Kesadaran Toleransi Di Negeri Mullah

Malam hari di musim rontok akhir tahun 2002, dingin udara Teheran sudah menyengat tulang. Karena itu, meski jaraknya tak jauh aku  pergi naik taksi ke rumah temanku yang sedang kedatangan tamu seorang anggota DPR RI dari Fraksi PDI-P. Malam-malam akhir bulan suci Ramadhan itu, dalam taksi terjadi sedikit percakapan menarik antara aku dan sopir yang cambangnya sudah berwarna perak. "Kamu orang Malaysia ya?" Tebak sopir tua itu. " Aku jawab "Ya" meski aku orang Indonesia. Sekedar diketahui, orang Iran salut habis-habisan kepada status Malaysia sebagai negara Muslim termaju. Karena itu tebakan sopir bahwa aku berasal dari negara Kerajaan itu  aku 'iya' kan saja. 

Sopir itu bertanya lagi: "Mazhabmu apa?" Sebuah pertanyaan yang cukup menyengat. Karena aku yakin dia orang Syiah, aku segera menjawabnya: "Sayang sekali, aku bermazhab Sunni." Sopir itu segera menyanggah: "Kenapa sayang sekali? Itu justru bagus sekali." Aku balik menyanggah: "Kamu kan Syiah, kenapa kamu bilang Sunni bagus?"  "Yaaah semuanya bagus, asal diamalkan betul-betul." Jawab sopir itu. Sayang percakapan tak berlanjut, karena aku segera tiba di depan gang rumah temanku.

Percakapan serupa dengan para sopir di Teheran sebenarnya bukan sekali terjadi. Mereka justru lebih terkesan hormat kepadaku jika aku katakan bermazhab Sunni. Seorang diantara mereka pernah bercerita kagum luar biasa kepada seorang Sunni dari suku Kurdi Iran. Dia kagum lantaran Si Sunni itu tak mau bersumpah atas nama Allah untuk sekedar masalah sepele. Alkisah, Si Kurdi Sunni terlibat pertengkaran kecil soal utang dalam jumlah kecil dengan sopir yang Syiah. Sopir bilang bahwa Si Kurdi masih punya utang, tapi Si Kurdi yakin dia sudah lunas. Si sopir meminta supaya orang Kurdi itu bersumpah atas nama Allah bahwa dia sudah melunasi utang, tapi Si Kurdi bilang: "Biarlah aku bayar lagi sisa utangku  daripada aku bersumpah atas nama Allah hanya untuk urusan sepele." Si sopir yang Syiah kagum kepada Si Kurdi sehingga akhirnya malah menolak dibayar. Karena ditolak, Si Kurdi bilang: "Kalau kamu tak mau menerimanya, bagaimana kalau uang ini kita masukkan ke kotak sedekah?" Si Sopir setuju dan bereslah perkara.  Kisah ini diceritakan oleh sopir itu kepada saya yang menyatakan diri sebagai mahasiswa Sunni dari Indonesia.

Hidup lama di Iran, membuat saya terpukau di depan semangat toleransi yang begitu mengakar di tengah masyarakat Iran yang diluar negeri malah dikenal militan dan fanatik. Jangankan kepada sesama Muslim, kepada umat lain pun mereka juga sangat toleran. Betapa tidak, orang Yahudi Iran yang gugur membela tanah airnya dari agresi Irak juga digelari syahid oleh rakyat dan pemerintah Iran. Lukisan foto-foto ukuran raksasa para pahlawan Iran dari agama Yahudi itu dipajang disebuah dinding bangunan pusat pertokoan komputer bertingkat 10 di sebuah jalan protokol Teheran, jalan Mirdamad blvd., Vale Asr st. . Tak cukup dengan itu, di bawahnya tertera kata-kata Imam Khomeini:

"Peravane aqalliyate mazhabi ihtirame vizjehi dar Islam darand (Para pemeluk agama minoritas memiliki kehormatan tersendiri dalam Islam)."

Padahal, kalau menilik besarnya permusuhan antara bangsa Iran dan orang-orang Israel, yang terbayang ialah bahwa orang-orang di Negeri Mullah yang dikenal militan itu pasti akan menyembelih orang Yahudi yang mereka jumpai. Tapi sebaliknya, orang Yahudi yang taat beragama dan bermoral  justru lebih dihormati di Iran. Apalagi, di Iran sudah ditanam kesadaran kepada fakta bahwa kaum Zionis yang menduduki  Palestina tidaklah identik dengan kaum Yahudi. Di negeri Mullah yang katanya garang ini, para pengikut agama minoritas Kristen, Yahudi, Zaratustra malah mendapat kursi perwakilan di parlemen Islam Iran, kendati jumlah mereka mungkin tak cukup untuk meraih satu kursi. 

Secara filosofis, sebagaimana yang nampak diyakini oleh umumnya orang Iran, pengikut agama apapun bisa saja kebagian syurga asalkan dia memeluk dan mengamalkannya dengan penuh kesadaran dan keyakinan kepada Tuhan. Dengan kata lain, keimanan yang mereka miliki itu harus merupakan kepuasan ideologis  yang bertumpu kepada keikhlasan untuk mendekatkan dan memasrahkan diri kepada Tuhan. Dan inilah agaknya salah satu kenisyaan dari firman Allah dalam AlQuran bahwa sesungguhnya Allah tidak memberi beban kepada setiap manusia kecuali dengan kadar yang bisa dipikulnya (Q:2:286).  

Demikian sekelumit kisah toleransi di Negeri Persia. Saya berangan-angan, betapa idealnya jika kesadaran seperti itu juga tertanam pada masyarakat Indonesia. Tapi sayang, jangankan masyarakat lapisan bawah, di kalangan elit intelektual pun tak jarang kita menemukan sosok-sosok partisan golongan. Dari kalangan Muslim misalnya, jangankan terhadap umat dari agama lain, kepada saudaranya dari sesama Muslim pun mereka tak segan-segan melontarkan kata-kata 'kafir', 'sesat', 'halal darahnya' dsb. Mengamati kenyataan ini, seakan-akan wajar jika Indonesia digoncang oleh tragedi Ambon, Sambas, Aceh, Bali, dsb. Padahal, kita tahu ini semua tak seharusnya terjadi. Wallahu A'lam.

KEMBALI

 

 
Hosted by www.Geocities.ws

1