| Karena Lembah itu Bernama 'Nuria'... | ||||||||
| Nuria W. Soeharto | ||||||||
| �Your name sounds Spanish, Nuria� And there�s a place called Vall de Nuria. Seeing you around with your back pack, sleeping bag and the tent, I�m sure you�re gonna love Vall de Nuria more than Madrid.� |
||||||||
| Ternyata benar. Vall de Nuria memang cantik. Letaknya di daerah Catalonia, Spanyol, di tengah pegunungan Pyrenees pada ketinggian 2000 meter. Gereja Katolik tua yang menjadi inti sejarah Vall de Nuria tetap tampak berwibawa meski sederet kamar-kamar hotel telah pula mengapitnya, lengkap dengan bar dan butik suvenir. Beberapa kuda berlarian bebas di arena istal yang sederhana, bersebelahan dengan jungkat-jungkit dan mainan anak-anak lain yang berada sekitar 100 meter dari sebuah caf� bernuansa kayu. Di sebelah caf�, empat buah target panahan terpancang di tengah area yang diberi pagar pembatas. Beberapa canoe dan perahu tertambat di danau biru berair tenang. Agak jauh di puncak bukit, youth hostel yang mungil dan manis terhubung lewat kereta gantung dari lokasi pusat. Semua tampak cantik dan damai. Tak ada hiruk pikuk Madrid atau Barcelona. Sambil bertelungkup di tenda kecilku dan bertumpu dagu menghadap ke luar, kunikmati pemandangan indah itu. Aku tersenyum mengingat �perjuangan hidup-mati�ku saat mencapai lembah ini. Malu bertanya memang sesat di jalan� Semuanya berawal dari sebuah titik kecil bertuliskan namaku �Nuria� di peta Eropa yang kubaca di Paris dulu. Titik kecil itu pula yang membuatku jadi begitu tergoda ketika seorang Ibu yang kutemui di perjalanan Barcelona - Madrid mengatakan bahwa memang ada tempat bernama �Nuria� di Spanyol. Aku terpacu mencari tahu dimanakah letak Vall de Nuria serta� what the hell is that �Vall de Nuria�??! Malu bertanya sesat di jalan. Tak bertanya pada si Ibu, aku pun �tersasar� terus sampai ke Madrid padahal ternyata �sesudah akhirnya tak malu lagi bertanya kian kemari� semua informasi merujuk pada kenyataan bahwa Vall de Nuria lebih mudah dicapai dari� Barcelona! Haduh� Jadilah aku kembali ke Barcelona. Tujuh jam perjalanan Madrid - Barcelona kutempuh dengan bus malam hingga aku bisa menghemat biaya penginapan. Barcelona - pukul 7 pagi. Masih terlalu awal untuk jalan-jalan. Jadi aku mangkal saja di stasiun sambil sarapan dan memastikan bahwa kereta terakhir menuju Vall de Nuria berangkat pukul 7 malam. Matahari sudah agak lebih tinggi ketika aku keluar dari stasiun kereta. Kutitipkan �gendongan�ku --ransel, sleeping bag, tenda-- di loker stasiun lalu kuhabiskan waktu di museum Football Club Barcelona Barca dan museum Olimpica di lokasi stadion Olimpiade. Pukul 5 sore, aku sudah berada kembali di stasiun. Namun sebuah masalah muncul. Kebodohanku berbahasa Spanyol membuatku ternganga ketika petugas tiket menjelaskan bahwa untuk sampai ke Vall de Nuria, aku harus melewati desa kecil bernama Ribes de Freser. Sementara yang dimaksud dengan kereta terakhir ke Vall de Nuria pukul 7 malam itu adalah kereta rack railway dari Ribes de Freser. Padahal perjalanan Barcelona � Ribes de Freser memakan waktu dua jam dan kereta tercepat yang aku dapat baru akan sampai di Ribes de Freser jam 8 malam! Otakku berjalan cepat menimbang-nimbang. Haruskah aku menginap dulu di Barcelona? Atau pergi saja langsung ke Vall de Nuria? Apa yang ada di sana? Apa yang akan kulakukan di sana? Aku tak punya bayangan sama sekali. Namun akhirnya� what the heck! Daripada menghabiskan uang di Barcelona yang pernah kudatangi sebelum itu, lebih baik aku pergi ke tempat yang baru sama sekali, tentu dengan segala resikonya. �Curiosity kills� Sesudah berkereta selama dua jam dari Barcelona, aku tiba di Ribes de Freser. Kepanikan mulai menjalar tubuhku. Malam menjelang dan hotel-hotel serta motel penuh oleh mereka yang akan pergi ke Vall de Nuria. Aku tak menemukan kamar kosong sama sekali. Anak-anak muda dengan �gendongan� yang lebih besar dari milikku, berniat pasang tenda di lokasi perkemahan yang jauhnya sekitar 2 km dari stasiun rack railway. Beberapa orang memang ingin jalan kaki ke Vall de Nuria sementara yang lain akan kembali ke stasiun rack railway pada keesokan paginya untuk naik kereta ke lokasi Vall de Nuria. Aku tahu aku terlalu lelah kalau harus berjalan lagi. Apalagi dengan �gendongan� yang rasanya makin lama makin berat. Bar-bar dan caf�-caf� penuh dengan mereka yang tertawa ceria tapi aku tak lagi tertarik. Kini� apa yang harus kulakukan? Kudatangi stasiun, kukatakan masalahku dan keinginanku untuk pasang tenda di halaman parkir stasiun. Si penjaga stasiun memberitahukan adanya larangan pemasangan tenda di situ namun kalau aku mau, aku boleh saja menggelar sleeping bag-ku di emperan stasiun. Hmmm�yah� apa boleh buat! Akhirnya, di tengah dingin angin malam serta sayup-sayup gonggongan anjing penjaga stasiun, aku tertidur di lantai emper stasiun dengan sleeping bag-ku yang hangat. Namaku juga �Nuria�� Pukul 6.30 pagi. Aku terbangun oleh suara-suara para pegawai stasiun yang datang. Segera aku bangun dan berbenah diri. Beberapa menit kemudian, stasiun mulai ramai dengan turis-turis domestik Spanyol yang ingin pergi ke Vall de Nuria. Untuk mencapai lokasi tersebut, kita memang hanya bisa menggunakan kereta rack railway dari Ribes de Freser. Mereka yang bermobil harus memarkirnya di Ribes de Freser. Pukul 7 pagi. Kereta rack railway itu merangkak perlahan melintasi pegunungan Pyrenees. Masuk terowongan lalu naik menyipir gunung� indah sekali. Segala lelah dan panik lenyap tak berbekas. Pukul 8 pagi. Kereta berhenti di stasiun kecil. Aku ke luar, menatap sekeliling dan menghela nafas. Jadi inilah �Vall de Nuria.� Yah� Keindahan itu memang terhampar di sana. Aku berjalan masuk menemui petugas resepsi yang kemudian membawaku ke camping ground dekat sungai kecil yang mengalir sejuk. Kupasang tendaku dan kunikmati bekal perjalananku sambil memperhatikan keindahan di sekelilingku. Setelah dua jam berleha-leha, aku berdiri dan berjalan-jalan menyimak apa yang ada. Di tengah ramainya orang-orang berakhir pekan itu, seseorang berbahasa Spanyol menyapaku. Mungkin karena aku satu-satunya yang berkulit gelap dan berkeliling tanpa teman. Dalam bahasa Inggris kukatakan bahwa aku tak mengerti bahasanya sama sekali. Iapun meneruskan sapaannya dengan bahasa Inggris. Ramah bertanya darimana asalku dan apa yang membuatku ke sana. Vall de Nuria bukanlah lokasi wisata yang umum bagi para turis internasional. Ia, yang ternyata pastor di gereja itu, terkejut mendengar ceritaku yang heboh. �Your name is Nuria? From Indonesia? Jakarta, right? You come here only because that lady said there�s a place named like yours? And you�re not even a Catholic? How can Indonesian Moslem has a name like Spanish Catholic? We�re not close enough to exchange culture and history. In Indonesian, what does your name mean? Light? Source light? Like the Sun? It�s amazing. I always say in my mess that Nuria means the Sun though nobody knows anymore what it really means.� Lalu aku diminta menandatangani buku besar yang ternyata berisi tanda tangan semua turis bernama Nuria. Aku harus menulis bahwa aku dari Indonesia, negeri yang tak terhitung jauhnya dari Spanyol. Ah� di mana pastor itu sekarang? Mungkin ada di depan butik, berbincang dengan para tamu seperti yang dilakukannya kemarin denganku. Doa Ibu selalu �manjur�� Sekelompok anak muda yang terbahak riang membangunkanku dari lamunan. Wah.. sudah pukul 10 pagi. Aku menggeliat dan berdiri. Kuputuskan untuk mendaki ke puncak gunung Puigmal. Menurut pengawas lokasi yang memintaku mengisi daftar mereka yang pergi tanpa pengawalan ke Puigmal, perjalanan ke sana akan memakan waktu maksimal empat jam. Dengan berbekal peta dan makan minum secukupnya, aku berjalan sendiri menuju Puigmal yang tingginya kurang lebih 1000 m lagi dari lokasi Vall de Nuria. Di tengah pendakian, aku berpapasan dengan laki-laki tua yang sehat. Kembali sapa menyapa berlangsung. Ramon, begitu namanya, tampak senang berkenalan denganku. Agaknya, niat dan kenekadanku datang sendiri ke Vall de Nuria merupakan hal yang sangat menyentuhnya. Kulanjutkan perjalananku. Sesaat aku berhenti mengambil nafas. Kubuka botol minumku sambil menikmati keindahan sekelilingku . Lalu entah kenapa, tiba-tiba aku merasa kecil dan sendiri. Sejauh mata memandang, hanya punggungan-punggungan gunung bebatuan dan berumput hijau itulah yang terlihat. Tak ada orang lalu lalang. Kesendirianku begitu menyesakkan dada. Tanpa sadar air mataku mengalir turun. Bayangan akan berbagai kesulitan dan kepanikan yang kualami hari-hari sebelumnya, kesadaran akan jauhnya aku dari tanah kelahiranku, serta ingatan pada orang tuaku di Jakarta makin membuat dadaku penuh.Aku pun menangis tak tertahan. �Ibu� aku sendirian� Ibu temenin aku, ya�� Aneh. Tak sampai lima menit kemudian, entah darimana, tiba-tiba kulihat beberapa titik bergerak menuju ke arahku. Kuhapus airmataku . Ternyata Ibu mendengar doaku. Perjalanan ke Puigmal pun menjadi lebih menyenangkan karena mereka yang berpapasan denganku memberi semangat dan sapa ramah. Bahkan ada seorang anak muda yang mengatakan dengan bahasa Inggris terpatah-patah, bahwa puncak Puigmal tinggal 100 meter lagi padahal di hadapanku masih ada 3 punggungan bukit! (Ketika kusampaikan pada Ibu tentang doaku itu, Ibu berkata bahwa bukan Ibu yang mendengar doaku tapi Tuhan-lah yang mendengar doa Ibuku untuk selalu menemaniku kemanapun aku pergi.) Dua setengah jam kulalui untuk sampai di puncak. Dan dalam dingin serta kabut tebal, kutandatangani buku lusuh bertuliskan �Friends of Nuria�. Seorang laki-laki kemudian menemaniku berbincang. Walaupun bahasa Inggris-nya buruk, ia cukup antusias menjadi pemanduku. Darinya kutahu bahwa �Nuria� adalah sebutan para penduduk Catalonia untuk Santa Maria. Bayi-bayi perempuan baru lahir banyak yang dinamakan Maria Nuria. Berbagai cerita dan lelucon muncul dalam perjalanan menuruni Puigmal bersama Frank (aku lupa nama Spanyol-nya). Aku bahkan terbahak keras ketika dengan susah payah ia mengacu pada judul film �Silence of the Lamb� dan bunyi-bunyian �tulong� tulong�!� saat menunjuk kehadiran kambing-kambing yang berlarian di pegunungan Pyrenees dengan gemerincing kalungnya. Aku tertawa karena sebelumnya kupikir, �Orang Jawa mana lagi yang tersasar di gunung sejauh ini dan berteriak �Tulong� tulong!�?� Saat menuruni gunung, aku agak panik karena awan tebal memayungi lembah. Aku tak begitu yakin dengan kemampuan tendaku mengatasi hujan. Sesampainya di tenda, segera kubereskan barang-barangku dan kuangkut ke loker dekat hotel. Seorang gadis dari Barcelona membantuku mengatasi loker yang macet. Ngobrol punya ngobrol, ternyata namanya juga Nuria! Aku baru saja selesai mandi ketika kulihat Ramon berjalan menuju tendaku. Ia mengundangku ke Youth Hostel tempatnya menginap yang kutepati pada pagi keesokan harinya. Bersama Aniol cucunya, kami menyusuri jalan setapak yang mengelilingi gunung, bertukar cerita tentang kondisi negeri dan pengalaman hidup masing-masing. Untuk yang terakhir ini, Ramon lebih banyak berbicara mengingat ia sudah berada di dunia ini sejak 70 tahun lalu! Keesokan harinya, aku berkuda berkeliling. Pemandu yang kocak dan ramah membawa kami naik turun di punggungan gunung-gunung itu. Ceritanya tampak ramai dan seru (�tampak� karena aku tak mengerti bahasanya..). Apalagi ketika seseorang dengan ribut memanggil-manggil namaku. Kutengok dan� Nuria!! Bersama tiga teman lainnya, ia lalu mengajakku nge-bar. Seru juga, karena cuma Nuria yang bisa berbahasa Inggris sementara tiga lainnya bercerita dengan bahasa Tarzan yang ramai. Kadang aku menyahut dalam bahasa Jawa saja karena toh, mereka tak mengerti bahasa Inggris. He-he-he� Pulang� Empat hari aku berada di Vall de Nuria menikmati berbagai fasilitas wisata yang ada, bercanoe di danau, mencoba kemampuanku memanah, dan berbelanja di butik membeli beberapa suvenir. Saat pulang, aku tak sempat pamit pada Ramon dan Nuria beserta gangnya yang ceria. Kereta rack railway itu berangkat tepat pada waktunya. Kembali kunikmati perjalanan menyisir gunung dari Vall de Nuria. Di Ribes de Freser, seorang laki-laki yang pernah berkuda bersamaku mengingatkan untuk segera naik ke kereta menuju Barcelona. Aku tersenyum melambaikan tangan. Kukatakan padanya bahwa aku akan langsung ke Toulouse lewat La Tour de Carol, perbatasan Spanyol dan Perancis, yang berlawanan arah dengan Barcelona. Perjalanan Ribes de Freser � La Tour de Carol � Toulouse juga sangat menyenangkan. Sendiri duduk dekat jendela, aku kembali menikmati pemandangan cantik. Masih terbayang pengalaman unik, camping di lembah bernama serupa dengan namaku, nun jauh di ujung Spanyol. Sebuah tempat wisata yang menyajikan pegunungan indah dengan kebersihan dan kesegaran alami serta pelayanan sempurna �termasuk jasa posnya yang sangat bisa diandalkan. Kapan kiranya aku bisa ke sana lagi? Ah� yang jelas, lain kali aku harus sudah pintar bahasa Spanyol. ***** |
||||||||