Mengukur Dalamnya Persahabatan

 

 

 
 

"Orang yang paling perkasa adalah orang yang paling kuat dalam mencari dan menjaga sahabat, sedangkan orang yang paling lemah adalah orang yang memiliki sahabat tetapi gampang melepas dan mengabaikannya". (Ali bin Abi Thalib)

 

 

 

Apapun makna dan definisi sahabat, sudah pasti alurnya akan terorientasi kepada kepada sosok makhluk atau benda yang pernah atau sedang dekat dan menghibur kita. Sahabat bukan hanya berwujud manusia, tapi kucing, burung, komputer, lukisan, jin pun, misalnya, tak jarang disebut orang sebagai sahabat.

Namun, catatanku tentang persahabatanku tentu tak akan berlanjut bila alurnya dikemudikan kepada kepada sosok selain manusia. Karena itu, deretan huruf ini tentu akan saya lanjutkan pada konteks makhluk yang sebangsa denganku, manusia.

 

Idealisme Persahabatan

Masih ingat kata-kata seseorang yang aku segani  bahwa persahabatan akan terasa manis apabila seorang teman atau sahabat kita sudi memikirkan apa yang kita keluhkan, mau menyimak curhat kita, dan apalagi sudi untuk turut mencarikan solusi bagi problema kita agar kita tidak merasa sendirian. Sebagai satu hal yang ideal, manifestasinya tentu tak mudah untuk disaksikan. Bak burung Jalak Bali, wujudnya sudah amat langka.

Tak terhitung mungkin berapa banyak jumlah sahabat kita. Tapi, apabila dicari adakah diantara sekian banyak teman itu bisa dengan senang hati mendengar keluh kesah kita, karena putus cinta, keluarga, prestasi, karir, misalnya, jawabannya sulit untuk menghasilkan kata 'ya'.

 

Kocek Dalam Persabahatan

Ada orang yang beranggapan bahwa kita tak usah berpikir tentang pengorbanan materi dalam menggali kedalaman kehidupan persahabatan. Kaidahnya ialah bahwa 'teman adalah teman, sedangkan uang urusan lain'. Saya kurang setuju kalau kalimat itu dianggap kaidah, karena kita tak selamanya demikian dalam bersahabat, kecuali kalau sampai melibatkan uang dan harta dalam jumlah yang besar. Buktinya, dalam berteman, tak jarang antara kita dan sahabat kita terjadi traktir mentraktir. Untuk nonton bioskop, ke warung kopi, makan bakso, menebar asap rokok, kita sudi melayangkan isi dompet kita.

Namun, untuk ikut memikirkan apalagi berusaha memecahkan problematika teman kita yang memerlukan bantuan dan dukungan mental, sulit kita untuk melayangkan waktu dan pikiran. Kita cenderung memasa bodohkan urusan jiwa orang lain, termasuk sahabat kita.  Kita cuek. Uniknya, kecuekan itu kadang kita tutupi dengan kemasan kata-kata yang semi diplomatis: "Alaa, lupakan aja sih, gak usah terlalu dipikirin." Kalimat seperti ini, kalau kita analisis dengan sedikit kecurigaan, sudah tentu hasilnya ialah bahwa orang yang mengucapkannya bukanlah orang yang memiliki stok kepedulian sesuai standar.

 

Cenderung Untuk Hura Hura

Dalam bersahabat, kita cenderung kepada kondisi yang bersifat entertainment, hiburan, bersenang-senang, dan bahkan hura-hura. Fungsi sahabat seakan-akan hanya untuk keluyuran, cangkruk, genjrengan, goda cewek, pesta pora, dsb.  Akibatnya, bisa dibayangkan betapa berkerutnya dahi kita, betapa menggerutunya batin kita, jika ada teman datang dengan lembaran mukanya yang melipat kemudian mempersembahkan keluh kesah. Apalagi sampai mau ngutang segala. Dengan jidat berkerut, hati kita akan menggerutu, "Sudah disuruh ikut mikirin, pake ngutang lagi."  "Boro-boro mikirin urusan lu, urusan gue sendiri belum sempat guwe pikirin."

Dengan mempertahankan kebiasaan ini, maka tidak akan pernah tercipta tradisi kita untuk mengkomunikasikan problema psikologis kita kepada teman. Meminjam kata Abiet G. Ade, lebih baik kita bertanya kepada rumput yang bergoyang, kepada ombak, kepada matahari."

Pada kesimpulannya, jika ada sahabat yang bukan hanya mau berbagi suka cita, tetapi juga mau berbagi rasa dalam duka, sudi mencarikan jalan pemecahannya, atau paling tidak, mau mendengar dan menampung curhat kita, maka itulah sahabat yang patut kita catat dengan tinta emas. Akhirnya memang betul kata-kata bahwa manisnya persahabatan akan terasa justru di saat persahabatan itu berlangsung dalam penderitaan, bukan di saat kita bersenang-senang.

 

Catatan ini adalah salinan dari catatan dalam buku harianku pada tahun 1992, saat aku terdampar di sebuah kota di Jawa Tengah.

 

KEMBALI

 

 
 
Hosted by www.Geocities.ws

1