Khutbah Jumat Rahbar Tentang Jatuhnya Rezim Saddam

11 April 2003

Editor : Abdurrahman Baragbah

Khutbah Jumat Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran ini terdiri atas empat poin. Poin pertama dan kedua saya sadur dari koran Jumhuriye Islomi terbitan Teheran edisi 12 April sehingga susunannya mungkin sangat berbeda dengan khutbah aslinya. Sedangkan poin ketiga dan keempat saya terjemahkan dari hasil video capture  dari televisi berita Iran yang menyiarkan langsung khutbah Jumat yang dihadiri ratusan ribu jemaah di halaman Universitas Teheran tersebut. Proses penerjamahan terjadi sedemikian rupa karena hingga terjemahan ini selesai, saya belum menerima teks transkrip lengkap pidato Rahbar. Khutbah yang saya terjemahkan adalah khutbah jumat pertama, sedangkan khutbah Jumat keduanya berisikan pesan Rahbar kepada rakyat Irak. Pesan berbahasa Arab itu tidak saya terjemahkan karena isinya tidak jauh berbeda dengan isi khutbah yang pertama. Semoga bermanfaat.

Dalam kasus Irak, ada empat masalah yang saling terpisah sepenuhnya satu dengan yang lain. Empat masalah itu menyangkut jatuhnya Saddam, tragedi kemanusiaan yang menimpa rakyat Irak, agresi AS dan Inggris terhadap sebuah negara merdeka, dan penanganan masa depan Irak.  Terhadap masing-masing persoalan itu, Iran telah mengambil sikap yang sepenuhnya transparan dan jelas. Sikap itu berangkat dari pemikiran dan strategi Islami tanpa mengabaikan kepentingan Iran sendiri.

Masalah pertama adalah menyangkut jatuhnya rezim Saddam. Rakyat dan pemerintah Iran gembira menyaksikan jatuhnya rezim Saddam yang tiran dan diktator, karena mereka menganggap era kekuasaan  Partai Ba’ath di Irak sebagai era yang paling pahit dalam sejarah Irak selama satu abad terakhir. Sebelum Irak menganeksasi Kuwait, terutama ketika Saddam memaksakan perang terhadap Iran selama delapan tahun, kepentingan Saddam terkoordinasi sepenuhnya dengan interes AS.  Namun, sejak Saddam menyerang Kuwait, kepentingan pemerintah Irak dan pemerintah AS tiba-tiba kontras karena AS tidak ingin kehilangan rezim-rezim Arab kawasan Teluk Persia.

Rakyat Irak sepenuhnya gembira menyambut tumbangnya Saddam. Namun demikian, dalam perang antara Saddam dan tentara agresor AS, rakyat Irak sama sekali tidak memihak.  Sikap rakyat Irak ini sama persis dengan sikap rakyat dan pemerintah Iran. Selama perang, pemerintah Iran gigih berupaya agar jangan ada pihaknya yang membantu satu diantara kedua pihak yang berperang.  Ketidakberpihakan rakyat Irak dalam perang Saddam melawan AS dan Inggris adalah akibat kedikdatoran dan pelecehan rezim Irak terhadap rakyatnya.

Jatuhnya Bagdad setelah pertempuran yang berjalan hanya tiga hari adalah kasus yang sangat misterius. Dulu, meski tidak memiliki sarana militer sama sekali, para pejuang kita bisa bertahan selama 35 hari di depan gempuran tentara Irak terhadap kota Khoramsyahr.  Peristiwa itu menjadi kebanggaan bagi bangsa Iran. Namun, dalam kasus Bagdad, kota ini bisa jatuh hanya dalam tempo tiga hari walaupun di sana terdapat lebih dari 120.000 tentara Irak. Ini jelas misterius.

Masalah kedua menyangkut tragedi kemanusiaan. AS dan Inggris mengklaim dirinya sebagai pembela HAM. Namun, penistaan hak rakyat Irak untuk hidup oleh AS dan Inggris adalah tragedi yang tidak akan hilang dari benak dan naluri umat manusia, persis seperti kejahatan-kejahatan yang dilakukan AS di masa lalu.

Pembombardiran kota-kota Irak yang meniscayakan pembunuhan rakyat Irak yang tak berdosa, khususnya anak-anak kecil, pelecehan terhadap kaum lelaki dan perempuan Irak, dan penggerebekan rumah-rumah penduduk oleh tentara AS dan Inggris dengan cara yang sangat menghina adalah bukti kebohongan klaim AS dan Inggris tentang kebebasan dan HAM. Rakyat dan pemerintah Iran sejak awal mengutuk tindakan-tindakan tersebut sekaligus menunjukkan solidaritasnya kepada rakyat Irak.

Masalah ketiga ialah menyangkut agresi kepada suatu negara dengan dalih adanya senjata perusak massal di negara tersebut. Ini adalah satu perbuatan yang paling tercela sehingga dikutuk dan ditolak oleh naluri masyarakat dunia. Ini mengingatkan saya kepada Perang Vietnam. Saat itu demonstrasi anti invasi AS juga terjadi di beberapa kawasan dunia. Namun, kesepakatan masyarakat dunia yang saya lihat sekarang tidak saya lihat pada era Perang Vietnam. Saat itu mereka (AS) menyatakan bahwa demo-demo anti perang Vietnam dimobilisasi oleh Rusia. Tetapi sekarang siapa penggeraknya? Di India, Pakistan, Indonesia, Malaysia, Afrika, Eropa dan Amerika sendiri massa terkonsentrasi dalam sebuah demo akbar yang terdiri atas ribuan, puluhan ribu, dan bahkan ratusan ribu orang. Slogan yang mereka teriakkan pun satu. Siapa yang menggalang berbagai demonstrasi tersebut? Tidak ada pusat dan lembaga apapun yang menggalangnya. Penggeraknya tak lain adalah naluri dunia, naluri insaniah. Nalurilah yang mengutuk invasi ke Irak, invasi yang merupakan satu bentuk tindakan mengada-ada, tindakan yang lazim terjadi pada era kolonialisme.

Mereka (AS) mencari-cari dalih untuk menginvasi sebuah negara. Tim Inspeksi Senjata PBB sudah menyatakan tidak ada senjata destruksi massal di Irak, tapi AS malah menanggapinya dengan kata-kata: “Diamlah, kalian tidak tahu apa-apa? Kamilah yang tahu, dan karena itu kami harus menyerang Irak”

Ini adalah perbuatan yang sangat tercela dan kami mengutuknya. Sayangnya, dalam kasus ini PBB juga tidak becus. Mengapa DK PBB tidak mengutuk serangan AS dan Inggris? Mengapa Dewan ini tidak mengeluarkan resolusi terhadap mereka?  Resolusi itu bisa menjadi sebuah gerakan yang sangat merugikan mereka, tapi mengapa Dewan itu tidak melakukannya? Mengapa Majlis Umum PBB tidak menggelar sidang untuk mengutuk invasi tersebut?  Banyak tindakan yang seharusnya dilakukan oleh Sekjen PBB.

Sebenarnya, sudah sejak dulu PBB tidak bisa kita harapkan. Kita sudah melihat rapor kerja PBB. Kita sudah melihat infiltrasi yang merasuki PBB. Walaupun demikian, ini bukan berarti dunia sudah tidak mengharapkan apapun dari PBB.

Tindakan invasi ke Irak sudah membuktikan bahwa AS sendirilah yang merupakan negara antagonis. Jargon ini dilontarkan Presiden AS sebelumnya kepada sejumlah negara dunia, tetapi kenyataannya mereka (AS) sendirilah yang antagonis. Merekalah yang justru sangat antagonis terhadap kemanusiaan dan stabilitas negara-negara lain. Mereka telah membuktikan bahwa mereka sendiri yang merupakan poros kejahatan dalam bentuknya yang paling nyata, dan bahwa mereka memang layak disebut Imam Khomaini  ra sebagai Setan Besar. Mereka memang Setan Besar.

Inggris juga telah melakukan kesalahan besar. Inggris telah mengekor kepada AS dengan harapan akan mendapat bagian dari ‘rampasan perang’. Di kawasan ini termasuk Iran, Irak, dan India citra Inggris memang sudah sangat buruk dan menjijikkan. Di kawasan ini banyak keburukan dan kezaliman yang sudah dilakukan Inggris. Keburukan citra Inggris itu kemudian dilupakan orang setelah waktu berjalan 30 atau 40 tahun. Tapi, begitu Blair tampil, bayang-bayang kejahatan Inggris kembali mencuat di benak semua orang. Ini tentu kesalahan besar yang dilakukan Blair.

Dengan demikian, dalam poin ketiga ini, seirama dengan suara yang dipekikkan khalayak dunia, kita mengutuk agresi militer. Kita mengutuk dan menganggapnya sebagai tindakan yang hendak dipaksakan menjadi tradisi baru dalam hubungan internasional. Kita juga menganggapnya sebagai agresi terhadap negara Islam, dan bahkan terhadap Islam dan kehormatan segenap umat Islam.

Masalah keempat ialah dominasi AS selanjutnya terhadap Irak. Tak cukup dengan melancarkan agresi dan tragedi, mereka masih ingin memegang administrasi di Irak, itupun dengan cara mendudukkan seorang penguasa militer yang berjiwa Zionis atau paling tidak terkait erat dengan lobi-lobi Zionis. Penguasa seperti itu hendak mereka dudukkan di sebuah negara Islam yang memiliki kehormatan.

Antara mereka (AS dan Inggris) terjadi upaya bagi hasil yang kemudian tentu terjadi pula silang pendapat antar mereka. Walaupun begitu, secara kasat mata mereka sedang berupaya untuk saling bagi hasil. Basrah yang aroma minyaknya relatif sangat kuat dan jaraknya pun dekat dengan sentra-sentra minyak menjadi milik Inggris yang memang bernafsu saat mencium aroma minyak. Bagdad sendiri akan menjadi pusat kekuasaan AS yang memang hobi unjuk kekuatan militer. Saling bagi hasil mereka lakukan sedemikian rupa, walaupun memang terjadi silang pendapat yang kelak tentu akan semakin tajam dan kentara di mata rakyat Irak.

Itulah keadaan yang mengulangi era kolonialisme dan merupakan reaksionarisme dalam bentuknya yang paling nyata. Kondisi inilah yang dulu terjadi pada awal-awal era kolonialisme ketika negara-negara penjajah datang ke negara-negara Asia dan Afrika. Negara-negara ini mereka rebut kemudian mereka dudukkan di sana penguasa dari pihak mereka untuk mengendalikan sepenuhnya seluruh kawasan yang sudah mereka kuasai. Tindakan itu mereka praktikkan di India, Australia, Kanada, Afrika, dsb. Setelah waktu berjalan sekian lama, tindakan itu kemudian disadari sebagai praktik kotor dan tercela sehingga mereka pun ganti formula dengan cara mendudukan penguasa dari pihak negara terjajah itu sendiri dengan syarat bersedia tunduk sepenuhnya kepada mereka. Karena tunduk, penguasa itu dibantu dan diberi segala fasilitas supaya kemudian ia membuka kesempatan lebar-lebar untuk praktik penjarahan oleh kaum imperialis.

Demikianlah era yang sudah berlalu itu. Saat mereka sadar bahwa (praktik penjajahan) itu salah dan tidak menguntungkan mereka karena bangsa yang terjajah akan bangkit melawan mereka, maka mereka pun memperagakan jurus baru yang kelihatan demokratis. Sambil melakukan invasi kultural, mereka memilih penguasa yang pro mereka. Hal ini juga terjadi di Iran pada zaman rezim taghut. Mula-mula Inggris mendudukkan Reza Pahlevi kemudian Muhammad Reza Pahlevi. Tapi setelah membentur persoalan, Inggris lantas menampilkan Ali Amini sebagai Perdana Menteri agar terjadi apa yang disebutnya reformasi. Jadi, ketika keadaan sudah tak terkendali, Inggris sendiri yang menggulirkan reformasi enam pasal sehingga terjadilah reformasi yang sangat memalukan di era taghut tersebut.

Inilah petualangan yang sudah dilakukan kaum imperialis di berbagai era dan kawasan dunia. Sekarang, mereka hendak kembali kepada masa lalu itu. Mereka merebut suatu negara dengan senjata untuk kemudian mendudukkan sosok penguasa baru. Ini tentu adalah tindakan yang sangat keterlaluan, reaksioner, kotor, melecehkan, dan mencerminkan kemabokan dan kecongkakan yang mencampakkan akal sehat. Ini adalah bentuk ketidaktahuan terhadap kondisi zaman.

Bangsa-bangsa dunia, termasuk pemerintahnya, mengutuk perbuatan tersebut. Dalam hal ini sikap kita sudah jelas sepenuhnya. Di mata kita, perbuatan itu adalah kesalahan dalam kesalahan. Di Irak tidak seharusnya ada penguasa asing, militer, dan apalagi Zionis. Rakyat Irak sendirilah yang harus memilih pemimpinnya tanpa perlu dukungan kekuatan agresor. Namun, segala sesuatu (menyangkut Irak) sudah diatur pemerintah AS. Dalam benak mereka sudah terpikir untuk bergerak maju kemudian memegang kendali pemerintahan sambil mengucurkan sedikit bantuan lalu mengubah kebudayaan rakyat. Mereka mencengkram sektor pendidikan, seperti yang sedang terjadi di Afganistan. Mereka mendatangkan buku-buku pelajaran sekian ton untuk siswa sekolah menengah di Afganistan. Mereka mencetaknya dengan bahasa Persia dan Pashtu lalu didistribusikan di sekolah-sekolah menengah Afganistan. Tujuannya ialah menghilangkan citra buruk AS di mata para siswa Afganistan sekaligus mengubah bentuk kebudayaan, agama, dan wawasan sejarah para siswa tersebut.

Apa yang terjadi di Afganistan ini sekarang hendak mereka terapkan di Irak. Tapi itu tentu tidak akan terlaksana. Sebab, kejahatan AS sudah terlampau banyak dimata para guru dan masyarakat Irak sehingga kesadaran akan fakta ini pasti akan menular dari generasi ke generasi. Terlepas dari kesadaran ini, yang jelas itulah program AS di Irak. Inilah masalah keempat yang tentu berbeda dengan masalah-masalah sebelumnya. Artinya, seandainyapun rencana untuk mendominasi Irak itu tidak mereka aplikasikan, agresi terhadap Irak tetap saja terkutuk serta merupakan kejahatan besar dan penghinaan terhadap bangsa Irak.

Sungguh, orang pasti sulit untuk percaya bagaimana mereka berani terang-terangan berkata di televisi bahwa bangsa Irak tidak akan mampu menentukan penguasa yang akan memerintah mereka. Padahal bangsa Irak adalah bangsa dengan latar belakang sejarah yang sedemikian besar, dengan sekian banyak tokoh besar, dan dengan sekian banyak  ilmuan dan politisi. Sulit untuk dipercaya bagaimana mereka tanpa malu-malu menuduh bangsa lain sebagai bangsa yang tidak becus.

Ini semua kita kutuk, kita tolak, dan kita anggap sebagai pelecehan terhadap hak bangsa Irak. Adanya diktator baru tidak akan bisa diterima oleh rakyat Irak. Rakyat Irak keluar dari kubangan despotisme Saddam bukan untuk masuk ke lembah kediktatoran militer AS. Dan seandainya penguasa diktator di Irak nanti adalah orang Irak sendiri, rakyat Irak juga pasti tidak akan bisa menerimanya.

Kemudian, kasus yang sedang saya bahas sekarang ini kita anggap sebagai agresi terhadap zona kehormatan Islam dan muslimin.

ولن يجعل الله للكافرين على المؤمنين سبيلا

“Allah tidak memberi jalan bagi orang-orang kafir untuk berbuat aniaya terhadap kaum mukminin

Kemenangan militer (AS dan Inggris) sekarang, itupun dalam bentuknya yang penuh teka-teki,  bukanlah bukti tercapainya suatu kemenangan final. Soal kemenangan inipun, AS sebenarnya banyak mengalami kerugian dan kegagalan yang sekarang mungkin tidak mereka ketahui, tapi dalam waktu dekat nanti mereka pasti akan mengetahui implikasinya. Ada tiga kekandasan yang mereka alami.

Pertama, kekandasan yang menimpa slogan kebebasan dan demokrasi Barat. Paham liberal demokrasi yang hendak mereka marakkan di dunia sekarang kandas akibat ulah mereka di Irak. Mereka sudah memperlihatkan ketidak mampuan liberal demokrasi membawa sebuah bangsa kepada suatu keyakinan tentang adanya kebebasan dalam arti yang sesungguhnya. Yang mereka tunjukkan ialah bahwa ketika mereka melihat kepentingan materi, mereka siap menggilas begitu saja kebebasan, jiwa, dan hak pilih setiap orang. Seandainya AS memang konsekwen kepada demokrasi, maka sekarang juga seharusnya AS angkat kaki meninggalkan Irak. Bukankah Saddam sudah terjungkir?! Lantas untuk apalagi AS bercokol di Irak?! Kalau mereka memang jujur, menganut demokrasi, dan menghormati hak bangsa-bangsa lain, maka tanpa menunda waktu lagi sekarang mereka sudah menarik pasukan militernya dari Irak dan tidak melakukan intervensi dalam bentuk apapun di negara ini. Tapi kita tahu ini jelas tidak akan terjadi.

Secara ideologi mereka kandas. Seluruh masyarakat dunia menyaksikan kebohongan semboyan-semboyan AS. Dari slogan-slogan yang diteriakkan atau yang tulis dalam spanduk  oleh massa anti perang dalam demo akbar di berbagai negara terlihat betapa masyarakat dunia sudah tahu persis fakta yang sebenarnya. Dari berbagai catatan yang saya terima, slogan-slogan itu antara lain berbunyi: “Perang Irak hanya perang demi minyak, bukan perang demi kebebasan dan HAM”, “Perang Irak adalah perang untuk menyelamatkan kebangkrutan ekonomi AS”, “Perang ini adalah perang agresor ala Hitler”, “Poros kejahatan adalah AS, Inggris, dan Israel”. Slogan-slogan ini dipekikkan bukan oleh warga Teheran melainkan oleh khalayak dunia. Slogan-slogan yang sejak dulu dikibarkan oleh rakyat Iran secara realistis itu sekarang sudah dimengerti dan dipahami bersama oleh masyarakat dunia. Atas dasar ini, secara ideologis mereka kalah.

Kedua, kekandasan mereka secara politik. Dewasa ini secara politik AS terkucil di dunia. Formula dan solusi yang disodorkan AS dengan mengangkat seorang purnawirawan mayjen sebagai penguasa di Irak sama sekali tidak bisa diterima kecuali oleh segelintir negara dunia. Semua negara Arab, Islam, dan bahkan Eropa menolaknya.

Ketiga, ambruknya wibawa militer mereka. Tadinya mereka beranggapan bisa menggulung rezim Irak hanya dalam waktu tiga atau empat hari, tapi kenyataannya anggapan itu meleset. Dan seandainya tentara Irak mau bertempur habis-habisan, maka perang akan terus berlanjut sampai sekarang, dan bahkan belum tentu AS dan Inggris bisa meraih kemenangan militer. Tentara Irak tidak mau sungguh-sungguh bertempur justru di saat mereka harus berbuat demikian. Ini jelas mengundang teka-teki, dan sudah saya katakan tadi bahwa kita tidak bisa mengambil kepastian. Namun, teka-teka itu kelak akan terjawab dengan sendirinya.

Keempat, runtuhnya kredibilitas media pemberitaan mereka. Kredibilitas itu sekarang sudah hancur total di mata dunia. Semua orang di dunia menyaksikan bahwa media AS telah melakukan sensor berita secara terbuka. Kemudian, mereka juga telah menyerang lembaga pemberitaan lalu mengaku salah tembak. Tak seorangpun bisa menerima alasan ini. Mereka berbohong dalam melaporkan jumlah korban perang mereka. Selama ini, jumlah korban jiwa yang mereka sebutkan, misalnya, 80, 90, atau 100 orang. Semua orang tahu bahwa itu pasti bohong. Memang, kita tidak mengetahui dengan pasti jumlah korban di pihak mereka. Yang mengetahui tentang ini seharusnya adalah para petugas rumah mayat di Kuwait. Kelak rakyat AS akan tahu sendiri, seperti yang terjadi dalam kasus Perang Vietnam ketika di kemudian hari disebutkan korban yang tewas mencapai 50.000 orang. Padahal, ketika perang berlangsung jumlah yang disebutkan hanyalah 10, 20, 100, atau 200 orang. Alhasil, demikianlah soal kerugian yang menimpa mereka.

Ada suatu hal lagi yang perlu saya kemukakan di bagian akhir pernyataan saya. Pertama ialah bahwa yang hal yang dapat saya baca dari peristiwa yang terjadi menyangkut Irak ialah bahwa kaum Zionis adalah pihak yang paling determinan dalam kasus Irak, baik dalam bentuk profokasi terhadap pemerintah AS maupun dalam bentuk upaya membuka peluang bagi aplikasi serangan ke Irak. Bagi kaum Zionis, peta baru Timteng yang dijajakan Bush dan anak buahnya secara repetitif tak lain adalah peta perluasan kaum Zionis, baik secara ekonomi maupun politik, di kawasan Timteng, baik di tengah negara-negara Arab maupun non-Arab yang ada di sekitarnya. Dalam hal ini, perluasan secara geografis juga akan mereka lakukan kalau memang tersedia kesempatan. Inilah peta baru Timteng, dan merekalah yang paling diuntungkan dalam peta tersebut. Oleh sebab itu, merekalah yang menyediakan langkah-langkah pendahuluannya. Kemudian, karena terburu-buru, perang Irak dimanfaatkan sedemikian rupa oleh si bengis Zionis dan Sharon sehingga ketika perhatian dunia tertuju ke Irak, setiap hari jatuh korban jiwa Palestina, orang-orang Palestina ditekan, dan pecah berbagai tragedi yang mengenaskan.

Lebih lanjut, saya juga perlu bicara tentang para politisi Irak. Banyak aktivis politik yang meramaikan gelanggang politik Irak. Sekarang ini para politisi Irak sedang dihadapkan pada ujian yang sangat besar dan bersejarah. Mereka harus hati-hati dan jangan sampai salah strategi. Mereka jangan sampai terbuai dan jangan pula ketakutan di depan kemenangan militer AS atas Saddam karena kedua sikap tersebut sama-sama berbahaya untuk mereka. Para politisi harus mewaspadai dua hal. Pertama menyangkut anarkisme, balas dendam secara irasional, dan persaingan yang merugikan. Anarkisme sangat membahayakan masa depan Irak dan rakyatnya karena bisa menjadi dalih bagi pihak asing untuk memantapkan keberadaannya di Irak.  Rivalitas sia-sia dan pembalasan dendam secara menyimpang harus mereka cegah. Sebaliknya, mereka harus duduk berpikir dan menyusun manajemen. Kedua, jangan sampai berbuat kesalahan dengan bekerjasama dengan penguasa asing. Kesalahan ini pasti akan tercatat dan abadi dalam sejarah Irak. Sekarang ini, jika seseorang membantu memantapkan kekuasaan pihak asing di Irak, maka perbuatan itu akan tercatat dalam sejarah Irak sebagai corengan batu arang bagi setiap orang ataupun kelompok yang melakukannya.

Rakyat Irak adalah bangsa yang mendambakan kemerdekaan, kebebasan, dan pemerintahan yang berlandaskan agama dan nasionalisme mereka. Segenap pihak yang sejak sekian tahun silam selalu angkat bicara atas nama rakyat Irak harus loyal kepada aspirasi rakyat Irak. Loyalitas itu harus mereka tunjukkan pada tataran praktik. Rakyat akan berpaling dari mereka jika mereka bermain mata dengan kekuatan-kekuatan asing. Yang harus mereka pikirkan ialah keredhaan Allah dan rakyat Irak. Mereka harus tahu bahwa kemenangan militer atas rakyat bukan berarti kemenangan politik dan kebudayaan atas rakyat Irak.  Rezim Saddam telah meraih kemenangan militer atas rakyat Irak, tetapi itu sama sekali bukan berarti kemenangan politik dan kebudayaan rezim tersebut.

Ya Allah, atas nama para wali-Mu dan atas nama darah kaum tertindas, berilah pertolongan kepada rakyat Irak, Palestina, dan semua bangsa yang teraniaya dalam berjuang melawan kaum tiran. Anugerahilah mereka kemenangan di bawah bendera istiqamah dan ketaatan beragama. Kita juga memohon kepada Allah SWT agar mencurahkan berkah dan belas kasih-Nya kepada bangsa kita yang mulia dan besar.   

 

 

 

INDEX PIDATO RAHBAR

 

 

 

Hosted by www.Geocities.ws

1