Kematian Manusia: Sebuah Karikatur*

 

Oleh: Musa Kazhim**

 

 

Alih-alih merupakan sesuatu yang stagnan dan statis. “kematian manusia” adalah proses yang terus berlangsung. “Kematian manusia”, karenanya, adalah problema manusia masa lalu, masa kini, dan masa mendatang. Problema seperti ini kita sebut problem filosofis-eksistensial yang tak kenal batasan spasio-temporal. Namun demikian, bingkai historis tetap diperlukan untuk memberi insight tentang sebab-musabab dan dampak luasnya terhadap keadaan kemanusiaan.

Pemberhalaan benda (materialisme), manusia (humanisme), kekuasaan (kolonialisme), modal (kapitalisme), kenikmatan (hedonisme), dan sebagainya merupakan landasan filosofis dan intelektual bagi munculnya kebudayaan modern.  Dari sisi lain, revolusi industri yang berdampak pada pola konsumsi dan distribusi adalah landasan historis bagi perkembangan dan pertumbuhan kebudayaan ini pada masa-masa selanjutnya.

Untuk membuktikan hipotesis tersebut, beberapa episode sejarah Barat sejak era Renaisans akan saya paparkan sekadarnya. Karikatur ini kemudian akan saya pakai sebagai acuan untuk memahami korelasi modernisme dan kematian manusia. Akan tetapi, kerena “kematian” itu bukan statis, melainkan proses yang terus terus berlangsung, maka dimungkinkan adanya tingkatan dan derajat kematian, sehingga membentuk sebuah kematian spiral.

Tidak sulit untuk membuktikan bahwa materialisme adalah ruh kebudayaan (massa) modern. Sebagai ide, materialisme menolak dan mengingkari Kehadiran Ilahi.[1]  Dan lantaran Kehadiran Ilahi merupakan dasar ontologis bagi spiritualitas dan moralitas, maka pengingkaran ini berimplikasi pada peniadaan aspek spiritual dan moral manusia.[2] Humanisme yang berpanjikan manusia “manusia adalah Tuhan bagi dirinya sendiri” ini tidak bisa dilepaskan dari rangkaian tragedi sepanjang paruh kedua milenium kedua sejarah manusia.

Dengan mengingkari Realitas Ilahi, humanisme Renaisans melempangkan jalan hawa nafsu untuk mengendalikan hidup manusia.[3] Kapitalisme, industrialisme, rasisme, kolonialisme –yang muncul pada momen historis beruntun- adalah akibat alamiah dari pengingkaran tersebut.

Manakala semua potensi dipakai untuk memburu kenikmatan yang “disodorkan”, pelaku (subjek) kebudayaan akan kehilangan rasionya. Realitas tak dapat lagi dirajut menjadi gubahan yang bermakna. Gelombang kebingungan, skeptisisme, dan sinisme, dan relativisme pun akan silih berganti menerpa sukma.

Dalam keadaan demikian, identitas diri perlahan-lahan akan meleleh. Tak ada “nama” yang bisa menandai (signify) eksistensi mereka. Dalam ngarai anonimitas yang menakutkan itu, mereka karam dan lenyap. Meminjam ungkapan Martyn Heidegger, keberadaan the “I” mereka lenyap dalam dalam kebisingan the “They”. Di saat itulahj, jiwa manusia mengalami apa yang disebut dengan alienasi (keterasingan-diri).[4]

Alienasi membuat jiwa mudah terbabit dalam lingkaran-setan krisis mental. Konstruksi kepribadian pun remuk-redam tak beraturan. Kekalutan yang luar biasa menyerbu. Fenomena alam makin lama makin tampak acak dan kontradiktif. Di dalam jiwa orang seperti ini, alam raya tampil bak cermin-retak yang absurd dan fatalistik.

Penderita kemudian mengalami ketakmampuan menganggit perlabagai peristiwa secara rasional dan utuh (holistic). Kekusutan, kegalauan, dan kesumpekan menghunjam ke relung-relung sukma. Jiwa yang tak berdaya itupun lantas menghabisi eksistensinya sendiri.[5]

Sebagai pusat hasrat (driving force) yang sangat agresif dan ofensif, tidak susah bagi hawa nafsu untuk menguasai keseluruhan jiwa yang sudah noneksis itu. Dalam kendali hawa nafsu, berbagai daya (faculty) akan diperalat untuk merealisasikan hasrat-hasrat yang ada. Dan karena hawa nafsu adalah potensi hasrat yang tidak terbatas, terutama bila daya khayal (imagination) juga menunjangnya, maka semua menjadi “bisa diatur”. Realitas sebagaimana adanya bisa sengaja ditabrak untuk mewujudkan realitas sebagaimana diinginkan.

Dalam kendali hawa nafsu, akal (ratio) bertindak sebagai pembenar semua hasrat dan upaya pelampiasannya. Imajinasi, di sisi lain, akan bertindak mencari strategi, taktik, dan perangkat-perangkat “kreatif” lain yang ada dalam kapasitasnya untuk mensugesti jiwa bahwa semua hasrat –baik yang langsung berasal dari hawa nafsu maupun yang terangkai dalam hawa nafsu, sensasi, dan imajinasi-dapat diwujudkan.

Karakter yang paling menonjol dari kepribadian mecam ini ialah obsesinya untuk mengubah semua “yang ada” menjadi fasilitator hasrat dan angan-angannya. Bisa dibayangkan betapa kepribadian seperti ini akan mati-matian menguasai segala sesuatu untuk memuaskan dahaga hawa nafsunya.

Keadaan seperti ini pastilah berujung kepada kehancuran daya analitis dan kritis penderita.  Membangunkan dan menginsafkannya menjadi nyaris mustahil. Diri hakikinya berubah menjadi diri palsu yang raison d’etre-nya tak lain ialah mengikuti desakan hawa nafsu dan bujukan imajinasi.[6]

 

Renaisans

Menurut Jostein Gaarder, Renaisans menyuguhkan pandangan baru ihwal manusia: humanisme. Berbeda dengan humanisme Abad Pertengahan yang memberikan tekanan pada hakikat manusia sebagai pendosa, humanisme Renaisans menganggap manusia sebagai makhluk yang sangat unggul dan berharga. [7]

Humanisme ranaisans menitikberatkan kesadaran individual: manusia bukan hanya homosocial; melainkan juga indivisu-individu yang unik. Gagasan ini lantas memompa pemujaan yang tak terkendali pada keunggulan ‘tak terbatas’ individu manusia.[8]

Tak pelak lagi, ini mendorong manusia untuk meneguhkan hasrat-hasratnya. Manusia bukan hanya  demi, dengan, dan beserta Tuhan. Manusia bukan budak Tuhan. Manusia harus disadarkan agar ia bisa menjadi Ubermensech; manusia mesti bertindak demi keuntungan duniawinya sendiri-sendiri.[9] Dan karena tuhan sebagai suatu batasan ‘telah mati’, maka kini saatnya pengumbaran dan pemanjaan diri.[10] Moralitas? Hanyalah mitos yang direkayasa untuk membendung fantasi dan mengurung manusia dalam suatu penjara yang sempit.[11]

Para humanis ini bertindak seakan-akan seluruh manusia telah dibangunkan dari mimpi buruk yang amat panjang. Itulah yang mendorong mereka membuat istilah Dark Ages (Abad-abad Kegelapan) untuk menyebut abad-abad antara zaman Yunani kuno dan zaman mereka sendiri. Timbul perkembangan yang tiada tara dalam kehidupan material dan jasmani. Ilmu pengetahuan pragmatis-pragmatis-teknis berkembang secara pesat.

Selain tentang manusia, humanisme Renaisans juga menyodorkan pandangan baru mengenai alam dan kehidupan di dalamnya. Kehidupan ini bukanlah persiapan untuk kehidupan setelahnya. Karena toh, “tidak diperhitungkan”, maka alam boleh dan harus dieksploitasi untuk memuaskan syahwat manusia.[12]

Francis Bacon (1561-1626) menandaskan, untuk mendapatkan manfaat segenap alam, nilai pragmatis dan teknis dari ilmu pengetahuan harus ditonjolkan. Sesuatu yang mulanya suci dan luhur ini pun lantas berbalik menjadi pendukung kekuasaan dan kejayaan kelompok tertentu. Bacon menyebut pandangan ini instrumen baru, Navum Organum (1620). Dan instrumen baru inilah yang secara formal-logis melambari tendensi yang mewabah pada waktu itu. Seluruh perkembangan teknis (teknologis) yang terjadi kemudian mensyaratkan kehadiran sains dalam konteks ini. Dan ini semakin menjauhkan manusia dari tradisi.[13]

Metode yang memang sejalan dengan zeitgeist ini, mendorong para ilmuan untuk lebih bertumpu pada matematika dan pengukuran. Posisi sakral yang sebelumnya diduduki oleh kebijaksanaan, kini diberikan kepada matematika.[14] Semua data dan pengalaman harus bisa dijabarkan dalam rumusan matematis rigorous.

“Ukurlah apa yang dapat diukur dan buatlah agar dapat diukur sesuatu yang tidak dapat diukur,” kata Galileo Galilei. Galileo juga mengatakan bahwa buku alam ditulis dengan bahasa matematika. Metode matematis-kuantitatif ini menggiring orang kepada Revolusi Industrial, manakala pertimbangan kuantitatif (banyak-sedikit, besar-kecil, untung-rugi) menggusur pertimbangan kualitatif (benar-salah, baik-buruk, indah-jelek0. Bersamaan dengan ditemukannya pelbagai terobosan teknis, posisi tak tergugat dari metode empiris semakin mantap.

Namun demikian, karena alam pada dasarnya tidak kuantitatif, maka sejak masa itu pula manusia bergerak di jalan yang menyimpang dari tao alam. Dan, makin cepat perjalanan ditempuh, makin menyimpang pula dari realitas alam yang sesungguhnya.[15]

Pendekatan kuantitaif terhadap alam menafikan sisi kualitatif kehidupan, sehingga ajaran benar-salah dan baik-buruk digantikan dengan postulat-postulat matematis-kuantitatif. Lingkungan hidup yang mencekik semua orang yang tinggal di pusat-pusat perkotaan adalah akibat langsung dari pemahaman ini. Akibat selanjutnya ialah semaraknya industrialisasi dan kolonialisasi di seantero dunia. Demikian Rene Guenon dalam The Reign of Quantity and The Signs of Times. [16]

Akibat terlalu mengabaikan sis kualitatif kehidupan, maka revolusi industrial sejak zaman renaisans selalu saja terantuk persimpangan jalan: mendorong kemajuan teknis, tapi juga menelantarkan buruh, menemukan obat-obatan, tapi juga menebar penyakit; meningkatkan efisiensi, tapi juga merusak lingkungan hidup, membuat peralatan praktis, tapi juga meningkatkan polusi dan limbah.[17]

Berdasarkan pendekatan di atas, sains modern melahirkan fisika. Tokoh-tokoh “Revolusi Keilmuan” seperti Galileo, Copernicus, Descartes, Kepler, Newton, dan lainnya memberikan asumsi filosofis bagi matematisasi alam (mathematization of nature) yang dilakukan oleh Liebnitz, John Napier, Bernoullis, Pierre de Fermat, Pascal, Joseph Lagrange, dan lain sebagainya.

Dengan semangat tersebut, fisiko modern mengemuka sebagai induk sains. Pada beberapa dekade terakhir, semua ilmu kemanusiaan berlomba-lomba dengan fisika dalam menemukan sisi kuantitatif kehidupan. Persis seperti yang disarankan fisikawan Frank Oppenheimer: “Jika seseorang menemukan cara baru dalam berpikir, mengapa tidak menerapkannya di segala bidang? Tentunya menarik jika kita memberikan kesempatan kepada diri sendiri untuk berbuat demikian, siapa tahu itupun akan membawa kita kepada pandangan baru yang lebih dalam.”[18]

Margaret J. Wheatley, pakar bidang manajemen dan organisasi, mengungkapkan dampak pandangan kuantitatif ini pada bidang manajemen dan organisasi: “Selama tiga abad, kita menyusun rencana, meramal, dan menganalisis dunia. Kita mempercayai mentah-mentah hukum Sebab-Akibat, menempatkan rencana pada posisi tertinggi dan menerima angka-angka sebagai kemutlakan.”[19]

Sejarah sains modern selanjutnya menyaksikan lahirnya teori evolusi dari tangan Charles Darwin. Evolusi ini sendiri tidak pernah digerakkan oleh Sebab Yang Lebih Tinggi, melainkan oleh hukum konflik antara berbagai spesies dan yang “terkuatlah yang menang dan layak hidup.” Dengan evolusi, kesadaran akan Kehadiran Ilahi sebagai Sang Pencipta dan Pemelihara kehidupan tercabut dari semua sudut lebensraum.

Darwinisme menyebar dengan cepat ke bidang-bidang sains yang lain, bahkan ke bidang-bidang non-sains sekalipun. Hampir setiap manusia modern dirangsang habis-habisan untuk menjadi yang “terkuat” mengikuti hukum evolusi. Karena posisinya yang vital, Darwinisme tidak lagi diajarkan sebagai sebuah teori, melainkan sebagai sebuah fakta keilmuan. Menentang atau mempertanyakan keabsahannya akan segera dituding sebagai “agamawan” penentang kemajuan.

Kombinasi Darwinisme dan pendekatan kuantitatif melahirkan reduksionisme: ruh (spirit) disusutkan menjadi jiwa (psyche), jiwa me[20]njadi kegiatan kimiawi; kehidupan menjadi DNA dan partikel-partikel kuantitatif atau gumpalan energi yang terkurung dalam penjara molekular-molekular yang memilukan.

Tahap selanjutnya adalah saintisme: renjana yang menelanjangi segala sesuatu secara empiris. Sebagai dasar epistemik modernisme, saintisme menggelembung menjadi ideologi yang diterapkan untuk semua realitas. Saintisme membuat pandangan-dunia religius tidak relefan secara ilmiah. Agama tak lebih dari keyakinan orang-orang yang berwatak subyektif, emosional, dan tidak ilmiah. Maka apa yang disebut dengan Sunnatullah pun lantas tersapu bersih dari realitas alam semesta.

Menyusul selanjutnya, fungsi-fungsi kependetaan beralih ke bahu para ilmuan. Diakui atau tidak, orang modern menganggap ilmuan mempunyai jawaban untuk semua persoalan. Bukan hanya menyangkut keilmuan murni, tetapi juga persoalan-persoalan di luar wilayah saintis. Itulah sebab mengapa anggapan para ilmuan tentang Tuhan dan keabadian, betapapun naifnya, tetap saja diterima sebagai aksioma. Sungguh penting untuk memahami fungsi kaum ilmuan dalam dunia modern sebagai penguasa tertinggi yang mesti senantiasa dijunjung.

Sejak abad ke-17, berbagai pemerintahan di belahan dunia Barat terus mendukung hegemoni saintisme tersebut. Saat ini, hampir semua pemerintahan dunia menempatkan sains sebagai instrumen untuk merebut dan mempertahankan kekuasaan. Teknologi menurunkan rumus aplikatif untuk bisa langsung memproduksi kekuatan dan keuntungan.

Dukungan terhadap pengembangan sains dan teknologi bukan datang dari rasa cinta terhadap ilmu pengetahuan, tetapi dari rasa cinta kepada kekuasaan dan kekeyaan.  Salah satu karakteristik sains modern yang membedakannya dari sains Abad Pertengahan ataupun sains tradisional ialah pretensinya untuk menyasar kekuasaan dan dominasi.[21]

Kohesi sains dan kekuasaan telah menorehkan nestapa yang dahsyat. Berbagai temuan sanis telah memungkinkan para penguasa untuk merancang senjata-senjata penghancur massal. Keseimbangan alam yang mendasari kehidupan bumi juga sudah sangat terganggu. Tetapi, ironisnya, sampai saat ini para ilmuan modern masih saja percaya bahwa peran mereka adalah memanfaatkan sains dalam konteks yang sama.[22]

Apa yang terjadi ini tak lain merupakan titik-balik dari proses panjang perceraian sains, agama, dan etika. Begitu besar dan melembaganya proyek sains dalam konteks di atas, sehingga membalikkan keadaan bukanlah tugas yang mudah. Mustahil rasanya kita bisa menghentikan perputaran “tong setan” ini tanpa melakukan revolusi di tingkat-pandangan secara utuh.[23]

 

Ekses-ekses

Penuhanan manusia meniscayakan kekuasaan dan kekayaan serta kehancuran manusia itu sendiri. Yang berlaku adalah hukum: lebih besar kekuasaan dan kekuayaan, lebih layak manusia untuk hidup (baca: teori evolusi). Humanisme, rasisme, kapitalisme, dan kolonialisme berjalin berkelindan membentuk sejarah yang sarat tragedi dan ironi.[24][1]

Jean Paul Sartre dalam kata pengantarnya untuk buku Franz Fanon, The Wretched of the Earth, menjelaskan: “Tidak ada yang lebih konsisten dibanding humanisme rasis, sebab orang Eropa hanya mampu menjadi seseorang dengan jalan menciptakan budak-budak dan monster-monster.”[25] Humanisme Renaisans menarik impuls orang Eropa untuk menggelar perbudakan dan pengobaran kekerasan di jagat raya.

Jules Harmand, “pejuang” Perancis abad ke-19, dengan jelas mempertautkan asumsi keunggulan ras (rasisme) dan kehendak menguasai dunia lain (kolonialisme).

“Maka, adalah penting untuk menerima, sebagai suau prinsip dan titik tolak, kenyataan bahwa ada suatu hierarki ras dan peradaban, dan bahwa kita termasuk ras dan peradaban yang unggul.... Legitimasi-dasar penaklukan atas rakyat pribumi merupakan kepastian dari keunggulan kita.... Martabat kita terletak pada kualitas itu, dan melandasi hak kita untuk memerintah golongan umat manusia lainnya. Kekuatan material itu tidak lain dari sarana untuk mencapai tujuan tersebut.”[26]

Keunggulan moral, rasial, dan intelektual manusia Renaisans, secara ironis melahirkan kolonialisme dan imperlialisme. Seperti dikatakan oleh Harmand, untuk merealisasi dan menjustifikasi keunggulan tersebut, maka kekuatan material adalah syarat yang mutlak. Tidaklah aneh apabila kemudian kapitalisme Adam Smith bisa secara cepat menduduki mainstream masa itu.[27]

Kapitalisme berpusat pada kompetisi bebas dalam sistem produksi dan distribusi kekayaan, menggantikan “pengekangan” Abad Pertengahan. Kapitalisme dalam pengertian, menurut Arnold Toynbee, ialah soko-guru dari revolusi industrial. Perkembangan “ilmu ekonomi” mengikuti Arnold Toynbee, lebih banyak berperan membenarkan upaya perluasan imperialisme.[28]

Di Inggris, tanah kelahiran imperialisme, ilmu ekonomi berkembang melintasi tiga fase. Pertama ialah fase Adam Smith dengan An Inquiry inte the Nature an Cause of the Wealth of Nations (1776).  Dalam karya ini, Adam Smith menyelidiki sumber-sumber kekayaan dan berupaya mengganti “pembatasan lapangan produksi” dengan kebebasan industrial. “Tujuan besar dari sistem ekonomi-politik setiap negara adalah menambah kekayaan dan kekuasaan,” ungkap Smith. Karya Adam Smith lantas menandai malam pertama revolusi industrial.

Fase kedua ditandai oleh terbitnya Essay of the Principle of Population (1798) oleh Thomas Malthus. Tulisan ini merupakan respons Malthus atas revolusi yang sedang melaju dengan tempo yang amat tinggi tersebut. Di saat Smith memusatkan perhatiannya kepada produksi, Malthus mengarahkan penelitiannya kepada populasi. Menurutnya, populasi cenderung lebih cepat daripada persediaan makanan. Maka itu, perang dan penyakit akan menyeleksi kelebihan populasi ini. Gagasan Malthus ini mengilhami Charles Darwin melahirkan teori evolusi yang bersandar pada asumsi konflik dan perjuangan untuk hidup.

Tahap ketiga ditengarai oleh terbitnya karya john Stuart Mill yang berjudul sama dengan buku David Ricardo (1817), Principle of Political Economy (1848). Sebagai ekonom-politik yang berpengaruh, Mill mengungkapkan betapa kapitalisme (dengan dua pilarnya: kompetisi dan kebebasan industrial) membenarkan Inggris untuk melakukan penjajahan di India Barat. Tulisnya: ”Koloni-koloni India Barat kita, misalnya, dianggap sebagai negeri-negeri dengan modal (Inggris: capital) produktif mereka sendiri... (melainkan lebih tepat) sebagai tempat dimana Inggris merasa cocok untuk menjalankan produksi gula, kopi, dan beberapa komoditi tropis lainnya.”[29]

Sejak diterbitkannya buku Charles Darwin, The Origin of Species (1859),[30] gagasan kompetisi ekonomi bernaung di bawah hukum struggle for life. Darwinisme dan “Smithisme” adalah satu dari sekian banyak parasitisme pemikiran yang sering kita jumpai dalam sejarah Barat. Maka itu, tak heran bila Darwinisme kemudian ditetapkan sebagai hukum yang absolut. Dan usaha untuk mengendalikan kompetisi dan mengurangi dampak eksesifnya dipahami sebagai menentang “kodrat alam”.

Apa yang saya katakan ini tampak nyata dari berbagai pendapat mengenai kemutlakan “mekanisme pasar”. Pasar adalah kata kunci sistemik untuk membinasakan individu. Di pasar, individu tidak bisa memberontak. Barang-barang dipaksakan untuk diterima, dengan harga-harga yang sudah ditetapkan. Pemberontakan hanyalah tindakan kerdil, sepele, abnormal, dan harus diabaikan.  Gejala inilah yang mengantarkan pemassaan (massifikasi) kebudayaan. Di dalamnya terselip asumsi akan adanya sebuah jaringan berjangkauan luas yang menebar simbol, harga, nilai, dan piranti-piranti kebudayaan lainnya. Karena itu, istilah kebudayaan massa muncul secara pararel dengan fenomena pasar (market), pabrik, dan arus informasi yang merembes ke semua pelosok.[31]

Setelah era David Ricardo, kompetisi sepenuhnya diyakini sebagai hukum universal. Dari “hukum universal” itu semua resep praktis diturunkan dan ekonomi pasar dikumandangkan. Revolusi industrial pun lalu dikumandangkan. Revolusi industrial pun lalu mendapatkan pengukuhan alamiahnya. Keganasan pertarungan memperebutkan aset dan modal semata-mata dianggap sebagai growing pains kemajuan dalam koridor evolusionisme.

 

Kelahiran Massa dan Kematian Manusia

Di dalam rahim materialisme, humanisme, dan kapitalisme modern, terkandung kebudayaan massa. Ciri-ciri kebudayaan massa adalah sebagai berikut: (1) pelaku kebudayaan hanya menjadi (terobjektifikasi); (2) pelaku mengalami alienasi; dan (3) pembodohan.[32]

Objetivasi berarti bahwa manusia dalah makhluk pasif, tidak berpikir, dan selalu mengandalkan petunjuk-petunjuk empiris (eksternal) untuk merumuskan konsep-konsep hidupnya.  Manusia akan mengambil kesimpulan tentang dirinya dari perilaku yang tampak. Seperti pegawai yang merasa tak bersalah menyelewengkan uang kantor setelah mengetahui peristiwa korupsi besar-besaran yang dilakukan atasannya. Secara kultural, objektivasi bermakna bahwa pelaku budaya hanya menjadi objek yang tidak berperan apa-apa dalam membentuk sistem budayanya sendiri. Kebudayaan tak ubahnya barang jadi yang dipasok dari luar. Berikut harga masing-masingnya.

Alienasi artinya pelaku kebudayaan merasa asing dari dan dalam lingkungannya. Lantaran kehilangan pakem, arus besar menyeretnya ke lautan hasrat yang tak bertepi. Alienasi mengandaikan ketidaan kehendak (iradah atau will bukan hasrat [syahwah atau desire]), tujuan, pespektif, dan konteks menyeluruh dari kehidupan. Danah Zohar dan Ian Marshall secara elok memaparkan elienasi ini sebagai berikut:

Kita kehilangan konteks umum dari kehidupan ini. Kita kehilangan gugus makna yang alamiah, dimana kita bisa berperan secara sederhana menjadi bagian darinya.... Penalaran kita telah menyimpang jauh dari (keadaan) alam semesta (yang sebenarnya) dan sesama makhluk, selain juga terlalu bernafsu melampau (batasan-batasan agama)... IQ kita telah melenyapkan perburuhan, menggelembungkan kekayaan, mengapungkan harapan hidup, dan membikin pernak-pernik tak terbilang banyaknya sebagaiannya sampai mengancam hidup kita dan lingkungan sekitar kita. Namun, tetap saja kita belum bisa semua berguna sementara (worthwhile) buat kita.[33]

Pembodohan ini terjadi karena waktu terbuang tanpa ada pengalaman baru yang dapat dipetik sebagai pejaran hidup yang berguna. Dalam kata-kata Zohar dan Marshal:

Kebudayaan modern cenderung ‘dungu secara spiritual’ (spritually dumb)... Istilah dungu secara spiritual saya pakai untuk menjelaskan hilangnya kepekaan akan nilai-nilai fundamental. Yakni nilai-nilai yang melekat pada bumi dan perubahan musimnya. Pada pergantian hari dan perputan jamnya. Pada perkakas hidup dan ritual kesehariannya. Pada tubuh dan perubahan organiknya. Pada aktivitas seksualnya. Pada buruh dan buah-buah hasil tanamannya. Pada tahap-tahap kehidupan. Dan pada nilai-nilai yang menyatu-padu dengan kematian sebagai ending yang alami.  Kita hanya bisa melihat, menggunakan dan menghayati ‘apa yang segera’ (the immediate), yang terlihat dan pragmatis. Kita buta pada tataran simbol dan makna yang lebih dalam, yang dapat menempatkan segenap objek kita dan diri kita ke dalam kerangka kerja esistensial yang lebih luas. Kita memang tidak buta warna, tetapi hampir pasti kita buta makna...[34]

Beberapa implikasi terbersit dari paparan di atas. Pertama, terbentuknya kebudayaan massa akibat dari terpaan luar (outer exposure). Ada semacam meta-sistem yang bekerja menggerakkan dan mengarahkan para pelaku kebudayaan massa. Kedua, karena tercipta akibat terpaan dari luar, maka para pelaku kebudayaan itu mestilah mengalami ketaksadaran umum.  

Ketiga, meta-sistem itu harus terus bekerja menyuntikkan serum baru ke dalam sistem kebudayaan massa agar alienasi terhadap diri dan lingkungan “tertentu” dapat dinetralkan dengan diri dan lingkungan “yang baru”. Pemberontak terhadap alienasi justru memicu sistem kebudayaan massa untuk mengemas anggur lama dalam botol baru. Persis seperti yang dipertontonkan lewat parodi, remake, daur-ulang produk lama.

Seolah menanggapi kesimpulan ketiga di atas, Sapardi Joko Damono menuturkan, pertama, kebudayaan massa diproduksi secara besar-besaran dengan perhitungan dagang belaka. Kedua, kebudayaan massa cenderung merusak kebudayaan yang lebih edukatif dengan cara meminjam, mencuri, memperalat, dan menghisap potensi yang ada padanya. Ketiga, kebudayaan massa menanamkan pengaruh yang sangat buruk terhadap khalayak. Ingat sex, crime, and violence (seks, kriminalitas, dan kekerasan) sebagai tema sentral kebudayaan massa. Dan keempat, penyebarluasannya tidak hanya telah menciutkan nilai kebudayaan itu sendiri, tapi juga menciptakan khalayak yang pasif tetapi sensitif terhadap berbagai teknik godaan dan bujukan melalui iklan.[35]

Secara sosiologis, massa bermakna kerumunan orang dalam jumlah besar. Dulu massa merujuk kepada mayortas masyarakat Eropa yang tak terpelajar. Atau kalangan yang juga kerap disebut sebagai “kelas menengah ke bawah”, “kelas pekerja” (working class) atau “kaum awam”. Kesimpulannya adalah masyarakat yang “tak terpelajar”. Dan ini menetapkan konotasi negatif pada massa.

Gustav Le Bon, pencetus psikologi massa, menyebut massa sebagai kerumunan orang yang tidak bisa dipilah-pilah; lebur menjadi satu.  Massa adalah kelompok atau gerombolan manusia yang tidak lagi mampu berpegang pada norma, nilai, etika, agama atau apapun. Gejala Irresponsibility (ketidak-mampuan memegang amanah) menguasai semangat khalayak. Kalau ada yang memulai tindak merusak, maka semua anggota massa akan mengikuti secara kompak dan akur. Kekaburan akan tanggungjawab orang-seorang ini barangkali disebabkan oleh hilangnya identitas mereka sebagai pribadi (person). Tercekik oleh sistem yang dibuatnya sendiri, identitas pribadi itu mengering secara eksistensial.

Simbol, makna, dan ideologi yang diserap, karena itu, tidak dapat mereka terjemahkan menjadi sikap. Massa hanya bekerja melahap “rangsangan-rangsangan” dari luar. Sebelum ada yang dicerna, santapan lain sudah disikat. Sedemikian rupa sehingga santapan-santapan membludag tanpa bisa diubah menjadi sikap atau keyakinan yang dipertahankan.

Massa, kata Jean Baudrillard, bagaikan black hole (lubang hitam) yang senantiasa menyosor. Lambat laun mereka menjadi “gembrot” dan tergeletak kuyu, layaknya orangh yang kekenyangan. Hubungan sosial, sebagai salah satu daya sosial, menjadi sirna. Luruh tanpa daya. Tiba-tiba terjadilah implosion yang meluluh-lantakkan pusat identitas.[36]

Edward Shils, seorang peneliti kebudayaan, menilai massa sebagai masyarakat yang mempunyai sistem yang khas. Massa mengungkapkan sehenin keterikatan atau afinitas terhadap sesamanya.[37] Seperti hawa nafsu itu sendiri, sistem kebudayaan massa memiliki semacam daya pikat, daya jerat, dan daya cekik di satu sisi, dan daya dorong di sisi lain. Hubungan ini mirip dengan cerita cahaya panas dan laron. Di saat daya panas memancar, laron akan beterbangan mengitarinya seraya menikmati kehangatannya. Namun, di dalam euforia kehangatan itu pula laron-laron ini gosong dan terbakar menemui ajalnya.

Beberapa kesimpulan perlu saya pertegas. Pertama, kebudayaan ialah gugusan pengalaman hasil proses belajar sepanjang hidup. Kedua, massa ialah kerumunan manusia yang sudah tidak lagi memegang nilai-nilai adiluhung. Nilai-nilai seperti mempertahankan kebenaran dan menolak kesalahan, tidak lagi digubrisnya. Ketiga, kebudayaan massa itu bersifat semua dan majazi, lantaran ia adalah sebuah antitesis terhadap kebudayaan sebagai buah pengalaman belajar manusia dari lingkungannya. Keempat, dengan ciri di atas, dapat disimpulkan bahwa kebudayaan ini bersumber dari hawa nafsu manusia akan pseudo-realities. Kelima, karenanya, wajar saja kalau kemudian kebudayaan massa bertema-utamakan seks, obat terlarang (drug), kekerasan (violence), kejahatan (crime)m reporoduksi (Ingat: cyberspace; hyper-reality; simulacrum), plesetan (parody/recycled culture), dan obsesi yang besar terhadap kenikmatan, keunggulan dan kecepatan, kenyamanan, euforia-gaya, mabuk komunikasi, dan lain-lain.

 

Khulasah: Deklarasi Kematian Manusia

Sejenak setelah pikiran modern membunuh kesadaran akan Kehadiran Ilahi dari sturktur kehidupan, manusia dan kemanusiaan binasa bersama bersamanya. Yang terus hidup dan berlagak seakan-akan manusia adalah sosok kebinatangannya yang obsesif, agresif, implosif, dan self-destructive.

Sosok ini adalah jelmaan dari jaring-jaring hasrat akan keunggulan, kekuasaan, kekayaan, kepuasan, dan kebikmatan yang sudah menjadi semangat umum masyarakat modern. Jaring-jaring ini lantas meneguhkan diri dan membuhul menjadi sebuah ikatan sosial yang semu; melahirkan sitem kebudayaan massa.

Di dalam kebudayaan massa, terdapat mata rantai kosekwensional yang memilin-milin manusia manusia dalam sistem kausatif. Tak ubahnya seperti orang yang terpaksa terus menerus menerus berbohong untuk menjaga “kebohongan kecil” yang sekian waktu lalu pernah diperbuatnya. Untuk menjaga sistem kebohongan, kebohongan-kebohongan lanjutan perlu diciptakan. Demikian akhirnya sampai akhirnya pembohong itu sendiri terlilit oleh kerangkeng konsekuensional yang pernah secara tak benar-benar sadar diperbuatnya.

Lilitan kebohongan itu nampak pada sistem kekuasaan dan kesombongan. Untuk berkuasa, seseorang harus menggunakan kekuasaan. Seetelah kekuasaan diperoleh, dipakailah kekuasaan tadi untuk melestarikan kekuasaan selanjutnya. Begitu pula halnya dengan kesombongan: orang sombong akan pelan-pelan memasuki jurang kesemuan kesombongannya sendiri.

Dalam lipatan sistem-sistem itu, subjek manusia yang tak berdaya menghadapi jeratan sistemik yang akan secara ketat mengurungnya. Situasi inilah yang juga dihadapi oleh ulat sutera yang secara tak sadar membelit dirinya dalam gulungan sarang yang kemudian melumatnya sendiri.

Semua ini terjadi akibat sirnanya perspektif menyeluruh (hilistic) dunia modern mengenai eksistensi. Dengan menyingkirkan realitas Ilahi sebagai Pemelihara dan Pencipta alam raya, maka perspektif menyeluruh itupun mengaus dan menyusut habis. Atomisme, determinisme, dan objektivisme adalah anak cucu dari perselingkuhan antara materialisme dan humanisme yang merontokkan perspektif tersebut.

Atomisme memandang dunia bak kumpulan partikel yang masing-masingnya terkungkung dalam ruang dan waktu. Atom-atom ini bersifat keras, pejal, dan lembam. Yang satu tidak bisa merambah ranah yang lain. Mereka hanya bisa berhubungan melalui aksi dan reaksi: bisa saling menekan atau saling menghindari. Saling menghabisi atau saling memanfaatkan. Saling bunuh atau saling tipu.[38]

Determinisme mengajarkan bahwa alam fisik bisa diatur oleh empat hukum beton: tiga hukum gerak, dan satu hukum gravitasi. Segala sesuatu dapat diprediksikan, dan karenanya juga dapat dikendalikan. Tidak tersisa ruang untuk campurtangan Ilahi, mukjizat, atau kejutan-kejutan serupa. Kehidupan laksana karang yang padat, beku, dan rigid.

Terilhami oleh anggapan ini, Freud menjelaskan bagaimana ego manusia yang tak berdaya selalu ditusuk-tusuk dari bawah oleh daya gelap instink dan agresi yang berasal dari Id, dan dari atas selalu ditekan-tekan oleh harapan-harapan utopis yang berasal dari Super-ego.  Hidup kita sepenuhnya ditentukan oleh pertarungans engit dua daya tersebut sejak kita berusia lima tahun.

Boleh jadi tidak semua orang mengetahui soal determinisme ini. Tetapi, gambaran tentang kekalahan, keputusasaan, ketakberdayaan, pessimisme, dan apatisme mudah kita temui di dalam kepribadian generasi modern. Survei yang saya lakukan pada Mei 1998 menunjukkan bahwa kebanyakan ABG (lebih dari 70%) merasa pessimis-apatis mengarungi hidup. “EGP (emang gue pikirin),”kata mereka.

Objektivisme menambah perasaan terisolasi dan tak berdaya ini. Antara pengamat (manusia) dan apa yang diamati (alam dan fenomena kehidupan) terbentak jarak yang tegas dan terus menerus dipertegas. Dunia dibagi menjadi objek dan sbjek: subjek’di sini’ dan dunia ‘di sana’. Tugas subjek  pengamat yang detached itu adalah mengukur, menimbang, menggerupis, dan melakukan eksperimen-eksperimen atasnya.

Orang modern pada umumnya merasakan ada di dunia, tapi tidak merasakan sebagai bagian dari dunia. ‘Dunia’ di sini mencakup orang lain, sanakl-kerabat, institusi, masyarakat, alam, dan lingkungan hidup. Terdapat kebingungan mendasar tentang bagaimana mengemban amanah kehidupan ini. Bahkan, kepekaan terhadap amanah apa, bagaimana, siapa, dan mengapa lambat laun menghilang.[39]

Di dalam fisika modern tidak tersisa ruang untuk pikiran, jiwa, dan ruh. Kita tak lebih dari mesin pikiran, mesin genetik, dan mesin kesadaran. Juga: mesin kehidupan. Untuk mendapatkan kehidupan yang sehat, misalnya, kita tinggal berlindung di bawah rezim vitamin, diet, dan fitness. Karena memandang kehidupan secara mekanis, maka tubuh adalah mesin genetik yang perlu terus diminyaki, sakit adalah sesuatu yang harus “dikikis”, dan penuaan serta kematian adalah error dalam sistem.

 

Menurut Zohar dan Marshalll”

Sebagian dokter dan pekerja kesehatan, bagaimanapun juga, sudah melihat penyakit secara berbeda. Mereka melihatnya sebagai erangan tubuh dan manusia untuk peduli kepada ‘sesuatu’ dalam kehidupan kita yang jika terus menerus terabaikan akan menyebabkan kerusakan fatal atau kesengsaarn fisikal, emosional, dan spiritual dan bahkan juga kematian.[40]

Kekhawatiran akan kepunahan massal manusia bukan hanya datang dari mereka yang punya kepekaan spiritual dan moral. Sekarang ini, para saintis juga gencar mengemukakan kekhawatiran-kekhawatiran semacam itu. Tulis Stephen Hawking:

Ada lelucon memilukan (diantara para ilmuan) tentang mengapa makhluk luar angkasa tidak pernah menghubungi kita. Menurut lelucon tersebut, karena peradaban yang telah mencapai tingkat seperti kita ini akan segera mengalami kepunahan.[41]

Perang nuklir, kerusakan tata surya, ketimpangan pertumbuhan populasi berbagai spesies, dan wabah aneka virus yang mematikan adalah sebagian dari momok yang menyeringai di depan manusia. Setelah bercerita ihwal dramatisnya pertumbuhan eksponensial dunia, Hawking menulis sebagai berikut:

Bahwa populasi dunia sesungguhnya berlipat-lipat setiap 40 tahun. Dalam kaitannya dengan teknologi, hal ini berarti konsumsi listrik akan terus meningkat.. pada tahun 2600, penduduk dunia hanya akan dapat berdiri bahu membahu dan konsumsi listrik akan membuat detak ‘jantung’ bumi melamban.[42]

Kemudian Hawking melanjutkan dengan sebuah prediksi mengerikan sebagai berikut:

Jelas sekali bahwa pertumbuhan eksponsionsial ini tidak akan berlangsung terus menerus secara kekal. Lalu, apa yang bakal terjadi? Kemungkinan pertama adalah kita akan terbasmi habis oleh suatu bencana besar seperti Perang Nuklir.[43]

Selanjutnya, Hawking menyarankan rekayasa genetika (genetic engineering) sebagai kemungkinan lainnya. Tetapi, jalan keluar ini sendiri sudah bisa dibayangkan sebagai jalan buntu. Katanya, “Jelaslah, manusia-manusia super (genetically improved human) yang tumbuh dan berkembang ini nantinya akan menciptakan masalah sosial dan politik yang besar bagi manusia-manusia biasa (inmproved human).”[44]

Membaca prediksi tersebut, bulu-bulu kemanusiaan saya bergidik ngeri. Saya kemudian teringat kepada Surah Ar-Run ayat ke-41 ini:

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut yang disebabkan oleh tangan-tangan manusia, supaya Allah menimbulkan rasa (perih dan tersiksa) sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, mudah-mudahan mereka (bisa) kembali (kepada Kesadaran Ilahi).

Lalu, mengapa upaya perbaikan selalu saja menemui gang buntu? Mengapa pelbagai prediksi, baik yang tertera dalam sains maupun dalam sains fiksi, hanya mendendangkan kealutan dan penderitaan masa depan? Mengapa tidak ada petunjuk keluar dari semua ini? Seolah semua eksistensi sedang bergerak bersama-sama melawan kehadiran mereka dan tak memberi mereka “petunjuk kehidupan” seperti makna ayat berikut ini:

“Barang siapa yang disesatkan oleh Allah, maka dia tidak akan mempunyai orang yang akan memberinya petunjuk. Dan Allah akan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan.” [45]

Sialnya, tanda-tanda kemusnahan dan kematian manusia ini tidak teramati oleh manusia dan ilmuan modern. Boleh jadi kelalaian ini karena “kematian manusia” bukanlah garis-akhir yang tetap, tidak tunak. Ia adalah sebuah proses yang terus bergulir, tidak mandek. Kematian dan kemusnahan ini telah, sedang, dan akan terus berlangsung, sampai, “...bila tiba saatnya nanti, mereka berkata: ‘Alangkah besarnya penyesalan kami terhadap kelalaian kami tentang saat ini!’ sambil (terus saja) mereka memikul dosa-dosa mereka di atas panggung mereka. Ingatlah: teramat teruk apa yang mereka pikul itu.” [46] Dan saat-saat kehancuran itu datang memang mendadak sontak.[47]

Wallahu A’lamu bin Muhtadiin

Washallalahu ‘alaa Muhammadin

Wa ‘alaa Aalihi Tah-Thayyibin Ath-Thahiriin


 


 

* Karikatur adalah gambar, kartun, deskripsi, atau semacamnya yang melebih-lebihkan keganjilan dan kekuarangan sesuatu.

** Sebagai pemuda 2 tahun dibawah usia saya (pemilik situs), Musa Kazhim adalah adik usia saya, sebagai orang yang pernah dua tahun satu kamar di asrama Sekolah Agama di Iran, dia adalah teman karib saya, dan sebagai pemuda ganteng dan cerdas yang kutu buku, hobi diskusi, kritis, dan rajin menulis, dia adalah fans dan guru saya. 

[1] Dalam Ushul-e Falsafe wa Mazhab-e Realismm (dasar-dasar Filsafat dan mazhab Realisme) dan Dawafi’ Nahwal Maddiyah (factor-faktor Penyokong Materialisme), Murtadha Muthahhari menganggap bahwa materialisme lebih sebagai tendensi ketimbang pandangan fiosofis yang sistemik. Dalam kenyataannnya tokoh-tokoh modern memang lebih suka menggunakan agitasi dan memanfaatkan kedangkalan berpikir orang awam mengenai realitas. (Contoh menarikan yang saya temukan berkaitan dengan berkaitan dengan ini ialag kandungan Madilog-nya Tan Malaka). Karenanya, lagi-lagi menurut Muthahhari, materialisme tidak pernah berhasil tampil sebagai sebuah tesis yang utuh dalam sejarah manusia. Sebaliknya, ia lebih sebagai trend an tendensi yang mengemuka karena berbagai kondisi circumstantial yang melingkupi Abad Pertengahan. Hal yang sama juga dikemukakan oleh Muhammad Baqir al-Shadr dalam Our Philoshopy, Iran, Ansarian Publication, 1989. Khususnya hlm. 9-14.

[2] Untuk perenungan yang provokatif seputar masalah ini, lihat: Fyodor Dostoyefsky, The Brother Karamazov, terjemahan Constance Garnett, Penguin Books, London, 1974. Edisi digital dapat dodownload dari www.ccel.org

[3] Sepanjang tulisan ini, hawa nafsu tidak merujuk kepada makna birahi seksual semata, melainkan kepada semua dorongan dan hasrat yang menyembul dari dalam diri manusia. Apakah itu yang bersifat seksual- biologis, maupun mental-psikis. Sebagai pusat driving force, hawa nafsu terutama disokong oleh oleh pengalaman sensasional-sensorik dan pergumulan ragawi (corporeal-intimacy).Pada tahap yang lebih subtil, imajinasi berperan menambah daya hawa nafsu dengan membiaskan berbagai angan-angan (expectation) dan ambisi. Akan sangat menarik bila kita mengaitkan pengetian hawa nafsu di atas dengan berbagai firman Allah tentang sifat dunia yang penuh dengan kealpaan, permainan (impresi), perhiasan (ekspresi), dan gengsi (lahw, la’ib, zinah, dan tafakhur). Lebih lanjut, lihat: Mahdi Al-Ashify, Hawa Nafsu, YAPI-Bangil, 1997.

[4] Martyn Heideggerm Time and Bieng, New York, Harper and Row, 1962.

[5] Untuk bacaan menarik seputar ini, rujuk: Jean Paul Sartre, Nausea, London: Penguin Books, 1965.

[6] Untuk kajian etis-filosofis yang menarik ihwal diri-hakiki dan diri-palsu, lihat: Murtadha Muthahhari, Falsafah Akhlak, Pustaka Hidayah, 1995, hlm.189-206. 

[7] Jostein Gaarder, Sophie’s World, merujuk pada terjemahan Indonesianya ‘Dunia Sophie’, Mizan, 1996.

[8] Ajaran Friedrich Wilhelm Nietzche mengenai Ubermensch adalah contoh ekspresif dari humanisme Renaisans. Lebih lanjut lihat: F.W. Nietzsche, Maka Berbicaralah Zarathustra, terjemahan Damin Toda, Nusa Indah, 2000, hlm. 30-38.

[9] Ibid. Hlm. 146. Di akhir buku kesatu, Nietzsche menulis begini: “Matilah semua Allah: kita inginkan kini, agar hiduplah Sang Purna Manusia (Ubermensch)!”

[10]F.W  Nietzsche, Senjakala, Yayasan Bentang Budaya, 2000, hlm.74. Teks aslinya berbunyi begini: “Sampai saat ini konsep ‘Tuhan’ telah menjadi keberatan terbesar terhadap eksistensi... Kita menolak Tuhan; dalam menolak Tuhan kita menolak pertanggungjawaban: hanya dengan melakukan itu kita peroleh kembali dunia.  

[11] Nietzsche menyatakan bahwa fakta-fakta moral dan religius adalah nonsens, lihat: Senjakala, hlm. 63-75-76.

[12] S.H. Nasr, The Encounter of Man and Nature, Cambridge, Massachusetts, 1968, hlm. 98.

[13] Pengertian tradisi di sini tentunya tidak terbatas pada adat istiadat, melainkan mencakup semua ajaran kearifan dalam konteks profetik. Untuk kajian mengenai makna tradisi ini lihat: Sachiko Murata, The Tao of Islam, Mizan 1996, hlm. 22-24. Ihwal kosmolgi Islam lihat: S.H Nasr, Introduction to Islamic Cosmological Doctrines: Conception of Nature and Mathods Used for its Study by the Ikhwan al-Shafa, al-Biruni, and Ibn Sina, Thames 7 Hudson, London 1978.

[14] Matematika di sini berarti model berpikir kuantitatif-analitis yang mencakup aritmetika, aljabar, geometri, trigonometri, kalkulus, probabilitas, dan teori dan logika himpunan.

[15] Dalam The Tao of Islam, Mizan 1996, Sachiko Murata menjelaskan pandangan Islam tentang alam secara amat mengesankan. Tulisnya: “Dalam pandangan Muslim, tidak ada yang netral dan kesia-siaan di langit dan bumi. Penciptaan mengandung suatu tujuan, dan tujuan ini berkait erat dengan peranan manusia. Seorang Muslim tidak bisa menjadi Muslim dan sekaligus melihat kosmos “secara obyektif” dan “secara ilmiah” , sebab itu akan mengisayaratkan jarak dan ketidakpedulian, seakan alam raya itu bisu, tanpa membawa pesan moral atau spiritual sama sekali.” Hlm. 169. 

[16] Terjemahan Lord Northbourne, London, 1953.

[17] Untuk bacaan informatif-ekstensif, rujuk: Z. Sardar, The Revenge of Athena ; Science, Exploitation, and The Third World, London, 1988. Juga: Z. Sardar, The Touch of Midas: Science, Values, and Environment in Islam and the West, Manchester, 1984. 

[18] K.C Cole, Sympathetic Vibration: Reflections of Physics and Way of Life, New York, Bantam Books, 1985, hlm. 2 

[19] Margaret J. Wheatley, Kepemimpinan dalam Dunia Baru, Abdi tandur, 1997, 1997, hlm.19.

[20] Lebih jauh, lihat: Martin Lings, The Eleven Hour: The Spiritual Crisis of Modern World in Light of Tradition and Prophecy, Quinta Essentia, 1987.  

[21] Lebih lanjut, lihat: SH. Nasr, Op Cit 1968.

[22] Untuk studi ekstensif berkaitan dengan pelbagai faktor perusak lingkungan dan dampak negatifnya terhadap planet kita, lihat Will Steger & Jon Bowermaster, Saving The Earth: A Citizen’s Giude to Environmental Action, Knopf, 1990. Juga: Jonathan Weiner, The Next One Hundred Years: Shaping the Fate of Our Living Earth, Bantam, 1990. 

[23] Lebih lanjut, lihat: Islam and The Plight of Modern Man, London, 1975.

[24] Salah satu pemikir yang gigih mengemukakan jalinan ontologis dan teologis dari ekeempat tendensi modern ini ialah Edward W. Said. Entah dalam Orientalisme (Vintage Books, New York, 1979) maupun dalam Cultur and Imperialisme (Alfred A. Knoff, New York, 1993), Said mencoba memaparkan secara berani dan imajinatif bagaimana keempat ekses tersebut merajuti kebudayaan (Barat) modern.

[25] Pengantar Jean Paul Sartre untuk Franz Fanon, The Wretched of the Earth, terjemahan Constance Farrington, New York, Grove, 1968, hlm.26. 

[26] Dikutip dari Imperialisme yang diedit oleh Philipe D. Curtin, New York, Walker, 1971, hlm.294-295. Pemberian italic dari saya.

[27] Peter L. Berger, The Capitalist Revolution: Fifty Proposition About Prosperity, Equality, and Liberty, Basic Books, 1986.

[28] Arnold Toynbee, 1884 Lectures on The Industrial Revolution in England, sumber dari internet.

[29] John Stuart Mill, Principles of Political Economy, suntingan J.M Robson, jilid III, Toronto, University of Toronto Press, hlm.693.

[30] Judl lengkap karya Darwin tersebut ialah On the Origin of Species by Means of Natural Selection, or the Preservation of Favoured Races in the Struggle of Live (Ihwal asal-usul berbagai spesis secara seleksi alam, atau pemeliharaan ras-ras yang dikehendaki dalam perjuangan hidup).

[31] Jean Cristophe Agnew, World Aparts: The Market and The Theatre in Anglo-American Thought, 1550-1750, New York, Cambridge University Press.

[32] Kuntowijoyo, Budaya Elit dan Budaya Massa, dalam Idi Subandi Ibrahim (editor), “Ecstacy” Gaya Hidup, Mizan, 1997.

[33] Danah Zohar & Ian Marshall, Spiritual Intelligency: The Ultimate Intelleigency, Bloombury, London, 2000, hlm.22.

[34] Ibid hal.22-23

[35] Peran utama iklan ialah mengubah keinginan (wants) menjadi kebutuhan (needs). Dengan memanipulasi kesadaran, selera, dan nilai, iklan diproyeksikan untuk meningkatkan penjualan dan konsumsi sebuah produk sebesar-besarnya. Lihat: World Excutive’s Digets, edisi Mei 1990 dan Matra, No. 49, Agustus 1990.

[36] Yasraf Amir Piliang, Dunia yang Dilipat, 1998, Mizan, hlm. 195.

[37] Edward Shils, “Mass Society and Its Culture” dalam Rosenberg dan White (ed.), Mass Culture Revisited New York, Van Nostrand Reinhold Company.

[38] John Locke dan Sigmund Freud memakai atomisme ini dalam membangun teori-teori mereka.Locke menyamakan atom dengan individu-individu sebuah masyarakat dalam teori demokrasi Liberal-nya, sementara Freud menggunakannya untuk membangun teori Relasi-relasi Objek-nya. Danah Zohar & Marshal, Op. Cit., hlm.26

[39] Lihat (QS:33:72). Untuk kajian menarik mengenai amanah ini, lihat Al-Mizan fi Tafsir Al-Quran.

[40] Danah Zohar & Ian Marshal, Op. Cit., hlm. 29

[41] Karlina Leksono et al., Melaju Menuju Kurun Baru: Respons Cendikiawan Indonesia atas Kuliah "Millenium Evening" Stephen Hawking, Mizan, 1998, Apendiks II. hlm.113.

[42] Ibid. hlm.111-112

[43] Ibid.hlm.113

[44] Ibid. hlm.124

[45] QS:7:186

[46] QS:6:31

[47] QS:7:178

 

 

 

KKEMBALI

 
 
Hosted by www.Geocities.ws

1