GALIH & RATNA (2017)
"Tak mau sama persis dengan Gita Cinta dari SMA ikonnya sudah Rano dan Yessy. Buat semacam tribute-nya.
Selalu suka cerita orang yang hidupnya dalam transisi. Dari muda ke dewasa, dan anak SMA yang punya masalah masing-masing"
Ucap sutradara Lucky Kuswandi dalam sebuah wawancara. Ya, Lucky Kuswandi seakan-akan tidak ingin karya terbarunya ini
dicap sebagai daur ulang yang mencomot mentah-mentah dari pendahulunya yang merupakan salah satu drama romantis lokal
legendaris. Tapi apa pun itu susah untuk tidak terbebani dengan nama besar "Gita Cinta dari SMA" milik Arizal mengingat
pemilihan judulnya yang mengambil nama dari dua karakter titular romansa yang usianya nyaris menginjak empat dekade itu.
Galih dan Ratna yang dimainkan oleh Rano Karno dan Yessy Gusman adalah ikon cinta abadi dalam perfilman Indonesia yang
pesonanya mungkin hanya bisa ditandingi oleh Rangga dan Cinta dari Ada Apa Dengan Cinta. Jadi dengan tantangan seberat
itu tentu menjadi tugas yang tidak mudah bagi seorang Lucky Kuswandi untuk bisa membuat Galih & Ratna versinya agar bisa
akan dikenang sampai empat puluh tahun kemudian atau paling tidak dalam sebulan saja penontonnya tidak melupakannya itu
sudah bagus.
Mencoba untuk tidak terlalu terikat dengan sumber aslinya, Lucky Kuswandi melakukan pendekatan yang terasa lebih bebas kekinian,
menyesuaikan dirinya dengan era modern namun di sisi lain juga tidak lupa untuk memberikan sebuah penghormatan kepada pendahulunya
dengan elemen-elemen lawas seperti kisah cinta pertama, masa remaja yang dibalut bersama musikalitas, kaset lagu dan fenomena mix
tapes yang sempat populer sebelum era digital menghantam. Tentu saja seperti pendahulunya, narasinya tidak jauh-jauh dari jatuh
bangun romansa dua sejoli remaja, Galih dan Ratna yang tengah dimabuk cinta sampai kemudian kenyataan membuat mereka kembali
ke bumi dan memaksa keduanya harus mengambil jalan menuju kedewasaan.
Sebagai sebuah drama romantis, tentu saja ada begitu banyak cinta yang ditawarkan Galih & Ratna. Dipoles dengan manis, Lucky Kuswandi
sebenarnya memulainya dengan cukup baik ketika memperkenalkan kepada penontonnya versi baru Galih dan Ratna yang dimainkan oleh
Refal Hady dan si cantik berbakat, Sheryl Sheinafia dalam balutan visual cantik dan musikalitas apik yang rupanya menjadi bagian
tidak terpisahkan dari plot utamanya itu sendiri. Tetapi perlahan namun pasti, Galih & Ratna kehilangan pesonanya di sisa durasinya.
Proses menjadi penting di sini dalam tugasnya membangun ikatan antara dua karakter utamanya, apalagi dalam sebuah romansa yang
mengandalkan ikatan dan chemistry. Apa yang dilakukan Lucky ketika mendekatkan Galih dan Ratna terkesan terlalu cepat dan
memaksakan diri, coba bandingkan saja dengan yang dilakukan Arizal pada Gita Cinta Dari SMA ketika mempertemukan Galih dan Ratna
untuk pertama kalinya dalam sebuah adegan yang melibatkan rantai sepeda putus yang kemudian juga memberikan pondasi kuat mengapa
kemudian Ratna bisa tertarik dengan Galih dengan segala kepribadiannya yang berbeda dari anak-anak kebanyakan, bukan hanya berbeda
dari kata teman yang berbisik genit.
Dari pertemuan awal yang instan itu susah untuk kemudian untuk bisa menerima bagaimana keterikatan keduanya terbentuk. Ratna terasa
agresif untuk mengenal sosok Galih yang jujur saja, Lucky Kuswandi tidak pernah memberikan kesan dan alasan untuk membuat Ratna bisa
tertarik, kecuali kemu memang cewek aneh yang bisa kesengsesem sama cowok hipster yang duduk sendirian mendengarkan Sakura-nya Fariz
RM dari walkman jadul berbentuk seperti kotak sabun itu. Tetapi ya sudahlah, intinya Ratna kecantol dengan pesona hipster yang ditebar
Galih, membuatnya terobsesi untuk mengenal sosok pujaan lebih jauh, termasuk men-stalking akun Twitter Galih termasuk nekat naik angkot
untuk mendatangi toko kaset milik mendiang ayahnya yang terancam di jual ibunya yang tengah kesulitan ekonomi. Cinta Ratna pun berbalas,
entah apa yang dilihat Galih, meski Ratna memang cantik dan mulus tetapi susah untuk percaya bahwa model cowok macam Galih yang
digambarkan serius dan serba tertutup bisa ikut luluh lantak sampai-sampai bela-belain membuat mix tape untuk menyatakan cintanya
tanpa pernah memikirkan bagaimana Ratna bisa memutar kaset pemberiannya itu.
Jika Lucky Kuswandi ingin menyampaikan pesan tentang para remaja yang labil naif dan bodoh, maka Galih & Ratna berhasil melakukan
tugasnya dengan baik. Karakter Galih digambarkan sebagai sosok pemuda idealis, apalagi soal musik, ia sangat keras, namun menjadi lucu
ketika karakternya menjadi tidak konsisten. Di satu sisi ia menolak menjual kaset kepada Ratna hanya karena Ratna tertarik dengan covernya
semata, tidak menghargai musisi kata Galih, ironisnya di adegan lain ia malah menjual mix tapes kepada teman-temannya yang tentu saja ilegal
dan melanggar hak cipta para musisi. Untuk ukuran remaja yang katanya pintar, Galih ternyata hanya remaja naif yang gagal move-on.
Mati-matian mempertahankan toko kaset ayahnya yang jelas tidak akan pernah bisa berkembang di era serba digital seperti sekarang sementara
ibunya harus banting tulang membiayai sekolahnya dan adiknya.
Bukan berarti lalu tidak ada lagi yang menarik di Galih & Ratna. Pertama, saya senang bagaimana Lucky Kuswandi memolesnya permukaannya dengan
dukungan teknis yang apik, termasuk visualnya yang cantik. Kedua, adalah kekuatan pada kualitas musikalitas yang mampu sedikit banyak menolong
narasinya yang terseok-seok dan banyaknya dialog-dialog corny mengganggu meski juga jangan pernah membayangkan ia akan menjadi tontonan seperti
Once atau Begin Again-nya John Carneym, tetapi harus diakui aransemen ulang tembang Galih & Ratna dari GAC terdengar sangat catchy. Ketiga,
meski tidak memiliki chemistry yang kuat dan dukungan karakterisasi yang oke tetapi baik Refal Hady dan Sheryl Sheinafia tidak tampil
mengecewakan, setidaknya keduanya masih enak dilihat sebagai pasangan.
6.1 MOVIEADDICT's
| CERITA | 5.5 |
| PENYUTRADARAAN | 6 |
| AKTING | 6.5 |
| VISUAL | 7.5 |
RELATED ITEMS:2017, BASED ON NOVEL, DRAMA, LUCKY KUSWANDI, MOVIENTHUSIAST, REFAL HADY, ROMANTIS, SHERYL SHEINAFIA