| |

Alih-alih merupakan
sesuatu yang stagnan dan statis. “kematian manusia” adalah proses
yang terus berlangsung. “Kematian manusia”, karenanya, adalah
problema manusia masa lalu, masa kini, dan masa mendatang. Problema
seperti ini kita sebut problem filosofis-eksistensial yang tak kenal
batasan spasio-temporal. Namun demikian, bingkai historis tetap
diperlukan untuk memberi insight tentang sebab-musabab dan dampak
luasnya terhadap keadaan kemanusiaan.
Pemberhalaan benda
(materialisme), manusia (humanisme), kekuasaan (kolonialisme), modal
(kapitalisme), kenikmatan (hedonisme), dan sebagainya merupakan
landasan filosofis dan intelektual bagi munculnya kebudayaan modern.
Dari sisi lain, revolusi industri yang berdampak pada pola konsumsi
dan distribusi adalah landasan historis bagi perkembangan dan
pertumbuhan kebudayaan ini pada masa-masa selanjutnya.
Untuk membuktikan
hipotesis tersebut, beberapa episode sejarah Barat sejak era
Renaisans akan saya paparkan sekadarnya. Karikatur ini kemudian akan
saya pakai sebagai acuan untuk memahami korelasi modernisme dan
kematian manusia. Akan tetapi, kerena “kematian” itu bukan statis,
melainkan proses yang terus terus berlangsung, maka dimungkinkan
adanya tingkatan dan derajat kematian, sehingga membentuk sebuah
kematian spiral.
Tidak sulit untuk membuktikan bahwa
materialisme adalah ruh kebudayaan (massa) modern. Sebagai ide,
materialisme menolak dan mengingkari Kehadiran Ilahi.[1]
Dan lantaran Kehadiran Ilahi merupakan dasar ontologis bagi
spiritualitas dan moralitas, maka pengingkaran ini berimplikasi pada
peniadaan aspek spiritual dan moral manusia.[2]
Humanisme yang berpanjikan manusia “manusia adalah Tuhan bagi
dirinya sendiri” ini tidak bisa dilepaskan dari rangkaian tragedi
sepanjang paruh kedua milenium kedua sejarah manusia.
Dengan mengingkari Realitas Ilahi,
humanisme Renaisans melempangkan jalan hawa nafsu untuk
mengendalikan hidup manusia.[3]
Kapitalisme, industrialisme, rasisme, kolonialisme –yang muncul pada
momen historis beruntun- adalah akibat alamiah dari pengingkaran
tersebut.
Manakala semua potensi
dipakai untuk memburu kenikmatan yang “disodorkan”, pelaku (subjek)
kebudayaan akan kehilangan rasionya. Realitas tak dapat lagi dirajut
menjadi gubahan yang bermakna. Gelombang kebingungan, skeptisisme,
dan sinisme, dan relativisme pun akan silih berganti menerpa sukma.
Dalam keadaan demikian, identitas
diri perlahan-lahan akan meleleh. Tak ada “nama” yang bisa menandai
(signify) eksistensi mereka. Dalam ngarai anonimitas yang
menakutkan itu, mereka karam dan lenyap. Meminjam ungkapan Martyn
Heidegger, keberadaan the “I” mereka lenyap dalam dalam kebisingan
the “They”. Di saat itulahj, jiwa manusia mengalami apa yang disebut
dengan alienasi (keterasingan-diri).[4]
Alienasi membuat jiwa
mudah terbabit dalam lingkaran-setan krisis mental. Konstruksi
kepribadian pun remuk-redam tak beraturan. Kekalutan yang luar biasa
menyerbu. Fenomena alam makin lama makin tampak acak dan
kontradiktif. Di dalam jiwa orang seperti ini, alam raya tampil bak
cermin-retak yang absurd dan fatalistik.
Penderita kemudian mengalami
ketakmampuan menganggit perlabagai peristiwa secara rasional dan
utuh (holistic). Kekusutan, kegalauan, dan kesumpekan
menghunjam ke relung-relung sukma. Jiwa yang tak berdaya itupun
lantas menghabisi eksistensinya sendiri.[5]
Sebagai pusat hasrat
(driving force) yang sangat agresif dan ofensif, tidak susah bagi
hawa nafsu untuk menguasai keseluruhan jiwa yang sudah noneksis itu.
Dalam kendali hawa nafsu, berbagai daya (faculty) akan diperalat
untuk merealisasikan hasrat-hasrat yang ada. Dan karena hawa nafsu
adalah potensi hasrat yang tidak terbatas, terutama bila daya khayal
(imagination) juga menunjangnya, maka semua menjadi “bisa diatur”.
Realitas sebagaimana adanya bisa sengaja ditabrak untuk
mewujudkan realitas sebagaimana diinginkan.
Dalam kendali hawa nafsu,
akal (ratio) bertindak sebagai pembenar semua hasrat dan upaya
pelampiasannya. Imajinasi, di sisi lain, akan bertindak mencari
strategi, taktik, dan perangkat-perangkat “kreatif” lain yang ada
dalam kapasitasnya untuk mensugesti jiwa bahwa semua hasrat –baik
yang langsung berasal dari hawa nafsu maupun yang terangkai dalam
hawa nafsu, sensasi, dan imajinasi-dapat diwujudkan.
Karakter yang paling
menonjol dari kepribadian mecam ini ialah obsesinya untuk mengubah
semua “yang ada” menjadi fasilitator hasrat dan angan-angannya. Bisa
dibayangkan betapa kepribadian seperti ini akan mati-matian
menguasai segala sesuatu untuk memuaskan dahaga hawa nafsunya.
Keadaan seperti ini pastilah berujung
kepada kehancuran daya analitis dan kritis penderita. Membangunkan
dan menginsafkannya menjadi nyaris mustahil. Diri hakikinya berubah
menjadi diri palsu yang raison d’etre-nya tak lain ialah mengikuti
desakan hawa nafsu dan bujukan imajinasi.[6]
Renaisans
Menurut Jostein Gaarder, Renaisans
menyuguhkan pandangan baru ihwal manusia: humanisme. Berbeda dengan
humanisme Abad Pertengahan yang memberikan tekanan pada hakikat
manusia sebagai pendosa, humanisme Renaisans menganggap manusia
sebagai makhluk yang sangat unggul dan berharga.
[7]
Humanisme ranaisans menitikberatkan
kesadaran individual: manusia bukan hanya homosocial; melainkan juga
indivisu-individu yang unik. Gagasan ini lantas memompa pemujaan
yang tak terkendali pada keunggulan ‘tak terbatas’ individu manusia.[8]
Tak pelak lagi, ini mendorong manusia
untuk meneguhkan hasrat-hasratnya. Manusia bukan hanya demi,
dengan, dan beserta Tuhan. Manusia bukan budak Tuhan. Manusia harus
disadarkan agar ia bisa menjadi Ubermensech; manusia mesti
bertindak demi keuntungan duniawinya sendiri-sendiri.[9]
Dan karena tuhan sebagai suatu batasan ‘telah mati’, maka kini
saatnya pengumbaran dan pemanjaan diri.[10]
Moralitas? Hanyalah mitos yang direkayasa untuk membendung fantasi
dan mengurung manusia dalam suatu penjara yang sempit.[11]
Para humanis ini
bertindak seakan-akan seluruh manusia telah dibangunkan dari mimpi
buruk yang amat panjang. Itulah yang mendorong mereka membuat
istilah Dark Ages (Abad-abad Kegelapan) untuk menyebut abad-abad
antara zaman Yunani kuno dan zaman mereka sendiri. Timbul
perkembangan yang tiada tara dalam kehidupan material dan jasmani.
Ilmu pengetahuan pragmatis-pragmatis-teknis berkembang secara pesat.
Selain tentang manusia, humanisme
Renaisans juga menyodorkan pandangan baru mengenai alam dan
kehidupan di dalamnya. Kehidupan ini bukanlah persiapan untuk
kehidupan setelahnya. Karena toh, “tidak diperhitungkan”, maka alam
boleh dan harus dieksploitasi untuk memuaskan syahwat manusia.[12]
Francis Bacon (1561-1626)
menandaskan, untuk mendapatkan manfaat segenap alam, nilai pragmatis
dan teknis dari ilmu pengetahuan harus ditonjolkan. Sesuatu yang
mulanya suci dan luhur ini pun lantas berbalik menjadi pendukung
kekuasaan dan kejayaan kelompok tertentu. Bacon menyebut pandangan
ini instrumen baru, Navum Organum (1620). Dan instrumen baru inilah
yang secara formal-logis melambari tendensi yang mewabah pada waktu
itu. Seluruh perkembangan teknis (teknologis) yang terjadi kemudian
mensyaratkan kehadiran sains dalam konteks ini. Dan ini semakin
menjauhkan manusia dari tradisi.[13]
Metode yang memang sejalan dengan
zeitgeist ini, mendorong para ilmuan untuk lebih bertumpu pada
matematika dan pengukuran. Posisi sakral yang sebelumnya diduduki
oleh kebijaksanaan, kini diberikan kepada matematika.[14]
Semua data dan pengalaman harus bisa dijabarkan dalam rumusan
matematis rigorous.
“Ukurlah
apa yang dapat diukur dan buatlah agar dapat diukur sesuatu yang
tidak dapat diukur,”
kata Galileo Galilei. Galileo juga mengatakan bahwa buku alam
ditulis dengan bahasa matematika. Metode matematis-kuantitatif ini
menggiring orang kepada Revolusi Industrial, manakala pertimbangan
kuantitatif (banyak-sedikit, besar-kecil, untung-rugi) menggusur
pertimbangan kualitatif (benar-salah, baik-buruk, indah-jelek0.
Bersamaan dengan ditemukannya pelbagai terobosan teknis, posisi tak
tergugat dari metode empiris semakin mantap.
Namun demikian, karena alam pada
dasarnya tidak kuantitatif, maka sejak masa itu pula manusia
bergerak di jalan yang menyimpang dari tao alam. Dan, makin
cepat perjalanan ditempuh, makin menyimpang pula dari realitas alam
yang sesungguhnya.[15]
Pendekatan kuantitaif terhadap alam
menafikan sisi kualitatif kehidupan, sehingga ajaran benar-salah dan
baik-buruk digantikan dengan postulat-postulat
matematis-kuantitatif. Lingkungan hidup yang mencekik semua orang
yang tinggal di pusat-pusat perkotaan adalah akibat langsung dari
pemahaman ini. Akibat selanjutnya ialah semaraknya industrialisasi
dan kolonialisasi di seantero dunia. Demikian Rene Guenon dalam
The Reign of Quantity and The Signs of Times.
[16]
Akibat terlalu mengabaikan sis
kualitatif kehidupan, maka revolusi industrial sejak zaman renaisans
selalu saja terantuk persimpangan jalan: mendorong kemajuan teknis,
tapi juga menelantarkan buruh, menemukan obat-obatan, tapi juga
menebar penyakit; meningkatkan efisiensi, tapi juga merusak
lingkungan hidup, membuat peralatan praktis, tapi juga meningkatkan
polusi dan limbah.[17]
Berdasarkan pendekatan di
atas, sains modern melahirkan fisika. Tokoh-tokoh “Revolusi
Keilmuan” seperti Galileo, Copernicus, Descartes, Kepler, Newton,
dan lainnya memberikan asumsi filosofis bagi matematisasi alam (mathematization
of nature) yang dilakukan oleh Liebnitz, John Napier,
Bernoullis, Pierre de Fermat, Pascal, Joseph Lagrange, dan lain
sebagainya.
Dengan semangat tersebut, fisiko
modern mengemuka sebagai induk sains. Pada beberapa dekade terakhir,
semua ilmu kemanusiaan berlomba-lomba dengan fisika dalam menemukan
sisi kuantitatif kehidupan. Persis seperti yang disarankan fisikawan
Frank Oppenheimer: “Jika seseorang menemukan cara baru dalam
berpikir, mengapa tidak menerapkannya di segala bidang? Tentunya
menarik jika kita memberikan kesempatan kepada diri sendiri untuk
berbuat demikian, siapa tahu itupun akan membawa kita kepada
pandangan baru yang lebih dalam.”[18]
Margaret J. Wheatley, pakar bidang
manajemen dan organisasi, mengungkapkan dampak pandangan kuantitatif
ini pada bidang manajemen dan organisasi: “Selama tiga abad, kita
menyusun rencana, meramal, dan menganalisis dunia. Kita mempercayai
mentah-mentah hukum Sebab-Akibat, menempatkan rencana pada posisi
tertinggi dan menerima angka-angka sebagai kemutlakan.”[19]
Sejarah sains modern
selanjutnya menyaksikan lahirnya teori evolusi dari tangan Charles
Darwin. Evolusi ini sendiri tidak pernah digerakkan oleh Sebab Yang
Lebih Tinggi, melainkan oleh hukum konflik antara berbagai spesies
dan yang “terkuatlah yang menang dan layak hidup.” Dengan evolusi,
kesadaran akan Kehadiran Ilahi sebagai Sang Pencipta dan Pemelihara
kehidupan tercabut dari semua sudut lebensraum.
Darwinisme menyebar
dengan cepat ke bidang-bidang sains yang lain, bahkan ke
bidang-bidang non-sains sekalipun. Hampir setiap manusia modern
dirangsang habis-habisan untuk menjadi yang “terkuat” mengikuti
hukum evolusi. Karena posisinya yang vital, Darwinisme tidak lagi
diajarkan sebagai sebuah teori, melainkan sebagai sebuah fakta
keilmuan. Menentang atau mempertanyakan keabsahannya akan segera
dituding sebagai “agamawan” penentang kemajuan.
Kombinasi Darwinisme dan pendekatan
kuantitatif melahirkan reduksionisme: ruh (spirit) disusutkan
menjadi jiwa (psyche), jiwa me[20]njadi
kegiatan kimiawi; kehidupan menjadi DNA dan partikel-partikel
kuantitatif atau gumpalan energi yang terkurung dalam penjara
molekular-molekular yang memilukan.
Tahap selanjutnya adalah
saintisme: renjana yang menelanjangi segala sesuatu secara empiris.
Sebagai dasar epistemik modernisme, saintisme menggelembung menjadi
ideologi yang diterapkan untuk semua realitas. Saintisme membuat
pandangan-dunia religius tidak relefan secara ilmiah. Agama tak
lebih dari keyakinan orang-orang yang berwatak subyektif, emosional,
dan tidak ilmiah. Maka apa yang disebut dengan Sunnatullah
pun lantas tersapu bersih dari realitas alam semesta.
Menyusul selanjutnya,
fungsi-fungsi kependetaan beralih ke bahu para ilmuan. Diakui atau
tidak, orang modern menganggap ilmuan mempunyai jawaban untuk semua
persoalan. Bukan hanya menyangkut keilmuan murni, tetapi juga
persoalan-persoalan di luar wilayah saintis. Itulah sebab mengapa
anggapan para ilmuan tentang Tuhan dan keabadian, betapapun naifnya,
tetap saja diterima sebagai aksioma. Sungguh penting untuk memahami
fungsi kaum ilmuan dalam dunia modern sebagai penguasa tertinggi
yang mesti senantiasa dijunjung.
Sejak abad ke-17,
berbagai pemerintahan di belahan dunia Barat terus mendukung
hegemoni saintisme tersebut. Saat ini, hampir semua pemerintahan
dunia menempatkan sains sebagai instrumen untuk merebut dan
mempertahankan kekuasaan. Teknologi menurunkan rumus aplikatif untuk
bisa langsung memproduksi kekuatan dan keuntungan.
Dukungan terhadap pengembangan sains
dan teknologi bukan datang dari rasa cinta terhadap ilmu
pengetahuan, tetapi dari rasa cinta kepada kekuasaan dan kekeyaan.
Salah satu karakteristik sains modern yang membedakannya dari sains
Abad Pertengahan ataupun sains tradisional ialah pretensinya untuk
menyasar kekuasaan dan dominasi.[21]
Kohesi sains dan kekuasaan telah
menorehkan nestapa yang dahsyat. Berbagai temuan sanis telah
memungkinkan para penguasa untuk merancang senjata-senjata
penghancur massal. Keseimbangan alam yang mendasari kehidupan bumi
juga sudah sangat terganggu. Tetapi, ironisnya, sampai saat ini para
ilmuan modern masih saja percaya bahwa peran mereka adalah
memanfaatkan sains dalam konteks yang sama.[22]
Apa yang terjadi ini tak lain
merupakan titik-balik dari proses panjang perceraian sains, agama,
dan etika. Begitu besar dan melembaganya proyek sains dalam konteks
di atas, sehingga membalikkan keadaan bukanlah tugas yang mudah.
Mustahil rasanya kita bisa menghentikan perputaran “tong setan” ini
tanpa melakukan revolusi di tingkat-pandangan secara utuh.[23]
Ekses-ekses
Penuhanan manusia meniscayakan
kekuasaan dan kekayaan serta kehancuran manusia itu sendiri. Yang
berlaku adalah hukum: lebih besar kekuasaan dan kekuayaan, lebih
layak manusia untuk hidup (baca: teori evolusi). Humanisme, rasisme,
kapitalisme, dan kolonialisme berjalin berkelindan membentuk sejarah
yang sarat tragedi dan ironi.[24]
Jean Paul Sartre dalam kata
pengantarnya untuk buku Franz Fanon, The Wretched of the Earth,
menjelaskan: “Tidak ada yang lebih konsisten dibanding humanisme
rasis, sebab orang Eropa hanya mampu menjadi seseorang dengan jalan
menciptakan budak-budak dan monster-monster.”[25]
Humanisme Renaisans menarik impuls orang Eropa untuk menggelar
perbudakan dan pengobaran kekerasan di jagat raya.
Jules Harmand, “pejuang”
Perancis abad ke-19, dengan jelas mempertautkan asumsi keunggulan
ras (rasisme) dan kehendak menguasai dunia lain (kolonialisme).
“Maka, adalah penting
untuk menerima, sebagai suau prinsip dan titik tolak, kenyataan
bahwa ada suatu hierarki ras dan peradaban, dan bahwa kita termasuk
ras dan peradaban yang unggul.... Legitimasi-dasar penaklukan atas
rakyat pribumi merupakan kepastian dari keunggulan kita.... Martabat
kita terletak pada kualitas itu, dan melandasi hak kita untuk
memerintah golongan umat manusia lainnya. Kekuatan material itu
tidak lain dari sarana untuk mencapai tujuan tersebut.”[26]
Keunggulan moral, rasial, dan
intelektual manusia Renaisans, secara ironis melahirkan kolonialisme
dan imperlialisme. Seperti dikatakan oleh Harmand, untuk merealisasi
dan menjustifikasi keunggulan tersebut, maka kekuatan material
adalah syarat yang mutlak. Tidaklah aneh apabila kemudian
kapitalisme Adam Smith bisa secara cepat menduduki mainstream
masa itu.[27]
Kapitalisme berpusat pada kompetisi
bebas dalam sistem produksi dan distribusi kekayaan, menggantikan
“pengekangan” Abad Pertengahan. Kapitalisme dalam pengertian,
menurut Arnold Toynbee, ialah soko-guru dari revolusi industrial.
Perkembangan “ilmu ekonomi” mengikuti Arnold Toynbee, lebih banyak
berperan membenarkan upaya perluasan imperialisme.[28]
Di Inggris, tanah
kelahiran imperialisme, ilmu ekonomi berkembang melintasi tiga fase.
Pertama ialah fase Adam Smith dengan An Inquiry inte the Nature
an Cause of the Wealth of Nations (1776). Dalam karya ini, Adam
Smith menyelidiki sumber-sumber kekayaan dan berupaya mengganti
“pembatasan lapangan produksi” dengan kebebasan industrial. “Tujuan
besar dari sistem ekonomi-politik setiap negara adalah menambah
kekayaan dan kekuasaan,” ungkap Smith. Karya Adam Smith lantas
menandai malam pertama revolusi industrial.
Fase kedua ditandai oleh
terbitnya Essay of the Principle of Population (1798) oleh Thomas
Malthus. Tulisan ini merupakan respons Malthus atas revolusi yang
sedang melaju dengan tempo yang amat tinggi tersebut. Di saat Smith
memusatkan perhatiannya kepada produksi, Malthus mengarahkan
penelitiannya kepada populasi. Menurutnya, populasi cenderung lebih
cepat daripada persediaan makanan. Maka itu, perang dan penyakit
akan menyeleksi kelebihan populasi ini. Gagasan Malthus ini
mengilhami Charles Darwin melahirkan teori evolusi yang bersandar
pada asumsi konflik dan perjuangan untuk hidup.
Tahap ketiga ditengarai oleh
terbitnya karya john Stuart Mill yang berjudul sama dengan buku
David Ricardo (1817), Principle of Political Economy (1848).
Sebagai ekonom-politik yang berpengaruh, Mill mengungkapkan betapa
kapitalisme (dengan dua pilarnya: kompetisi dan kebebasan
industrial) membenarkan Inggris untuk melakukan penjajahan di India
Barat. Tulisnya: ”Koloni-koloni India Barat kita, misalnya, dianggap
sebagai negeri-negeri dengan modal (Inggris: capital)
produktif mereka sendiri... (melainkan lebih tepat) sebagai tempat
dimana Inggris merasa cocok untuk menjalankan produksi gula, kopi,
dan beberapa komoditi tropis lainnya.”[29]
Sejak diterbitkannya buku Charles
Darwin, The Origin of Species (1859),[30]
gagasan kompetisi ekonomi bernaung di bawah hukum struggle for
life. Darwinisme dan “Smithisme” adalah satu dari sekian banyak
parasitisme pemikiran yang sering kita jumpai dalam sejarah Barat.
Maka itu, tak heran bila Darwinisme kemudian ditetapkan sebagai
hukum yang absolut. Dan usaha untuk mengendalikan kompetisi dan
mengurangi dampak eksesifnya dipahami sebagai menentang “kodrat
alam”.
Apa yang saya katakan ini tampak
nyata dari berbagai pendapat mengenai kemutlakan “mekanisme pasar”.
Pasar adalah kata kunci sistemik untuk membinasakan individu. Di
pasar, individu tidak bisa memberontak. Barang-barang dipaksakan
untuk diterima, dengan harga-harga yang sudah ditetapkan.
Pemberontakan hanyalah tindakan kerdil, sepele, abnormal, dan harus
diabaikan. Gejala inilah yang mengantarkan pemassaan (massifikasi)
kebudayaan. Di dalamnya terselip asumsi akan adanya sebuah jaringan
berjangkauan luas yang menebar simbol, harga, nilai, dan
piranti-piranti kebudayaan lainnya. Karena itu, istilah kebudayaan
massa muncul secara pararel dengan fenomena pasar (market),
pabrik, dan arus informasi yang merembes ke semua pelosok.[31]
Setelah era David
Ricardo, kompetisi sepenuhnya diyakini sebagai hukum universal. Dari
“hukum universal” itu semua resep praktis diturunkan dan ekonomi
pasar dikumandangkan. Revolusi industrial pun lalu dikumandangkan.
Revolusi industrial pun lalu mendapatkan pengukuhan alamiahnya.
Keganasan pertarungan memperebutkan aset dan modal semata-mata
dianggap sebagai growing pains kemajuan dalam koridor
evolusionisme.
Kelahiran Massa dan
Kematian Manusia
Di dalam rahim materialisme,
humanisme, dan kapitalisme modern, terkandung kebudayaan massa.
Ciri-ciri kebudayaan massa adalah sebagai berikut: (1) pelaku
kebudayaan hanya menjadi (terobjektifikasi); (2) pelaku mengalami
alienasi; dan (3) pembodohan.[32]
Objetivasi
berarti bahwa manusia dalah makhluk pasif, tidak berpikir, dan
selalu mengandalkan petunjuk-petunjuk empiris (eksternal) untuk
merumuskan konsep-konsep hidupnya. Manusia akan mengambil
kesimpulan tentang dirinya dari perilaku yang tampak. Seperti
pegawai yang merasa tak bersalah menyelewengkan uang kantor setelah
mengetahui peristiwa korupsi besar-besaran yang dilakukan atasannya.
Secara kultural, objektivasi bermakna bahwa pelaku budaya hanya
menjadi objek yang tidak berperan apa-apa dalam membentuk sistem
budayanya sendiri. Kebudayaan tak ubahnya barang jadi yang dipasok
dari luar. Berikut harga masing-masingnya.
Alienasi
artinya pelaku kebudayaan merasa asing dari dan dalam lingkungannya.
Lantaran kehilangan pakem, arus besar menyeretnya ke lautan hasrat
yang tak bertepi. Alienasi mengandaikan ketidaan kehendak (iradah
atau will bukan hasrat [syahwah atau desire]), tujuan, pespektif,
dan konteks menyeluruh dari kehidupan. Danah Zohar dan Ian Marshall
secara elok memaparkan elienasi ini sebagai berikut:
Kita kehilangan konteks umum dari
kehidupan ini. Kita kehilangan gugus makna yang alamiah, dimana kita
bisa berperan secara sederhana menjadi bagian darinya.... Penalaran
kita telah menyimpang jauh dari (keadaan) alam semesta (yang
sebenarnya) dan sesama makhluk, selain juga terlalu bernafsu
melampau (batasan-batasan agama)... IQ kita telah melenyapkan
perburuhan, menggelembungkan kekayaan, mengapungkan harapan hidup,
dan membikin pernak-pernik tak terbilang banyaknya sebagaiannya
sampai mengancam hidup kita dan lingkungan sekitar kita. Namun,
tetap saja kita belum bisa semua berguna sementara (worthwhile)
buat kita.[33]
Pembodohan ini terjadi
karena waktu terbuang tanpa ada pengalaman baru yang dapat dipetik
sebagai pejaran hidup yang berguna. Dalam kata-kata Zohar dan
Marshal:
Kebudayaan modern cenderung ‘dungu
secara spiritual’ (spritually dumb)... Istilah dungu secara
spiritual saya pakai untuk menjelaskan hilangnya kepekaan akan
nilai-nilai fundamental. Yakni nilai-nilai yang melekat pada bumi
dan perubahan musimnya. Pada pergantian hari dan perputan jamnya.
Pada perkakas hidup dan ritual kesehariannya. Pada tubuh dan
perubahan organiknya. Pada aktivitas seksualnya. Pada buruh dan
buah-buah hasil tanamannya. Pada tahap-tahap kehidupan. Dan pada
nilai-nilai yang menyatu-padu dengan kematian sebagai ending
yang alami. Kita hanya bisa melihat, menggunakan dan menghayati
‘apa yang segera’ (the immediate), yang terlihat dan
pragmatis. Kita buta pada tataran simbol dan makna yang lebih dalam,
yang dapat menempatkan segenap objek kita dan diri kita ke dalam
kerangka kerja esistensial yang lebih luas. Kita memang tidak buta
warna, tetapi hampir pasti kita buta makna...[34]
Beberapa implikasi
terbersit dari paparan di atas. Pertama, terbentuknya
kebudayaan massa akibat dari terpaan luar (outer exposure).
Ada semacam meta-sistem yang bekerja menggerakkan dan mengarahkan
para pelaku kebudayaan massa. Kedua, karena tercipta akibat
terpaan dari luar, maka para pelaku kebudayaan itu mestilah
mengalami ketaksadaran umum.
Ketiga,
meta-sistem itu harus terus bekerja menyuntikkan serum baru ke dalam
sistem kebudayaan massa agar alienasi terhadap diri dan lingkungan
“tertentu” dapat dinetralkan dengan diri dan lingkungan “yang baru”.
Pemberontak terhadap alienasi justru memicu sistem kebudayaan massa
untuk mengemas anggur lama dalam botol baru. Persis seperti yang
dipertontonkan lewat parodi, remake, daur-ulang produk lama.
Seolah menanggapi kesimpulan ketiga
di atas, Sapardi Joko Damono menuturkan, pertama, kebudayaan
massa diproduksi secara besar-besaran dengan perhitungan dagang
belaka. Kedua, kebudayaan massa cenderung merusak kebudayaan
yang lebih edukatif dengan cara meminjam, mencuri, memperalat, dan
menghisap potensi yang ada padanya. Ketiga, kebudayaan massa
menanamkan pengaruh yang sangat buruk terhadap khalayak. Ingat
sex, crime, and violence (seks, kriminalitas, dan kekerasan)
sebagai tema sentral kebudayaan massa. Dan keempat,
penyebarluasannya tidak hanya telah menciutkan nilai kebudayaan itu
sendiri, tapi juga menciptakan khalayak yang pasif tetapi sensitif
terhadap berbagai teknik godaan dan bujukan melalui iklan.[35]
Secara sosiologis, massa
bermakna kerumunan orang dalam jumlah besar. Dulu massa
merujuk kepada mayortas masyarakat Eropa yang tak terpelajar. Atau
kalangan yang juga kerap disebut sebagai “kelas menengah ke bawah”,
“kelas pekerja” (working class) atau “kaum awam”.
Kesimpulannya adalah masyarakat yang “tak terpelajar”. Dan ini
menetapkan konotasi negatif pada massa.
Gustav Le Bon, pencetus
psikologi massa, menyebut massa sebagai kerumunan orang yang tidak
bisa dipilah-pilah; lebur menjadi satu. Massa adalah kelompok atau
gerombolan manusia yang tidak lagi mampu berpegang pada norma,
nilai, etika, agama atau apapun. Gejala Irresponsibility
(ketidak-mampuan memegang amanah) menguasai semangat khalayak. Kalau
ada yang memulai tindak merusak, maka semua anggota massa akan
mengikuti secara kompak dan akur. Kekaburan akan tanggungjawab
orang-seorang ini barangkali disebabkan oleh hilangnya identitas
mereka sebagai pribadi (person). Tercekik oleh sistem yang
dibuatnya sendiri, identitas pribadi itu mengering secara
eksistensial.
Simbol, makna, dan
ideologi yang diserap, karena itu, tidak dapat mereka terjemahkan
menjadi sikap. Massa hanya bekerja melahap “rangsangan-rangsangan”
dari luar. Sebelum ada yang dicerna, santapan lain sudah disikat.
Sedemikian rupa sehingga santapan-santapan membludag tanpa bisa
diubah menjadi sikap atau keyakinan yang dipertahankan.
Massa, kata Jean Baudrillard,
bagaikan black hole (lubang hitam) yang senantiasa menyosor.
Lambat laun mereka menjadi “gembrot” dan tergeletak kuyu, layaknya
orangh yang kekenyangan. Hubungan sosial, sebagai salah satu daya
sosial, menjadi sirna. Luruh tanpa daya. Tiba-tiba terjadilah
implosion yang meluluh-lantakkan pusat identitas.[36]
Edward Shils, seorang peneliti
kebudayaan, menilai massa sebagai masyarakat yang mempunyai sistem
yang khas. Massa mengungkapkan sehenin keterikatan atau afinitas
terhadap sesamanya.[37]
Seperti hawa nafsu itu sendiri, sistem kebudayaan massa memiliki
semacam daya pikat, daya jerat, dan daya cekik di satu sisi, dan
daya dorong di sisi lain. Hubungan ini mirip dengan cerita cahaya
panas dan laron. Di saat daya panas memancar, laron akan beterbangan
mengitarinya seraya menikmati kehangatannya. Namun, di dalam euforia
kehangatan itu pula laron-laron ini gosong dan terbakar menemui
ajalnya.
Beberapa kesimpulan perlu
saya pertegas. Pertama, kebudayaan ialah gugusan pengalaman
hasil proses belajar sepanjang hidup. Kedua, massa ialah
kerumunan manusia yang sudah tidak lagi memegang nilai-nilai
adiluhung. Nilai-nilai seperti mempertahankan kebenaran dan menolak
kesalahan, tidak lagi digubrisnya. Ketiga, kebudayaan massa
itu bersifat semua dan majazi, lantaran ia adalah sebuah antitesis
terhadap kebudayaan sebagai buah pengalaman belajar manusia dari
lingkungannya. Keempat, dengan ciri di atas, dapat
disimpulkan bahwa kebudayaan ini bersumber dari hawa nafsu manusia
akan pseudo-realities. Kelima, karenanya, wajar saja kalau
kemudian kebudayaan massa bertema-utamakan seks, obat terlarang (drug),
kekerasan (violence), kejahatan (crime)m reporoduksi
(Ingat: cyberspace; hyper-reality; simulacrum), plesetan (parody/recycled
culture), dan obsesi yang besar terhadap kenikmatan, keunggulan
dan kecepatan, kenyamanan, euforia-gaya, mabuk komunikasi, dan
lain-lain.
Khulasah: Deklarasi
Kematian Manusia
Sejenak setelah pikiran
modern membunuh kesadaran akan Kehadiran Ilahi dari sturktur
kehidupan, manusia dan kemanusiaan binasa bersama bersamanya. Yang
terus hidup dan berlagak seakan-akan manusia adalah sosok
kebinatangannya yang obsesif, agresif, implosif, dan
self-destructive.
Sosok ini adalah jelmaan
dari jaring-jaring hasrat akan keunggulan, kekuasaan, kekayaan,
kepuasan, dan kebikmatan yang sudah menjadi semangat umum masyarakat
modern. Jaring-jaring ini lantas meneguhkan diri dan membuhul
menjadi sebuah ikatan sosial yang semu; melahirkan sitem kebudayaan
massa.
Di dalam kebudayaan
massa, terdapat mata rantai kosekwensional yang memilin-milin
manusia manusia dalam sistem kausatif. Tak ubahnya seperti orang
yang terpaksa terus menerus menerus berbohong untuk menjaga
“kebohongan kecil” yang sekian waktu lalu pernah diperbuatnya. Untuk
menjaga sistem kebohongan, kebohongan-kebohongan lanjutan perlu
diciptakan. Demikian akhirnya sampai akhirnya pembohong itu sendiri
terlilit oleh kerangkeng konsekuensional yang pernah secara tak
benar-benar sadar diperbuatnya.
Lilitan kebohongan itu
nampak pada sistem kekuasaan dan kesombongan. Untuk berkuasa,
seseorang harus menggunakan kekuasaan. Seetelah kekuasaan diperoleh,
dipakailah kekuasaan tadi untuk melestarikan kekuasaan selanjutnya.
Begitu pula halnya dengan kesombongan: orang sombong akan
pelan-pelan memasuki jurang kesemuan kesombongannya sendiri.
Dalam lipatan
sistem-sistem itu, subjek manusia yang tak berdaya menghadapi
jeratan sistemik yang akan secara ketat mengurungnya. Situasi inilah
yang juga dihadapi oleh ulat sutera yang secara tak sadar membelit
dirinya dalam gulungan sarang yang kemudian melumatnya sendiri.
Semua ini terjadi akibat
sirnanya perspektif menyeluruh (hilistic) dunia modern
mengenai eksistensi. Dengan menyingkirkan realitas Ilahi sebagai
Pemelihara dan Pencipta alam raya, maka perspektif menyeluruh itupun
mengaus dan menyusut habis. Atomisme, determinisme, dan objektivisme
adalah anak cucu dari perselingkuhan antara materialisme dan
humanisme yang merontokkan perspektif tersebut.
Atomisme memandang dunia bak kumpulan
partikel yang masing-masingnya terkungkung dalam ruang dan waktu.
Atom-atom ini bersifat keras, pejal, dan lembam. Yang satu tidak
bisa merambah ranah yang lain. Mereka hanya bisa berhubungan melalui
aksi dan reaksi: bisa saling menekan atau saling menghindari. Saling
menghabisi atau saling memanfaatkan. Saling bunuh atau saling tipu.[38]
Determinisme mengajarkan
bahwa alam fisik bisa diatur oleh empat hukum beton: tiga hukum
gerak, dan satu hukum gravitasi. Segala sesuatu dapat diprediksikan,
dan karenanya juga dapat dikendalikan. Tidak tersisa ruang untuk
campurtangan Ilahi, mukjizat, atau kejutan-kejutan serupa. Kehidupan
laksana karang yang padat, beku, dan rigid.
Terilhami oleh anggapan
ini, Freud menjelaskan bagaimana ego manusia yang tak berdaya selalu
ditusuk-tusuk dari bawah oleh daya gelap instink dan agresi yang
berasal dari Id, dan dari atas selalu ditekan-tekan oleh
harapan-harapan utopis yang berasal dari Super-ego. Hidup kita
sepenuhnya ditentukan oleh pertarungans engit dua daya tersebut
sejak kita berusia lima tahun.
Boleh jadi tidak semua
orang mengetahui soal determinisme ini. Tetapi, gambaran tentang
kekalahan, keputusasaan, ketakberdayaan, pessimisme, dan apatisme
mudah kita temui di dalam kepribadian generasi modern. Survei yang
saya lakukan pada Mei 1998 menunjukkan bahwa kebanyakan ABG (lebih
dari 70%) merasa pessimis-apatis mengarungi hidup. “EGP (emang gue
pikirin),”kata mereka.
Objektivisme menambah
perasaan terisolasi dan tak berdaya ini. Antara pengamat (manusia)
dan apa yang diamati (alam dan fenomena kehidupan) terbentak jarak
yang tegas dan terus menerus dipertegas. Dunia dibagi menjadi objek
dan sbjek: subjek’di sini’ dan dunia ‘di sana’. Tugas subjek
pengamat yang detached itu adalah mengukur, menimbang,
menggerupis, dan melakukan eksperimen-eksperimen atasnya.
Orang modern pada umumnya merasakan
ada di dunia, tapi tidak merasakan sebagai bagian dari
dunia. ‘Dunia’ di sini mencakup orang lain, sanakl-kerabat,
institusi, masyarakat, alam, dan lingkungan hidup. Terdapat
kebingungan mendasar tentang bagaimana mengemban amanah kehidupan
ini. Bahkan, kepekaan terhadap amanah apa, bagaimana, siapa, dan
mengapa lambat laun menghilang.[39]
Di dalam fisika modern
tidak tersisa ruang untuk pikiran, jiwa, dan ruh. Kita tak lebih
dari mesin pikiran, mesin genetik, dan mesin kesadaran. Juga: mesin
kehidupan. Untuk mendapatkan kehidupan yang sehat, misalnya, kita
tinggal berlindung di bawah rezim vitamin, diet, dan fitness.
Karena memandang kehidupan secara mekanis, maka tubuh adalah mesin
genetik yang perlu terus diminyaki, sakit adalah sesuatu yang harus
“dikikis”, dan penuaan serta kematian adalah error dalam
sistem.
Menurut Zohar dan
Marshalll”
Sebagian dokter dan
pekerja kesehatan, bagaimanapun juga, sudah melihat penyakit secara
berbeda. Mereka melihatnya sebagai erangan tubuh dan manusia untuk
peduli kepada ‘sesuatu’ dalam kehidupan kita yang jika terus menerus
terabaikan akan menyebabkan kerusakan fatal atau kesengsaarn
fisikal, emosional, dan spiritual dan bahkan juga kematian.[40]
Kekhawatiran akan
kepunahan massal manusia bukan hanya datang dari mereka yang punya
kepekaan spiritual dan moral. Sekarang ini, para saintis juga gencar
mengemukakan kekhawatiran-kekhawatiran semacam itu. Tulis Stephen
Hawking:
Ada lelucon memilukan
(diantara para ilmuan) tentang mengapa makhluk luar angkasa tidak
pernah menghubungi kita. Menurut lelucon tersebut, karena peradaban
yang telah mencapai tingkat seperti kita ini akan segera mengalami
kepunahan.[41]
Perang nuklir, kerusakan
tata surya, ketimpangan pertumbuhan populasi berbagai spesies, dan
wabah aneka virus yang mematikan adalah sebagian dari momok yang
menyeringai di depan manusia. Setelah bercerita ihwal dramatisnya
pertumbuhan eksponensial dunia, Hawking menulis sebagai berikut:
Bahwa populasi dunia
sesungguhnya berlipat-lipat setiap 40 tahun. Dalam kaitannya dengan
teknologi, hal ini berarti konsumsi listrik akan terus meningkat..
pada tahun 2600, penduduk dunia hanya akan dapat berdiri bahu
membahu dan konsumsi listrik akan membuat detak ‘jantung’ bumi
melamban.[42]
Kemudian Hawking
melanjutkan dengan sebuah prediksi mengerikan sebagai berikut:
Jelas sekali bahwa
pertumbuhan eksponsionsial ini tidak akan berlangsung terus menerus
secara kekal. Lalu, apa yang bakal terjadi? Kemungkinan pertama
adalah kita akan terbasmi habis oleh suatu bencana besar seperti
Perang Nuklir.[43]
Selanjutnya, Hawking menyarankan
rekayasa genetika (genetic engineering) sebagai kemungkinan
lainnya. Tetapi, jalan keluar ini sendiri sudah bisa dibayangkan
sebagai jalan buntu. Katanya, “Jelaslah, manusia-manusia super (genetically
improved human) yang tumbuh dan berkembang ini nantinya akan
menciptakan masalah sosial dan politik yang besar bagi
manusia-manusia biasa (inmproved human).”[44]
Membaca prediksi
tersebut, bulu-bulu kemanusiaan saya bergidik ngeri. Saya kemudian
teringat kepada Surah Ar-Run ayat ke-41 ini:
Telah nampak kerusakan di
darat dan di laut yang disebabkan oleh tangan-tangan manusia, supaya
Allah menimbulkan rasa (perih dan tersiksa) sebagian dari (akibat)
perbuatan mereka, mudah-mudahan mereka (bisa) kembali (kepada
Kesadaran Ilahi).
Lalu, mengapa upaya
perbaikan selalu saja menemui gang buntu? Mengapa pelbagai prediksi,
baik yang tertera dalam sains maupun dalam sains fiksi, hanya
mendendangkan kealutan dan penderitaan masa depan? Mengapa tidak ada
petunjuk keluar dari semua ini? Seolah semua eksistensi sedang
bergerak bersama-sama melawan kehadiran mereka dan tak memberi
mereka “petunjuk kehidupan” seperti makna ayat berikut ini:
“Barang siapa yang
disesatkan oleh Allah, maka dia tidak akan mempunyai orang yang akan
memberinya petunjuk. Dan Allah akan membiarkan mereka
terombang-ambing dalam kesesatan.”
[45]
Sialnya,
tanda-tanda kemusnahan dan kematian manusia ini tidak teramati oleh
manusia dan ilmuan modern. Boleh jadi kelalaian ini karena “kematian
manusia” bukanlah garis-akhir yang tetap, tidak tunak. Ia adalah
sebuah proses yang terus bergulir, tidak mandek. Kematian dan
kemusnahan ini telah, sedang, dan akan terus berlangsung, sampai,
“...bila tiba saatnya nanti, mereka berkata:
‘Alangkah besarnya penyesalan kami terhadap kelalaian kami tentang
saat ini!’ sambil (terus saja) mereka memikul dosa-dosa mereka di
atas panggung mereka.
Ingatlah: teramat teruk apa yang mereka pikul itu.”
[46]
Dan saat-saat kehancuran itu datang
memang mendadak sontak.[47]
Wallahu A’lamu bin
Muhtadiin
Washallalahu ‘alaa
Muhammadin
Wa ‘alaa Aalihi
Tah-Thayyibin Ath-Thahiriin
*
Karikatur adalah gambar, kartun, deskripsi, atau semacamnya yang
melebih-lebihkan keganjilan dan kekuarangan sesuatu.
**
Sebagai pemuda 2 tahun dibawah usia saya (pemilik situs), Musa Kazhim
adalah adik usia saya, sebagai orang yang pernah dua tahun satu
kamar di asrama Sekolah Agama di Iran, dia adalah teman karib
saya, dan sebagai pemuda ganteng dan cerdas yang kutu buku, hobi
diskusi, kritis, dan rajin menulis, dia adalah fans dan guru
saya.
[1]
Dalam Ushul-e Falsafe wa Mazhab-e Realismm (dasar-dasar
Filsafat dan mazhab Realisme) dan Dawafi’ Nahwal Maddiyah
(factor-faktor Penyokong Materialisme), Murtadha Muthahhari
menganggap bahwa materialisme lebih sebagai tendensi ketimbang
pandangan fiosofis yang sistemik. Dalam kenyataannnya
tokoh-tokoh modern memang lebih suka menggunakan agitasi dan
memanfaatkan kedangkalan berpikir orang awam mengenai realitas.
(Contoh menarikan yang saya temukan berkaitan dengan berkaitan
dengan ini ialag kandungan Madilog-nya Tan Malaka). Karenanya,
lagi-lagi menurut Muthahhari, materialisme tidak pernah berhasil
tampil sebagai sebuah tesis yang utuh dalam sejarah manusia.
Sebaliknya, ia lebih sebagai trend an tendensi yang mengemuka
karena berbagai kondisi circumstantial yang melingkupi
Abad Pertengahan. Hal yang sama juga dikemukakan oleh Muhammad
Baqir al-Shadr dalam Our Philoshopy, Iran, Ansarian Publication,
1989. Khususnya hlm. 9-14.
[2]
Untuk perenungan yang provokatif seputar masalah ini,
lihat: Fyodor Dostoyefsky, The Brother Karamazov, terjemahan
Constance Garnett, Penguin Books, London, 1974. Edisi digital
dapat dodownload dari www.ccel.org
[3]
Sepanjang tulisan ini, hawa nafsu tidak merujuk kepada
makna birahi seksual semata, melainkan kepada semua dorongan dan
hasrat yang menyembul dari dalam diri manusia. Apakah itu yang
bersifat seksual- biologis, maupun mental-psikis. Sebagai pusat
driving force, hawa nafsu terutama disokong oleh oleh pengalaman
sensasional-sensorik dan pergumulan ragawi (corporeal-intimacy).Pada
tahap yang lebih subtil, imajinasi berperan menambah daya hawa
nafsu dengan membiaskan berbagai angan-angan (expectation) dan
ambisi. Akan sangat menarik bila kita mengaitkan pengetian hawa
nafsu di atas dengan berbagai firman Allah tentang sifat dunia
yang penuh dengan kealpaan, permainan (impresi), perhiasan
(ekspresi), dan gengsi (lahw, la’ib, zinah, dan tafakhur). Lebih
lanjut, lihat: Mahdi Al-Ashify, Hawa Nafsu, YAPI-Bangil,
1997.
[4]
Martyn Heideggerm Time and Bieng, New York, Harper
and Row, 1962.
[5]
Untuk bacaan menarik seputar ini, rujuk: Jean Paul
Sartre, Nausea, London: Penguin Books, 1965.
[6]
Untuk kajian etis-filosofis yang menarik ihwal diri-hakiki dan
diri-palsu, lihat: Murtadha Muthahhari, Falsafah Akhlak,
Pustaka Hidayah, 1995, hlm.189-206.
[7]
Jostein Gaarder, Sophie’s World, merujuk pada terjemahan
Indonesianya ‘Dunia Sophie’, Mizan, 1996.
[8]
Ajaran Friedrich Wilhelm Nietzche mengenai Ubermensch
adalah contoh ekspresif dari humanisme Renaisans. Lebih lanjut
lihat: F.W. Nietzsche, Maka Berbicaralah Zarathustra,
terjemahan Damin Toda, Nusa Indah, 2000, hlm. 30-38.
[9]
Ibid. Hlm. 146. Di akhir buku kesatu, Nietzsche menulis begini:
“Matilah semua Allah: kita inginkan kini, agar hiduplah Sang
Purna Manusia (Ubermensch)!”
[10]F.W
Nietzsche, Senjakala, Yayasan Bentang Budaya, 2000, hlm.74. Teks
aslinya berbunyi begini: “Sampai saat ini konsep ‘Tuhan’ telah
menjadi keberatan terbesar terhadap eksistensi... Kita menolak
Tuhan; dalam menolak Tuhan kita menolak pertanggungjawaban:
hanya dengan melakukan itu kita peroleh kembali dunia.
[11]
Nietzsche menyatakan bahwa fakta-fakta moral dan religius adalah
nonsens, lihat: Senjakala, hlm. 63-75-76.
[12]
S.H. Nasr, The Encounter of Man and Nature, Cambridge,
Massachusetts, 1968, hlm. 98.
[13]
Pengertian tradisi di sini tentunya tidak terbatas pada adat
istiadat, melainkan mencakup semua ajaran kearifan dalam konteks
profetik. Untuk kajian mengenai makna tradisi ini lihat: Sachiko
Murata, The Tao of Islam, Mizan 1996, hlm. 22-24. Ihwal
kosmolgi Islam lihat: S.H Nasr, Introduction to Islamic
Cosmological Doctrines: Conception of Nature and Mathods Used
for its Study by the Ikhwan al-Shafa, al-Biruni, and Ibn Sina,
Thames 7 Hudson, London 1978.
[14]
Matematika di sini berarti model berpikir kuantitatif-analitis
yang mencakup aritmetika, aljabar, geometri, trigonometri,
kalkulus, probabilitas, dan teori dan logika himpunan.
[15]
Dalam The Tao of Islam, Mizan 1996, Sachiko Murata
menjelaskan pandangan Islam tentang alam secara amat
mengesankan. Tulisnya: “Dalam pandangan Muslim, tidak ada yang
netral dan kesia-siaan di langit dan bumi. Penciptaan mengandung
suatu tujuan, dan tujuan ini berkait erat dengan peranan
manusia. Seorang Muslim tidak bisa menjadi Muslim dan sekaligus
melihat kosmos “secara obyektif” dan “secara ilmiah” , sebab itu
akan mengisayaratkan jarak dan ketidakpedulian, seakan alam raya
itu bisu, tanpa membawa pesan moral atau spiritual sama sekali.”
Hlm. 169.
[16]
Terjemahan Lord Northbourne, London, 1953.
[17]
Untuk bacaan informatif-ekstensif, rujuk: Z. Sardar, The
Revenge of Athena ; Science, Exploitation, and The Third
World, London, 1988. Juga: Z. Sardar, The Touch of Midas:
Science, Values, and Environment in Islam and the West,
Manchester, 1984.
[18]
K.C Cole, Sympathetic Vibration: Reflections of Physics and
Way of Life, New York, Bantam Books, 1985, hlm. 2
[19]
Margaret J. Wheatley, Kepemimpinan dalam Dunia Baru, Abdi
tandur, 1997, 1997, hlm.19.
[20]
Lebih jauh, lihat: Martin Lings, The Eleven Hour: The
Spiritual Crisis of Modern World in Light of Tradition and
Prophecy, Quinta Essentia, 1987.
[21]
Lebih lanjut, lihat: SH. Nasr, Op Cit 1968.
[22]
Untuk studi ekstensif berkaitan dengan pelbagai faktor perusak
lingkungan dan dampak negatifnya terhadap planet kita, lihat
Will Steger & Jon Bowermaster, Saving The Earth: A Citizen’s
Giude to Environmental Action, Knopf, 1990. Juga: Jonathan
Weiner, The Next One Hundred Years: Shaping the Fate of Our
Living Earth, Bantam, 1990.
[23]
Lebih lanjut, lihat: Islam and The Plight of Modern Man,
London, 1975.
[24]
Salah satu pemikir yang gigih mengemukakan jalinan ontologis dan
teologis dari ekeempat tendensi modern ini ialah Edward W. Said.
Entah dalam Orientalisme (Vintage Books, New York, 1979) maupun
dalam Cultur and Imperialisme (Alfred A. Knoff, New York, 1993),
Said mencoba memaparkan secara berani dan imajinatif bagaimana
keempat ekses tersebut merajuti kebudayaan (Barat) modern.
[25]
Pengantar Jean Paul Sartre untuk Franz Fanon, The Wretched of
the Earth, terjemahan Constance Farrington, New York, Grove,
1968, hlm.26.
[26]
Dikutip dari Imperialisme yang diedit oleh Philipe D.
Curtin, New York, Walker, 1971, hlm.294-295. Pemberian italic
dari saya.
[27]
Peter L. Berger, The Capitalist Revolution: Fifty Proposition
About Prosperity, Equality, and Liberty, Basic Books, 1986.
[28]
Arnold Toynbee, 1884 Lectures on The Industrial Revolution in
England, sumber dari internet.
[29]
John Stuart Mill, Principles of Political Economy, suntingan J.M
Robson, jilid III, Toronto, University of Toronto Press,
hlm.693.
[30]
Judl lengkap karya Darwin tersebut ialah On the Origin of
Species by Means of Natural Selection, or the Preservation of
Favoured Races in the Struggle of Live (Ihwal asal-usul
berbagai spesis secara seleksi alam, atau pemeliharaan ras-ras
yang dikehendaki dalam perjuangan hidup).
[31]
Jean Cristophe Agnew, World Aparts: The Market and The
Theatre in Anglo-American Thought, 1550-1750, New York,
Cambridge University Press.
[32]
Kuntowijoyo, Budaya Elit dan Budaya Massa, dalam Idi
Subandi Ibrahim (editor), “Ecstacy” Gaya Hidup, Mizan, 1997.
[33]
Danah Zohar & Ian Marshall, Spiritual Intelligency: The
Ultimate Intelleigency, Bloombury, London, 2000, hlm.22.
[35]
Peran utama iklan ialah mengubah keinginan (wants) menjadi
kebutuhan (needs). Dengan memanipulasi kesadaran, selera, dan
nilai, iklan diproyeksikan untuk meningkatkan penjualan dan
konsumsi sebuah produk sebesar-besarnya. Lihat: World
Excutive’s Digets, edisi Mei 1990 dan Matra, No. 49, Agustus
1990.
[36]
Yasraf Amir Piliang, Dunia yang Dilipat, 1998, Mizan,
hlm. 195.
[37]
Edward Shils, “Mass Society and Its Culture” dalam
Rosenberg dan White (ed.), Mass Culture Revisited New
York, Van Nostrand Reinhold Company.
[38]
John Locke dan Sigmund Freud memakai atomisme ini dalam
membangun teori-teori mereka.Locke menyamakan atom dengan
individu-individu sebuah masyarakat dalam teori demokrasi
Liberal-nya, sementara Freud menggunakannya untuk membangun
teori Relasi-relasi Objek-nya. Danah Zohar & Marshal, Op. Cit.,
hlm.26
[39]
Lihat (QS:33:72). Untuk kajian menarik mengenai amanah ini,
lihat Al-Mizan fi Tafsir Al-Quran.
[40]
Danah Zohar & Ian Marshal, Op. Cit., hlm. 29
[41]
Karlina Leksono et al., Melaju Menuju Kurun Baru: Respons
Cendikiawan Indonesia atas Kuliah "Millenium Evening" Stephen
Hawking, Mizan, 1998, Apendiks II. hlm.113.
|
|