Utama
Kehidupan di Jaman Modern
Sekarang ini kita hidup di jaman yang sangat berbeda dengan adanya
revolusi di bagian teknologi. Kita-kita ini sangat beruntung dapat menyaksikan
segala kemajuan dan perubahan jaman. Tetapi kadang-kadang kemajuan teknologi,
terutama di bidang life sciences, membuat kecemasan batin dalam menyadari
kehidupan kita.
Satu abad yang lalu rumah dengan televisi berwarna dan telepon sudah
dianggap rumah masa depan. Belum terdengar kata-kata seperti 'computer',
'notebook', 'interactive TV', 'Internet', dan 'digital camera'. Lain halnya
dengan jaman sekarang; kata-kata tersebut sangat lumrah dan anak kecil
berumur belasan tahun pun sudah mengerti kata-kata di atas.
Di TV channel TCS 5 kita bisa menyaksikan reklame dari City Development
Limited (CDL) di Singapura yang menayangkan iklan konsep rumah untuk
masa modern. Di dalam iklan ini ditayangkan kemajuan teknologi yang sebelumnya
hanya dapat dilihat di film-film fiksi. Sang suami pulang ke rumah dan
membuka pintu sambil berkata "Honey, I am home", dan tidak ada yang
menjawab. Sang suami pergi ke ruangan yang memiliki interactive TV dan
mengecek message. Di situ sang istri telah menuliskan "Honey, we are
barbecuing", dan sang suami melihat di interactive TV tersebut,
keluarganya yang sedang ber-barbecue.
Kemajuan teknologi memberikan keyamanan bagi manusia dalam kehidupan
sehari-hari. Setiap generasi mengalami pengalamannya masing-masing di
jaman mereka. Keberhasilan ini adalah salah satu keberhasilan dari akal
budi manusia. Bravo untuk mereka-mereka yang menemukan dan menghabiskan
waktu untuk mempermudah dan membuat nyaman kehidupan manusia.
Di lain pihak penemuan-penemuan menyangkut gen-gen sangat menguatirkan dalam
menyadari berapa jauh kita akan terus manambah kemajuan teknologi. Kira-kira
3 tahun yang lalu seekor domba yang bernama Dolly sangat terkenal karena
ia bisa dikatakan 'buatan' manusia. Di tahun itu ABC News Nightline menyimpulkan
jajak pendapat di AS bahwa sebagian besar masyarakat AS menolak usaha meng-clone
manusia, dan usaha seperti itu harus dilarang [1]. "Berdasarkan jajak pendapat yang
dilakukan terhadap 519 orang dewasa yang diminta pendapatnya, 87 persen
menginginkan usaha meng-clone manusia dilarang. 82 persen
menilai meng-clone manusia melanggar moral, dan 93 persen tidak
ingin dirinya di-clone [1]." Bagaimana dengan 7 persen yang tersisa?
Tiga tahun sudah berlalu, berita-berita mengenai cloning
sudah mereda. Tetapi ini bukan menandakan bahwa kemajuan teknologi di bagian
ini berhenti. Banyak penelitian baru yang dilakukan.
Sekarang para peneliti meng-clone tiga domba kecil dengan gen
tertentu yang sudah dirancang [2].
Tiga tahun lalu memang teknologi cloning masih sangat
dipertanyakan efek sampingnya. Dan peniliti-peneliti terus melangsungkan
eksperimen-eksperimen untuk memenuhi satu 'life-cycle'. Di Jepang,
kambing yang di-clone telah berhasil melahirkan anak kambing [3].
Yang menguatirkan adalah jika jajak pendapat untuk meng-clone
manusia berubah dengan alasan, misalnya, bahwa keuntungan meng-clone
lebih banyak dibandingkan dengan kerugian-kerugian yang mungkin terjadi.
Apakah yang akan terjadi berikutnya, pada masa tersebut?
(Ganny Tombokan)
1. Larang Usaha Meng-cloning Manusia, 27 Januari 1997 – Kompas
Cyber Media
http://www.kompas.com/9702/26/iptek/lara.htm
2. Scientists Create Designer LifeStock – June 29, ABCNEWS.COM
Associated Press
http://more.abcnews.go.com/sections/science/dailynews/
genetarget000629.html
3. A Cloned Cow Gives birth in Japan – July 10, 2000, ABCNEWS.COM
- ABCNEWS Radio correspondent Linda Albin, ABCNEWS.com’s Amanda Onion and
The Associated Press contributed to this report
http://abcnews.go.com/wire/World/ap20000710_563.html
Di Antara Bintang Gemintang
Suatu malam aku memandang langit yang gelap. Bulannya sabit hanya sedikit
awan putih dan bintang gemintang di atas sana. Indah sekali, kerdip-kerdip
bintang itu seolah-olah menari-nari di sekitar keanggunan dewi bulan yang
diam tersenyum. Juga kelembutan awan seperti memberikan belaian halus melalui
angin semilir bagai tangan-tangan sang dewi yang menumbuhkan kedamaian.
Aku bertanya pada diriku sendiri, ada apa di balik langit sana? Milyaran
bintang itu mengumpul menjadi galaksi-galaksi. Galaksi-galaksi menempati
ruang mahaluas yang entah berapa jauh batasnya. Terus dan terus anganku
melayang pada kemahaluasan langit sana yang berjari-jari milyaran tahun
cahaya. Angkasa gelap, dingin, seram........

Pikiranku beralih kepada bumi ini, yang hanyalah titik debu di antara
sekian milyar bintang. Planet indah biru terlihat dari angkasa raya. Yang
satu-satunya planet di antara planet-planet lain yang memberi kehidupan
dan menjadi surga bagi manusia. Bumi termasuk bulan dan matahari ada di
dalam keanggotaan galaksi Bima Sakti (bagus sekali namanya). Berputar secara
teratur bersama 8 planet lainnya mengelilingi matahari, sebuah bintang
yang selalu terbit indah di timur dan terbenam sendu di barat. Bintang
yang suka bersinar terik di negeri singapur ini sebenarnya masih termasuk
yang kecil dan 'tidak panas' dibandingkan bintang-bintang lain. Juga ia
yang telah berusia 5 milyar tahun itu adalah masih dalam golongan pendatang
baru di gugusan Bima Sakti ini yang sudah berumur 10 milyar tahun. Sebelum
kemudian sang surya ini mengembang menjadi berdiameter 25 kali lipat setelah
5 milyar tahun kemudian, lalu menyusut dan padam, dan waktu itu bumi bersama
planet-planet tata surya lain sudah gosong terbakar hangus. Kiamat? Ya... mungkin
saja itu terjadi. Ooo.. tidak, ternyata bukan hanya matahari, bintang-bintang
yang lain pun akan mengalami hal serupa: lahir, bersinar, lalu kehabisan
bahan bakar.
Aku bertanya, sampai di manakah bangsa manusia pada waktu itu, pada saat
matahari mengembang dan menghanguskan semuanya? Ataukah ia sudah menciptakan
teknologi canggih sehingga ia bisa pergi ke planet lain? Galaksi terdekat
adalah Andromeda, hmm, rasanya tidak mungkin karena itu membutuhkan waktu
2 juta tahun perjalanan, itu pun kalau manusia sudah bisa menciptakan roket
yang berkecepatan cahaya. Oh sebentar, adakah kiranya di galaksi lain sebuah
planet yang sangat indah seperti bumiku tercinta ini? Yang punya matahari
dan bulan yang begitu pasnya menyinarinya, memberikan kualitas cuaca
sedemikian hingga cocok sekali untuk tumbuhnya pepohonan dan makhluk hidup
lain? Juga dengan udara segar dan pantai-pantai nan cantik?
Ataukah sebelum saat itu, manusia sudah hancur musnah sebelum termusnahkan?
hancur karena ulah mereka sendiri? Saling memusnahkan? Ataukah suatu saat
nuklir-nuklir itu akan berhasil meretakkan kerak-kerak dan membelah bumi?
Mungkinkah Sang Biru ini akan menangis sendu kesepian ditinggal manusia-manusia
yang membunuh diri mereka sendiri?
Aku kembali kepada kediaman. Tidak terbayangkan. Dan mencoba bertanya
pada diri sendiri akan keberadaan seorang manusia di bumi ini. Malam semakin
larut, bintang masih bercahaya, dan alam terus bertanya, "Siapakah kau
adanya, manusia?"
Keberadaan manusia masih sangat-sangat muda dibandingkan kelahiran alam
semesta. Yang kata para ilmuwan merupakan hasil terakhir dari proses evolusi
makhluk hidup di bumi. Entah benar atau tidak, tapi nyata-nyatanya memang
kalangan manusia sering menyebut dirinya makhluk yang paling sempurna,
ya sempurna, yang secara implisit adalah yang sudah mencapai paling akhir
perkembangannya.
Sempurna? Sebentar, sempurna dalam hal apa? Mengapa makhluk yang paling
sempurna, makhluk yang paling cerdas bijak, homo sapiens, punya otak dan
'hati', justru polah tingkahnya sering menjadi makhluk tanpa otak dan berjalan
tanpa 'hati', tidak berpikir dan tidak merasa, bodoh dan sadis? Begitukah
sikap semestinya makhluk cerdas bijak?
Tapi memang patut diakui juga bahwa ia, sang makhluk yang disebut manusia
itu telah mencapai banyak ‘keberhasilan’ dalam menguak tabir misteri alam
semesta. Terutama sekali semenjak perkembangan 500 tahun terakhir ini.
Melalui Copernicus dan Galileo Galilei, manusia sudah bisa mengerti bahwa
bukan bumi yang didiaminya yang menjadi pusat semesta. Meskipun penguakan
misteri itu memakan korban di mana dia, manusia, harus menerima pil pahit
dan membuang jauh-jauh anggapan-anggapan lama yang salah yang sudah terlanjur
mendarah daging. Pun manusia juga harus kembali menyadari bahwa misteri-misteri
alam tidaklah sedikit. Pelan-pelan ia harus dengan rendah hati mau menerima
ketidakmengertiannya. Tokoh-tokoh seperti Newton dan Einstein adalah contoh-contoh
lain yang mencoba menguak kemisterian semesta ini dan dengan rendah hati
mengakui tentang ketidakmengertiannya tentang realitas alam yang mahaluas.
Dalam keseharian, manusia sering menggunakan pancaindra untuk melihat
suatu realitas alam. Aku menyadarinya. Bunga-bunga di taman yang cantik
warna-warni, harum wangi melati, sedap makanan, desir halus angin bertiup
dsb. Benarkah apa yang ‘terlihat’ itu adalah sebenar-benarnya realitas?
Benarkah warna bunga matahari yang kuning itu benar-benar berwarna kuning?
Bukan, ternyata bukan. Dan terpaksa aku harus melihat lebih jauh lagi
menggunakan mata yang lain, yaitu mata intelegensia. Bunga matahari itu
berwarna kuning karena dia memantulkan cahaya kuning ke mataku. Ooo... nggak
juga, bukan hanya cahaya kuning, tetapi dia juga memantulkan spektrum lain
(ultraviolet) yang tidak tersensor oleh mataku. Jadi sebenarnya ada realitas
yang “hilang”. Aku tidak menangkap realitas bahwa bunga itu juga bisa berwarna
ungu, serangga-serangga yang bisa menangkap realitas ini. Ada lagi, mahkota-mahkota
bunga itu ternyata bukan sebuah lembaran yang sangat halus mulus seperti
yang kulihat dengan mataku melainkan mempunyai pori-pori dan berbentuk
sangat kasar ketika dilihat dengan kaca pembesar. Ada lagi realitas yang
sempat ”hilang”, dan entah berapa lagi realitas yang “hilang” dari bunga
itu yang tidak tertangkap oleh keterbatasan sensor-sensor indraku.
Hanya dari sebuah bunga, aku menangkap sedikit sekali realitas-realitas.
Bagaimana dengan alam semesta nan luas ini yang berisi milyaran bintang
dan galaksi? Bagaimana proses kelahiran dan kehancurannya? Mata indrawi
sulit sekali membayangkan sebuah realitas bahwa dunia ini adalah ruang
yang melengkung, bahwa timur dan barat, atas dan bawah adalah kabur
dan relatif. Semakin kita ke timur, nantinya akan muncul juga kita di barat
demikian sebaliknya. Tak berhingga namun terbatas seperti sebuah lingkaran.
Belum lagi membayangkan alam semesta ini yang terbentuk dari sebuah
ledakan besar (Big Bang) dari sebuah singularitas di mana waktu didefinisikan
sama dengan nol. Kemudian karena ledakan itu debu-debunya membentuk bintang-bintang
dan galaksi-galaksi serta benda-benda langit lain. Juga selama proses itu
muncullah makhluk-makhluk di bumi nan indah ini. Semesta kita sekarang
mengembang dan terus mengembang sampai suatu saat mengalami titik akhir
sebelum ia menyusut kembali menjadi singularitas dan begitu seterusnya,
alam hancur dan terbentuk kembali. Lalu di manakah letak awal dan akhir?
Alfa dan Omega? Apakah awal itu adalah sama dengan akhir? Sangat rumit
kompleks.
Pun di dalam jagad yang kecil, sesuatu yang aneh lagi mengagumkan terjadi.
Lagi-lagi manusia juga pernah terperangah dan terpaksa mengakui bahwa partikel-partikel
yang terkecil itu bukan berupa padatan-padatan bola-bola kecil atom, melainkan
sebuah bentuk interaksi energi, partikel itu ternyata adalah getaran-getaran,
gelombang-gelombang, tarian-tarian, energi. Dan ternyata yang ada hanyalah
tarian-tarian tanpa penari-penarinya Bagaimana mungkin? Mungkin saja, dan
begitulah realitasnya, minimal realitas yang ditangkap manusia saat ini.
Adakah realitas-realitas yang lain? Sampai seberapa dalamkah ilmu manusia
sudah menguak realitas dari keseluruhan realitas yang ada?
Pulang kembali kepada diri sendiri, aku bertanya kepada diriku sendiri
siapakah aku ini? Mengapa aku bisa bertanya siapakah aku ini? Darimana
aku? Mau kemana aku? Dan ternyata di dalam diriku sendiri pun masih penuh
misteri. Aku tidak hanya ujud fisik yang terdiri dari sel-sel dan DNA-DNA,
tetapi aku mempunyai kesadaran, kesadaran bahwa aku bisa berpikir dan kesadaran
bahwa aku sadar.
Saat ini pemahaman manusia sudah sampai pada alam sebagai bentukan empat
dimensi, ruang dan waktu. Bagaimana nanti ia, lima milyar tahun lagi? Dapatkah
ia menangkap dimensi ke lima, enam, tujuh, delapan dst dari alam semesta?
Malam diam remang dan dingin, membawaku pada sebuah kekaguman yang luar
biasa akan alam semesta ini. Misteri yang masih terus harus diselami. Manusia,
sang pencari, dengan akal budinya masih terus menerus menguak tabir semesta.
Kadangkala aku berpikir, mengapa masih ada saja manusia lain yang selalu
ribut-ribut dengan hal-hal sepele sementara masih banyak realitas yang
belum mereka ketahui dan pahami?
Dan kemudian aku tersadar akan ‘sesuatu’ di balik kemisterian alam.
Sesuatu Yang Maha Misteri. Siapakah Dia? Di manakah Dia?
Bumi ini hanyalah setitik debu di antara bintang gemintang, di tengah
bola langit yang bermilyar-milyar-milyar kali lebih besar daripadanya yang
berisi bermilyar-milyar misteri tak terkuak. Yang dengan teraturnya sistem
semesta ini berputar, berjalan sedemikian hingga proses demi proses terjadi
dengan demikian mengagumkan.
Bumi ini berevolusi secara teratur mengelilingi matahari dengan jarak
yang pas sekali. Dengan keindahan musim-musimnya, dengan bintang fajar
dan jingga ufuk cakrawalanya, sinar surya yang cerah serta berbagai
hal yang sebenarnya lebih dari hanya sekedar kebetulan terjadi.
Dan ketika merenungkan semuanya aku hanya bisa menunduk, dengan mata
imanku aku berkata:
“Sungguh besar Engkau ya Tuhan, Pencipta Alam Semesta. Jika kupandang
langit-Mu, kerja jari-Mu, bulan dan bintang yang Kau ciptakan, siapakah
aku ini sehingga Engkau pelihara? Siapakah aku ini sehingga Engkau cinta?
Kau ciptakan kami manusia hampir setara denganMu, Kau beri dia kuasa atas
buatan tangan-Mu.“
('ndro)
<menu> |