|
Yuk Kita Tawa
Hei bosen sama pelajaran,bosan ama cowok/cewek, dan bosen ama
kehidupan. Etss jangan bunuh diri dong ni ada dina yang bakal nemani
kalian dan ngehibur kalian dengan kekocakan kekocakan dibawah ini ni.
Etss tenang dina ngehibur kalian dengan berbagai cara yang pertama
dengan cara cerita... yuk baca ceita beriku:
Penjual Minyak Wangi dan Seuntai Kalung
Seorang pemuda tiba di Baghdad dalam perjalanannya menunaikan ibadah haji ke
tanah suci. Ia membawa seuntai kalung senilai seribu dinar. Ia sudah berusaha
keras untuk menjualnya, namun tidak seorang pun yang mau membelinya. Akhirnya ia
menemui seorang penjual minyak wangi yang terkenal baik, kemudian menitipkan
kalungnya. Selanjutnya ia meneruskan perjalanannya.
Selesai menunaikan ibadah haji ia mampir di Baghdad untuk mengambil kembali
kalungnya. Sebagai ucapan terima kasih ia membawa hadiah untuk penjual minyak
wangi itu.
“Saya ingin mengambil kembali kalung
yang saya titipkan, dan ini sekedar hadiah buat Anda,” katanya.
“Siapa kamu? Dan hadiah apa ini?,” tanya
penjual minyak wangi.
Tanpa banyak bicara, penjual minyak
wangi menendangnya dengan kasar, sehingga ia hampir jatuh terjerembab dari teras
kios, seraya berkata, “Sembarangan saja kamu menuduhku seperti itu.”
Tidak lama kemudian orang-orang
berdatangan mengerumuni pemuda yang malang itu. Tanpa tahu persoalan yang
sebenarnya, mereka ikut menyalahkannya dan membela penjual minyak wangi. “Baru
kali ada yang berani menuduh yang bukan-bukan kepada orang sebaik dia,” kata
mereka.
Laki-laki itu bingung. Ia mencoba
memberikan penjelasan yang sebenarnya. Tetapi mereka tidak mau mendengar, bahkan
mereka mencaci maki dan memukulinya sampai babak belur dan jatuh pingsan.
Begitu siuman, ia melihat seorang berada
di dekatnya. “Sebaiknya kamu temui saja Sultan Buwaihi yang adil; ceritakan
masalahmu apa adanya. Saya yakin ia akan menolongmu,” kata orang yang baik itu.
Dengan langkah tertatih-tatih pemuda
malang ini menuju kediaman Sultan Buwaihi. Ia ingin meminta keadilan. Ia
menceritakan dengan jujur semua yang telah terjadi.
“Baiklah, besok pagi-pagi sekali
pergilah kamu menemui penjual minyak wangi itu di tokonya. Ajak ia bicara
baik-baik. Jika ia tidak mau, duduk saja di depan tokonya sepanjang hari dan
jangan bicara apa-apa dengannya. Lakukan itu sampai tiga hari. Sesudah itu aku
akan menyusulmu. Sambut kedatanganku biasa-biasa saja. Kamu tidak perlu memberi
hormat padaku kecuali menjawab salam serta pertanyaan-pertanyaanku,” kata Sultan
Buwaihi.
Pagi-pagi buta pemuda itu sudah tiba di
toko penjual minyak wangi. Ia minta izin ingin bicara, tetapi ditolak. Maka
seperti saran Sultan Buwaihi, ia lalu duduk di depan toko selama tiga hari, dan
tutup mulut.
Pada hari keempat, Sultan datang dengan
rombongan pasukan cukup besar. “Assalamu’alaikum,” kata Sultan.
Saat Sultan terus menanyai pemuda ini,
rombongan pasukan yang berjumlah besar itu maju merangsak. Karena takut dan
gemetar melihatnya, si penjual minyak wangi jatuh pingsan. Begitu siuman,
keadaan di sekitarnya sudah lengang. Yang ada hanya sang pemuda, yang masih
tetap duduk tenang di depan toko. Penjual minyak wangi menghampirinya dan
berkata:
Si Pemuda tetap diam saja. Ia seolah
tidak mendengar semuanya. Penjual minyak wangi sibuk mondar-mandir kesana kemari
mencarinya. Sewaktu ia mengangkat dan dan membalikkan sebuah guci, tiba-tiba
jatuh seuntai kalung.
Sumber: Akhbar Adzkiya, Ibn Al-Jauzi
Mutasi
“Kalian jangan macam-macam kepadanya. Aku tahu persis beliau gubernur yang baik dan berlaku adil pada kalian,” kata Khalifah. Sesepuh warga yang ditunjuk sebagai pemimpin maju ke depan dan berkata, “Amirul mukminin, apa artinya kecintaan ini bagi kami jika tidak dinikmati juga oleh rakyat yang lain? Selama lima tahun ia telah memimpin kami dengan baik dan adil. Karena itu, mutasikan ke wilayah lain agar keadilannya bisa dinikmati secara merata oleh seluruh rakyat.” Mendengar itu Khalifah tertawa sambil meninggalkan mereka. Sumber: Jam’u Al-Jawahir fi Al-Mulhi wa An-Nawadir, Al-Hushri Al-Islam – Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia
hamdulillah Sari al-Suqthi, seorang ulama ahli ilmu tauhid yang sangat wara’ berkata, “Sudah tiga puluh tahun lamanya aku selalu membaca istighfar, dan baru sekali ini aku membaca alhamdulillah.” “Bagaimana ceritanya?” tanya seorang sahabatnya. “Pada waktu terjadi peristiwa kebakaran di pasar Baghdad, seseorang dengan tergopoh-gopoh datang menemuiku seraya memberitahukan bahwa kedaiku selamat. Spontan aku berucap ‘Alhamdulillah!’ Tetapi, lantas aku menyesal, karena mensyukuri keberuntunganku sendiri di atas penderitaan orang banyak.”jawabnya. Sumber: Al-Wafi bi al-Wafyat, al- Shafadi Pak, Ada Kembaliannya Gak? Suatu hari pas gua pulang sekolah naik
angkot, gua nggak sadar pas mau bayar ongkos, tau-tau cuma ada uang
50.000. Trus, pas gua tanya, “Pak, ada kembaliannya nggak?” dia bilang
“Ya udah ga usah bayar.” KHUSYUKNasrudin sedang berada dimasjid, duduk
khusyuk berdoa dideretan orang-orang yang alim. Orang yang duduk disebelahnya berkata: ”Dengan bicara begitu, doamu
batal lho. ”Kamun juga,” kata orang yang duduk
disebelah orang yang kedua ini. Disunat Pak Mantri Ini cerita di sewaktu saya masih duduk
di kelas 6 SD, waktu itu temen2 saya yang sebaya udah pada pada sunat
semua karena merasa malu belum di sunat saya minta ke orang tua untuk di
sunat. Karena orang tua juga senang saya mau di sunat, besok pagi saya
di bawa ke mantri (klinik). Si mantri mempersilah kan saya naik ke
tempat tidurnya, dengan memberanikan diri saya langsung naik ke tempat
tidur.engga berapa lama selesai saya di sunat, alangkah senangnya karena
engga merasa sakit.
|
|