Mudika-KKIS Bulletin


e-bulletin
#08
October 1999 edition

"DOR.....!"
(bebet)

"Dor...!"
Satu lagi demonstran
ambruk dalam bidikanku
"Maaf Dik, harus kuberi makan anak istriku"
"Dor...!"
kembali darah mengalir
di sela-sela dada dan bibirmu
"Maaf Dik, harus kuturuti amanat komandanku"
"Dor...!"
kembali senapan menyanyi
di antara puing dan api
"Boleh pinjam bedilnya Pak?"
"Untuk apa"
Heranku pada bocah kecilku
"Untuk dibuat cangkul,
untuk dibuat tenun,
untuk membangun gubuk,
untuk meramu obat batuk"
"Dor...!"
kembali satu hati mati di bumi.


free topic:

The Call (2)

Teman-teman,
Berikut ini tanggapan dari teman kita yang telah mengikuti obrolan bersama Romo Bowo. Mungkin yang diceritakan di sini lain dengan perasaan teman-teman yang kebetulan hadir saat itu. At least kita bisa mencoba mengumpulkan point-point yang terlewat oleh kita.
--------------------------------------------

Jalan-jalan di Jalan Tuhan

Beberapa minggu yang lalu, saya jalan-jalan ke Suntec City. Saya tidak pernah pergi ke sana karena memang saya orang baru di tempat ini. Sebelum menuju ke sana, saya bertanya-tanya dulu. Seperti apakah Suntec City? Pantaskah Suntec City dikunjungi? Kenapa pantas, ada apa di sana? Saya bertanya kepada teman-teman yang pernah berkunjung ke sana, atau minimal pernah mendengar berita tentang tempat tersebut sampai benar-benar yakin bahwa tempat tersebut lumayan juga buat jalan-jalan. Kemudian saya mulai mencari-cari kemanakah jalan ke sana. Jalan yang mudah, singkat, enak, murah... Darimana saya mendapatkan jalan ke sana? Dari tanya-tanya.........dari ‘Transit Link Guide’ juga. Akhirnya tanpa kesulitan apa-apa, Suntec City bisa saya nikmati dan tidak jauh dari apa yang saya bayangkan..........

Lalu, bagaimana dengan jalan-jalan dalam hidup kita? Ke manakah tujuan kita? Tidakkah kita salah jalan? "Tidak tahu" ...................Begitu kemarin Romo Bowo menjawab. Sebuah jawaban yang sangat mengejutkan karena tidak seperti yang diharapkan. Pada dasarnya memang tidak ada satu orang pun yang tahu seperti apa jalan yang sebenarnya dikehendaki Tuhan dalam diri kita. Ibaratkan kita menuju ke Suntec City tanpa tahu seperti apa tempat itu, dan bagaimana jalan ke sana. Kasus yang terjadi pada sosok Wilberforce pun demikian. Bahkan sampai sekarang ketika dia sudah selesai menjalankan tugas politiknya, sebenarnya tidak seorang pun yang bisa mengetahui tentang kehendak Tuhan kepadanya. Banyak orang yang berandai-andai bahwa jika saja Wilberforce memilih untuk masuk biarawan, dia tidak akan memenuhi panggilannya. Tidak juga. Karena sebenarnya tidak ada  orang  yang tahu dan selama orang berandai-andai, apapun bisa terjadi. Dan tidak ada gunanya berandai-andai pada suatu masa yang sudah terjadi.

Kelihatan seperti tidak ada gunanya kita berbicara tentang jalan hidup karena di sini kita berbicara tentang sesuatu yang sepertinya tidak jelas. Berbagai pertanyaan sering tidak terjawab, dan dibiarkan menggantung menunggu waktu dan pada saat itu juga ketika jawaban sudah tersedia kita sudah tersesat jauh dari jawaban pertanyaan-pertanyaan itu.

Pertanyaan yang sering muncul dalam diri kita adalah apakah “aku” sekolah di sini karena kehendak Tuhan? Apakah “aku” yang bekerja di sini memang di atur Tuhan atau kehendakku sendiri? Bagaimana jika nanti pada akhir jaman Tuhan bertanya: kenapa kamu menjadi politikus padahal Aku menginginkan kamu menjadi rohaniwan?

Kalau kita memandang lebih jauh tentang jalan hidup atau panggilan hidup, tentunya pertanyaan seperti itu tidak perlu muncul. Tidak penting anda menjadi apa pada saat ini. Tidak benar bahwa profesi, posisi, kekayaan, kepopuleran anda menjadi parameter pemenuhan panggilan Tuhan bagi diri anda. Kenapa? Karena semuanya itu adalah hanya sarana saja. Sarana yang diberikan untuk memenuhi panggilan dan bukan panggilan itu sendiri.  Hal ini penting. Manusia tidak dipanggil untuk menjadi kaya atau miskin. Manusia tidak dipanggil untuk menjadi dokter, insinyur, rohaniwan, politikus, manager, buruh atau presiden. Setiap manusia dipanggil untuk memuji, mencintai dan mengabdi Allah. Dalam bahasa Yesus, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu” (Mrk 12 :28-34; bdk Mat 22:34-40; Luk 10:25-28). Dalam Sepuluh Perintah Allah, pernyataan ini diletakkan pada urutan pertama. “Jangan menyembah berhala, berbaktilah kepadaKu saja dan cintailah Aku lebih dari segala sesuatu” Kalau kita membaca Kitab Suci, ‘Transit Link Guide’ hidup kita, panggilan-panggilan para nabi dan rasul menunjukkan demikian. Ini adalah tuntutan mutlak dari Allah, tuntutan yang harus dipenuhi oleh manusia. Tuntutan untuk menempatkan Allah menjadi nomor satu. Jadi, sebenarnya Allah itu ‘pencemburu’. Dia tidak ingin cinta manusia lebih besar kepada hal lain daripada kepadaNya.

Mengapa manusia dipanggil untuk itu?
Manusia diciptakan dengan cinta Allah, sedemikian hendaknya ia juga mencintai Allah. Dari sejak manusia belum dilahirkan, sampai pada akhir jaman, Allah selalu mencintai kita. Kunci keselamatan manusia adalah terletak pada hubungan cinta Allah dan manusia. Di mana Allah telah memulainya dan membuktikannya dengan mengorbankan diriNya di kayu salib untuk keselamatan manusia.

Konsekuensi mencintai Allah adalah bahwa segala ciptaan yang ada di dunia ini digunakan demi Allah. Manusia harus terbebas dari keterikatan-keterikatan dunia. Sekali lagi bahwa segala ciptaan adalah sarana. Manusia harus rela melepas sarana jika sarana ini semakin menjauhkan manusia dari tujuannya diciptakan. Tidak lebih memilih sehat daripada sakit, tidak lebih memilih kaya daripada miskin, tidak lebih memilih dihormati daripada tidak dihormati jika dengan sehat, kaya, dan kehormatan itu menjauhkan manusia dari Allah.

Sebuah konsep yang mengawang-awang memang. Pada praktek keseharian sangat tidak mudah untuk dilakukan. Tulisan ini memang tidak untuk menawarkan suatu rumus-rumus praktis bertindak agar kita tidak terjebak ke dalam patron yang ada tanpa masuk ke inti permasalahannya. Tetaplah kita pada diri kita sekarang, menjadi pelajar, mahasiswa, karyawan, manager atau ibu rumah tangga. Yang menjadi tujuan tulisan ini adalah perubahan pada cara pandang kita, cara pandang tentang panggilan hidup.

Terlihat suatu kontradiksi, bahwa manusia diciptakan dengan kebebasannya, kebebasan atas segala sesuatu di dunia ini. Jadi dia bisa bersikap apa saja terhadap segala ciptaan yang diberikan kepadanya. Manakala manusia harus memenuhi panggilan, kebebasan itu seakan-akan terbatasi dan dihilangkan sama sekali. (???)
Tidak. Kontradiksi ini sebenarnya tidak ada. Justru ketika kita berjalan pada panggilan hidup kita, mencintai Allah, kebebasan itu kita dapatkan dengan sebesar-besarnya. Mengapa? Seperti yang telah diungkapkan di atas, bahwa kita harus lepas dari keterikatan-keterikatan di dunia. Seringkali manusia terjebak pada keterikatan-keterikatan pada ciptaan padahal segala macam ciptaan tidak lebih dari sebuah sarana saja. Kita bebas memanfaatkannya atau tidak memanfaatkannya. Kita bebas memilih sarana yang hendak kita pakai. Kita bebas menggunakan dengan cara apapun, tetapi tidak terikat kepadanya. Keterikatan satu-satunya adalah kepada Allah. Jadi tidak lagi menjadi masalah apakah kita kaya atau tidak kaya, sehat atau sakit, dihormati atau tidak dihormati karena kita tidak terikat pada kekayaan, kesehatan, atau kehormatan. Kita bersyukur kalau  kita punya mobil sebagai sarana kita, tetapi kita juga bersyukur manakala tidak punya mobil sebagai sarana kita. Kita bahagia manakala punya uang banyak, dan kita bahagia juga ketika tidak punya uang sama sekali. Yang menjadi masalah adalah ketika sarana itu menjauhkan kita dari Allah. Buat apa naik mobil menuju Woodlands padahal tujuan kita Pasir Ris? Demikian juga buat apa punya uang banyak kalau semakin menjauhkan kita dari Allah? Pertanyaan yang menjadi refleksi bagi kita semua.



Bagaimana mencintai Allah?
Pertama-tama adalah apakah kita merasakan cinta Allah? Tanpa bisa merasakan cinta Allah, kita tidak akan bisa mencintai Allah. Cinta Allah terwujud dalam dunia keseharian kita, dalam segala macam peristiwa yang kita alami. Bentuknya berbeda dalam diri setiap orang. Untuk mengetahui cinta Allah, maka kita harus bertanya-tanya, bertanya-tanya kepada orang-orang yang pernah mengalami cinta Allah, bertanya-tanya kepada Allah sendiri yang mencintai kita. Juga dengan melihat pada “Transit Link Guide“ hidup kita.

Setelah kita bisa merasakan cinta Allah, dibutuhkan respon kita pada cinta itu. Maukah kita menjawab “ya” pada cinta itu? Maka ketika kita dengan mantap menjawab “ya”, berarti kita sudah melangkahkan kaki pada panggilan Allah. Melangkah awal pada jalan Tuhan, berangkat berjalan-jalan di jalan Tuhan. Hubungan cinta itu akan memberikan kekuatan dan mewujud dalam setiap tingkah laku kita. Allah, Sang Sumber Cinta, senantiasa mengalirkan kekuatan cinta itu ke dalam diri kita. Cinta mengandung makna kepercayaan, kepercayaan bahwa Dia menuntun dalam setiap langkah-langkah kaki kita. Cinta mengandung makna totalitas, bebas lepas dari keterikatan cinta-cinta yang lain. Cinta mengandung makna kelimpahan, kesediaan untuk berbagi baik memberi maupun menerima. Cinta mengandung makna kebersamaan, bersama dengan Sang Cinta itu dalam misteri keselamatan umat manusia.

Jadi, sebagai apapun kita, panggilan kita adalah sama. Mencintai Allah, dengan  sarana-sarana yang ada, untuk memuji Allah, memuliakan Allah, mengabdi Allah, karena dengan demikian, manusia bisa diselamatkan. (‘Ndro)

------------------------------
Sebagai bahan renungan:
Luk 12:13-21; Luk 12:22-34; Luk 14:15-24;
Luk 14:25-35. Plus sinopsisnya.


past activities

Doa Rosario bareng Suster Ona

Ternyata banyak anggota mudika yang belom kenal dengan Suster Ona. Padahal beliau termasuk salah satu sesepuh KKIS. Lakunya yang kemayu membuat banyak hati yang bertanya-tanya siapa sebenernya suster yang sering terlihat pas misa di St. Bernadette. Tapi dasar mudika suka malu-malu, baru berkesempatan kenalan ama Suster hari Minggu 3 Oct di rumah Tante Agnes.

Sebelum ini padahal mudika pernah natalan di tempat Suster, di FMM Holland Road, tahun kemaren. Suster Ona baru aja pindah ke FMM Serangoon, karyanya spesialisasi di bidang refleksologi buat orang-orang tua. Nah kemaren ini sebelum memimpin doa rosario bersama, Suster sempat memberikan cerita mengenai sejarah doa Rosario.

Bentuk doa Rosario ternyata sudah ada lebih dari 100 tahun yang lalu. Bahkan di agama lain bentuk-bentuk doa yang serupa ini sudah tidak asing lagi... misalnya doa menggunakan tasbih di Islam, di agama Budha (sorry gua gak tahu namanya ;>), dan juga di kepercayaan-kepercayaan lain. Doa Rosario ini pertamanya sengaja diciptakan bagi kalangan katolik awam yang pada waktu itu tidak biasa membaca mazmur dan puji-pujian di alkitab. 'Rosario' mengandung kata 'Rosa' yang berarti bunga Mawar, yang biasa dilambangkan untuk keindahan hati Bunda Maria. Rangkaian doa Salam Maria dan Bapa kami yang sederhana dan mudah diingat ini menjadi populer dan kini menjadi doa favorit di bulan Maria. Pengucapan doa Salam Maria dan Bapa kami yang berulang-ulang mampu membawa suasana hati si pendoa ke kekhidmatan tertentu sehingga si pendoa merasakan kedekatan dengan Bapa melalui Bunda Maria.

Mungkin banyak di antara mudika yang mempunyai pengalaman pribadi menyangkut doa Rosario ini. Hendaknya dibagikan ke teman-teman lain yang mungkin belum pernah mengalaminya ataupun yang sudah pernah sehingga bisa semakin memperkuat iman masing-masing. Sharing ini bisa disampaikan lewat mailing list: [email protected]
(e)


mini ad

Kaset Doa Rosario 3 Peristiwa

Ingin variasi dalam berdoa rosario?
Selain rosario pribadi yang sering dilakukan di kamar, sering juga kita melakukan doa rosario bersama dengan pengucapan Salam Maria yang digilir. Ini biasanya sering dilakukan di bulan Maria, Mei & Oktober.

Gimana kalo lagi pengen Rosario tapi lagi gak ada acara Rosario bersama? Ini ada solusi baru, Rosario ditemanin ama suara teman2 kita yang direkam di pita rekaman. Lengkap dengan segala lagu, bacaan & variasi lain dalam tiga peristiwa: Gembira, Agung dan Sedih. Pertama kalinya lho rekaman Rosario dalam bahasa Indonesia.

Berminat membeli? Paket 3 kaset plus 1 buku panduan hanya 15 dollar. Uang yang didapat dari penjualan ini akan dipakai untuk ganti ongkos pembuatan kaset, masuk kas mudika dan  alokasi dana untuk kegiatan sosial mudika di masa datang. Penjualan kaset ini merupakan hasil kerja sama mudika dengan Sdri. Nina Handoko yang pernah menjadi tamu kita bulan lalu. Thanx Nina, wherever you are.

BTW, kasetnya bisa didapat dari: Kurniawan (pg 94941719) atau Eka (pg 92277329)


Kegiatan Rutin Mudika KKIS

Activities:
When?
Venue
How to go?
Contact Person
Bible Study
tiap Minggu ke 1, 3, (5)
pk 11.00 pagi
rumah Tante Agnes
3 Bright Hill Drive, S'pore 579587,
telp 5522049
Bis: 163, 165, 166, 167, 410, 605, 855, 980
Bus Stop: B 07 Upper Thomson Road
B 10 Upper Thomson Road 
MRT: bishan, ang mo kio, toa payoh
Eka (4635194 / pg 2277329)
Choir Practice
tiap Jum'at
pk 19.30
kediaman Aina
Pearlbank Apt, 1 Pearlbank #12-16
telp 2263483
MRT: Outram Park Heru (5673901 / pg 96067699)
Badminton Session
Minggu ke 1, 3, (5)
pk 3.00 - 5.00 sore
Buona Vista 
Community Center
MRT: Buena Vista
Bis:  7, 165 turun di Holland Village
Arief (5673901 / pg 95361034)
Tenis +++
tiap Sabtu ke 2 & 4 
sore
Parkview Appartment MRT: Bukit Batok
+ Bis: 77, 106 turun di bus stop ke-4
Arief (5673901 / pg 95361034)

    Happy Birthday to all of you!!!

     Andriato Joewana 10-Oct-74
    Arief Suriadi 23-Oct-71
    Ayrien 31-Oct-81
    Cosmas Dodi Iskandar 6-Oct-80
    Daniel Setiadi 20-Oct-71
    Dave Witjaksono 8-Oct-68
    Dewi Evyta 29-Oct-66
    Diana Gobeawan 20-Oct-82
    Florencia V Lupis 15-Oct-77
    Heru Wibawa 23-Oct-70
    Irene Haryono 31-Oct-84
    Likke Oktavia Tansil 28-Oct-84
    Lisa Widjaya 2-Oct-73
    Lolita Lewa 18-Oct-84
    Mariastuti Budidarmodjo 17-Oct-72
    Maya 12-Oct-82
    Michael Aryo Handoko 28-Oct-81
    Robertus A Tjandraputra 1-Oct-71


Mudika KKIS homepage:
http://members.xoom.com/mudikakkis



Any question and suggestion??
E-mail [email protected]


Back to Bulletin Index
Back to Main Page

©Mudika-KKIS 1998-1999. All rights reserved.

Hosted by www.Geocities.ws

1