|
Khutbah Jumat
Rahbar Tentang Jatuhnya Rezim Saddam
11 April 2003
Editor :
Abdurrahman Baragbah
Khutbah Jumat
Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran ini terdiri atas empat poin. Poin pertama
dan kedua saya sadur dari koran Jumhuriye Islomi terbitan Teheran edisi 12
April sehingga susunannya mungkin sangat berbeda dengan khutbah aslinya.
Sedangkan poin ketiga dan keempat saya terjemahkan dari hasil video capture
dari televisi berita Iran yang menyiarkan langsung khutbah Jumat yang
dihadiri ratusan ribu jemaah di halaman Universitas Teheran tersebut. Proses
penerjamahan terjadi sedemikian rupa karena hingga terjemahan ini selesai,
saya belum menerima teks transkrip lengkap pidato Rahbar. Khutbah yang saya
terjemahkan adalah khutbah jumat pertama, sedangkan khutbah Jumat keduanya
berisikan pesan Rahbar kepada rakyat Irak. Pesan berbahasa Arab itu tidak
saya terjemahkan karena isinya tidak jauh berbeda dengan isi khutbah yang
pertama. Semoga bermanfaat.
Dalam kasus Irak, ada empat masalah yang saling terpisah sepenuhnya satu
dengan yang lain. Empat masalah itu menyangkut jatuhnya Saddam, tragedi
kemanusiaan yang menimpa rakyat Irak, agresi AS dan Inggris terhadap sebuah
negara merdeka, dan penanganan masa depan Irak. Terhadap masing-masing
persoalan itu, Iran telah mengambil sikap yang sepenuhnya transparan dan
jelas. Sikap itu berangkat dari pemikiran dan strategi Islami tanpa
mengabaikan kepentingan Iran sendiri.
Masalah pertama
adalah menyangkut jatuhnya rezim Saddam. Rakyat dan pemerintah Iran gembira
menyaksikan jatuhnya rezim Saddam yang tiran dan diktator, karena mereka
menganggap era kekuasaan Partai Ba’ath di Irak sebagai era yang paling
pahit dalam sejarah Irak selama satu abad terakhir. Sebelum Irak
menganeksasi Kuwait, terutama ketika Saddam memaksakan perang terhadap Iran
selama delapan tahun, kepentingan Saddam terkoordinasi sepenuhnya dengan
interes AS. Namun, sejak Saddam menyerang Kuwait, kepentingan pemerintah
Irak dan pemerintah AS tiba-tiba kontras karena AS tidak ingin kehilangan
rezim-rezim Arab kawasan Teluk Persia.
Rakyat Irak sepenuhnya gembira menyambut tumbangnya Saddam. Namun
demikian, dalam perang antara Saddam dan tentara agresor AS, rakyat Irak
sama sekali tidak memihak. Sikap rakyat Irak ini sama persis dengan sikap
rakyat dan pemerintah Iran. Selama perang, pemerintah Iran gigih berupaya
agar jangan ada pihaknya yang membantu satu diantara kedua pihak yang
berperang. Ketidakberpihakan rakyat Irak dalam perang Saddam melawan AS dan
Inggris adalah akibat kedikdatoran dan pelecehan rezim Irak terhadap
rakyatnya.
Jatuhnya Bagdad setelah pertempuran yang berjalan hanya tiga hari adalah
kasus yang sangat misterius. Dulu, meski tidak memiliki sarana militer sama
sekali, para pejuang kita bisa bertahan selama 35 hari di depan gempuran
tentara Irak terhadap kota Khoramsyahr. Peristiwa itu menjadi kebanggaan
bagi bangsa Iran. Namun, dalam kasus Bagdad, kota ini bisa jatuh hanya dalam
tempo tiga hari walaupun di sana terdapat lebih dari 120.000 tentara Irak.
Ini jelas misterius.
Masalah kedua
menyangkut tragedi kemanusiaan. AS dan Inggris mengklaim dirinya sebagai
pembela HAM. Namun, penistaan hak rakyat Irak untuk hidup oleh AS dan
Inggris adalah tragedi yang tidak akan hilang dari benak dan naluri umat
manusia, persis seperti kejahatan-kejahatan yang dilakukan AS di masa lalu.
Pembombardiran kota-kota Irak yang meniscayakan pembunuhan rakyat Irak
yang tak berdosa, khususnya anak-anak kecil, pelecehan terhadap kaum lelaki
dan perempuan Irak, dan penggerebekan rumah-rumah penduduk oleh tentara AS
dan Inggris dengan cara yang sangat menghina adalah bukti kebohongan klaim
AS dan Inggris tentang kebebasan dan HAM. Rakyat dan pemerintah Iran sejak
awal mengutuk tindakan-tindakan tersebut sekaligus menunjukkan
solidaritasnya kepada rakyat Irak.
Masalah ketiga
ialah menyangkut agresi kepada suatu negara dengan dalih adanya senjata
perusak massal di negara tersebut. Ini adalah satu perbuatan yang paling
tercela sehingga dikutuk dan ditolak oleh naluri masyarakat dunia. Ini
mengingatkan saya kepada Perang Vietnam. Saat itu demonstrasi anti invasi AS
juga terjadi di beberapa kawasan dunia. Namun, kesepakatan masyarakat dunia
yang saya lihat sekarang tidak saya lihat pada era Perang Vietnam. Saat itu
mereka (AS) menyatakan bahwa demo-demo anti perang Vietnam dimobilisasi oleh
Rusia. Tetapi sekarang siapa penggeraknya? Di India, Pakistan, Indonesia,
Malaysia, Afrika, Eropa dan Amerika sendiri massa terkonsentrasi dalam
sebuah demo akbar yang terdiri atas ribuan, puluhan ribu, dan bahkan ratusan
ribu orang. Slogan yang mereka teriakkan pun satu. Siapa yang menggalang
berbagai demonstrasi tersebut? Tidak ada pusat dan lembaga apapun yang
menggalangnya. Penggeraknya tak lain adalah naluri dunia, naluri insaniah.
Nalurilah yang mengutuk invasi ke Irak, invasi yang merupakan satu bentuk
tindakan mengada-ada, tindakan yang lazim terjadi pada era kolonialisme.
Mereka (AS) mencari-cari dalih untuk menginvasi sebuah negara. Tim
Inspeksi Senjata PBB sudah menyatakan tidak ada senjata destruksi massal di
Irak, tapi AS malah menanggapinya dengan kata-kata: “Diamlah, kalian tidak
tahu apa-apa? Kamilah yang tahu, dan karena itu kami harus menyerang Irak”
Ini adalah perbuatan yang sangat tercela dan kami mengutuknya. Sayangnya,
dalam kasus ini PBB juga tidak becus. Mengapa DK PBB tidak mengutuk serangan
AS dan Inggris? Mengapa Dewan ini tidak mengeluarkan resolusi terhadap
mereka? Resolusi itu bisa menjadi sebuah gerakan yang sangat merugikan
mereka, tapi mengapa Dewan itu tidak melakukannya? Mengapa Majlis Umum PBB
tidak menggelar sidang untuk mengutuk invasi tersebut? Banyak tindakan yang
seharusnya dilakukan oleh Sekjen PBB.
Sebenarnya, sudah sejak dulu PBB tidak bisa kita harapkan. Kita sudah
melihat rapor kerja PBB. Kita sudah melihat infiltrasi yang merasuki PBB.
Walaupun demikian, ini bukan berarti dunia sudah tidak mengharapkan apapun
dari PBB.
Tindakan invasi ke Irak sudah membuktikan bahwa AS sendirilah yang
merupakan negara antagonis. Jargon ini dilontarkan Presiden AS sebelumnya
kepada sejumlah negara dunia, tetapi kenyataannya mereka (AS) sendirilah
yang antagonis. Merekalah yang justru sangat antagonis terhadap kemanusiaan
dan stabilitas negara-negara lain. Mereka telah membuktikan bahwa mereka
sendiri yang merupakan poros kejahatan dalam bentuknya yang paling nyata,
dan bahwa mereka memang layak disebut Imam Khomaini ra sebagai Setan Besar.
Mereka memang Setan Besar.
Inggris juga telah melakukan kesalahan besar. Inggris telah mengekor
kepada AS dengan harapan akan mendapat bagian dari ‘rampasan perang’. Di
kawasan ini termasuk Iran, Irak, dan India citra Inggris memang sudah sangat
buruk dan menjijikkan. Di kawasan ini banyak keburukan dan kezaliman yang
sudah dilakukan Inggris. Keburukan citra Inggris itu kemudian dilupakan
orang setelah waktu berjalan 30 atau 40 tahun. Tapi, begitu Blair tampil,
bayang-bayang kejahatan Inggris kembali mencuat di benak semua orang. Ini
tentu kesalahan besar yang dilakukan Blair.
Dengan demikian, dalam poin ketiga ini, seirama dengan suara yang
dipekikkan khalayak dunia, kita mengutuk agresi militer. Kita mengutuk dan
menganggapnya sebagai tindakan yang hendak dipaksakan menjadi tradisi baru
dalam hubungan internasional. Kita juga menganggapnya sebagai agresi
terhadap negara Islam, dan bahkan terhadap Islam dan kehormatan segenap umat
Islam.
Masalah keempat
ialah dominasi AS selanjutnya terhadap Irak. Tak cukup dengan melancarkan
agresi dan tragedi, mereka masih ingin memegang administrasi di Irak, itupun
dengan cara mendudukkan seorang penguasa militer yang berjiwa Zionis atau
paling tidak terkait erat dengan lobi-lobi Zionis. Penguasa seperti itu
hendak mereka dudukkan di sebuah negara Islam yang memiliki kehormatan.
Antara mereka (AS dan Inggris) terjadi upaya bagi hasil yang kemudian
tentu terjadi pula silang pendapat antar mereka. Walaupun begitu, secara
kasat mata mereka sedang berupaya untuk saling bagi hasil. Basrah yang aroma
minyaknya relatif sangat kuat dan jaraknya pun dekat dengan sentra-sentra
minyak menjadi milik Inggris yang memang bernafsu saat mencium aroma minyak.
Bagdad sendiri akan menjadi pusat kekuasaan AS yang memang hobi unjuk
kekuatan militer. Saling bagi hasil mereka lakukan sedemikian rupa, walaupun
memang terjadi silang pendapat yang kelak tentu akan semakin tajam dan
kentara di mata rakyat Irak.
Itulah keadaan yang mengulangi era kolonialisme dan merupakan
reaksionarisme dalam bentuknya yang paling nyata. Kondisi inilah yang dulu
terjadi pada awal-awal era kolonialisme ketika negara-negara penjajah datang
ke negara-negara Asia dan Afrika. Negara-negara ini mereka rebut kemudian
mereka dudukkan di sana penguasa dari pihak mereka untuk mengendalikan
sepenuhnya seluruh kawasan yang sudah mereka kuasai. Tindakan itu mereka
praktikkan di India, Australia, Kanada, Afrika, dsb. Setelah waktu berjalan
sekian lama, tindakan itu kemudian disadari sebagai praktik kotor dan
tercela sehingga mereka pun ganti formula dengan cara mendudukan penguasa
dari pihak negara terjajah itu sendiri dengan syarat bersedia tunduk
sepenuhnya kepada mereka. Karena tunduk, penguasa itu dibantu dan diberi
segala fasilitas supaya kemudian ia membuka kesempatan lebar-lebar untuk
praktik penjarahan oleh kaum imperialis.
Demikianlah era yang sudah berlalu itu. Saat mereka sadar bahwa (praktik
penjajahan) itu salah dan tidak menguntungkan mereka karena bangsa yang
terjajah akan bangkit melawan mereka, maka mereka pun memperagakan jurus
baru yang kelihatan demokratis. Sambil melakukan invasi kultural, mereka
memilih penguasa yang pro mereka. Hal ini juga terjadi di Iran pada zaman
rezim taghut. Mula-mula Inggris mendudukkan Reza Pahlevi kemudian Muhammad
Reza Pahlevi. Tapi setelah membentur persoalan, Inggris lantas menampilkan
Ali Amini sebagai Perdana Menteri agar terjadi apa yang disebutnya
reformasi. Jadi, ketika keadaan sudah tak terkendali, Inggris sendiri yang
menggulirkan reformasi enam pasal sehingga terjadilah reformasi yang sangat
memalukan di era taghut tersebut.
Inilah petualangan yang sudah dilakukan kaum imperialis di berbagai era
dan kawasan dunia. Sekarang, mereka hendak kembali kepada masa lalu itu.
Mereka merebut suatu negara dengan senjata untuk kemudian mendudukkan sosok
penguasa baru. Ini tentu adalah tindakan yang sangat keterlaluan,
reaksioner, kotor, melecehkan, dan mencerminkan kemabokan dan kecongkakan
yang mencampakkan akal sehat. Ini adalah bentuk ketidaktahuan terhadap
kondisi zaman.
Bangsa-bangsa dunia, termasuk pemerintahnya, mengutuk perbuatan tersebut.
Dalam hal ini sikap kita sudah jelas sepenuhnya. Di mata kita, perbuatan itu
adalah kesalahan dalam kesalahan. Di Irak tidak seharusnya ada penguasa
asing, militer, dan apalagi Zionis. Rakyat Irak sendirilah yang harus
memilih pemimpinnya tanpa perlu dukungan kekuatan agresor. Namun, segala
sesuatu (menyangkut Irak) sudah diatur pemerintah AS. Dalam benak mereka
sudah terpikir untuk bergerak maju kemudian memegang kendali pemerintahan
sambil mengucurkan sedikit bantuan lalu mengubah kebudayaan rakyat. Mereka
mencengkram sektor pendidikan, seperti yang sedang terjadi di Afganistan.
Mereka mendatangkan buku-buku pelajaran sekian ton untuk siswa sekolah
menengah di Afganistan. Mereka mencetaknya dengan bahasa Persia dan Pashtu
lalu didistribusikan di sekolah-sekolah menengah Afganistan. Tujuannya ialah
menghilangkan citra buruk AS di mata para siswa Afganistan sekaligus
mengubah bentuk kebudayaan, agama, dan wawasan sejarah para siswa tersebut.
Apa yang terjadi di Afganistan ini sekarang hendak mereka terapkan di
Irak. Tapi itu tentu tidak akan terlaksana. Sebab, kejahatan AS sudah
terlampau banyak dimata para guru dan masyarakat Irak sehingga kesadaran
akan fakta ini pasti akan menular dari generasi ke generasi. Terlepas dari
kesadaran ini, yang jelas itulah program AS di Irak. Inilah masalah keempat
yang tentu berbeda dengan masalah-masalah sebelumnya. Artinya, seandainyapun
rencana untuk mendominasi Irak itu tidak mereka aplikasikan, agresi terhadap
Irak tetap saja terkutuk serta merupakan kejahatan besar dan penghinaan
terhadap bangsa Irak.
Sungguh, orang pasti sulit untuk percaya bagaimana mereka berani
terang-terangan berkata di televisi bahwa bangsa Irak tidak akan mampu
menentukan penguasa yang akan memerintah mereka. Padahal bangsa Irak adalah
bangsa dengan latar belakang sejarah yang sedemikian besar, dengan sekian
banyak tokoh besar, dan dengan sekian banyak ilmuan dan politisi. Sulit
untuk dipercaya bagaimana mereka tanpa malu-malu menuduh bangsa lain sebagai
bangsa yang tidak becus.
Ini semua kita kutuk, kita tolak, dan kita anggap sebagai pelecehan
terhadap hak bangsa Irak. Adanya diktator baru tidak akan bisa diterima oleh
rakyat Irak. Rakyat Irak keluar dari kubangan despotisme Saddam bukan untuk
masuk ke lembah kediktatoran militer AS. Dan seandainya penguasa diktator di
Irak nanti adalah orang Irak sendiri, rakyat Irak juga pasti tidak akan bisa
menerimanya.
Kemudian, kasus yang sedang saya bahas sekarang ini kita anggap sebagai
agresi terhadap zona kehormatan Islam dan muslimin.
ولن
يجعل الله للكافرين على المؤمنين سبيلا
“Allah tidak memberi jalan bagi
orang-orang kafir untuk berbuat aniaya terhadap kaum mukminin”
Kemenangan militer (AS dan Inggris)
sekarang, itupun dalam bentuknya yang penuh teka-teki, bukanlah bukti
tercapainya suatu kemenangan final. Soal kemenangan inipun, AS sebenarnya
banyak mengalami kerugian dan kegagalan yang sekarang mungkin tidak mereka
ketahui, tapi dalam waktu dekat nanti mereka pasti akan mengetahui
implikasinya. Ada tiga kekandasan yang mereka alami.
Pertama,
kekandasan yang menimpa slogan kebebasan dan demokrasi Barat. Paham liberal
demokrasi yang hendak mereka marakkan di dunia sekarang kandas akibat ulah
mereka di Irak. Mereka sudah memperlihatkan ketidak mampuan liberal
demokrasi membawa sebuah bangsa kepada suatu keyakinan tentang adanya
kebebasan dalam arti yang sesungguhnya. Yang mereka tunjukkan ialah bahwa
ketika mereka melihat kepentingan materi, mereka siap menggilas begitu saja
kebebasan, jiwa, dan hak pilih setiap orang. Seandainya AS memang konsekwen
kepada demokrasi, maka sekarang juga seharusnya AS angkat kaki meninggalkan
Irak. Bukankah Saddam sudah terjungkir?! Lantas untuk apalagi AS bercokol di
Irak?! Kalau mereka memang jujur, menganut demokrasi, dan menghormati hak
bangsa-bangsa lain, maka tanpa menunda waktu lagi sekarang mereka sudah
menarik pasukan militernya dari Irak dan tidak melakukan intervensi dalam
bentuk apapun di negara ini. Tapi kita tahu ini jelas tidak akan terjadi.
Secara ideologi mereka kandas. Seluruh
masyarakat dunia menyaksikan kebohongan semboyan-semboyan AS. Dari
slogan-slogan yang diteriakkan atau yang tulis dalam spanduk oleh massa
anti perang dalam demo akbar di berbagai negara terlihat betapa masyarakat
dunia sudah tahu persis fakta yang sebenarnya. Dari berbagai catatan yang
saya terima, slogan-slogan itu antara lain berbunyi: “Perang Irak hanya
perang demi minyak, bukan perang demi kebebasan dan HAM”, “Perang Irak
adalah perang untuk menyelamatkan kebangkrutan ekonomi AS”, “Perang ini
adalah perang agresor ala Hitler”, “Poros kejahatan adalah AS, Inggris, dan
Israel”. Slogan-slogan ini dipekikkan bukan oleh warga Teheran melainkan
oleh khalayak dunia. Slogan-slogan yang sejak dulu dikibarkan oleh rakyat
Iran secara realistis itu sekarang sudah dimengerti dan dipahami bersama
oleh masyarakat dunia. Atas dasar ini, secara ideologis mereka kalah.
Kedua,
kekandasan mereka secara politik. Dewasa ini secara politik AS terkucil di
dunia. Formula dan solusi yang disodorkan AS dengan mengangkat seorang
purnawirawan mayjen sebagai penguasa di Irak sama sekali tidak bisa diterima
kecuali oleh segelintir negara dunia. Semua negara Arab, Islam, dan bahkan
Eropa menolaknya.
Ketiga,
ambruknya wibawa militer mereka. Tadinya mereka beranggapan bisa menggulung
rezim Irak hanya dalam waktu tiga atau empat hari, tapi kenyataannya
anggapan itu meleset. Dan seandainya tentara Irak mau bertempur
habis-habisan, maka perang akan terus berlanjut sampai sekarang, dan bahkan
belum tentu AS dan Inggris bisa meraih kemenangan militer. Tentara Irak
tidak mau sungguh-sungguh bertempur justru di saat mereka harus berbuat
demikian. Ini jelas mengundang teka-teki, dan sudah saya katakan tadi bahwa
kita tidak bisa mengambil kepastian. Namun, teka-teka itu kelak akan
terjawab dengan sendirinya.
Keempat,
runtuhnya kredibilitas media pemberitaan mereka. Kredibilitas itu sekarang
sudah hancur total di mata dunia. Semua orang di dunia menyaksikan bahwa
media AS telah melakukan sensor berita secara terbuka. Kemudian, mereka juga
telah menyerang lembaga pemberitaan lalu mengaku salah tembak. Tak
seorangpun bisa menerima alasan ini. Mereka berbohong dalam melaporkan
jumlah korban perang mereka. Selama ini, jumlah korban jiwa yang mereka
sebutkan, misalnya, 80, 90, atau 100 orang. Semua orang tahu bahwa itu pasti
bohong. Memang, kita tidak mengetahui dengan pasti jumlah korban di pihak
mereka. Yang mengetahui tentang ini seharusnya adalah para petugas rumah
mayat di Kuwait. Kelak rakyat AS akan tahu sendiri, seperti yang terjadi
dalam kasus Perang Vietnam ketika di kemudian hari disebutkan korban yang
tewas mencapai 50.000 orang. Padahal, ketika perang berlangsung jumlah yang
disebutkan hanyalah 10, 20, 100, atau 200 orang. Alhasil, demikianlah soal
kerugian yang menimpa mereka.
Ada suatu hal lagi yang perlu saya
kemukakan di bagian akhir pernyataan saya. Pertama ialah bahwa yang
hal yang dapat saya baca dari peristiwa yang terjadi menyangkut Irak ialah
bahwa kaum Zionis adalah pihak yang paling determinan dalam kasus Irak, baik
dalam bentuk profokasi terhadap pemerintah AS maupun dalam bentuk upaya
membuka peluang bagi aplikasi serangan ke Irak. Bagi kaum Zionis, peta baru
Timteng yang dijajakan Bush dan anak buahnya secara repetitif tak lain
adalah peta perluasan kaum Zionis, baik secara ekonomi maupun politik, di
kawasan Timteng, baik di tengah negara-negara Arab maupun non-Arab yang ada
di sekitarnya. Dalam hal ini, perluasan secara geografis juga akan mereka
lakukan kalau memang tersedia kesempatan. Inilah peta baru Timteng, dan
merekalah yang paling diuntungkan dalam peta tersebut. Oleh sebab itu,
merekalah yang menyediakan langkah-langkah pendahuluannya. Kemudian, karena
terburu-buru, perang Irak dimanfaatkan sedemikian rupa oleh si bengis Zionis
dan Sharon sehingga ketika perhatian dunia tertuju ke Irak, setiap hari
jatuh korban jiwa Palestina, orang-orang Palestina ditekan, dan pecah
berbagai tragedi yang mengenaskan.
Lebih lanjut, saya juga perlu bicara
tentang para politisi Irak. Banyak aktivis politik yang meramaikan
gelanggang politik Irak. Sekarang ini para politisi Irak sedang dihadapkan
pada ujian yang sangat besar dan bersejarah. Mereka harus hati-hati dan
jangan sampai salah strategi. Mereka jangan sampai terbuai dan jangan pula
ketakutan di depan kemenangan militer AS atas Saddam karena kedua sikap
tersebut sama-sama berbahaya untuk mereka. Para politisi harus mewaspadai
dua hal. Pertama menyangkut anarkisme, balas dendam secara irasional,
dan persaingan yang merugikan. Anarkisme sangat membahayakan masa depan Irak
dan rakyatnya karena bisa menjadi dalih bagi pihak asing untuk memantapkan
keberadaannya di Irak. Rivalitas sia-sia dan pembalasan dendam secara
menyimpang harus mereka cegah. Sebaliknya, mereka harus duduk berpikir dan
menyusun manajemen. Kedua, jangan sampai berbuat kesalahan dengan
bekerjasama dengan penguasa asing. Kesalahan ini pasti akan tercatat dan
abadi dalam sejarah Irak. Sekarang ini, jika seseorang membantu memantapkan
kekuasaan pihak asing di Irak, maka perbuatan itu akan tercatat dalam
sejarah Irak sebagai corengan batu arang bagi setiap orang ataupun kelompok
yang melakukannya.
Rakyat Irak adalah bangsa yang mendambakan
kemerdekaan, kebebasan, dan pemerintahan yang berlandaskan agama dan
nasionalisme mereka. Segenap pihak yang sejak sekian tahun silam selalu
angkat bicara atas nama rakyat Irak harus loyal kepada aspirasi rakyat Irak.
Loyalitas itu harus mereka tunjukkan pada tataran praktik. Rakyat akan
berpaling dari mereka jika mereka bermain mata dengan kekuatan-kekuatan
asing. Yang harus mereka pikirkan ialah keredhaan Allah dan rakyat Irak.
Mereka harus tahu bahwa kemenangan militer atas rakyat bukan berarti
kemenangan politik dan kebudayaan atas rakyat Irak. Rezim Saddam telah
meraih kemenangan militer atas rakyat Irak, tetapi itu sama sekali bukan
berarti kemenangan politik dan kebudayaan rezim tersebut.
Ya Allah, atas nama para wali-Mu dan atas
nama darah kaum tertindas, berilah pertolongan kepada rakyat Irak,
Palestina, dan semua bangsa yang teraniaya dalam berjuang melawan kaum
tiran. Anugerahilah mereka kemenangan di bawah bendera istiqamah dan
ketaatan beragama. Kita juga memohon kepada Allah SWT agar mencurahkan
berkah dan belas kasih-Nya kepada bangsa kita yang mulia dan besar.
|