Alam Kita · Berita · Cari Ilmu · Gallery · Info OPA · Cari Situs · Info Track · Alamat OPA · Info Film · Info Djokja · Info Cakrawala · ke Depan

[email protected]
Password
New users
sign up!
 
 
 

ALAMkita

A3

<< Prev | | Next>>

MENGELOLA HUTAN SECARA ADIL
BERBASIS KOMUNITAS. MUNGKINKAH?

Eko Teguh Paripurno *

PEMBUKA :
          BERTETANGGA ITU MUTUALIS

     Ketika kita mendengar istilah ?hutan?, apa sih yang langsung muncul di benak kita? Sebuah ?bayangan? kawasan dengan rimbun pepohonan. Gemericik air sungai yang mengalir jernih. Burung-burung berkicau, berlompatan dari satu ranting ke ranting yang lain. Bunga bermekaran, seresah dan tanah basah yang menyajikan simphoni bau harum alam. Hewan yang tidak pernah kita jumpai di rumah, melintas dan bercengkerama. Harimau melenggang, kijang berlari, kera bergelantungan. Demikiankah? Jika dalam ?bayangan? itu kita dilengkapi dengan ?manusia seutuhnya?. Interaksi bagaimana yang akan tergambar? Apakah aktifitas-aktifitas pencari madu? pencari burung? pemburu harimau? penebang kayu? peladang? Apapun aktifitas itu, semuanya dilakukan karena tuntutan alamiah : mencukupi kebutuhan ?hidup? dan kebutuhan ?sosialnya?.

Jika ekosistem hutan diibaratkan sebuah keluarga, dan masyarakat di sekitarnya adalah keluarga yang lain, maka keduanya bertetangga. Dalam bertetangga, kita tidak menginginkan hubungan yang kurang baik; yang saling asing dan tidak berinteraksi. Walaupun mungkin tidak saling merugikan. Dan tentu saja, kita akan menghindari interaksi yang saling merugikan, atau salah satu pihak cenderung merugikan pihak lain. Dan, pasti kita menginginkan hubungan yang ideal, yaitu hubungan timbal balik yang saling menguntungkan (mutualis). Tapi, adakah itu?

Tidakkah selama ini kita telah dididik menjadi orang yang asing terhadap hubungan mutualis itu, dan asing terhadap tetangga. Jika hutan itu kawasan konservasi, pendekatan yang dilakukan cenderung menempatkan hutan ?barang antik?, yang terisolir dari dunia luar. Posisi ini menjadikan peran serta masyarakat atas kawasan konservasi menjadi lemah. Pola pengelolaan kawasan konservasi ditekankan pada perlindungan sistem penyangga kehidupan, serta pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya. Sementara, sisi lain yang memungkinkan kawasan konservasi mempunyai hubungan mutualis dengan masyarakat di sekitarnya terkesan ?ditinggalkan?, yaitu pemanfaatan secara lestari sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya . Jika hutan itu kawasan budidaya, maka kita bukan ?pemiliknya?.. Hutan itu dimiliki oleh komunitas lain yang menjaganya dengan represif, yang tidak ramah dengan komunitas tepi hutan.

CERMIN DIRI :
          BELAJAR DARI MERUBETIRI ?


Perjalanan Bertetangga

Hubungan pertetanggaan masayarakat dengan Merubetiri ini sudah berjalan hampir satu abad. Tercatat pertetanggan ini dimulai tahun 1922, dengan adanya dusun Genteng di desa Curahnongko, serta mulainya dibangun pemukiman di seputar rawa Sanenrejo. Saat itu masyarakat tidak tergantung padi. Mereka memanfaatkan sagu, gadung, lorkong, wilus, dan bonggol pisang sebagai makanan pokok. Sampai tahun 1942 beragam makanan pokok ini masih dikonsumsi.

Sebagai tetangga hutan, masyarakat selama ini telah dihidupi melalui interaksinya. Masyarakat memanfaatkan hutan sebagai sumber kayu bakar dan bahan bangunan (jati, gemiliana, glirisidae, sengon, lamtoro), kemiri, kluwek, rotan, bambu, burung, ijuk, kayu, madu, bambu, dan rumput untuk pakan ternak. Hutan ini juga dimanfatkan sebagai sumber tanaman obat (kapulaga, cabe jamu, kayu manis, kecubung, kedawung, suren, joho). Boleh dikata, tidak satupun masyarakat petani yang bertetangga dengan hutan itu tidak diuntungkan karena keberadaannya. Selain keuntungan langsung seperti tersebut di atas, masih terdapat keuntungan tidak langsung atas interaksi bertetanggaan itu. Padi, jagung, kedelai, kacang panjang, kacang tanah, ketela pohon, tembakau yang di tanam di sawah dan tegal dicukupi oleh air yang sempat disimpan hutan itu. Industri rumah tangga, seperti industri genteng, tahu, tempe, krupuk. Dari mana bahan bakarnya? Belum lagi, kebutuhan air untuk MCK. Ternyata sebagian besar dicukupi dan dilakukan di sungai.

Pertetanggaan ini dimarakkan oleh munculnya tetangga baru : perkebunan. Misalnya perkebunan Bandealit dan Ledokombo. Dan, ternyata perkebunan ternyata juga dihidupi oleh hutan. Ketersediaan air di kawasan perkebunan sepenuhnya tergantung hutan yang masih menyediakan sumber air bersih. Interaksi ini tentu tidak dipikirkan karena perkebunan enklav dianggap mampu memenuhi kebutuhannya sendiri, tanpa tergantung dengan hutan. Buruh kebun ternyata juga masih memerlukan hutan karena gaji yang diterima dari perusahaan belum mencukupi. Mereka memanfaatkan hutan untuk mencari rumput, kayu, rotan, madu, dan burung. Di situ pula mereka menanam kacang tanah, kedelai, sayuran dan jagung.

Adalah sebuah ketidaklaziman jika banjir sering datang di kawasan sekitar hutan, tempat mata air sungai itu berawal. Di sekitar Merubetiri banjir setidaknya terjadi pada tahun 1954, 1955, 1978, 1983, 1986, 1987, 1991, 1993, 1996 dan 1999. Di curah takir banjir terjadi tahun 1954. Adakah hubungan sebab akibat antara banjir dan bahkan longsor, dengan penebangan hutan? Jika hubungan sebab akibat itu ada, maka yang paling mungkin adalah penebangan hutan yang mengakibatkan banjir. Bukan sebaliknya, banjir yang mengakibatkan penebangan hutan.

Penebangan hutan tercatat mulai tahun 1950-an, dan dihuni mulai tahun 1976. Berikutnya, penebangan besar-besaran terjadi mulai tahun 1987. Penebangan hutan makin marak di berbagai tempat sejak 1996 dan tahun 1998 sampai pada puncaknya, ketika lebih dari 500 orang setiap hari menebang dan mengambil hutan jati. Tahun 1999, dengan habisnya pohon jati, penebangan dialihkan ke jenis lain dengan intensitas yang lebih kecil, sekitar 50 orang setiap hari. Penebangan ini menjadikan sumber air menyusut, atau muka air tanah semakin dalam. Penurunan sumber air ini merubah sawah irigasi menjadi tadah hujan. Air semakin sulit di dapat di musim kemarau, dan melimpah di musim penghujan. Anomali aliran permukaan yang menyolok di musim kemarau dan penghujan menjadikan erosi lahan dan sungai semakin kuat sehingga sungai semakin dalam dan lebar. Di Curahtakir proses ini terjadi selama 30 tahun, dan merubah kawasan menjadi lahan kritis dalam waktu 50 tahun.


Kegiatan masuk hutan marak kembali ketika program rehabilitasi kawasan hutan disosialisasikan. Upaya ini dilakukan atas harapan : pendapatan masyarakat tepi hutan bertambah, dan hutan terjaga kerenanya. Masyarakat melakukan ?kebut-kebutan? pembersihan untuk ?menguasai? lahan. Pada proses ini-pun, ternyata berlaku hukum ?siapa kuat dapat?.. Masyarakat yang memiliki dana dan tenaga yang kuat, akan dapat melakukan penguasaan lahan lebih luas. Sejak itu, kawasan tepi hutan bak kawasan ?transmigrasi? baru dengan tanaman primadona mereka : tembakau, jagung, kedelai dan kopi. Sebuah pengalaman serupa pernah terjadi di Curahtakir. Pada tahun 1967, Perhutani membuka hutan untuk untuk tumpangsari selama 2 tahun. Tetapi program ini ternyata berjalan terus sampai tahun ke 25.

Berapa keuntungan atau kerugian masyarakat dan perkebunan dalam bertetangga dengan hutan? Atau sebaliknya, berapa keuntungan atau kerugian hutan dalam bertetangga dengan masyarakat dan perkebunan? Belum ada hitungan yang pasti. Tetapi, yang jelas, telah terjadi hubungan tidak adil diantara mereka; dan hutan sebagai sisi yang dirugikan. Terlalu banyak contoh yang bisa menunjukkan ketidakadilan tersebut. Misalnya, pengangkutan hasil hutan terutama rotan, kayu dan bambu secara rutin dilakukan setiap hari dengan truk, dari berbagai pintu keluar. Pengangkutan dengan sepeda dilakukan jika sekedar untuk memenuhi kebutuhan sendiri. Pencarian berbagai jenis burung dilakukan sepanjang tahun, terutama dimusim kemarau. Pengambilan itu tidak hanya merugikan, tetapi telah melebihi kemampuan hutan untuk menghibahkan kekayaannya. Ini dapat dilihat dari keberadaan burung yang semakin sulit dijumpai, dan keberadaan bambu yang semakin dalam, batas-batas dilanggar dan dilupakan. Bahkan, hutan menunjukkan tanda-tanda kehilangan kemampuannya menghidupi ?keluarganya?, sehingga babi hutan, kera, kerbau liar ?numpang makan? di perkebunan dan ladang. Lantas, mungkinkah hubungan yang lebih adil dibangun? Sebuah hubungan yang ideal : mutualis? Sebuah kondisi keseharian yang serasi, saat masyarakat berperan meningkatkan kemampuan hutan dalam menghibahkan kekayaannya, sehingga imbasnya, pendapatannya mereka semakin besar.

Peran Kita : 
          Mencermati Siklus dan Membangun Keadilan

Kalau kita sebagai katalis dalam membangun hubungan yang lebih adil antara hutan, masyarakat dan perkebunan, maka kita perlu mencermati : komponen para pihak, siklus kebutuhan para pihak, siklus produksi para pihak, peran komponen para pihak dalam siklus produksi dan dalam pemenuhan kebutuhan. Secara kasar, pihak masyarakat dan perkebunan terdiri dari komponen : ulama, bidan, boreg, petani, pencari burung, pencari tanaman obat, pencari kayu, pencari bambu, dukun bayi, tentara, polisi, aparat kelurahan, pengrajin genting, aparat taman nasional, pencari rotan, pekerja kebun, pemilik kebun, pencari ijuk, pencari madu, pembuat tahu, pembuat tempe, guru, tukang kayu, buruh tani, ppl, ppa, pengepul, tentara, polisi, dan lain-lain. Pihak taman nasional terdiri dari komponen jati, gemiliana, glirisidae, sengon, lamtoro, kemiri, kluwek, rotan, bambu, ijuk, madu, pakan ternak, kapulaga, cabe jamu, kayu manis, kecubung, kedawung, suren, joho, babi hutan, kerbau, monyet, burung, air dan lain-lain.

Sebagai mahluk hidup individu dan sosial, pihak masyarakat dan perkebunan mempunyai siklus kebutuhan harian, mingguan, bulanan, tahunan dan tidak terjawal. Siklus harian misalnya : makan, minum. Siklus mingguan misalnya : membayar hutang, pengajian, sumbangan gereja / masjid. Siklus bulanan : arisan, bayar sekolah. Siklus tahunan misalnya : pakaian. Siklus tidak terjadwal misalnya : kondangan, naik haji. Besar kebutuhan ini tergantung dari masing-masing individu dalam strata sosial di masyarakat. Semakin tinggi strata sosial di masayarakat, maka kebutuhannya akan semakin besar. Siklus produksi adalah waktu-waktu kritis yang diperlukan untuk melakukan produktifitas, atas perannya sebagai komponen para pihak. Sebagaimana siklus kebutuhan, siklus produksi dapat terdiri dari harian, mingguan, bulanan, tahunan dan tidak terjawal. Siklus produksi harian komponen masyarakat misalnya : buruh, mencari bambu, mencari ikan, mencari rotan, mencari kayu, mencari pakan ternak, bikin tahu, bikin tempe, MCK. Siklus produksi mingguan misalnya : mencari burung, mencari tanaman obat, bikin genteng. Siklus bulanan misalnya : gajian (Pegawai kebun, PPL, PPA, TNI, Polisi). Siklus beberapa bulanan : bertani palawija, padi, kacang, jagung dan lainnya. Pada komponen hutan terdapat siklus harian, bulanan maupun tahunan. Siklus kebutuhan harian bagi sebagian besar warga hutan adalah kebutuhan bahan makan. Siklus lainnya yang cukup penting menyangut produktifitas. Misalnya saja, siklut produksi lebah, siklus bertelur berbagai jenis burung, siklus bambu, siklus berbagai tumbuhan obat dan lainnya.

Bagi masyarakat dan perkebunan, ketidaksesuaian antara siklus kebutuhan dengan produktifitas tidak menjadi masalah jika masih mampi melakukan adaptasi. Bagi keluarga pencari burung (saja), maka adaptasi siklus produktifitas mingguan dengan siklus kebutuhan yang harian dapat dilakukan dengan berhemat atau atau pinjam. Bagi buruh pabrik, tuntutan kebutuhan sehari-hari bisa dilakukan dengan hutang, atau mencari rotan dan bambu. Masalah menajadi muncul jika ternyata pendapatan tidak sesuai dengan kebutuhan karen aberbagai sebab. Dimulai pada nilai jual hasil rendah, karena harus dilakukan penjualan ke pengepul tertentu, atau beban bunga pinjam / ngijon semakin tinggi. Kondisi ini akan memperbesar peran borek dan pengepul, yang secara langsung akan memperbesar beban pemenuhan kebutuhan.

Membangun hubungan yang adil antara masyarakat dan perkebunan dengan hutan pada dasarnya dilandasi oleh upaya yang sungguh-sungguh dalam menyesuaikan siklus komponen masyarakat dan perkebunan dengan siklus komponen hutan. Mencari bambu menyesuaikan dengan siklus produktifitas bambu, mencari burung menyesuaikan dengan siklus produktifitas burung, dan sebagainya. Perkebunan, barangkali merupakan tetanggangga yang jarang disentuh ketika kita berbicara Merubetiri. Padahal, walaupun tidak terlihat secara langsung, siklus kebutuhan dan produktifitas komponen perkebunan mempunyai anomali penyimpangan yang relatif besar. Penyesuaian tentu saja sulit dilakukan secara langsung begitu saja. Secara strategis, dapat dilakukan kampanye dan ?titrasi ideologi? melalui media apa saja, terutama lembaga-lembaga lokal yang ada di masyarakat : kyai, dukun bayi, dokter. Selain itu, dalam sisi praktis, diperlukan berbagai program pendukung untuk penguatan adaptasi penyesuaian siklus. Misalnya, pencerahan jalur distribusi, penguatan BMT, penguatan warung klitik, dapat dilakukan untuk memperkecil peran pengijon dan pengepul sehingga nilai jual barang lebih tinggi. Domestikasi dan peningkatan kemampuan pengolahan berbagai jenis bambu, tanaman obat, rotan dan lainnya sehingga tidak langsung mengambil ke ?sumber?nya. Berbagai upaya lain, sesuai dengan keinginan masyarakat, dapat dilakukan sehingga siklus produktifitas masyarakat dapat lebih pendek untuk mengimbangi siklus kebutuhannya yang ada padanya.

PENUTUP :
         MENGELOLA HUTAN ITU MENGELOLA RESIKO

Kita kembali pada angan-angan kita tentang ?hutan? pada awal bahasan ini. Bagaimana kalau tidak ada : intervensi? manusia? Kalau hutan itu tidak dikelola? Kebakaran di Pakanbaru saat ini adalah hasil kita ?mengelola? hutan. Taman nasional menjadi ladang jagung dan tambang emas itu adalah hasil kita ?mengelola? hutan. Kalimantan yang gersang dan Samarinda yang banjir itu, adalah hasil kita ?mengelola? hutan. Wanagama yang hijau subur itu adalah hasil kita mengelola hutan. Bagaimana sih sebenarnya kita mengelola hutan? Lepas dari bagaimana bunyi aturan tentang pengelolaan hutan, terlihat ada beberapa perpektif.

Pertama, sebagian besar dari kita beranggapan bahwa mengelola hutan adalah melakukan usaha-usaha mengeksploitasi hutan untuk dimanfaatkan sebagai sumberdaya. Di sini, hutan dianggap sebagai sumberdaya melulu. Oleh karena itu, perpektif yang dipakai adalah manajemen (dagang) sumberdaya : mengambil sumberdaya sebanyak-banyaknya, dengan modal sedikit-dikitnya. Untuk itu maka dana reboisasi digunakan untuk kepentingan lain. Kedua, sebagian dari kita beranggapan bahwa mengelola hutan itu adalah melakukan usaha-usaha mengeksploitasi hutan agar dapat dimanfaatkan sebagai sumberdaya secara lestari. Di sini, kita menggunakan pendekatan perspektif ?konservasi?, yaitu pemanfaatan lestari. Gampangnya, ini perpektif para peternak sapi perah. Mereka mendapatkan uang dari menjual susu. Bukan dengan cara menjual sapi. Ketiga, sebagian dari kita beranggapan bahwa mengelola hutan itu adalah melakukan usaha-usaha mengelola resiko. Mengapa? Memanfaatkan hutan secara lestari itu masih mempunyai resiko yang harus diperhitungkan. Ibarat peternak sapi perah tadi. Selain keuntungan susu yang didapatkan, resiko yang harus diterima : bau teletong dan kencing sapi. Adakah resiko itu mengenai tetangga yang tidak memelihara sapi?

Dari uraian konyol tersebut, kita perlu merubah orientasi dan perspektif dalam ?mengelola? hutan. Tabukan manajemen sumberdaya. Pilih perspektif manajemen konservasi yang dipadukan dengan manajemen resiko (dikenal juga sebagai manajemen bencana). Manajemen bencana / resiko itu menjadi penting mengingat masyarakat cenderung memahami batas-batas manfaat, tetapi kurang memahami batas-batas resiko.

Akhirnya : yuk pelihara sapi, biar kita bisa dapat susu, tapi jangan sampai merusak hidung tetangga. Selamat mencoba. Semoga Tuhan memberkati keinginan membangun hubungan bertetangga yang adil ini.***


Wedomartani, 13 Jumadil Ula 1933 - Langkir

* Presidium Yayasan KAPPALA Indonesia, Dosen T Geologi UPN Yogyakarta dan Penerima santunan Ashoka untuk Risk ? Disaster Management

A3

<< Prev | | Next>>

Webmaster selalu menunggu info-info kiriman lainnya dari para teman-teman netter's, boleh Ulasan, Kesimpulan study kasus, info teknik berpetualang/pendakian, Info Track, Info kegiatan di organisasi masing masing, dan lain-nya, terus di kirimkan ke "[email protected]" Terima kasih. semoga kita dapat selalu saling membagi pengetahuan kita masing-masing.Wassalam.
(-webman..) 

 

 

 

 

hak cipta © Nov 2000 MPA. CAKRAWALA STIE Widya Wiwaha Yogyakarta Jl Lowanu Sorosutan 55162 telp 0274.37709 ext 15 Yogyakarta 

Pemeliharaan & Pengembangan  komentar kpd web master  [VieNa Creative Publisher]  revisi  05/25/01

ke atas

Hosted by www.Geocities.ws

1