"DOR.....!"
(bebet)
"Dor...!"
Satu lagi demonstran
ambruk dalam bidikanku
"Maaf Dik, harus
kuberi makan anak istriku"
"Dor...!"
kembali darah mengalir
di sela-sela dada
dan bibirmu
"Maaf Dik, harus
kuturuti amanat komandanku"
"Dor...!"
kembali senapan
menyanyi
di antara puing
dan api
"Boleh pinjam bedilnya
Pak?"
"Untuk apa"
Heranku pada bocah
kecilku
"Untuk dibuat cangkul,
untuk dibuat tenun,
untuk membangun
gubuk,
untuk meramu obat
batuk"
"Dor...!"
kembali satu hati
mati di bumi.
free topic:
The Call (2)
Teman-teman,
Berikut ini tanggapan dari teman kita yang
telah mengikuti obrolan bersama Romo Bowo. Mungkin yang diceritakan di
sini lain dengan perasaan teman-teman yang kebetulan hadir saat itu. At
least kita bisa mencoba mengumpulkan point-point yang terlewat oleh kita.
--------------------------------------------
Jalan-jalan di Jalan Tuhan
Beberapa minggu yang lalu, saya jalan-jalan
ke Suntec City. Saya tidak pernah pergi ke sana karena memang saya orang
baru di tempat ini. Sebelum menuju ke sana, saya bertanya-tanya dulu. Seperti
apakah Suntec City? Pantaskah Suntec City dikunjungi? Kenapa pantas, ada
apa di sana? Saya bertanya kepada teman-teman yang pernah berkunjung
ke sana, atau minimal pernah mendengar berita tentang tempat tersebut sampai
benar-benar yakin bahwa tempat tersebut lumayan juga buat jalan-jalan.
Kemudian saya mulai mencari-cari kemanakah jalan ke sana. Jalan yang mudah,
singkat, enak, murah... Darimana saya mendapatkan jalan ke sana? Dari tanya-tanya.........dari
‘Transit Link Guide’ juga. Akhirnya tanpa kesulitan apa-apa, Suntec City
bisa saya nikmati dan tidak jauh dari apa yang saya bayangkan..........
Lalu, bagaimana dengan jalan-jalan dalam
hidup kita? Ke manakah tujuan kita? Tidakkah kita salah jalan? "Tidak
tahu" ...................Begitu kemarin Romo Bowo menjawab. Sebuah
jawaban yang sangat mengejutkan karena tidak seperti yang diharapkan. Pada
dasarnya memang tidak ada satu orang pun yang tahu seperti apa jalan yang
sebenarnya dikehendaki Tuhan dalam diri kita. Ibaratkan kita menuju ke
Suntec City tanpa tahu seperti apa tempat itu, dan bagaimana jalan ke sana.
Kasus yang terjadi pada sosok Wilberforce pun demikian. Bahkan sampai sekarang
ketika dia sudah selesai menjalankan tugas politiknya, sebenarnya tidak
seorang pun yang bisa mengetahui tentang kehendak Tuhan kepadanya. Banyak
orang yang berandai-andai bahwa jika saja Wilberforce memilih untuk masuk
biarawan, dia tidak akan memenuhi panggilannya. Tidak juga. Karena sebenarnya
tidak ada orang yang tahu dan selama orang berandai-andai,
apapun bisa terjadi. Dan tidak ada gunanya berandai-andai pada suatu masa
yang sudah terjadi.
Kelihatan seperti tidak ada gunanya kita berbicara
tentang jalan hidup karena di sini kita berbicara tentang sesuatu yang
sepertinya tidak jelas. Berbagai pertanyaan sering tidak terjawab, dan
dibiarkan menggantung menunggu waktu dan pada saat itu juga ketika jawaban
sudah tersedia kita sudah tersesat jauh dari jawaban pertanyaan-pertanyaan
itu.
Pertanyaan yang sering muncul dalam diri kita
adalah apakah “aku” sekolah di sini karena kehendak Tuhan? Apakah “aku”
yang bekerja di sini memang di atur Tuhan atau kehendakku sendiri? Bagaimana
jika nanti pada akhir jaman Tuhan bertanya: kenapa kamu menjadi politikus
padahal Aku menginginkan kamu menjadi rohaniwan?
Kalau kita memandang lebih jauh tentang jalan
hidup atau panggilan hidup, tentunya pertanyaan seperti itu tidak perlu
muncul. Tidak penting anda menjadi apa pada saat ini. Tidak benar bahwa
profesi, posisi, kekayaan, kepopuleran anda menjadi parameter pemenuhan
panggilan Tuhan bagi diri anda. Kenapa? Karena semuanya itu adalah hanya
sarana saja. Sarana yang diberikan untuk memenuhi panggilan dan bukan panggilan
itu sendiri. Hal ini penting. Manusia tidak dipanggil untuk menjadi
kaya atau miskin. Manusia tidak dipanggil untuk menjadi dokter, insinyur,
rohaniwan, politikus, manager, buruh atau presiden. Setiap manusia dipanggil
untuk memuji, mencintai dan mengabdi Allah. Dalam bahasa Yesus, “Kasihilah
Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan
segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu” (Mrk 12 :28-34; bdk
Mat 22:34-40; Luk 10:25-28). Dalam Sepuluh Perintah Allah, pernyataan ini
diletakkan pada urutan pertama. “Jangan menyembah berhala, berbaktilah
kepadaKu saja dan cintailah Aku lebih dari segala sesuatu” Kalau kita membaca
Kitab Suci, ‘Transit Link Guide’ hidup kita, panggilan-panggilan
para nabi dan rasul menunjukkan demikian. Ini adalah tuntutan mutlak dari
Allah, tuntutan yang harus dipenuhi oleh manusia. Tuntutan untuk menempatkan
Allah menjadi nomor satu. Jadi, sebenarnya Allah itu ‘pencemburu’. Dia
tidak ingin cinta manusia lebih besar kepada hal lain daripada kepadaNya.
Mengapa manusia dipanggil untuk itu?
Manusia diciptakan dengan cinta Allah, sedemikian
hendaknya ia juga mencintai Allah. Dari sejak manusia belum dilahirkan,
sampai pada akhir jaman, Allah selalu mencintai kita. Kunci keselamatan
manusia adalah terletak pada hubungan cinta Allah dan manusia. Di mana Allah
telah memulainya dan membuktikannya dengan mengorbankan diriNya di kayu
salib untuk keselamatan manusia.
Konsekuensi mencintai Allah adalah bahwa segala
ciptaan yang ada di dunia ini digunakan demi Allah. Manusia
harus terbebas dari keterikatan-keterikatan dunia. Sekali lagi bahwa segala
ciptaan adalah sarana. Manusia harus rela melepas sarana jika sarana ini
semakin menjauhkan manusia dari tujuannya diciptakan. Tidak lebih memilih
sehat daripada sakit, tidak lebih memilih kaya daripada miskin, tidak lebih
memilih dihormati daripada tidak dihormati jika dengan sehat, kaya, dan
kehormatan itu menjauhkan manusia dari Allah.
Sebuah konsep yang mengawang-awang memang.
Pada praktek keseharian sangat tidak mudah untuk dilakukan. Tulisan ini
memang tidak untuk menawarkan suatu rumus-rumus praktis bertindak agar
kita tidak terjebak ke dalam patron yang ada tanpa masuk ke inti permasalahannya.
Tetaplah kita pada diri kita sekarang, menjadi pelajar, mahasiswa, karyawan,
manager atau ibu rumah tangga. Yang menjadi tujuan tulisan ini adalah perubahan
pada cara pandang kita, cara pandang tentang panggilan hidup.
Terlihat suatu kontradiksi, bahwa manusia
diciptakan dengan kebebasannya, kebebasan atas segala sesuatu di dunia
ini. Jadi dia bisa bersikap apa saja terhadap segala ciptaan yang diberikan
kepadanya. Manakala manusia harus memenuhi panggilan, kebebasan itu
seakan-akan terbatasi dan dihilangkan sama sekali. (???)
Tidak. Kontradiksi ini sebenarnya tidak ada.
Justru ketika kita berjalan pada panggilan hidup kita, mencintai Allah,
kebebasan itu kita dapatkan dengan sebesar-besarnya. Mengapa? Seperti yang
telah diungkapkan di atas, bahwa kita harus lepas dari keterikatan-keterikatan
di dunia. Seringkali manusia terjebak pada keterikatan-keterikatan pada
ciptaan padahal segala macam ciptaan tidak lebih dari sebuah sarana
saja. Kita bebas memanfaatkannya atau tidak memanfaatkannya. Kita bebas
memilih sarana yang hendak kita pakai. Kita bebas menggunakan dengan cara
apapun, tetapi tidak terikat kepadanya. Keterikatan satu-satunya adalah
kepada Allah. Jadi tidak lagi menjadi masalah apakah kita kaya
atau tidak kaya, sehat atau sakit, dihormati atau tidak dihormati karena
kita tidak terikat pada kekayaan, kesehatan, atau kehormatan. Kita bersyukur
kalau kita punya mobil sebagai sarana kita, tetapi kita juga
bersyukur manakala tidak punya mobil sebagai sarana kita. Kita bahagia
manakala punya uang banyak, dan kita bahagia juga ketika tidak punya uang
sama sekali. Yang menjadi masalah adalah ketika sarana itu menjauhkan
kita dari Allah. Buat apa naik mobil menuju Woodlands padahal tujuan
kita Pasir Ris? Demikian juga buat apa punya uang banyak kalau semakin
menjauhkan kita dari Allah? Pertanyaan yang menjadi refleksi bagi kita
semua.
Bagaimana mencintai Allah?
Pertama-tama adalah apakah kita merasakan
cinta Allah? Tanpa bisa merasakan cinta Allah, kita tidak akan bisa
mencintai Allah. Cinta Allah terwujud dalam dunia keseharian kita, dalam
segala macam peristiwa yang kita alami. Bentuknya berbeda dalam diri setiap
orang. Untuk mengetahui cinta Allah, maka kita harus bertanya-tanya, bertanya-tanya
kepada orang-orang yang pernah mengalami cinta Allah, bertanya-tanya kepada
Allah sendiri yang mencintai kita. Juga dengan melihat pada “Transit Link
Guide“ hidup kita.
Setelah kita bisa merasakan cinta Allah, dibutuhkan respon kita pada cinta
itu. Maukah kita menjawab “ya” pada cinta itu? Maka
ketika kita dengan mantap menjawab “ya”, berarti kita sudah melangkahkan
kaki pada panggilan Allah. Melangkah awal pada jalan Tuhan, berangkat
berjalan-jalan di jalan Tuhan. Hubungan cinta itu akan memberikan kekuatan
dan mewujud dalam setiap tingkah laku kita. Allah, Sang Sumber Cinta, senantiasa
mengalirkan kekuatan cinta itu ke dalam diri kita. Cinta mengandung makna
kepercayaan, kepercayaan bahwa Dia menuntun dalam setiap langkah-langkah
kaki kita. Cinta mengandung makna totalitas, bebas lepas dari keterikatan
cinta-cinta yang lain. Cinta mengandung makna kelimpahan, kesediaan untuk
berbagi baik memberi maupun menerima. Cinta mengandung makna kebersamaan,
bersama dengan Sang Cinta itu dalam misteri keselamatan umat manusia.
Jadi, sebagai apapun kita, panggilan kita
adalah sama. Mencintai Allah, dengan sarana-sarana yang ada, untuk
memuji Allah, memuliakan Allah, mengabdi Allah, karena dengan demikian,
manusia bisa diselamatkan. (‘Ndro)
------------------------------
Sebagai bahan renungan:
Luk 12:13-21; Luk 12:22-34; Luk 14:15-24;
Luk 14:25-35. Plus sinopsisnya.
past activities
Doa Rosario bareng Suster
Ona
Ternyata banyak anggota mudika yang belom kenal dengan Suster Ona. Padahal
beliau termasuk salah satu sesepuh KKIS. Lakunya yang kemayu membuat banyak
hati yang bertanya-tanya siapa sebenernya suster yang sering terlihat pas
misa di St. Bernadette. Tapi dasar mudika suka malu-malu, baru berkesempatan
kenalan ama Suster hari Minggu 3 Oct di rumah Tante Agnes.
Sebelum ini padahal mudika pernah natalan di tempat Suster, di FMM Holland
Road, tahun kemaren. Suster Ona baru aja pindah ke FMM Serangoon, karyanya
spesialisasi di bidang refleksologi buat orang-orang tua. Nah kemaren ini
sebelum memimpin doa rosario bersama, Suster sempat memberikan cerita mengenai
sejarah doa Rosario.
Bentuk doa Rosario ternyata sudah ada lebih dari 100 tahun yang lalu.
Bahkan di agama lain bentuk-bentuk doa yang serupa ini sudah tidak asing
lagi... misalnya doa menggunakan tasbih di Islam, di agama Budha (sorry
gua gak tahu namanya ;>), dan juga di kepercayaan-kepercayaan lain. Doa
Rosario ini pertamanya sengaja diciptakan bagi kalangan katolik awam yang
pada waktu itu tidak biasa membaca mazmur dan puji-pujian di alkitab. 'Rosario'
mengandung kata 'Rosa' yang berarti bunga Mawar, yang biasa dilambangkan
untuk keindahan hati Bunda Maria. Rangkaian doa Salam Maria dan Bapa
kami yang sederhana dan mudah diingat ini menjadi populer dan kini menjadi
doa favorit di bulan Maria. Pengucapan doa Salam Maria dan Bapa kami
yang berulang-ulang mampu membawa suasana hati si pendoa ke kekhidmatan
tertentu sehingga si pendoa merasakan kedekatan dengan Bapa melalui Bunda
Maria.
Mungkin banyak di antara mudika yang mempunyai pengalaman pribadi menyangkut
doa Rosario ini. Hendaknya dibagikan ke teman-teman lain yang mungkin belum
pernah mengalaminya ataupun yang sudah pernah sehingga bisa semakin memperkuat
iman masing-masing. Sharing ini bisa disampaikan lewat mailing list:
[email protected]
(e)
mini ad
Kaset Doa Rosario 3 Peristiwa
Ingin variasi dalam berdoa rosario?
Selain rosario pribadi yang
sering dilakukan di kamar, sering juga kita melakukan doa rosario bersama
dengan pengucapan Salam Maria yang digilir. Ini biasanya sering dilakukan
di bulan Maria, Mei & Oktober.
Gimana kalo lagi pengen Rosario
tapi lagi gak ada acara Rosario bersama? Ini ada solusi baru, Rosario ditemanin
ama suara teman2 kita yang direkam di pita rekaman. Lengkap dengan segala
lagu, bacaan & variasi lain dalam tiga peristiwa: Gembira, Agung dan
Sedih. Pertama kalinya lho rekaman Rosario dalam bahasa Indonesia.
Berminat membeli? Paket 3
kaset plus 1 buku panduan hanya 15 dollar. Uang yang didapat dari penjualan
ini akan dipakai untuk ganti ongkos pembuatan kaset, masuk kas mudika dan
alokasi dana untuk kegiatan sosial mudika di masa datang. Penjualan kaset
ini merupakan hasil kerja sama mudika dengan Sdri. Nina Handoko yang pernah
menjadi tamu kita bulan lalu. Thanx Nina, wherever you are.
BTW, kasetnya bisa didapat
dari: Kurniawan (pg 94941719) atau Eka (pg 92277329)
Kegiatan
Rutin Mudika KKIS
|
Activities:
|
When?
|
Venue
|
How to go?
|
Contact Person
|
|
Bible Study
|
tiap
Minggu ke 1, 3, (5)
pk 11.00
pagi |
rumah
Tante Agnes
3 Bright
Hill Drive, S'pore 579587,
telp
5522049 |
Bis: 163, 165, 166, 167, 410, 605,
855, 980
Bus Stop: B 07 Upper Thomson Road
B 10 Upper Thomson Road
MRT: bishan, ang mo kio, toa payoh |
Eka
(4635194 / pg 2277329) |
|
Choir Practice
|
tiap
Jum'at
pk 19.30 |
kediaman
Aina
Pearlbank
Apt, 1 Pearlbank #12-16
telp
2263483 |
MRT:
Outram Park |
Heru
(5673901 / pg 96067699) |
|
Badminton Session
|
Minggu
ke 1, 3, (5)
pk 3.00
- 5.00 sore |
Buona
Vista
Community
Center |
MRT:
Buena Vista
Bis:
7, 165 turun di Holland Village |
Arief
(5673901 / pg 95361034) |
|
Tenis +++
|
tiap
Sabtu ke 2 & 4
sore |
Parkview
Appartment |
MRT:
Bukit Batok
+ Bis:
77, 106 turun di bus stop ke-4 |
Arief
(5673901 / pg 95361034) |
|