Perempuan dan Kehidupan
Nuria W. Soeharto
Sebuah email masuk dalam inbox. Bercerita tentang seorang perempuan yang mati karena dipukuli suaminya. Ia tidak pernah bisa melawan karena pengabdian cintanya pada suami dan ketakutannya akan kehilangan suami. Pada banyak peristiwa-dalam rumah tangga ataupun lingkup yang lebih luas-perempuan dan kekerasan memiliki hubungan yang sering sulit dipisahkan. Bila cerita-cerita sedih ini menyebar sampai ke pelosok, perempuan-perempuan lain pun bangkit berdiri dan bersuara. Mereka yang mempunyai pengalaman serupa berjajar berdampingan. Mereka yang berwawasan lebih dalam dan luas, maju ke front terdepan.

Begitu gegap gempita perjuangan mereka namun tak banyak hasil yang bisa dipetik. Tulikah telinga para lelaki? Matikah jiwa mereka? Atau memang para perempuan inikah yang salah taktik? Salah memahami?

Agaknya, pengertian harus ada pada dua belah pihak. 'Hak' lelaki atas perempuan sebetulnya menyandang berjuta alasan kehormatan dan kesucian para perempuan yang harus dijunjungnya. Sementara perempuan 'mestinya' tumbuh dalam kepercayaan dan kebanggaan atas kekuatan dirinya sendiri yang gemulai.

Ruwetnya permasalahan kota sering membuat kita lupa akan kesederhanaan makna sebuah kehidupan. Kembali pada kelompok kecil komunitas serta memperhatikan detail setiap peristiwa merupakan jalan alternatif bagi mereka yang ingin belajar hidup 'nyaman'. Kita tengok beberapa kelompok etnis yang tinggal di pelosok negeri ini.   


Orang Rimba - Jambi

Dari punggungan-punggungan bukit di dalam hutan itu, perempuan-perempuan menghampiri kami perlahan. Beberapa orang berjalan dengan kainnya menutup dada sementara yang lain membiarkan buah-buah dadanya menggelantung bebas digayuti mulut bayi yang digendongnya. Masing-masing tampak ragu mendekat namun teriakan-teriakan para lelaki dari kejauhan agaknya memberitahu dan memastikan bahwa kami tak akan mengganggu. Tangan-tangan pun terulur menyambut sodoran tangan kami. Senyum mulai menghiasi wajah-wajah mereka. 

Bukanlah hal biasa bagi perempuan-perempuan kelompok etnik Orang Rimba ini untuk menemui tetamu. Hukum adat tidak mengizinkan mereka bertatap muka dengan orang lain-terutama lelaki-di luar kelompoknya. Hukum adat juga tidak memperbolehkan mereka ke luar dari hutan Bukit Dua Belas di Jambi itu. Dan bila Anda sempat mengunjungi kelompok etnik Orang Rimba ini, Anda akan tahu bahwa perempuan tidak dapat diabadikan lewat pemotretan.

Apakah lalu ini berarti para lelaki 'menguasai' perempuan? Ternyata tidak. Justru karena sangat mencintai dan menghargai perempuanlah maka para lelaki melakukan hal itu. Seperti rumah yang dianggap suci karena memayungi jiwa para penghuninya, perempuan juga disucikan karena kemampuannya melahirkan. Perempuan merupakan pemberi kehidupan atau bahkan menjadi kehidupan itu sendiri. Keberadaan mereka sangat dilindungi. Segala kegiatan yang berhubungan dengan kesejahteraan perempuan betul-betul diperhatikan.

Dengan foto, Orang Rimba beranggapan bahwa jiwa perempuan telah diambil bersama gambar yang ada di foto tersebut hingga kegiatan ini terlarang dilakukan. Pertemuan dengan orang lain dikhawatirkan akan menyebabkan penyakit-penyakit orang tersebut terbawa atau menular pada si perempuan. Penyakit di sini bukan hanya penyakit dalam arti harafiah namun juga 'penyakit' berupa pengaruh-pengaruh buruk. Batasan-batasan perlakuan terhadap perempuan ini diimbangi dengan mencukupi segala kebutuhan mereka hingga tanpa harus ke luar hutan pun para perempuan memiliki apa pun yang mereka perlukan: sandang, pangan, bahkan rokok sekalipun.


Nusa Tenggara Timur dan Dayak

Di salah satu kelompok etnik di Nusa Tenggara Timur, ada kebiasaan yang mengharuskan lelaki memberi mas kawin berupa guci pada calon pengantin perempuan. Di lokasi ini, guci merupakan barang langka dan mahal yang hanya bisa diperoleh dengan perjuangan. Lalu apakah itu berarti keluarga perempuan adalah keluarga 'matre'? Tidak. Pemikiran di baliknya sangatlah agung. Perempuan-sekali lagi-berdiri di tempat yang ditinggikan. Lelaki yang ingin mempersuntingnya haruslah mampu menunjukkan kesungguhannya dengan membawa guci hasil perjuangannya. Orang tua calon mempelai perempuan menilai apakah lelaki ini akan sanggup menggantikan 'fungsi' mereka mengurus anak perempuannya.

Orang Dayak lain lagi. Sepasang suami yang bepergian naik perahu berdua dengan istrinya akan secara spontan duduk 'leha-leha' di depan sementara si istri akan duduk di belakang mengemudikan perahu. Bila ini terjadi pada kita yang biasa hidup di kota besar, tentu kita sudah akan melabrak sang suami karena membiarkan istrinya bekerja keras mengemudikan perahu. Kita tidak sadar bahwa yang kita mengungkapkan pemikiran barat, pemikiran yang mengharuskan lelaki bersikap melindungi dan 'memanjakan' perempuan bila ingin dianggap sebagai lelaki gentle.

Pemandangan di perkampungan Dayak ini jangan dilihat seperti apa yang tampak kasat mata. Sesuai sebutannya, di sini sebetulnya justru si istrilah yang memegang kendali kemudi perahu. Istrilah yang berperan dalam mengarahkan ke mana laju perahu. Sementara suami mengikuti kemauan istri. Inilah lelaki gentle menurut ukuran Dayak.



Dari adat kelompok-kelompok etnis ini, kita bisa bercermin tentang perempuan di mata kehidupan. Atau lebih tepat: perempuan dan kehidupan, karena perempuan adalah kehidupan itu sendiri.

Dengan pemikiran dan sikap sederhana serta pemahaman perilaku masing-masingnya, layaklah kiranya bila jarak antara perempuan dan kekerasan bisa dilepaskan jauh-jauh, digantikan oleh perempuan dan lelaki yang berdekatan penuh kasih tanpa ketergantungan, saling mengisi dan menghormati. Seperti rasanya pernah diutarakan Kahlil Gibran tentang kedua makhluk ini: "Tegaklah berjajar namun jangan terlampau dekat, bukankah tiang-tiang candi tidak dibangun terlalu rapat?"


***
Hosted by www.Geocities.ws

1