SEMAK BELUKAR KEINDAHAN

 

Tuhan itu indah dan mencintai keindahan.” (Hadits)

 

 

 Delapan penjuru angin penuh dengan keindahan, bukankah pekerjaan yang indah mengabadikan segala yang indah.” (Bastian Tito)

Wiro Sableng. Itulah nama tokoh khayalan yang paling aku kagumi ketika usiaku masih belasan tahun, di samping Brama Kumbara, Sembara, Jaka Sembung, Superman dsb.  Dalam satu penggalan kisah yang muncrat dari ubun-ubun kepala Bastian Tito itu, ada satu kisah tentang keindahan. Musuh Wiro Sableng, seorang pengemis tua yang ternyata nona cantik, ingin mengabadikan kecantikannya dengan menelan hati mayat gadis sampai jumlahnya belasan . Dengan begitu, menurut nona itu, usia dan kecantikannya akan bertahan hingga berabad-abad. Setelah berhasil ditaklukkan oleh Wiro Sableng, si nona pendekar sakti mandraguna itu diketahui mengantongi azimat yang ternyata hanya bertuliskan puisi guru silatnya. Puisi itu seingatku berbunyi:

“Delapan penjuru angin penuh dengan keindahan, bukankah pekerjaan yang indah mengabadikan segala yang indah.”

Memang indah puisi itu, karena keindahan jelas sangat diidamkan oleh semua orang. Setiap orang bukan hanya ingin memilikinya, tetapi juga ingin mengabadikannya. Karena itu, aku dan orang lain tentunya, ketika sudah ditinggalkan oleh masa remaja yang begitu indah, merasa kehilangan satu diantara sesuatu yang terindah dalam kehidupan. Namun, terlepas dari apakah masa remaja itu memang indah, kita patut bertanya apa sebenarnya keindahan itu? Benarkah di alam nyata ini ada wujud yang memang indah?

 

Keindahan dan Kebaikan

Makna keindahan sering disetarakan orang dengan kebaikan. Hanya saja, keindahan biasanya dilekatkan kepada benda, baik hidup maupun mati, sedang kebaikan diatributkan kepada perbuatan.  Karena penyetaraan itu, kebaikanpun akan pula dikurung oleh tanda tanya persis yang seperti tanda tanya yang memasung kata keindahan. Jadi, kebaikan pun bisa dipertanyakan; apa betul di alam nyata ini ada kebaikan? Atau ia hanya sekedar sesuatu yang dipaksakan indah oleh pikiran kita, selera kita, nafsu kita, dan kecenderungan kita?

Di sini para pemikir berbeda pendapat. Dan mereka berpikir tentang ini siang malam tentu bukan untuk memastikan apakah perlombaan Miss Universe itu memang perlu atau tidak, tetapi untuk memastikan apakah yang namanya kebaikan dalam skup pengertian moralitas itu memang ada juntrungnya di alam nyata. Apakah keabsahan moralitas itu bisa dipertanggungjawabkan dalam konteks obyektifitas ilmiah.  

 

Keindahan dan Kebaikan Nisbi

Sebagian kalangan beranggapan bahwa keindahan dan kebaikan itu bersifat relatif dan nisbi. Kata mereka, di alam nyata ini sebenarnya tidak ada sesuatu yang indah. Sesuatu hanya akan indah setelah kecenderungan dan selera kita memaksanya untuk menjadi indah, dan karena demikian, maka keindahan dan kebaikan itu hanya berhabitat di alam benak dan angan-angan kita. Dan kebetulan, dalam banyak hal manusia bisa sepakat dalam memaksakan sesuatu agar menjadi indah sedemikian rupa. Manusia sepakat bahwa bunga mawar itu indah, dan bahwa tai itu buruk. Bahwa menonjok hidung orang yang tak bersalah itu buruk, dan menolong orang yang keperosok ke dalam comberan itu baik.

Itu semua kita sepakati karena ada selera kita, atau karena ada keinginan kita agar kehidupan tidak anarkis, rusuh, dan lain sebagainya yang tidak sesuai dengan selera kita.  Jadi keindahan, menurut kalangan tersebut, ternyata hanya ada pada batas angan-angan. Buktinya, kata mereka, selain lalat menganggap tai itu indah dan baik, antar umat manusia sendiri juga berbeda dalam menentukan kebaikan dan keindahan.

 

Keindahan Karena ‘Selera’ Tuhan

Di sebagian kalangan pemikir Islam, karena kerepotan menentukan keindahan dan kebaikan, karena setiap kali mau menentukan, yang berperan ternyata pikiran, selera, dan subyektifitas kita sehingga akhirnya serba bersifat subyektif, maka penentuannya dikembalikan kepada Tuhan. Jadi, apa yang dikatakan baik dan indah oleh Tuhan, maka itulah kebaikan dan keindahan. Manusia tidak usah campurtangan. Jadi keindahan bagi mereka nisbi. Kalau sendainya Tuhan mengatakan bahwa korupsi, kolusi, dan nepotisme alias KKN  itu baik, maka kita semua harus KKN. Dengan demikian, Tuhan bukan berhadapan dengan adanya susuatu yang baik dan buruk, kemudian Dia memerintahkan manusia agar berbuat baik dan menyukai keindahan. Sebaliknya, Tuhan hanya berhadapan dengan segala sesuatu yang belum ada status nyata baik buruknya, dan baru kemudian kehendak dan ‘selera’-Nyalah  yang menentukan status itu.  

 

Keindahan dan Kebaikan Hakiki

Berbeda dengan pendapat di atas, pendapat berikutnya adalah bahwa keindahan memang ada wujud nyata di luar penalaran, persepsi, dan subyektifitas kita. Lantas bagaimana kita bisa menangkap keindahan dan kebaikan itu? Mereka menjawab bahwa yang menangkapnya adalah naluri kita. Karena yang menangkapnya adalah naluri, maka keindahan tak bisa kita tuangkan dalam kalimat lagi kecuali bahwa keindahan (kebaikan) adalah keindahan itu sendiri. Tapi masalahnya, mengapa manusia kadang berbeda dalam menentukan mana yang baik dan mana yang buruk. Itulah yang sulit dijawab oleh mereka.

 

Keindahan dan Kebaikan Komparatif

Pendapat berikut ini mengajukan satu paham dan teori bahwa keindahan dan kebaikan adalah status yang memang persepsional dalam arti hanya ada dalam pikiran kita, tetapi persepsionalitas itu mengacu pada kenyataan yang bisa dipilah baik buruknya setelah ada perbandingan (komparasi) antar berbagai sesuatu yang ada. Contohnya adalah ketika dua atau beberapa sesuatu kita sebut sebagai sebab dan akibat.  Sebab dan akibat hanya merupakan pengertian yang ada dalam pikiran kita, sedang di luar kita tidak melihatnya. Diluar kita melihat, misalnya, hanya api dan panas, bukan sebab dan akibat, karena makna api bukanlah makna sebab, dan makna panas bukanlah makna akibat. Sebab dan akibat hanyalah pengertian yang muncul ketika ada perbandingan.  Artinya, api kita sebut sebagai penyebab adanya panas setelah kita bandingkan api itu dengan panas, dingin, asin, hijau, batu, lemari, gitar, dsb. Setelah pembandingan itu, baru kita tahu bahwa penyebab panas adalah api (baca:pembakaran), bukan lemari, hijau, atau batu, dan bahwa api adalah penyebab panas.  

Jadi, walaupun di luar yang ada hanyalah api dan panas dan bukan sebab dan akibat, tetapi pengertian sebab dan akibat muncul dalam pikiran kita setelah adanya realita-realita di luar pikiran kita, dan itulah subyektifitas dan persepsionalitas yang muncul karena obyek nyata di luar. Mumet kan?

Trus, teori ini apa hubungannya dengan keindahan dan kebaikan? Hubungannya ialah bahwa keindahan dan kebaikan itu memang tidak ada di luar, melainkan hanya adalah pikiran, tetapi ia timbul karena adanya berbagai kenyataan di luar yang kita komparasikan satu dengan yang lain hingga timbul sebab akibat. Dengan demikian, meskipun kebaikan dan keindahan bersifat subyektif, persepsepsional, atau bahkan relatif, tetapi semua atribut ini memiliki sumber acuan di luar, dan oleh sebab itu kebaikan dan keindahan adalah sesuatu yang nyata dan valid.

 

Kebaikan  Karena Hukum Kausalitas

Ketika pengertian kebaikan kita hubungkan dengan pengertian sebab akibat, maka itu bukan hanya karena sekedar kesamaannya dari segi bahwa kedua pengertian itu hanya ada di dalam pikiran, tetapi yang lebih signifikan ialah karena bahwa manusia harus bisa menilai mana yang baik dan mana yang buruk sesuai hukum sebab akibat ( kausalitas).

 

Peranan Agama

Nah di sini kemudian peranan agama terlihat. Dalam hal ini, Islam mengatakan berbuatlah sesuatu yang indah dan baik dalam arti yang sebenarnya. Yaitu keindahan yang muncul karena pertimbangan sebab dan akibat, jangan hanya karena asal suka saja. Pada puncaknya, setelah melalui berbagai proses pembuktian logis dan filosofis, Islam mengatakan bahwa setiap perbuatan manusia adalah gerakan yang bisa menimbulkan akibat, baik untuk dirinya sendiri (terutama yang berkaitan untuk akhirat), maupun untuk masyarakat dan lingkungan di sekitarnya.  Jadi ketika Tuhan mengancam agar kita jangan sampai berbuat jahat, maka itu sebenarnya berbahaya bukan  karena ancaman itu, melainkan karena perbuatan jahat itu sendiri sudah masuk dalam hukum sebab akibat yang sudah digariskan Allah (sunnatullah)..

Hanya saja, kebanyakan manusia hanya terpancang pada hukum sebab akibat dalam dunia materi, sehingga kalau secara materi kita tidak melihat adanya korelasi antara suatu perbuatan buruk (sebagai sebab) dan penderitaan (sebagai akibat), maka kita santai-santai aja tanpa beban apapun dalam melakukan perbuatan itu. Contohnya, seumpama kita berhasil korupsi milyaran rupiah tanpa ada satupun yang mengetahuinya atau tak seorangpun bisa membuktikan kita telah korupsi, kita tidak melihat akibat buruk perbuatan itu pada diri kita. Kita tidak menderita apapun, dan malah kebahagiaan materi yang kita terima. Uang melimpah, rumah mewah, mobil ber-AC, dan bisa koleksi wanita.  Tetapi sebenarnya ketika itu kita telah tertipu oleh kausalitas materi. Karena dibalik itu semua ada kausalitas immateri dimana ruh kita yang merupakan kemanusiaan hakiki kita telah jatuh pada kebinatangan. 

Dan selain kita sudah menjadi binatang, kita juga telah terperosok kepada lembah yang gersang dan kering kerontang. Tak ada sehelai rumput sekalipun.  Kita tercekik kehausan, kelaparan, dan  kepanasan. Dan itu akan terbukti setelah ruh kita tercerai dari materi daging dan tulang belulang kita. Kita akan merasakan itu semua setelah ruh kita bergabung dengan alam immateri. Yaitu alam yang juga memiliki hukum kausalitas dalam bentuk dan cirinya yang khas.

Karena itu, wahai Musa, berbuatlah susuatu yang indah. Jadilah seniman untuk dunia dan akhiratmu.  

Ilahi, bantulah aku untuk jadi seniman yang agak nyeleneh itu.

 

Catatan ini saya susun secara kasar dan acak tanpa referensi kecuali  mengingat-ingat kandungan sebuah buku filsafat moral karya seorang filsuf kontemporer negeri Persia. Saya catat di sini karena relefan untuk situs yang aku jadikan sanggar iseng kesenian ini.

 

KEMBALI

 
 
Hosted by www.Geocities.ws

1