| |
Apapun makna
dan definisi sahabat, sudah pasti alurnya akan terorientasi kepada
kepada sosok makhluk atau benda yang pernah atau sedang dekat dan
menghibur kita. Sahabat bukan hanya berwujud manusia, tapi kucing, burung,
komputer, lukisan, jin pun, misalnya, tak jarang disebut orang sebagai sahabat.
Namun,
catatanku tentang persahabatanku tentu tak akan berlanjut bila
alurnya dikemudikan kepada kepada sosok selain manusia. Karena itu,
deretan huruf ini tentu akan saya lanjutkan pada konteks makhluk yang
sebangsa denganku, manusia.
Idealisme
Persahabatan
Masih ingat
kata-kata seseorang yang aku segani bahwa persahabatan akan
terasa manis apabila seorang teman atau sahabat kita sudi memikirkan
apa yang kita keluhkan, mau menyimak curhat kita, dan apalagi sudi
untuk turut mencarikan solusi bagi problema kita agar kita tidak
merasa sendirian. Sebagai satu hal yang ideal, manifestasinya tentu
tak mudah untuk disaksikan. Bak burung Jalak Bali, wujudnya sudah
amat langka.
Tak terhitung
mungkin berapa banyak jumlah sahabat kita. Tapi, apabila dicari
adakah diantara sekian banyak teman itu bisa dengan senang hati
mendengar keluh kesah kita, karena putus cinta, keluarga, prestasi,
karir, misalnya, jawabannya sulit untuk menghasilkan kata 'ya'.

Kocek Dalam
Persabahatan
Ada orang yang
beranggapan bahwa kita tak usah berpikir tentang pengorbanan materi
dalam menggali kedalaman kehidupan persahabatan. Kaidahnya ialah
bahwa 'teman adalah teman, sedangkan uang urusan lain'. Saya kurang
setuju kalau kalimat itu dianggap kaidah, karena kita tak selamanya
demikian dalam bersahabat, kecuali kalau sampai melibatkan uang dan
harta dalam jumlah yang besar. Buktinya, dalam berteman, tak jarang
antara kita dan sahabat kita terjadi traktir mentraktir. Untuk
nonton bioskop, ke warung kopi, makan bakso, menebar asap rokok,
kita sudi melayangkan isi dompet kita.
Namun, untuk
ikut memikirkan apalagi berusaha memecahkan problematika teman kita
yang memerlukan bantuan dan dukungan mental, sulit kita untuk
melayangkan waktu dan pikiran. Kita cenderung memasa bodohkan urusan
jiwa orang lain, termasuk sahabat kita. Kita cuek. Uniknya,
kecuekan itu kadang kita tutupi dengan kemasan kata-kata yang semi
diplomatis: "Alaa, lupakan aja sih, gak usah terlalu dipikirin."
Kalimat seperti ini, kalau kita analisis dengan sedikit kecurigaan,
sudah tentu hasilnya ialah bahwa orang yang mengucapkannya bukanlah
orang yang memiliki stok kepedulian sesuai standar.
Cenderung Untuk
Hura Hura
Dalam
bersahabat, kita cenderung kepada kondisi yang bersifat
entertainment, hiburan, bersenang-senang, dan bahkan hura-hura.
Fungsi sahabat seakan-akan hanya untuk keluyuran, cangkruk,
genjrengan, goda cewek, pesta pora, dsb. Akibatnya,
bisa dibayangkan betapa berkerutnya dahi kita, betapa menggerutunya
batin kita, jika ada teman datang dengan lembaran mukanya yang
melipat kemudian mempersembahkan keluh kesah. Apalagi sampai mau
ngutang segala. Dengan jidat berkerut, hati kita akan menggerutu, "Sudah
disuruh ikut mikirin, pake ngutang lagi." "Boro-boro mikirin
urusan lu, urusan gue sendiri belum sempat guwe pikirin."
Dengan
mempertahankan kebiasaan ini, maka tidak akan pernah tercipta
tradisi kita untuk mengkomunikasikan problema psikologis kita kepada
teman. Meminjam kata Abiet G. Ade, lebih baik kita bertanya kepada
rumput yang bergoyang, kepada ombak, kepada matahari."
Pada
kesimpulannya, jika ada sahabat yang bukan hanya mau berbagi suka
cita, tetapi juga mau berbagi rasa dalam duka, sudi mencarikan jalan
pemecahannya, atau paling tidak, mau mendengar dan menampung curhat
kita, maka itulah sahabat yang patut kita catat dengan tinta emas.
Akhirnya memang betul kata-kata bahwa manisnya persahabatan akan
terasa justru di saat persahabatan itu berlangsung dalam penderitaan,
bukan di saat kita bersenang-senang.
Catatan ini adalah salinan dari catatan dalam buku harianku pada
tahun 1992, saat aku terdampar di sebuah kota di Jawa Tengah.
KEMBALI |
|