Cyber, The Matrix, dan Budhisme
Nuria W. Soeharto
Cyberspace memang 'makanan' orang kota. Atau paling tidak merupakan sajian bagi kita yang memiliki-bila dipermudah-jaringan tiga sekawan: komputer, telpfon, dan modem. Di Jakarta, banyak orang telah menggunakannya. Di kantor, di rumah, di kampus, bahkan di dalam mobil saat jalanan macet sekalipun. Rasanya tidak ada yang menyelesaikan satu harinya tanpa jemari bergerak lincah di atas tuts komputer untuk bergurau, belajar, dan berbisnis lewat dunia cyber ini. Cyber pun menjadi bagian dari keseharian kita yang orang kota, 'anak Jakarta'.

Dunia digital, dunia virtual, dunia online atau dunia
cyber, begitu kita menyebutnya. Namun secara lebih spesifik, para ahli memperkenalkannya sebagai Information Superhighway. Memang, informasilah yang terutama disodorkan oleh dunia cyber ini. Bermilyar informasi dengan segala topiknya tersedia dalam pixel-pixel kecil yang menyebar di kompleksnya jaringan tiga sekawan komputer, telpfon dan modem. Informasi ini begitu mudah dan cepat diperoleh, serta akhirnya mampu mendekatkan-bahkan mempersatukan-dunia aktual yang terpisah secara geografis, Timur dan Barat.

Banyak peneliti memperhatikan bagaimana para pengguna
cyber ini menempatkan dirinya di antara dunia aktual dan dunia virtualnya. Memang cyber hanya 'sekedar' media komunikasi antar kita. Namun penelitian-penelitian membuktikan bahwa dampak dari yang 'sekedar' ini begitu dalam dan luar biasa. Berbagai pandangan jauh ke depan memperlihatkan berbaurnya dua dunia ini, tidak lagi jelas mana yang aktual dan mana yang virtual. Mereka yang tidak punya 'pegangan', akan hilang ditelan nuansa dunianya. Seperti layaknya hukum alam, di mana semesta hanya mau mengakrabi mereka yang sanggup beradaptasi. Bingung? Baiklah. Kita pakai contoh saja.


The Matrix

Sempat nonton film 'The Matrix'? Versi pertama, tahun lalu? Sebuah film
science-action (istilah saya sendiri) yang penuh dar-der-dor, menyuguhkan cowok macho yang manis dan pintar, serta 'pamer' kecanggihan teknologi pembuatan film Hollywood. Kalau tidak salah, mereka menggunakan 250 buah still-camera (kamera foto) untuk memperoleh effect yang prima. Gila, memang. Di dalam bioskop saat menontonnya, saya seperti 'tersedot' oleh hebohnya jalinan video-audio dalam film ini. Namun di lain pihak, harus diakui bahwa film itu sarat dengan ajaran-ajaran Budhisme.

Inti cerita, Neo yang diperankan oleh si ganteng Keanu 'mas Nunu' Reeves, telah menghabiskan banyak malam tanpa mampu tidur nyenyak, berpikir dan berpikir di hadapan komputernya, mencari-cari tanpa tahu apa yang diinginkannya, mempertanyakan keberadaannya di balik komputer. Sementara Morpheus-si hitam keren Laurence Fishburne-begitu percaya bahwa Neo adalah
'The Chosen One' yang ditunggu para prajurit pemberontak untuk memimpin mereka memastikan kebebasan hidup di dunia 'aktual'. 

Namun yang disebut 'aktual' oleh para prajurit ini tidak lagi 'nyata'. Dunia 'aktual' bagi mereka adalah dunia di mana 'the mind controls the body'. Perhatikan apa kata seorang bocah yang ditemui Neo di ruang tunggu
'The Oracle', paranormal sesepuh bagi para pejuang itu: "Don't try to bend the spoon. It's impossible. Instead, try to realize the truth: there is no spoon. It is not the spoon that bends. It's only yourself."

Neo sendiri tidak percaya pada takdir yang dianggapnya membuatnya berpikir bahwa ia tidak memiliki kontrol terhadap hidupnya sendiri. Ini bertentangan dengan Morpheus yang berpendapat bahwa kepercayaan atau keyakinan sangat diperlukan untuk mencapai apa yang dicita-citakan.

Keyakinan Morpheus yang sangat besar akan Neo sebagai
The Chosen One yang akan menyelamatkan para pejuang pada saatnya memang mempengaruhi Neo. Kesannya begitu mendalam, terutama setelah pertemuannya dengan The Oracle yang mengatakan bahwa "Morpheus believes in you so blindly that he'll sacrifice his life to safve yours".

Seperti layaknya film-film Hollywood lain, The Matrix berakhir
happy-ending. Morpheus lepas dari kungkungan lawan-lawannya, sementara Neo menyadari kemampuannya sebagai The Chosen One. Sekuel film ini sedang diputar di bioskop-bioskop sekarang ini. 


Budhisme dalam 'The Matrix'

Di balik dar-der-dor serta
show-off teknologi tinggi pembuatannya yang memang mengagumkan dan bikin ngiri para pembuat film Indonesia, The Matrix memperlihatkan pembauran pemikiran Timur dan Barat. Atau lebih tepat, pemikiran-pemikiran Budha yang direalisasikan a la kapitalisme Hollywood.

Bila disimak, pemikiran inti yang sangat Buddhistis dalam film ini yaitu
the mind controls the body digambarkan secara materialis oleh para film-makernya. Kemampuan the mind-atau katakanlah pikiran-mengontrol tubuh untuk berkelahi misalnya, ditampilkan dalam sebuah permainan simulasi komputer lengkap dengan berbagai program kungfu, jujitsu, dan sebagainya, termasuk tingkat-tingkat kesulitannya. Darah tak pernah mengalir di dunia simulasi itu namun tubuh yang terbaring penuh kabel di dunia 'aktual' sering berkejut-kejut mengikuti rasa sakit saat dihantam lawan di dunia virtual. Ketahanan fisik dan kecepatan bergerak merupakan dua di antara banyak hal yang bisa dikontrol oleh pikiran.

Pemikiran lain yang amat sangat universal adalah cinta. Bagaimanapun dan sampai kapanpun, cinta menjadi kekuatan bagi mereka yang mampu menyadari, merasakan dan mengungkapkannya. The Matrix memperlihatkannya lewat sebuah kecupan dalam dari si geulis Trinity yang akhirnya sanggup menyatakannya pada Neo, yang sebetulnya sudah 'mati' di dunia virtual. Ungkapan cinta yang ini mengetuk kesadaran Neo dan memberinya kekuatan untuk bangkit kembali dengan keyakinan penuh akan kemampuannya menggetok lawan-lawannya di dunia virtual, di tengah hingar-bingar kekacauan mesin-mesin komputer yang digerogoti makhluk-makhluk ajaib di dunia 'aktual'.


Aktual? Virtual?

Seperti telah disebutkan di muka, selain pembauran pemikiran Timur dan Barat yang terjadi akibat keberadaan
cyber ini, pandangan jauh ke depan memperlihatkan berbaurnya dunia aktual dan virtual. Mereka yang sangat bergantung pada jaringan tiga sekawan ini harus betul-betul sadar apa maunya dan siapa dirinya, untuk bisa berdiri tegak di tempat yang diinginkannya, entah itu dunia aktual atau dunia virtualnya, karena mungkin suatu saat nanti dua dunia ini memang tidak lagi terpisah begitu jauh.

Teknologi terus memperkecil jaraknya dengan tubuh kita. Bila dulu manusia harus menghabiskan waktu berminggu-minggu perjalanan untuk hadir mendengarkan petuah Budha yang duduk di bawah naungan
the bo tree, kini hanya dengan beberapa kali klik di jaringan tiga sekawan itu kita sudah 'bertemu' Budha dan mengetahui ajaran-ajarannya. Bila jaman Julius Caesar Romawi dahulu Brutus harus berkuda ke istana ketika Caesar memanggilnya, maka kini kita tinggal berjalan selangkah dua langkah menuju telpon yang berdering, atau bahkan hanya merogoh saku mengeluarkan telpon genggam.

Di satu sisi, masa depan memang tampak sangat menyenangkan. Tak akan ada kemacetan panjang di jalur pantura karena sistem transportasi bisa dipersingkat dengan mobil-mobil terbang seperti dalam film The Fifth Element, misalnya. Atau mungkin juga digital transport
a la Star Trek. Kemiskinan informasi juga tidak akan menjadi masalah karena bisa diperoleh di mana saja dengan sekali klik komputer, atau bahkan dengan sekali order by voice.

Namun di lain pihak, kesenjangan dunia aktual dan virtual perlu juga diperhatikan. Kecanggihan teknologi sanggup menghidupkan yang sesungguhnya mati dan mematikan yang hidup. Hanya mereka yang punya keyakinan tinggi akan mampu beradaptasi, lebih baik daripada mereka yang masih gonjang-ganjing memikirkan siapa dirinya dan di mana ia berdiri, seperti juga Neo yang semula ragu akan ketangguhannya sendiri. Budha-lewat The Oracle-mengatakan
"You got the gift. But it looks like you're waiting for something." Bila something itu telah ditemukan, tak perlu bertanya lagi, kita pasti tahu bahwa Neo ada di 'sana' membantu kita dengan keyakinannya, "This is  not the end, it's only the beginning. Where we go from there is a choice I leave it to you".

Jadi, hati-hatilah mereka yang kini telah mulai menghabiskan banyak malamnya tanpa tidur, berpikir dan terus berpikir tentang dunia 'indah' di balik komputer. Cepatlah sadar dan mencari tahu perbedaan yang selalu digembar-gemborkan Morpheus:
"It's about knowing the path...  and walking it..."


***
Hosted by www.Geocities.ws

1