No mention of age range was given, so define it by yourself]

                      Degup jantung yang lantang
                      Tatap mata nan terang
                      Mengalir dari batin yang mendentang

Ini bukan pantun jenaka. Bait ini mau menyampaikan bahwa di dalam diri Sang Merpati Muda, ada semangat yang menggebu-gebu. Ini harus menjadi ciri khas kaum muda.

                      Di kehangatan sarang
                      Kau tlah dibimbing ditantang
                      Maju menuju dunia yang membentang

Sarang melambangkan tempat memperoleh kehangatan, bimbingan, pembinaan, asuhan, dsb. Di situlah Merpati Muda dibesarkan untuk siap menghadapi dunia. [Ini mengingatkan gue pada film silat. Udah ah, ngelantur aja]

Nah, refren berikut ini sangat berkesan bagi gue pribadi. Selain enak di kuping, maknanya menyentuh sekali.

                      Hai kau merpati muda
                      Bukalah sayapmu
                      Kepakkan sepenuh hatimu
                      Terbanglah bebaskan dirimu

Sudah waktunya Sang Merpati Muda keluar sarang, terbang bebas, hidup mandiri, tumbuh dan berkembang, berkarya dalam dunia nyata.

                      Hai kau merpati muda
                      Lihatlah duniamu
                      Menanti sungguh hadirmu
                      Membawa harapan hidup baru

Dalam tumbuh dan berkarya, kepedulian terhadap masyarakat sekitar tidak boleh ditinggalkan. Merpati Muda hendaknya berkiprah memberikan peran bagi masyarakat sekitar yang sudah menantikan karya-karya nyata dari semangat dan potensi-potensi yang dimilikinya.

                        Tatap pandang sinar terang
                        Itulah saujana merentang
                       Jemputlah dengan hati penuh girang

Gue ubek-ubek di kamus W.J.S. Poerwadarminta, saujana artinya visi atau cita-cita. Sinar terang melambangkan visi yang luhur yang memberikan harapan cerah. Merpati Muda hendaknya dengan penuh kegembiraan berjalan mencapainya.

                       Tetap tegar dalam hidup
                       Pada arah yang tak redup
                       Menjalinlah satu dirimu sesamamu

Bait terakhir ini cukup padat isinya. Dalam kehidupan nyata, terutama dalam jaman modern sekarang ini, banyak sekali hambatan maupun godaan yang mengancam. Untuk itulah Merpati Muda tidak boleh loyo, lemes, gampang putus asa, dan suka mengeluh [kayak iklan Tonikum Bayer]. Merpati Muda harus tegar dalam keadaan apapun, tetap memegang teguh visi luhur yang selalu terang dan tak pernah redup. Dan tetaplah ia menjadi satu dengan sesamanya karena pada dasarnya ia adalah bagian dari masyarakat.

Visi luhur yang dimaksud adalah seperti yang telah diuraikan dalam teks bacaan I misa penutup (Konsili Vatikan II tentang Kerasulan Awam). [Gile, Dro. Sebelum retret, elo udah dapat bocoran soal nih?]

Jadi kesimpulannya apa? Sebagai kaum muda, kita musti keluar dari �sarang� untuk �terbang bebas� berkarya dalam dunia nyata, menjadi satu bagian dengan masyarakat sekitar. Kita harus tegar dan tetap berpegang pada visi yang luhur dan dengan penuh semangat menuju panggilan hidup yang sejati.

Terima kasih buat Hendro yang telah membagikan �talentanya� kepada kita semua.

(Simon)


Kesan dan Pesan Retret

Siapa yang sangka retret kemaren ini bisa begitu berarti buat yang ikutan. Ada yang pikirannya jadi terbuka dan akhirnya berani ambil keputusan yang dia rasa memang terbaik untuknya. Ada yang tadinya memendam kekesalan terhadap temannya, tapi sesudah ikutan retret, kekesalan itu jadi lenyap entah ke mana. Ada juga yang hati dan matanya jadi lebih terbuka buat Yang di Atas dan sesama.

Mungkin ini yang dimaksud dengan kebesaran Tuhan. Ia hadir melalui sesama dan dengan sesama pula, kita rasakan keberadaanNya. Saya nggak nyesel, malah bersyukur bisa ikutan retret ini. Yang pasti, selain bisa ngerasain kasih Tuhan, juga bisa sekalian nyicipin makanan Indonesia masakan Tante Margaret yang top punya. Angkat topi deh buat seksi konsumsi, termasuk yang sediain makanan2nya.

(anon)

<menu>

 


Yang Segera Tambah Umur

01-Sep Silvia Adiwinata 
06-Sep Keith Steven Muljadi
10-Sep Enriw Budianto 
20-Sep Martinus Kosasih
20-Sep Renita Sudharta 
20-Sep Sally Ng
20-Sep Vikki
22-Sep Anmaria Redi Djong
23-Sep Vinancia Surjadinata 
24-Sep Bambang Hermanto 
25-Sep Andry Wijaya
25-Sep Christian Erwin Utama 
25-Sep Surianto Rustan 
26-Sep Wijaya Kusuma 
26-Sep Winy
27-Sep Iwan Yenanto Lo
28-Sep Astina
28-Sep Fenny Trisnawati 
28-Sep Heri Setiabudi Liem 
28-Sep Melisa Trisnadi 
29-Sep Michelle Adriani Kusuma 
29-Sep Reginald Kuswanto
30-Sep Corry Turistiowati

Happy Birthday to you!!


<menu>





Any question and suggestion??
E-mail [email protected]


Retreat 2000 Page

Back to Bulletin Index
Back to Main Page


©Mudika-KKIS 1998-2000. All rights reserved.




Hosted by www.Geocities.ws

1