Latvia: Membangun Negeri Impian...
Nuria W. Soeharto
Latvia. Tidak banyak orang mengenal negeri mungil ini, kecuali bila ia disebut bersamaan dengan para tetangganya, Lithuania dan Estonia, di Eropa Timur. Pepatah lazim 'tak kenal maka tak sayang' agaknya memang sangat tepat karena ketika saya berkesempatan hadir di sana, saya kemudian begitu cinta pada negeri eksotis yang sedang berjuang keras meninggalkan bekas-bekas cakar Rusia sang beruang. Ibu-ibu bertubuh besar yang berdiri berjajar di kala pagi masih dingin, gedung-gedung yang tua dan lembab, serta crane dan bunyi bising pembangunan kota, merupakan pemandangan sehari-hari di Riga, ibukota Latvia.


Mencapai Latvia

Latvia memang mungil. Ia berbatasan dengan Rusia di sebelah Timur, Estonia di Utara, Belarus di Tenggara, serta Lithuania di Selatan. Dengan tanah yang hanya sekitar 64,6 kilometer persegi, penduduk Latvia cuma berkisar 2,5 juta orang dengan sekitar 800 ribu berada di ibukotanya, Riga. Dari 2,5 juta itu, 55,7% merupakan penduduk asli Latvia, 32,3% adalah orang-orang Rusia, 3,9% berdarah Belarus, 2,9% dari Ukrainia, 2,2% Polandia, 1,3% Lithuania sementara 1,7% sisanya bercampur baur.

Kampanye yang pernah dilakukan USSR untuk me-rusia-kan segalanya di Latvia membuat orang-orang Latvia pernah menjadi minoritas di negerinya sendiri. Kini, pemerintah Latvia memberikan status kewarganegaraan bagi para penduduk sebelum perang dan keturunannya, serta mereka yang terlahir di Latvia sesudah kemerdekaan.

Mencapai Latvia tidaklah mudah. Bagi orang-orang Amerika dan Eropa-termasuk Inggris serta Vatikan-memang bukan masalah karena mereka bisa mendapatkan stempel visa di perbatasan. Namun kita yang tinggal di Indonesia haruslah bersabar mengurus visa di kedutaan Latvia yang hanya ada di kota-kota tertentu seperti London - Inggris serta Helsinki - Finlandia. Permintaan visa harus dilengkapi dengan surat undangan resmi dan asli dari rekan kita di Latvia yang diverifikasi oleh Department of Citizenship and Migration of Latvia, atau konfirmasi dari reservasi hotel yang bersertifikat.

Dari Helsinki, kita bisa langsung terbang ke Riga, ibukota Latvia. Namun buat mereka yang lebih menyukai jalan darat, ada kapal laut yang akan membawa kita dari Helsinki menuju Tallinn - Estonia, yang tentunya harus disambung lagi dengan bus menuju Riga sekitar 5 jam. Ini merupakan jalur menarik bila mengingat bahwa Rusia pernah memberlakukan pengawasan begitu ketat di setiap perbatasan, termasuk perbatasan Estonia-Latvia. Ada rasa was-was dan cemas yang sebetulnya tidak perlu terjadi bila kelengkapan visa telah beres, namun tetap menyenangkan memiliki ingatan akan kerasnya Rusia waktu itu.

Jika ingin 'aman', bisa saja menggunakan kapal laut Helsinki - Stockholm yang kemudian dilanjutkan dengan kapal laut lain Stockholm - Riga. Dan jangan bayangkan kapal laut ini seperti kapal laut kita di sini. Kapal laut ini begitu nyaman dengan diskotik, bar, restoran, bioskop, serta permainan ding-dong-nya hingga mungkin saja kamar yang telah dipesan tidak terpakai karena kita bermain semalaman.


Latvia, Baltik, dan Rusia

Latvia merupakan satu dari tiga negara yang disebut sebagai Baltik. Dua lainnya adalah tetangganya Estonia dan Lithuania. Estonia dan Latvia yang terletak di dekat laut, seperti juga Finlandia, merupakan negara-negara berbasis maritim dan perikanan. Sementara Lithuania lebih pada agrikultur seperti Jerman. Meskipun demikian, Latvia tidak memiliki dasar bahasa dan kebudayaan yang sama seperti Finlandia.

Dalam sejarahnya, Latvia dengan Riga-nya yang berdiri lebih dulu-yaitu tahun 1201-sempat berpindah kepenguasaan dari Jerman, Swedia, Polandia dan terakhir Rusia. Di tangan Rusia sebagai kerajaan, Latvia pernah memerdekakan dirinya dan menjadi  Republik Latvia pada tahun 1918. Namun ketika Rusia membentuk federasi USSR, Latvia kembali dipaksa menjadi satu di antaranya. Baru pada tahun 1990, parlemen Latvia meluncurkan Deklarasi Kemerdekaan yang diakui keberadaannya secara internasional setahun sesudah itu. Rusia meninggalkan Latvia secara total pada tahun 1994.

Tahun 1905 merupakan tahun mengerikan yang dicatat betul oleh orang-orang Latvia. Kekacauan yang merambah kerajaan Rusia sangat mempengaruhi daerah Baltik meskipun tingkat pergolakan itu bervariasi di antara daerah Lithuania dan sekitarnya hingga ke arah Utara. Yang paling besar terjadi di Tallinn-ibukota Estonia-dan Riga. Mahasiswa-mahasiswa dari University of Dorpat menaikkan bendera merah mereka. Petisi-petisi disebarkan demi kebebasan pers, kebebasan berkumpul, dan hak azasi. Pemerintahan Revolusi Sementara dibentuk di Riga. Sekitar 180 rumah dan tanah orang-orang kaya dibakar dan 82 bangsawan dibunuh. Di Tukums, orang-orang Latvia berperang melawan para serdadu Rusia selama dua hari penuh. Pemberontakan ini betul-betul merupakan penindasan besar-besaran. Sembilan ratus orang dieksekusi dan ribuan orang dipenjara atau diasingkan ke Siberia. Perang Dunia pertamalah yang justru melepaskan dominasi Rusia di tanah Latvia. Delapan belas November 1918 merupakan hari besar Latvia yang mendeklarasikan kemerdekaannya sebagai Republik Latvia. Tanggal ini menjadi tonggak sejarah yang hingga kini diperingati secara nasional.

Namun kemudian, ketika Rusia kembali berkuasa atas Latvia dalam USSR, Rusia menjalankan kontrol politiknya dengan memberlakukan screening commission yang menginvestigasi riwayat hidup dan pandangan politik masing-masing penduduk yang berusia lebih dari 12 tahun untuk memutuskan siapa yang harus dideportasi dan siapa yang ditangkap. Hanya ada dua tuduhan resmi, yaitu 'kriminal perang' dan 'musuh rakyat'. Hingga tahun 1945-46  itu, sekitar 60 ribu penduduk dideportasi dari Latvia.

Pada waktu Stalin berkuasa di Rusia, pemantapan ke-rusia-an atau yang biasa disebut russification berlangsung di Latvia. Orang-orang Rusia dipekerjakan dan diberi rumah di Latvia hingga penghuni-penghuni asli Latvia menjadi minoritas di negerinya sendiri. Beberapa waktu setelah Stalin meninggal, pergolakan-pergolakan yang muncul di Polandia dan Hongaria memperlihatkan indikasi adanya keinginan massa di berbagai region untuk mengubah diri dalam USSR. Sensibilitas non-Rusia terbangun dan menjadi debat umum di hampir semua republik yang terikat USSR. Ini terjadi karena sejak tahun 1938, pengajaran di sekolah-sekolah Rusia setempat-meskipun menggunakan bahasa lokal-membombardir mereka dengan bahasan tentang serba serbi Rusia. Tindakan ini merupakan plot penguasa yang kemudian segera terlihat sebagai pelecehan terhadap bahasa lokal.

Sejalan dengan kembalinya kekuatan kebudayaan pada awal 1960an, penerbitan-penerbitan puisi, prosa, dan drama pun menjadi lebih terbuka dengan berbagai gagasan yang lebih kritis akan nasionalisasi. Protes-protes terhadap Moscow dikeluarkan, mulai dari penolakan berbicara dalam bahasa Rusia hingga penggunaan warna-warna bendera sebelum perang pada benda-benda suvenir.

Pergolakan-pergolakan terus terjadi. Pembentukan berbagai perkumpulan juga terus bermunculan. Hingga akhirnya Latvia benar-benar merasakan kemerdekaannya pada 1990 dan terlepas bebas dari Rusia pada 1994.


Latvia Kini

Di masa ini, Latvia-terutama Riga-berada dalam masa transisi melepaskan kepedihan komunisme Rusia. Segala hal yang berbau Rusia atau komunisme ditinggalkan, atau dicoba untuk ditinggalkan. Berbagai properti pribadi yang pernah disita pemerintah-di masa pemerintahan Rusia tentunya-karena tidak ada kata 'pribadi' dalam kamus komunisme, kini dikembalikan kepada si empunya.

Monumen-monumen dewa komunisme seperti Stalin dan Lenin dipindahkan ke tempat-tempat 'tersembunyi' yang tidak menyolok mata, paling tidak bagi para penduduk asli. Gedung-gedung dibongkar, dipugar, atau direnovasi. Dengan tetap menerapkan segi seni arsitekturnya, bau-bauan komunisme dimusnahkan. Crane, stagger dan jaring-jaring pengaman merupakan pemandangan sehari-hari di lingkungan Riga.

Kecanggihan teknologi merupakan hal umum di kalangan tertentu. Handphone, komputer dan internet bukanlah sesuatu yang aneh dilihat di antara pekerja kantoran atau akademis, misalnya. McDonalds, Radisson Hotel, Hewlett Packard, serta banyak lainnya telah memperlihatkan diri di sana.

Bar, cafe, musik-musik serta atraksi pinggir jalan meramaikan suasana ceria malam hari. Anak-anak muda dengan berani berbincang dan menggoda orang-orang asing. Gedung-gedung pertunjukan dan pameran diwarnai berbagai acara seni yang sangat dihargai di sana karena para senimanlah pemicu kemerdekaan. Kesenduan yang dulu menyelimuti Latvia kini tersingkir oleh kebebasan yang penuh tawa dan gurau.


Menapak Jejak Komunisme


'Komunisme' mungkin akan berdengung di telinga begitu mendengar kata Rusia. Dan mengetahui sejarahnya di Latvia, banyak keingintahuan akan peninggalan-peninggalannya di sana. Pasti. Sayangnya, hal ini tidak akan terlihat di Latvia secara kasat mata. Begitu besar kepedihan yang mereka rasakan hingga monumen-monumen Lenin, Stalin dan patung-patung besar lain yang menjadi simbol penindasan telah di'hilang'kan dari pemandangan umum Riga.

Namun bila diperhatikan secara lebih teliti, banyak fenomena yang memberitahukan jejak komunisme itu. Atau secara umum katakanlah, kebiasaan Rusia. Coba silakan mengawali pagi dengan berjalan-jalan di sekitar Old Riga-daerah sebelah Timur sungai Daugava, sungai besar yang membelah ibukota Riga. Ibu-ibu bertubuh besar dengan pakaiannya yang khas berdiri berjajar di pinggir jalan, seolah berada pada masa lalu saat mereka harus mengantri demi sepotong roti. Banyak yang menghindar difoto karena rasa takut akan 'pengaduan' pada pengawas masih menghantui.

Atau mari berkeliling Old Riga dengan berjalan kaki. Lihat truk-truk yang sedang parkir menunggu muatan, bentuknya begitu 'Rusia' karena memang buatan sana. Perhatikan kios-kios majalah dan buku yang tersebar di banyak tempat, Anda akan sulit menemui bahasa lain kecuali Latvia dan Rusia. Lalu bercakaplah dengan orang-orang di sekitar Anda. Mereka yang tak memahami bahasa Inggris dan mengetahui bahwa kita tidak bisa berbahasa Latvia akan dengan patah semangat bertanya apakah kita mengerti bahasa Rusia. Jangan tanyakan arah jalan pada mereka karena kebaikan mereka harus diakhiri dengan pemberian sekeping santimi atau Lati, mata uang resmi Latvia.

Masuklah ke gedung-gedung tua di pelosok-pelosok Riga. Perhatikan detail bangunannya yang rusak dan tak terawat serta lembab dan kosong. Nyalakan televisinya dan lihat semua acaranya. Tiga stasiun menyodorkan program-program berbahasa Latvia dengan sub-title bahasa Rusia, atau kebalikannya. Film-film bioskop pun di-dubbed dalam bahasa Latvia, juga dengan sub-title bahasa Rusia.

Kemudian naiklah bus
trolley, perhatikan bagaimana kondektur mendekati dan menagih ongkos bus secara manual. Atau silakan melambaikan 'mikrolet' dengan ayunan tangan, sang sopir akan menghentikan 'mikrolet'nya di dekat kita, tanpa melihat apakah kita berada di tempat seharusnya kendaraan umum berhenti.

Terakhir, perhatikan sekitar Anda.. coba lihat apakah ada orang lain berkulit segelap Anda? Sekali lagi.. adakah orang lain berkulit segelap kulit Anda? Ya.. ini perlu diulang dan diulangi kembali agar Anda merasakan betapa berharganya sebuah perjalanan ke suatu tempat yang sangat berbeda dengan keseharian kita-fisik maupun 'isi'nya. Agar Anda meresapi betapa berharganya sebuah perkenalan dengan Latvia, negeri mungil nun jauh di Eropa Timur yang dingin, sibuk menghapus bekas-bekas cakar sang beruang, demi membangun negeri impian yang merdeka...


*****
Hosted by www.Geocities.ws

1