|
Contoh
Kemenangan Atas Israel Terpampang Di Depan Mata
Petikan Rahbar
pidato pada Konferensi Palestina di Di Teheran
24
April 2001
بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله الذي منٌ علينا
بهداية الاسلام و شرع لنا الجهاد الذي هو باب من ابواب الجنة فتحه الله لخاصة
اوليائه ، وسبحان الذي اسرى بعبده ليلا من المسجد الحرام الي المسجد الاقصى
الذي باركنا حوله لنريه من آياتنا انه هو السميع البصير، والصلاة والسلام علي
نبيه البشير النذير محمد وآله الطاهرين الطيبين وصحبه المنتجبين، والسلام عليكم
ورحمة الله
وبركاته
Saya ucapkan
selamat datang kepada hadirin sekalian; para pimpinan dan delegasi parlemen
dari negara-negara Islam, para pemimpin fraksi-fraksi mujahid, para pejuang
front terdepan pertahanan Islam, dan para tamu undangan sekalian. Semoga
rahmat dan hidayah Ilahi senantiasa tercurah kepada anda sekalian.
Keputusan
untuk menyelenggarakan konferensi sedemikian ini adalah sesuatu yang penuh
berkah dan insyaallah akan dapat membuahkan hasil-hasil yang positif dan
konstruktif dalam upaya memobilisasi masyarakat Islam untuk menyokong
kebangkitan rakyat muslim Palestina. Pertemuan ini praktis membuktikan
bahwa Palestina adalah masalah keislaman dan berkaitan dengan seluruh Dunia
Islam. Pendudukan terhadap palestina adalah salah satu pilar konspirasi
terkutuk kaum imperialis dunia dimana dulunya adalah Inggris dan sekarang
AS-lah yang tampil untuk merongrong dan meremukkan Dunia Islam.
Musuh-musuh Islam selalu berusaha menampilkan
klasifikasi kebangsaan demi mencegah persatuan umat Islam dan agar mereka
bisa menguasainya. Pada awal-awal pendudukan Palestina, para ulama
mujahid termasuk Syaikh Izzuddin Qasam dan Haji Amin AlHusaini telah meminta
bantuan umat Islam untuk menyelamatkan Palestina, dan sang marji' besar
AlMarhum Mohammad Husain AlKashif AlGhita' juga telah mengeluarkan perintah
(hukum) jihad melawan kaum Zionis. Sayangnya, corak keislaman perjuangan
ini kemudian melemah dan yang menguat malah corak kebangsaan.
Kemenangan
revolusi Islam di Iran dibawah pimpinan Imam Khomaini, sosok cemerlang dari
keturunan Nabi Besar Mohammad SAWW, telah memainkan peranan fundamental
dalam proses kebangkitan Islam di seantero dunia, khususnya negara-negara
regional. Kemenangan umat Islam dalam konfrontasi yang secara kasat mata
tidaklah seimbang melawan musuh di Libanon Selatan adalah satu indikator
baru tentang kesolidan dan kebenaran perjuangan Islam, serta merupakan satu
penegasan bahwa jika umat Islam bertumpu kepada janji Allah dan berjuang
demi Allah maka kemenangan adalah merupakan satu kepastian bagi mereka.
Kemenangan
resistensi Islam yang begitu memukau di Libanon Selatan, dan dari sisi lain
kekandasan prakarsa-prakarsa damai secara memalukan adalah salah satu
pelajaran bagi masyarakat regional sehingga warga muslim Palestina-pun
kembali tergiur kepada intifadah. Senandung perdamaian yang sekarang
kembali didengungkan di dalam Palestina dan kawasan sekitarnya tidak
mempengaruhi warga Palestina yang tabah dan gagah berani. Mereka bertekad
untuk melanjutkan perjuangan hingga tercapainya kemenangan, isnyaallah.
Sebab, intifadah yang pertama terhenti lantaran terbuai oleh doktrin-doktrin
kaum Zionis dan para pendukungnya dengan janji-janji bahwa konsesi-konsesi
seperti yang dikehendaki bangsa Palestina bisa diraih melalui perdamaian,
selain juga lantaran infiltrasi para pemrakarsa perdamaian serta tekanan AS
dan Barat. Namun, 10 tahun kemudian terbukti bahwa seluruh sepak terjang
para pendukung Zionisme di dunia ternyata hanya bertujuan menyelamatkan
Rezim Israel dari tekanan perjuangan umat Islam, dan bahwa apa yang
dijanjikan kepada para perunding Palestina ternyata tak lebih dari genangan
fatamorgana.
Aksi
pendudukan, ekspansi, dan keganasan yang diperagakan Israel sekarang ini
sebenarnya sudah bisa diprediksikan sebelumnya oleh kalangan cerdik pandai
dan mereka yang peka di tengah masyarakat Islam. Sejak awal terbentuknya
Israel, Rezim perampas dan pembohong ini selalu melanggar hak-hak warga
muslim Palestina. Pelanggaran ini lantas dijustifikasi dan didukung oleh
sebagian negara Barat, khususnya AS, sementara lembaga-lembaga internasional
pun juga ikut menjustifikasinya sambil berusaha melegitimasi status dan
agresi Israel.
Bumi
Palestina dan Baitul Maqdis selalu menjadi obyek keserakahan sebagian negara
Barat. Keserakahan mereka terhadap tanah suci ini terbukti dari pemaksaan
Perang Salib yang berkepanjangan terhadap umat Islam. Setelah kekalahan
dinasti Ottoman sebagian komandan pasukan Sekutu yang masuk ke Baitul
Maqdis mengatakan: "Sekarang Perang Salib sudah berakhir!"
Pendudukan
tanah ini dilakukan berlandaskan sebuah proyek yang multidimensional, rumit,
dan bertujuan menghadang persatuan dan kekompakan umat Islam serta mencegah
berdirinya kembali pemerintahan-permerintahan Islam yang tangguh. Ada
berbagai indikasi yang menunjukkan bahwa kaum Zionis justru menjalin
hubungan erat dengan kaum Nazi Jerman. Mereka sengaja menyodorkan data-data
yang berlebihan mengenai pembantaian umat Yahudi dengan tujuan menyedot
simpati khalayak umum dan mempersiapkan situasi untuk pendudukan Palestina
dan penjustifikasian aksi-aksi jahat kaum Zionis. Bahkan ada pula berbagai
indikasi yang menunjukkan bahwa sejumlah orang keji non Yahudi dari Eropa
Timur melakukan imigrasi ke Palestina atas nama umat Yahudi dengan tujuan
mendirikan sebuah pemerintahan anti Islam di jantung Dunia Islam dengan
kedok mendukung mendukung para keluarga korban rasialisme, dan lalu
terciptalah keretakan antara wilayah timur dan barat Dunia Islam setelah
masa berlalu hampir 14 abad.
Awal mulanya,
umat Islam lalai karena mereka tidak menyadari adanya permusuhan yang
diproyeksikan oleh kaum Zionis dan pendukungnya di Barat. Dinasti Ottoman
kalah lalu dijalinlah 'Perjanjian Saiks - Piko' secara rahasia untuk
membagi-bagikan negara-negara Arab kepada para pemenang perang. 'Masyarakat
internasional' menyerahkan kekuasaan atas Palestina kepada Inggris. Mereka
juga menjanjikan bantuan kepada kaum Zionis, dan kemudian dengan serangkaian
rencana yang matang mereka memboyong kaum Yahudi ke Palestina dan
mengungsikan umat Islam dari rumah dan tempat tinggal mereka. Di medan laga
yang besar dimana satu pihak adalah Barat dan Zionisme dan di pihak lain
adalah negara-negara Arab yang baru terbentuk, musuh-musuh Islam menggunakan
berbagai jenis sarana canggih termasuk media propaganda dan forum-forum
internasional.
Mereka
menyeru umat Islam supaya bersabar dan menempuh perundingan damai, tetapi di
saat yang sama mereka mempersenjatai Israel. Target-target strategis mereka
dalam memperlakukan umat Islam dan Israel secara pilih kasih dan
diskriminatif ini ialah menjaga supremasi militer Israel atas negara-negara
Islam, mendukung Israel di forum-forum internasional, dan mengerahkan media
massa di bawah pengaruhnya untuk menjustifikasi kejahatan-kejahatan Israel.
Mereka menyebarkan propadanda bahwa pikiran untuk menang atas Israel hanya
merupakan ilusi belaka.
Sejak diakui
oleh PBB, yakni sejak setengah abad silam hingga tahun lalu, Israel selalu
di atas angin dan tak ada seorangpun yang menghadangnya. Namun resistensi
Islam Libanon yang hanya terdiri dari ribuan pemuda bersenjatakan iman telah
membuyarkan mimpi Rezim Israel dan para pendukungnya. Para pemuda mulia
ini sukses mempersona non-gratakan Israel tanpa memberi konsesi apapun.
Kemenangan para pemuda ini lantas menjadi pelita yang menerangi jalan para
pemuda muslim lainnya. Kini menyaksikan intifadah Masjidil Aqsha yang
serupa dengan perlawanan Islam Libanon namun dalam dimensi yang lebih luas.
Saudara
sekalian, Anda sekarang mengadakan pertemuan untuk menyokong intifadhah
sebagai sebuah kewajiban Islam. Anda memikul tugas yang amat berat.
Sebelum segala sesuatunya, Anda harus menunjukkan bahwa di bawah kebangkitan
Islam, Dunia Islam telah bertekad untuk kembali kepada tradisi-tradisi
sejarah kecemerlangannya, terutama tradisi persatuan yang di masa silam
selalu menjadi formula kemenangan umat Islam dalam berbagai pertempuran
melawan agresi kaum salibisme. Dalam peristiwa sejarah yang besar itu,
mujahidin dari segenap Dunia Islam terbiasa terjun ke medan pertempuran yang
amat menentukan dan berkepanjangan antara kufur dan iman.
Sekarang ini,
segenap perhatian umat Islam dunia tersorot kepada perjuangan determinan
rakyat Palestina dengan harapan yang melebihi besarnya harapan mereka kepada
intifadah yang pertama. Sebab saat itu, yaitu 10 tahun silam, iklim
perdamaian secara gradual terus merebak membayangi kawasan Timteng.
Sejumlah kalangan memang telah menambatkan hatinya kepada AS, sementara
kalangan lainnya karena tak berdaya menghadapi tekanan politik dan situasi
internasional merasa tidak ada jalan lain kecuali menerima perdamaian,
itupun dengan memenuhi syarat-syarat AS dan Israel. Paradigma ini menguat
sejak adanya perkembangan sedemikian rupa di kawasan Timteng. Akan tetapi,
tahun ini konferensi ini diselenggarakan di saat solusi untuk perdamaian
Timteng sudah membentur kebuntuan yang bahkan diakui sendiri oleh
pihak-pihak yang masih saja menambatkan harapannya kepada AS.
Pada tahun
1991, Arab dan umat Islam mengalami depresi akibat serangkaian kekandasan
mereka secara beruntun dalam peristiwa Perang Teluk. Persatuan internal
mereka mengalami erosi serius dan mereka pun tersekat dalam beberapa
golongan. Namun, dalam situasi sekarang ini, khususnya sejak perlawanan
Islam di Libanon Selatan mengalami kemenangan besar dan monumental,
tunas-tunas harapan telah bersemi di dalam hati umat Islam.
Mengenai
perlakuan terhadap Israel, saat itu ada dua cara yang selalu dikemukakan.
Pengalaman perlawanan militer pasukan Arab terhadap Israel dikatakan kalah
sementara cara damai yang akan menyukseskan ambisi Israel secara damai
dengan imbalan penarikan pasukan Israel dari sebagian wilayah pendudukan
diproyeksikan untuk menghalangi menguatnya daya militer negara-negara Arab.
Contohnya ialah apa yang kita saksikan dalam Perjanjian Camp David. Saat
itu cara-cara perlawanan tidak dilontarkan dan malah disebut-sebut tidak
bisa diterima khalayak umum. Namun, sekarang ini sudah ada contoh sukses di
depan kita bahwa untuk pertama kalinya wilayah pendudukan berhasil
dibebaskan tanpa ada pemberian konsesi apapun kepada Israel dan berhasil
menggagalkan impian Rezim Zionis untuk mengibarkan benderanya di ibu kota
Libanon.
Dalam
Perjanjian Camp David syarat penarikan pasukan Israel ialah Mesir tidak
mengirim pasukan ke Sinai Utara. Sebaliknya, di Libanon Selatan Israel yang
merisaukan kekuatan milisi perlawanan Islam justru meminta pasukan militer
Libanon supaya dikirim ke wilayah perbatasan antara Palestina dan Libanon.
Artinya, perlawanan Islam inilah yang dapat mengembalikan kedaulatan Libanon
sepenuhnya atas Libanon Selatan dan wilayah-wilayah pendudukan lainnya.
Intifadah
adalah kebangkitan rakyat yang sudah frustasi di depan upaya-upaya
perdamaian dan yang sudah menyadari bahwa kemenangan hanya bisa dicapai
dengan perlawanan. Dalam intifadah sebelumnya, rakyat Palestin telah banyak
menanggung banyak korban. Mereka telah mempersembahkan para syuhada dan
korban cacat dalam jumlah yang besar di jalan Islam dan perjuangan
membebaskan wilayah Islam. Akan tetapi, intifadah itu kemudian dihentikan
oleh perundingan Oslo. Apakah yang dihasilkan perundingan Oslo? Sekarang,
pihak Palestina yang ikut memprakarsai dan mendukung perundingan Oslo
sendiri sudah sama-sama tidak mendukungnya lagi. Karena dalam praktik
mereka mengetahui bahwa Israel hanya ingin menyelesaikan masalahnya sendiri,
yaitu supaya bisa lolos dari serangan para pejuang yang hanya bersenjatakan
batu. Kalau toh mereka memberikan sedikit sesuatu lalu menyebutnya sebagai
konsesi, maka itu semata-mata hanya untuk memadamkan api intifadah dan
mengurangi kerentanannya. Dan begitu problemanya teratasi dan mereka pun
beranggapan bahwa rakyat Palestina sudah tidak punya kekuatan lagi untuk
memulai intifadah, perlawanan, dan konfrontasi dengan mereka, maka mereka
bahkan tak segan-segan mengurungkan pemberian secuil konsesi itu sehingga
watak ekspansif mereka terungkap.
Perkembangan
proses perdamaian dan agenda Oslo telah menyadarkan rakyat Palestina bahwa
tidak ada jalan lain bagi mereka kecuali bangkit berjuang. Orientasi utama
intifadah ialah Masjidil AlAqsha. Sebab, amunisi yang meledakkan amarah
rakyat Palestina ialah perlakuan tidak senonoh terhadap Masjid AlAqsha.
Rakyat Palestina telah tampil ke medan laga dengan memikul risalah penting
untuk menjaga salah satu tempat yang paling disucikan umat Islam. Mereka
menyulut kobaran suci perlawanan dan perjuangan terhadap penjajah Zionis
dengan semangat altruisme.
Proses
perdamaian, khususnya rancangan Oslo tadinya telah memecah belah bangsa
Palestina. Namun, intifadah suci itu kembali mementaskan persatuan nasional
di Palestina. Anda menyaksikan sendiri, seluruh segmen masyarakat ikut
terlibat dalam perjuangan ini, dan semua fraksi Islam dan nasionalis sudah
bahu membahu. Bahkan pihak-pihak yang hatinya masih terbuai di tempat lain
terpaksa mengikuti gerakan arus besar ini.
Kebangkitan
atau kesadaran Islam sejak kemenangan revolusi Islam di Iran serta
mencuatnya gerakan Imam Khomaini dalam dua dekade terakhir telah tampak di
pentas regional dan Dunia Islam. Poros utama kebangkitan dan gerakan ini
ialah masalah Palestina. Intifadah AlAqsha bahkan telah menembus
batas-batas geografis Palestina dan mengalami eskalasi hingga keluar dari
batas kebangsaan Palestina sehingga menggiring bangsa-bangsa muslim dan Arab
lainnya ke atas gelanggang. Demonstrasi jutaan umat Islam dari kawasan
barat hingga kawasan timur Dunia Islam membuktikan bahwa rakyat Palestina
bisa memperhitungkan dukungan-dukungan yang akan mereka dapati, dan di saat
yang sama mereka telah memainkan peranan besar bagi terciptanya persatuan
umat Islam.
Hari dimana
resistensi Islam yang melibatkan para pemuda gagah berani Libanon dan
didukung dengan wejangan Imam Khomaini mulai terbentuk, Israel sedang
menduduki ibu kota Libanon, Beirut, dan mengcengkram otoritas politik negara
ini. Hari itu, ketika resistensi Islam meneriakkan slogan 'Zahfan
Zahfan Nahw Al-Quds' (Ayo Maju Menuju AlQuds), sekelompok orang yang tak
tahu apa-apa menganggap slogan itu sebagai buah pikiran yang sederhana.
Mereka menikam dengan soalan mana mungkin bisa bergerak menuju AlQuds sedang
orang-orang Libanon sendiri tak sanggup memasuki ibu kota negaranya sendiri.
Dari hari itu hingga kemenangan monumental milisi perlawanan Islam terhadap
Israel hanya ada bentangan waktu 18 tahun. Percayalah, 18 tahun bukanlah
waktu yang panjang dalam sejarah perjuangan bangsa-bangsa.
Memang,
perjuangan pasti akan disertai dengan berbagai kerugian yang menyedihkan.
Rakyat akan terbunuh, rumah-rumah akan hancur, tekanan ekonomi akan
membebani pundak rakyat, dan masih ada puluhan malapetaka lain yang tidak
akan membiarkan hati kita semua lega. Tapi kita harus melihat apakah hasil
yang akan dipersembahkan oleh perjuangan penuh pengorbanan ini. Sedemikian
berharganya kemenangan sehingga mau tidak mau harus dibayar mahal.
Israel dulu
pernah membentak-bentak di kawasan ini sambil mendiktekan segala kemauannya
kepada bangsa-bangsa Arab, tetapi sekarang ia harus bertekuk lutut karena
tak berdaya menghadapi besarnya perlawanan Islam. Ini baru merupakan bagian
kecil dari keberdayaan bangsa-bangsa muslim dan Arab. Percayalah, jika
semua kemampuan Dunia Islam atau bahkan sebagian diantaranya dikerahkan di
jalan ini, niscaya kita akan menyaksikan kehancuran Israel. Di Libanon
Selatan saja Israel keteteran menghadapi sebuah resistensi yang hanya
dilakukan beberapa ribu orang. Memang, Hizbullah Libanon punya akses yang
kuat di tengah masyarakat sehingga bisa memobilisasi ribuan atau bahkan
puluhan ribu pasukan. Namun, dalam menghadapi rezim penjajah Zionis secara
kontinyu Hizbullah hanya mengerahkan beberapa ribu dan bahkan hanya beberapa
ratus pasukan. Artinya, Israel dengan segala fasilitas militer dan tehnologi
persenjataannya yang serba modern karena bisa menjangkau gudang amunisi AS
ternyata keteteran menghadapi beberapa ribu pemuda yang dipenuhi gelora iman
dan hanya mengandalkan senjata apa adanya. Tentu, senjata ampuh yang
membuat para pemuda itu tak kenal kata kalah ialah senjata iman.
Dengan
demikian, contoh perlawanan dan perjuangan sudah ada di depan mata kita.
Yakni, kemenangan bisa dicapai dengan perlawanan dan perjuangan yang tentu
saja disertai dengan beban kerugian yang harus ditanggung. Di saat yang
sama, contoh dari kekalahan juga terpampang di depan mata, dan itu ialah
kebergantungan kepada cara-cara kompromistis dan mengemis-ngemis kepada
perdamaian yang hasilnya pun ternyata keterhinaan, keterpedayaan, dan pada
akhirnya pemaksaan kehendak Israel secara sepihak seperti yang nyata-nyata
sudah kita lihat bersama. Kemenangan monumental Hizbullah kini telah menjadi
tulang punggung intifadah rakyat Palestina. Tulang punggung yang sangat
kuat.
Rezim Zionis
sama sekali tidak punya kemampuan yang memadai untuk terus menerus
berkonfrontasi dengan bangsa Palestina dalam jangka panjang. Mereka menipu
umat Yahudi dan memboyongnya ke Palestina dengan harapan bangsa-bangsa Arab
tidak memerangi mereka, dan kalau toh mereka mengambil keputusan untuk
berperang, tekanan Barat akan mematahkan resistensi mereka dalam jangka
panjang. Atas dasar ini, orang-orang yang datang ke Palestina sebenarnya
tidak memiliki kesiapan untuk mengorbankan nyawa mereka demi ambis-ambisi
politik para pengasas Zionisme. Berdasarkan berbagai laporan, terorisme
kaum Zionisme mengalami pukulan telak sehingga bahkan memicu terjadinya arus
balik imigrasi.
Konferensi
mengenai Palestina sebelumnya yang diadakan di Teheran telah menyumbangkan
peranan fundamental dan positif. Karena konferensi ini telah menyajikan
pusat harapan untuk pihak yang menentang proses perdamaian sekaligus telah
meniupkan spirit dan harapan kepada rakyat Palestina.
Sikap dan
pendirian Republik Islam Iran yang sangat solid di tengah negara-negara
Islam juga berhasil menumbuhkan semangat kepada rakyat Palestina yang heroik
tersebut. Dan sekarang, rakyat Palestina lebih memerlukan dukungan spirit
dan posisi yang tangguh. Benar bahwa mereka sekarang memerlukan dana dan
harus ada tindakan serius untuk memenuhinya, namun dalam berbagai wawancara
mereka sendiri mengatakan bahwa yang lebih mereka perlukan ialah pengambilan
sikap yang teguh oleh bangsa-bangsa Arab dan Islam.
Konferensi
yang Anda selenggarakan ini harus bisa menciptakan kesempatan bagi
terealisasinya masalah ini. Anda harus bisa memberikan dukungan intensif
dan komprehensif yang dapat menggairahkan jiwa rakyat Palestina. Dengan
melakukan sepak terjang di jalan ini, Anda para wakil dari pelbagai negara
Islam juga bisa mengerahkan segenap kemampuan bangsa-bangsa Anda sekalian
untuk membebaskan Palestina. Pembelaan terhadap bangsa Palestina yang
teraniaya dan kebangkitan mereka yang penuh gagah berani adalah kewajiban
Islam bagi semua.
Sekarang ini,
sebuah bangsa muslim yang bermandi darah datang dari medan pertempuran untuk
meminta pertolongan umat Islam. Saya sendiri tidak bisa melupakan teriakan
‘ya lalmuslimin’ yang dipekikkan oleh seorang wanita Palestina di
depan kamera wartawan. Segenap bangsa-bangsa muslim dan Arab harus
mengukuhkan keabsahan perjuangan rakyat Palestina. Di forum-forum
internasional mereka harus menegaskan bahwa rakyat tak berdaya yang
hak-haknya dinistakan dan dijajah berhak memperjuangkan hak-haknya. Dengan
demikian, berlanjutnya intifadah dan perlawanan rakyat Palestina adalah hak
mereka yang sah dan dihormati pula oleh UU internasional, walaupun -ironisnya-
UU ini kerap diinterpretasikan sesuai kehendak kaum imperialis dan adikuasa
dunia.
Saudara
sekalian, yakinlah bahwa tubuh Israel sekarang sudah keropos dan generasinya
sekarang sama sekali tidak memiliki kesiapan untuk berkorban demi
mempertahankannya.
Alhamdulillah,
bangsa-bangsa Arab dan muslim sekarang sudah kuat di banding masa-masa
selama 50 tahun silam. Mereka sudah kuat dalam berbagai bidang. Umat Islam
sudah tidak tahan lagi duduk tertegun menyaksikan penindasan sepanjang hari
terhadap bangsa Palestina. Israel harus tahu, berlanjutnya penumpasan
bangsa Palestina akan dibalas dengan reaksi keras, serius, dan operasional
dari seluruh bangsa Arab dan muslim.
Rakyat
Palestina harus diberi semangat untuk melanjutkan perlawanan. Rakyat
Palestina tahu persis bahwa yang bisa mematahkan tindakan-tindakan represif
Israel di Libanon ialah perlawanan Islam dan pembalasan terhadap Israel
dengan hantaman-hantaman keras, dan bukan ketergantungan kepada upaya-upaya
damai dan mediasi. Konsolidasi rakyat Palestina dan fraksi-fraksi Palestina
adalah sesuatu yang amat vital. Segala sesuatu yang dapat mengubah
perjalanan ini dan tidak adanya kewaspadaan terhadap musuh jelas tidak akan
membantu aspirasi rakyat Palestina.
Alhamdulillah,
bangsa Palestina sudah lulus dengan penuh sukses dalam ujian sepanjang 50
tahun ini. Mereka berhasil menunjukkan kematangannya. Saya melihat
upaya-upaya israel gagal total untuk menyulut pertikaian antar mujahidin.
Kendati memiliki visi yang berbeda, semua fraksi dan gerakan pejuang dengan
penuh kesabaran telah melancarkan suatu revolusi yang membendung
terealisasinya ambisi-ambisi musuh. Ini semua harus dilestarikan.
Sekarang
sudah jelas sepenuhnya kesalahan anggapan sementara orang bahwa masalah
Palestina adalah masalah yang bersifat temporer dan hanya terbatas pada
bagian kecil dari Dunia Islam. Timbunan senjata nuklir dan pemusnah massal
dalam jumlah yang besar di gudang-gudang amunisi Rezim Zionis bukan
dipersiapkan untuk menghadapi rakyat Palestina yang tak berdaya, melainkan
untuk menegakkan dominasi terhadap Dunia Islam, khususnya Timteng. Hizbullah
berjuang untuk membebaskan tanah pendudukan lalu Israel membalasnya dengan
menggempur pasukan Suriah. Ini merupakan bukti jelas adanya niat terkutuk
itu dari Israel dan negara-negara Barat pendukungnya.
Garis besar
perjuangan melawan Israel haruslah begini:
A. Rezim
penjajah ini dikurung dalam batas-batas teritorial wilayah pendudukan, ruang
udara pernafasan ekonomi dan politiknya disempitkan, dan jalinan hubungannya
dengan habitat di sekitarnya diudari.
B. Resistensi
dan perjuangan bangsa Palestina di dalam negeri mereka dilanjutkan, dan
bantuan segala sesuatu yang mereka perlukan terus dialirkan kepada mereka
hingga tercapainya kemenangan.
Saudara dan
saudari sekalian, faktor yang mendorong kaum imperalis dunia, khususnya
Rezim AS, melancarkan tekanan dari segenap sisi terhadap Iran ialah dukungan
kami kepada Palestina. Mereka sendiri secara terbuka menyatakan bahwa
problema utama AS dengan Iran ialah penolakan Republik Islam Iran terhadap
prakarsa-prakarsa damai yang berbau pelecehan di Palestina. Sedangkan
masalah-masalah lain termasuk tuding-tudingan menggelikan mengenai
pelanggaran HAM dan pembuatan senjata pemusnah massal tak lebih dari sekedar
pretensi. Jadi, mereka hanya akan menghentikan cara permusuhannya terhadap
Iran jika Iran menghentikan dukungannya kepada para pejuang dan rakyat
Libanon dan Palestina.
Tentu saja
kami juga tahu persis bahwa problema utama mereka ialah Islam dan
pemerintahan Islam, dan mereka juga tahu persis garis kebijakan politik
Republik Islam Iran ini. Kami telah berkata ‘tidak’ kepada mereka, dan kami
menganggap dukungan kepada Palestina dan Libanon sebagai salah satu tugas
penting dalam Islam. Akibatnya, mereka melancarkan tekanan dari berbagai
sisi.
Kebijakan
utama dan strategi mereka ialah memporak porandakan barisan umat Islam Iran
yang revolusioner. Mereka mencap kelompok tertentu dengan reformis dan
kelompok lain dengan konservatif. Mereka mendukung satu kelompok tertentu,
dan menggempur kelompok lain dengan profokasi. Mereka membesar-besarkan
sebagian problematika yang ada dengan tujuan mengesankan ketidak efektifan
pemerintahan Islam agar rakyat frustasi terhadap pemerintahan religius.
Mereka menjajakan dikotomi agama dan politik. Namun, dalamnya keimanan
rakyat kami kepada agama telah menjadi benteng raksasa yang menghadang
jalan mereka. Mereka merancang program-program propaganda dengan tujuan
membuat para pemuda Iran frustasi. Problema ekonomi yang kurang lebih sudah
menjadi fenomena yang lumrah dan umum di semua pelosok dunia mereka kesankan
sebagai salah satu masalah yang tidak bisa dipecahkan oleh pemerintahan
Republik Islam Iran.
Dengan
propagandanya, mereka ingin menyoal Imam Khomaini dan pilar-pilar revolusi
Islam, karena mereka terpukul oleh Islam dan revolusi Islam. Mereka merasa
terancam bahaya oleh kebangkitan Islam di dunia dan sangat cemas menyaksikan
hidupnya kembali dan meruyaknya perjuangan Islam di Libanon dan Palestina.
Karena itu mereka bermaksud mencabut akar pemikiran Islam. Mereka
membidikkan peluru-peluru propaganda beracunnya ke arah Islam dan agama.
Semakin besar eskalasi perjuangan Libanon dan Palestina, semakin besar pula
kegeraman dan konspirasi Zionisme dan AS terhadap pemerintahan Republik
Islam. Tetapi mereka harus tahu, para pejabat dan pemimpin negara kami
masih terkonsolidasi, dan rakyat muslim Iran tetap serempak mendukung
aspirasi revolusi dan Islam. Dan dukungan kepada Palestina, intifadah, dan
perjuangan melawan Zionisme dan para pendukungnya tetap merupakan bagian
dari pilar-pilar utama kebijakan strategis Republik Islam Iran. Kami yakin,
dengan berlanjutnya perjuangan umat Islam Palestina dan dukungan Dunia
Islam, Palestina akan bebas, dan Baitul Maqdis serta Masjidil Aqsha akan
kembali dalam dekapan Dunia Islam. Insyaallah.
والله غالب علي امره
“Dan Allah berkuasa
terhadap urusan-Nya”
Wassalamu’alaikum Wr.Wb
|