| |
|
Dari Militansi,
Resistensi |
|
Hingga Dialog
Antarperadaban
|
Setelah menyimak kisah tentang toleransi
orang Iran, mungkin Anda sulit membayangkan bagaimana orang Iran bisa
menjadi militan (berhaluan keras). Namun, toleransi dan militansi
sebenarnya bukanlah dua kata yang maknanya kontradiktif satu dengan yang
lain, walaupun mungkin kesannya paradoksal. Sebagaimana segala sesuatu
ada limitnya, toleransipun ada limitnya, dan ketika suatu keadaan sudah
beyond of limit, saat itulah orang akan sah-sah saja untuk
menanggalkan sikap toleran. Kalau tidak, mana mungkin di dunia ini
akan ada hukum, negara, dan norma. Kalau kita bicara tentang freedom,
kita tentu tidak bicara tentang kebebasan tanpa batas, sebab kebebasan
tanpa batas tak lain adalah anarkisme, hukum rimba. Kalau kita
bicara tentang HAM (human right), tidak mungkin kita bicara bahwa
setiap orang berhak berbuat apa saja, sebab itu juga meniscayakan anarkisme.
Dalam konteks everything must be limited ini, bukan hanya freedom atau
HAM, apa yang disebut militansi itu sendiri juga harus mengenal
batas. |
|
|
Di Iran, logika ini menjadi prinsip yang
aplikasinya nampak lebih mencolok. Karena itu, muncullah wacana-wacana
semisal dialog antarperadaban (dialog among civilisation).
Mengapa? Karena setiap budaya dan peradaban pasti memiliki karakter dan
corak yang khas. Budaya Islam punya ciri khasnya sendiri, begitu pula
budaya Barat, India, Cina, dsb. Dalam konteks ini, seseorang yang
bersikap militan dalam menjalankan prinsip, nilai, atau budaya yang
dianutnya akan sah-sah saja selagi tidak membawa implikasi buruk pada
orang lain yang menganut prinsip berbeda. Dan inilah
implementasi kaidah bahwa
segala sesuatu harus ada batasnya. Jangankan manusia, Tuhan sendiri,
meski memiliki wewenang dan kekuasaan tanpa batas, masih membatasi Diri-Nya, misalnya
untuk tidak berbuat zalim kepada hamba-Nya, membatasi Diri untuk selalu
menepati janji-janji-Nya. |
|
 |
|
l |
 |
Dengan logika demikian, rakyat dan
pemerintah Iran menyadari rambu-rambu yang membatasi toleransi
maupun militansi. Karenanya, di tengah gempita isu pasca
serangan teror 11 September di Washington DC, baik AS maupun AlQaeda
(umpama pelakunya memang AlQaeda) sama-sama dicela oleh
pemerintah Iran. Dalam sebuah jumpa pers, Presiden Iran Muhammad
Khatami dalam kunjungan ke Italia menandaskan bahwa AlQaeda sama
buruknya dengan AS. Alasannya tentu kita mafhum; keduanya sama-sama
tidak mengenal rambu. |
|
|
Kalau AS, jangankan orang
Islam, orang-orang non Islam pun tahu kalau regim AS lebih menyerupai
penguasa zaman barbar. Lihat saja di Jepang, Korut, Korsel, Filipina dan
bahkan di negara-negara Eropa dan AS sendiri bagaimana orang-orang
berdemo anti penguasa Gedung Putih. Adapun AlQaeda, rambu yang
seharusnya disadari oleh organisasi pimpinan Osama Bin Laden ini ialah
bahwa gerakannya yang menyalahi sistim yang berlaku di tengah masyarakat dunia itu (lagi-lagi kalau memang AlQaeda adalah pelaku tragedi
WTC)
sebenarnya sangat kontraproduktif bagi kondisi dan reputasi umat Islam.
Buktinya, kondisi umat Islam justru lebih terpuruk akibat adanya aksi teror
tersebut. |
|
 |
 |
Dengan kata lain, selagi masih
ada sistim –walaupun buruk-, lebih baik berjuang melalui
sistim daripada umat Islam harus mati konyol. Kecuali jika sistim
itu sama sekali tidak memberi celah bagi umat Islam untuk hidup di
bumi Allah ini. Ketika itu suicide bombing mungkin akan menjadi pilihan yang
sah, dan saya percaya bahwa inilah kenyataan yang sedang dihadapi
bangsa Palestina sekarang. Tapi perlu dicatat, bangsa Palestina
berhadapan langsung dengan musuhnya. Yang diburu bangsa Palestina
adalah jiwa para Zionis yang terbukti telah merampok segala haknya,
bukan jiwa orang-orang yang belum terbukti bersalah seperti
mereka yang berada di dalam gedung
WTC di AS atau deskotek Sari Club di Bali. Karena itu, tak seperti
yang pernah diberitakan CNN, orang - orang Palestina tidak lantas
menari-nari kegirangan mendengar berita luluh
lantaknya menara kembar WTC. |
|
|
|
|
Dari pergaulan saya dengan orang Iran, inilah visi yang bisa saya
baca
dari mereka yang menyandang gelar sebagai bangsa yang militan itu.
Sederhananya, bagi orang Iran militansi tak lain adalah resistensi di depan
segala kekuatan yang melangkahi hak dan kehormatannya. Dan dari
resistensi inilah justru muncul ide dialog antarperaban yang pada
gilirannya menjadi semacam antitesis bagi teori the clash of
civilisation-nya pemikir ternama AS Samuel Huntington.
|
|
 |
|
 |
|
Sebab dialog antarperadaban akan meniscayakan pengakuan dunia kepada fakta
bahwa setiap peradaban memiliki corak dan karakteristiknya sendiri,
dan dengan demikian peradaban suatu bangsa tidak sepatutnya dipaksakan
kepada peradaban bangsa lain. Konsekwensi logisnya, dunia Barat
tidak berhak memaksakan peradaban sendirinya terhadap Dunia Islam
yang memiliki corak peradabannya sendiri. Dan inilah yang boleh kita sebut
sebagai salah satu bentuk resistensi melalui sistim yang berlaku, apalagi jika ide
dialog antarperadaban itu diusung ke tengah publik internasional
melalui rekomendasi PBB. |
|
|
|
|
|
|
KEMBALI |
|