| Ada 'Dapur' di Jeram 'River' | ||||||
| Nuri Soeharto | ||||||
| Arung Jeram. Aktivitas mendebarkan ini cuma dua kali kukerjakan di Citarik. Namun ketika berada di Perancis, ada sesuatu dalam diriku yang membuatku begitu niat mencari tahu di mana aku bisa melakukannya. Dan mmhh� yang kutemukan ternyata lebih dari sekedar arung jeram� River � Base du Rafting. Itulah nama yang kutemukan. Lokasinya di Martinet, di tengah pegunungan Alpen. Dari Paris, kita harus ke Gap yang letaknya sekitar 5 jam naik kereta ke arah tenggara. Sesudah itu, sopir bus Gap � Barcelonette akan menurunkan kita di Martinet setelah kurang lebih 1 jam perjalanan. Lalu dari halte bus Martinet, kita harus berjalan kaki sekitar 1 km lagi. Biasanya, jalan kaki itu tidak akan berlangsung lama karena kita bisa saja liften pada mobil-mobil yang lewat. Semua mobil memang mengarah ke Base du Rafting itu. Maklum, jalannya cuma satu dan berakhir di sana. Hujan masih rintik ketika aku tiba di River. Sambil berdiri antri di loket penerima tamu, aku memperhatikan sekitar. Di sebelah loket itu, bar kecil yang bersih berhadapan dengan beberapa meja panjang kayu yang tertata rapi. Di sudut belakang, seperangkat sofa tampak begitu nyaman. Sementara di ujung depan, sebuah meja ping pong menjadi pelengkap yang juga menarik minat. �You�re Nuri, right?� Aku menengok. Seorang bule ganteng dengan rambut merah berombak tampak ramah menyapaku namun terasa bahwa ada sifat angkuh dan tak acuh dalam dirinya. Aku mengangguk. Ia mengajakku masuk. Kutatap wajahnya dan bertanya ingin tahu, �How do you know I am Nuri?� �We�ve been expecting you.� �I don�t think it�s the answer to my question.� �Well.. you come alone.� Mmm� Aku ingat kini. Aku memang booking tempat ini untuk diriku sendiri. Tentu saja orang-orang di situ tahu bahwa ada seorang wanita yang akan datang sendirian. Kemudian, Helene datang mengambil alih tugas Arnaud, si ganteng itu. Ia menjelaskan padaku kegiatan apa saja yang bisa kulakukan di sana dan mengantarku ke lokasi perkemahan. Tiba-tiba seorang lelaki gempal dan gondrong, datang menghampiri. Tubuhnya yang tidak begitu tinggi dibalut kaos singlet abu-abu. Padat berisi. Helene memperkenalkannya padaku. "Nuri, this is Denis... Denis 'Rambo'". Aku tergelak dalam hati. Julukannya pas betul dengan potongannya. Bahasa Inggrisnya terpatah-patah ketika mengatakan bahwa ia tidak mengerti bahasa Inggris sama sekali. Aku tertawa. Dalam bahasa Perancis, kukatakan bahwa bahasa Perancis-ku pun tidak begitu lancar. Aku hanya akan mengerti dengan baik bila ia bicara perlahan. Sore itu, aku hanya berkeliling memperhatikan lokasinya. Menarik juga. Sebuah bangunan bekas pengelolaan batubara dijadikan tempat penyimpanan segala peralatan arung jeram. Life jacket dan kostumnya yang serupa dengan pakaian selam tergantung rapi menurut ukurannya. Dayung-dayung terkumpul dalam satu kotak besar sementara helm-helm berada di kotak besar lain. Di teras bangunan, dua buah bak serta slang air siap membersihkan pakaian-pakaian yang sudah selesai digunakan. Teras itu juga dikelilingi bambu-bambu untuk menjemur pakaian-pakaian yang telah dicuci. Sementara di sebelah penyimpanan perlengkapan arung jeram itu, sepeda-sepeda gunung rapi berjajar. Berseberangan dengan bar penerima tamu, ada rumah cantik lain yang tampaknya khusus buat tempat para pemandu berdiskusi dan berbincang. Sementara di tepi jalan masuk, tersedia lokasi untuk para pekemah yang dilengkapi tempat cuci piring, wastafel, kamar mandi shower, serta toilet. Dan di tengah area, sebuah lapangan volley serta lapangan petanque ramai dengan mereka yang main. Jeram �Dapur� Pagi hari, aku mengikuti mereka yang berkumpul untuk arung jeram. Aku masuk dalam tujuh orang yang berada di bawah pengawasan Gael. Instruksi-instruksi diberikannya dengan ramah, ribut, dan ceria. Bersamanya, mendayung terasa tidak lagi melelahkan. Pemandangan demi pemandangan kami lewati. Indah dan damai. Setiap kali akan mengarungi jeram, Gael menghentikan perahu dan menerangkan terlebih dahulu keadaan yang akan kami hadapi. Yang paling aku ingat adalah penjelasannya tentang dua buah jeram. Ujarnya, �Jeram di depan itu disebut �Ruang Makan� karena ada batu besar ceper yang dikelilingi batu-batu kecil seperti meja makan. Kita bisa lihat nanti. Dan jeram berikutnya adalah jeram �Dapur� karena biasanya �kan kita menempatkan ruang makan di dekat dapur. He-he-he�� Beberapa kali Gael menanyakan keberanian kami untuk memimpin kelompok. Dua orang bergantian menjawab tantangannya. Lalu perjalananpun menjadi lebih mendebarkan karena berbagai kesalahan yang dibuat si �komandan� baru. Dengan tawa dan canda ceria, meskipun masih tetap sigap bertindak cepat, Gael membantu sang komandan memimpin. Kadang ia lantang menimpali instruksi komandan bila tampak agak ragu-ragu. Teriakannya menengahi ributnya deburan aliran sungai yang ganas memecah batu-batu karang. Saat air sungai mengalir tenang, Gael kembali mengajak kami berbincang dan berdiskusi tentang bagaimana menghadapi jeram-jeram ganas. Ketika tiba di sebuah batu besar di pinggir sungai, Gael menghentikan perahu. Katanya, �Ada yang berani lompat dari atas batu itu? Kita coba, yuk!� Lalu bergantian kami melompat dari atas batu yang tingginya sekitar 2,5 meter dari permukaan air sungai. Ngeri tapi memang menyenangkan. Gael sendiri duduk santai di perahu, memberi komentar-komentar kocak pada kami yang �berjatuhan.� Menjawab pertanyaanku, ia berkata, �Suka arung jeram bukan berarti saya suka main air. Saya benci air.� Lho�??? Berenang di jeram� Setelah istirahat makan siang, session kedua pun mulai. Kali ini, pesertanya hanya aku dan sepasang suami istri Perancis. Gael kembali menemani kami. Namun kini ia bersama Olivier yang membantu karena medannya lebih ganas dan kurangnya peserta. Dengan mobil, kami pergi sekitar 12 km ke arah hulu. Lalu, petualanganpun mulai lagi. Jeram-jeram kali ini memang lebih gila. Besar dan terus berkelanjutan. Ketika satu jeram panjang selesai, Gael kembali menghentikan perahu di tepi sungai. Ia menjawab tantangan kami untuk bersama berenang mengarungi jeram. Jadi, kami ke luar dari perahu, berenang menyeberangi sungai lalu berjalan sekitar 100 meter ke hulu untuk kemudian kembali menceburkan diri ke sungai mengikuti arus yang mengalir deras. Lepas dan bebas rasanya. Puas melakukan kehendak hati, kami melanjutkan perjalanan. Ada rasa kecewa ketika rumah kayu base River terlihat di kejauhan karena itu berarti akhir petualangan arung jeram kami. Mendekati base, beberapa perahu karet bundar tampak berkerumun. Mmh� mereka mencoba permainan �Tubing� � keseimbangan di perahu karet bundar yang masing-masingnya hanya cukup untuk satu orang. Dayung dipakai sebagai kemudi. Gael berteriak memperingatkan Arnaud ketika terlihat ia bersiap melompat ke salah satu perahu karet tersebut. Arnaud tertawa nakal. Ia tetap melakukannya. Aku pun berjaga karena kulihat perahu kami akan menabrak perahu kecil Arnaud. Dan� benar! Aku terkejut ketika Arnaud terpental ke perahu kami dan menimpaku. Olivier segera membantuku sementara Gael memaki Arnaud, mengempit lehernya dan menjitak kepalanya. Arnaud tertawa riang dan menatapku nakal. Yah, memang� meski peristiwa-peristiwa �berbahaya� seperti itu sering terjadi, mereka tetap ceria mengatasinya. Ternyata Denis itu� Sore hari, sesudah mandi aku berjalan sendiri ke lokasi sentral di mana pertandingan volley tengah berlangsung. Seru tampaknya. Dan setelah beberapa saat kuamati, aku terbahak geli. Dua grup yang bertanding adalah kelompok para pemandu dan kelompok tamu yang terdiri dari anak-anak SMP Jerman. Segala kekocakan terjadi karena pertandingan persahabatan tanpa wasit itu penuh gaya dan bahasa Tarzan. Kadang terlihat Gael serta Arnaud yang ribut nakal dan tidak bisa berbahasa Jerman itu beradu pendapat dengan anak-anak Jerman yang tidak mengerti bahasa Perancis. Arnaud mencoba menerangkan dengan bahasa Inggris namun dasar Arnaud, kejahilan sikapnya membuat anak-anak Jerman itu hanya tertawa dan berkeras mengambil bola. Permainan selesai ketika dari lokasi perkemahan Jerman terdengar dentang-dentang panci tanda makan malam sudah siap. Para pemandu terpukau melihat lapangan lawan begitu cepat kosong. Aku masih tertawa geli ketika seseorang menyapaku. �Nuri sudah lapar?� Kutengok dan� Denis! Aku tersenyum mengiyakan. Ia berkata bahwa ia akan turun sebentar mengambil makan malamku. Aku tak mengerti maksudnya namun rasa ingin tahu membuatku mengajukan pertanyaan lain, �Turun? Ke mana? Saya boleh ikut?� Di jalan, rasa ingin tahuku terjawab. Kalau Helene sudah pulang, Denis memang menggantikan pekerjaannya, termasuk mengurus aku. �River� bekerjasama dengan hotel Lautzie di desa untuk penginapan dan konsumsi. Jadilah ia mengambil makan malamku di hotel Lautzie yang berada sekitar 10 menit berkendara. Ketika aku menanyakan makan malamnya, ia malah mengajakku makan bersama di rumahnya. Yah� mengapa tidak? Kembali ke Base River, Denis mengajakku naik ke ruangan di atas tempat penerima tamu. Begitu membuka pintu, aku terpesona. Ruangan itu tampak sangat artistik dan terpelajar. Lantai, dinding dan atapnya dari kayu. Luas dan tinggi. Di sudut kiri, sebuah meja kerja panjang berwarna hitam dari metal tipis tampak cantik dan anggun. Di sebelah kanan, sofa yang empuk menemani seperangkat TV dan hi-fi stereo. Beberapa hiasan bambu dan sebuah bola mainan besar bergambar peta bumi menjadi asesorisnya. Di sudut belakang tersedia kamar mandi kecil lengkap dengan bath tub dan mesin cuci. Dekat pintu masuk ada kamar sempit yang tampaknya digunakan untuk menyimpan perlengkapan pribadi sementara kamar tidurnya sendiri terletak di loteng terbuka. Yang menarik adalah dapur yang rupanya sengaja dibuat di tengah ruangan. �Silakan duduk, Nuri. Saya ambil piring dulu,� suara Denis mengagetkanku. Sambil mencari piring, ia menjawab pertanyaanku atas dapurnya. Buat Denis, dapurlah yang menjadi inti sebuah rumah. Ia membuatnya terbuka hingga bisa melihat ke segala penjuru ruangan. Untuk menjadikannya lebih menyenangkan, selain kompor, tempat cuci piring, microwave, kulkas, dan tempat penyimpanan makanan, ia juga membuat bar kecil di situ. Kecintaannya akan kayu memang sangat besar. Di Paris, sebelum mengurus Base River itu, ia pernah tinggal di rumah perahu yang ditambatkan di sungai Seine selama bertahun-tahun. Interior rumah perahu itu pun penuh dengan dekorasi dari kayu. Dan sebagai desainer grafis, tentu saja rumahnya selalu artistik! Dari ngobrol-ngobrol itu, baru aku sadar bahwa ternyata Denis adalah si empunya Base River! Dan �Rambo� bukan julukan melainkan memang namanya �Raimbault�! Richard si montir� Hari masih pagi ketika aku ke luar tenda. Di bar, Olivia memberikan sarapan pagiku berupa empat buah croissant dan teh hangat. Olivia juga yang menjelaskan perjalanan menuju Barcelonette di atas selembar kertas sobekan sementara Richard menyiapkan sepeda gunung untukku. Sudah pukul setengah sebelas ketika aku memulai perjalanan bersepedaku. Sendirian aku menjelajah gunung, menyusuri jalan raya, menuju desa Barcelonette yang berada sekitar 18 km dari Martinet. Santai mengayuh, aku menikmati perjalananku. Tak ada ketergesaanku mengejar sesuatu di Barcelonette karena memang aku hanya ingin berjalan-jalan saja naik sepeda. Pukul 5 sore aku kembali ke Base River. Sepi. Hanya ada Olivier dan 2 rekan lain yang bermain petanque. Santai, Olivier mengajak dan mengajari aku memainkannya. Menjawab pertanyaanku, ia mengatakan bahwa mereka sedang mengurus sekelompok besar tamu yang ingin berarung jeram di sungai lain yang arusnya tidak sebesar sungai di River. Memang, kulihat Denis sendirian mondar-mandir ke sana ke mari mengurus tamu dan berbagai kepentingan lain. Ia hanya dibantu oleh seorang rekannya. Hmm.. boss yang baik, ia mampu menggantikan semua pekerjaan anak buahnya saat mereka absen. Hampir pukul 7 malam ketika mereka kembali. Matahari masih menampakkan sinar lembutnya. Saat yang lain santai berbincang dan beristirahat, Richard mendekatiku yang melamun sendirian. Aku tak menolak ajakan untuk berkeliling di bengkelnya. Richard memang montir River. Dengan mobil, kamipun menuju bengkel yang sebetulnya terletak hanya 2 menit jalan kaki. Sampai di bengkel yang open air itu, aku bertanya di mana pulau kecil tempat mereka berpesta malam sebelumnya sembari meminta maaf karena aku tak bisa datang, aku tertidur kelelahan. Richard memandangku nakal dan menantangku untuk pergi ke pulau kecil itu dengan jeep rongsokan yang kulihat �nangkring� terjepit di antara dua pohon, agak tinggi di atas bukit kecil. Aku tersenyum liar, �Mengapa tidak?� Richard pun bergerak ke belakang kemudi dan mengajakku duduk di sebelahnya. Dengan sepotong kawat kecil, ia menyalakan mesin dan mengeluarkan jeep bobrok itu dari jepitan pohon. Sesudah Richard memastikan bahwa aku betul-betul siap, petualangan pun dimulai Aku serasa ikut rally. Dengan sigap ia membanting kemudi ke kiri dan ke kanan, menerjang pohon-pohon tanggung yang menghalangi jalannya, menyeberangi sungai kecil penuh batu yang tak banyak airnya. Tak sampai lima menit, kami tiba di hutan mungil yang rindang. Dua tenda, tiga hammock, dan sebuah panggangan barbecue tampak di antara pepohonan. Tak ada orang di sana, hanya tiga botol kosong yang tergeletak sembarangan menyisakan keberadaan pesta gila tadi malam. Cepat sekali mereka membersihkan area itu. Richard tersenyum melihatku memperhatikan sekitar, �Ini �pulau kecil� kami, Nuri.� Kembali ke bengkel, Richard menunjukkan padaku �apartemen�nya di River. Lucu, karena ternyata �apartemen� itu adalah bagian dalam sebuah mobil van yang sudah rusak. Interiornya diubah sedemikian rupa hingga menjadi �rumah� yang nyaman. Ia kini sedang mengutak-atik tape mobil agar berfungsi kembali. Kemudian, Richard mengajakku minum di bar kecil di hotel Lautzie di desa. Jeep rongsokan bermesin menakjubkan itu telah berganti Citroen. Aku tertawa ketika Richard mengatakan bahwa Citroen itulah mobil terbaik dari empat mobil yang dimilikinya. Mobil terbaik? Kelihatannya, Citroen itu tak jauh berbeda dengan jeep rongsokan tadi. Richard pun terbahak. Kembali ke �peradaban�� Pagi hari, aku terbangun dengan dada agak sesak. Hari itu adalah jadualku pulang ke Narbonne. Andai tak ada acara lain, ingin rasanya aku ikut Richard dengan mobil �manis�nya itu ke Paris. Mmh� tidak bisa tidak, aku meyakinkan diriku untuk bangkit dan berkemas. Di bar, Denis menemaniku sarapan pagi sambil menghitung-hitung biaya keberadaanku di sana. Paket wisata River yang kupesan dari Paris waktu itu adalah 820 franc untuk dua malam berkemah (termasuk makan tiga kali sehari), dua kali berarung jeram, serta bersepeda selama 2 jam. Namun di hari terakhir itu, kuketahui bahwa aku telah berkemah selama 5 malam, tiga kali berarung jeram, bersepeda selama hampir 7 jam, dan Denis memberiku bill dengan angka yang tertera hanya 750 franc! Ketika kutanyakan hal itu, ia tersenyum menjelaskan ketertarikannya akan niat dan kemandirianku datang sendiri ke River. Sambil menikmati alam pegunungan Alpen dari dalam bus menuju Gap, aku kembali membayangkan pengalamanku di River. Manis dan memikat. Senang rasanya mengingat Gael yang ribut cerewet, Jean-Paul yang pernah ke Indonesia sekitar 15 tahun lalu, Denis yang selalu sibuk, Richard yang �nyentrik�, Olivier yang sabar, Olivia yang cantik seksi, serta Arnaud yang nakal dan liar tak seperti dugaanku semula. Ya, Arnaud ternyata ramah dan baik hati. Dari begitu banyak pemandu River, hanya Arnaud dan Helene yang bisa berbahasa Inggris. Dan cuma pada Arnaud aku bisa teriak, �Arnaud! What is �gear� en francaise?� He-he-he�. *** |
||||||